Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 94


__ADS_3

“Fina, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Sechil bisa sampai seperti ini?”


Fina menundukkan kepalanya saat Rayan bertanya padanya. Fina tidak tau apa yang Caterine lakukan pada Sechil saat dirinya dan Alana turun kelantai dasar. Saat Fina kembali untuk mengecek Sechil sudah pingsan dengan Caterine yang menangis sambil memangku kepala Sechil yang menutup kedua matanya tidak sadarkan diri.


Fina memejamkan kedua matanya kemudian menggeleng pelan.


“Saya tidak tau apa yang terjadi pada nona Sechil tuan. Tapi...”


“Tapi apa?” Tanya Rayan tidak sabaran.


Fina melirik Alana yang diam disamping Rayan. Fina tau Alana pasti juga bingung harus menjelaskan bagaimana. Apa lagi mendadak CCTV dikamarnya Alana dan Rayan tiba tiba mati.


Fina menoleh pelan pada Caterine yang terus menangis disamping Sechil yang belum juga kunjung membuka kedua matanya. Entah rencana apa yang sedang Caterine susun sehingga sampai harus membuat Sechil pingsan seperti sekarang.


Fina menghela napas. Terlalu banyak bicara hanya akan menjadi bumerang untuknya sendiri.


“Maaf tuan, saya hanya menjalankan tugas saya menjaga nyonya Alana.”


Rayan menghela napas. Keselamatan Alana saat dirumah memang sudah sepenuhnya menjadi tugas Fina selama hampir sebulan ini.


“Ya sudah kalau begitu. Kamu boleh keluar.”


“Baik tuan. Saya permisi.”


Saat Fina selangkah lagi keluar dari kamar Sechil, Caterine langsung mencegah dengan memanggil namanya. Fina berhenti dan segera menoleh pada Caterine yang menatapnya dengan wajah basah oleh air mata.


“Saya tidak bisa menerima begitu saja dengan apa yang terjadi pada anak saya. Ingat itu.” Kata Caterine.


Fina mengeryit. Dirinya dan Alana tidak melakukan apa apa juga tidak tau apa apa. Sechil bersama Caterine saat Fina dan Alana keluar dari kamar. Mereka berdebat berdua karna Sechil yang melarang Caterine berbuat kasar pada Alana.


“Sudahlah mom.. Tidak usah diperpanjang lagi. Aku yakin Fina tidak salah.” Ujar Rayan melerai.


Caterine langsung menatap pada Rayan yang duduk sejajar dengan Alana diatas sofa. Kedua matanya menyipit menatap tidak menyangka pada Rayan.


“Kamu masih bela dia Rayan?” Caterine menggeleng pelan berpura pura sangat terluka dengan pembelaan Rayan pada Fina.


Rayan berdecak kemudian menyuruh Fina untuk segera keluar dari kamar Sechil. Rayan tidak bisa percaya pada Caterine begitu saja. Rayan tau siapa dan bagaimana Caterine sebenarnya.

__ADS_1


“Rayan, lihat baik baik. Buka mata kamu. Sechil pingsan gara gara dia. Dan kamu masih saja tidak percaya dengan apa yang bahkan sudah kamu lihat sendiri.” Caterine terus saja bersikeras menyalahkan Fina.


Alana memejamkan kedua matanya. Alana sedang malas membuka mulutnya. Bukan tidak mau membela Fina yang sudah melindunginya, Alana masih merasa tidak enak pada tubuhnya.


“Aku tidak bisa melihat apapun di CCTV mom..” Kata Rayan kemudian bangkit dari duduknya. Rayan mengulurkan tangan-nya pada Alana menyuruh agar wanitanya ikut bangkit berdiri.


“Kamu baik?” Tanya Rayan menatap penuh perhatian pada Alana.


Alana tersenyum tipis kemudian menganggukan kepalanya.


“Hanya sedikit merasa lemas saja.” Jawabnya.


Tidak tega mendengar jawaban pelan istrinya, Rayan pun segera membopong tubuh Alana dan membawanya keluar dari kamar Sechil tanpa berkata apapun pada Caterine.


“Sial !!” Umpat Caterine menghapus air mata buayanya. Caterine merasa sangat geram karna Rayan tidak percaya padanya padahal Caterine sudah memukul Sechil sampai pingsan. Caterine sengaja melakukan itu untuk menyalahkan Fina agar Rayan segera memecatnya. Karna bagaimanapun juga Fina adalah sosok yang bagi Caterine cukup sulit untuk dilewati jika ingin melakukan sesuatu pada Alana juga janin yang sedang berada dalam kandungan Alana.


Sementara Rayan dan Alana, mereka langsung naik ke lantai 3 dimana kamar mereka berada. Disana sedang ada Roky dan Robin yang diperintahkan untuk mengecek CCTV yang terpasang dikamar Alana juga Rayan.


Rayan melangkah pelan menuju ranjang. Dengan sangat pelan Rayan meletakkan Alana disana.


“Sebentar.. Aku ke Robin dan Roky dulu..”


“Bagaimana?”


Robin dan Roky langsung membalikkan badan-nya ketika mendengar suara Rayan. Mereka menghela napas saling menatap kemudian menggeleng pelan.


“Sepertinya ada yang sengaja diam diam merusak CCTV dikamar anda tuan..” Jawab Robin.


Rayan berdecak. Tidak salah lagi, pelakunya pasti adalah Caterine, ibu kandungnya sendiri. Caterine pasti sengaja merusak CCTV dikamarnya agar saat beraksi Rayan tidak bisa melihatnya sendiri dan susah untuk menyalahkan-nya.


“Lalu bagaimana sekarang? Apa sudah dibenarkan?” Tanya Rayan lagi.


“Sudah tuan. CCTV dikamar anda sudah berfungsi normal kembali.” Jawab Robin lagi.


“Oke, terimakasih. Kalian boleh kembali beristirahat.” Angguk Rayan.


“Baik tuan, kami berdua permisi.”

__ADS_1


“Ya...”


Robin dan Roky segera keluar dari kamar Rayan dan Alana. Mereka berdua merasa sangat bersalah sebenarnya karna tidak bergantian saat keluar rumah tadi. Mereka malah dengan santai menikmati kopi dikedai yang tidak jauh dari kompleks karna menganggap Alana akan aman dan baik baik saja dengan adanya Fina disampingnya.


Setelah Robin dan Roky keluar sembari menutup pintu kamarnya, Alana langsung menguncinya. Pria itu terdiam sesaat. Rayan merasa perbuatan Caterine sekarang sudah tidak bisa lagi ditolerir.


Rayan menahan napasnya beberapa detik kemudian menghelanya dengan kasar. Kondisi Alana sedang tidak baik baik saja sekarang dan Caterine berusaha menyakitinya. Benar benar sudah keluar dari batasan.


Rayan membalikkan badan-nya kemudian kembali melangkah mendekat pada Alana yang berbaring miring memunggunginya.


“Fina tidak bersalah Rayan.” Ujar Alana memulai mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi pada Rayan.


Rayan naik keatas tempat tidur kemudian ikut membaringkan tubuhnya dibelakang Alana. Rayan memeluk mesra pinggang Alana dan sesekali mengecup bahu terbuka istrinya itu. Tangan besarnya mengusap lembut perut Alana.


“Awalnya mommy datang dan terlihat sangat marah padaku. Mungkin mommy marah pada Fina karna Fina melindungiku. Tentang sesuatu yang terjadi pada Sechil, kami berdua tidak tau apa apa. Saat Fina naik lagi kesini Fina melihat Sechil sudah tidak sadarkan diri dengan kepala yang berada dipangkuan mommy. Aku tidak bohong..”


Rayan tersenyum mendengarnya. Sedikitpun Rayan tidak berpikir menyalahkan Fina apa lagi Alana. Rayan sudah tau bagaimana dan seperti apa mommy-nya itu.


“Tidak perlu mengatakan apapun Alana. Aku tau apa yang harus aku lakukan.” Bisik Rayan lembut.


Alana mengeryit kemudian segera membalikkan tubuhnya. Alana menatap Rayan yang tersenyum padanya. Alana tidak bisa bohong, suaminya sangatlah tampan.


“Apa maksud kamu?” Tanya Alana penasaran.


Rayan mengecup singkat bibir Alana kemudian tersenyum lagi.


“Kalau mommy tidak mau pindah dari rumah ini. Maka kita berdua yang pindah. Kita yang keluar dari rumah ini.”


Alana diam sesaat. Jika mereka berdua keluar maka itu artinya mereka akan meninggalkan Sechil bersama Caterine.


“Tapi bagaimana dengan Sechil?”


“Jangan khawatirkan yang lain. Sechil akan baik baik saja.” Jawab Rayan.


Alana menelan ludahnya. Sechil sedang hamil muda, sama seperti dirinya. Kondisi Sechil pasti sewaktu waktu bisa sangat lemah jika terus menghadapi sikap keras kepala Caterine.


“Kita bawa Sechil ikut serta bagaimana?” Tanya Alana yang merasa tidak tega jika harus meninggalkan Sechil hanya berdua bersama Caterine.

__ADS_1


Rayan tertawa mendengar pertanyaan itu. Pria tampan itu kemudian merengkuh Alana kedalam dekapan hangatnya.


“Jangan bercanda. Sechil akan ikut bersama Ramon setelah menikah nanti.” Katanya.


__ADS_2