
“Masih mau balas dendam sama mantan kamu itu?”
Alana berhenti mengikat dasi di kerah leher kemeja biru Rayan saat Rayan bertanya. Alana kemudian menghela napas. Setelah obrolanya semalam dengan Rayan Alana mulai sadar bahwa tidak ada gunanya balas dendam. Alana seharusnya merasa bersyukur karna tuhan menunjukan secara langsung padanya bahwa Dion bukanlah pria yang baik untuknya.
Alana mendongak menatap Rayan yang sedikit menunduk menatapnya. Perlahan seulas senyum terukir di bibir Alana.
“Sepertinya sudah tidak perlu.” Jawabnya.
Rayan mengangkat sebelah alisnya. Cepat sekali istrinya itu berubah pikiran.
“Kamu yakin?”
“He'em.. Aku nggak mau di curigai masih memiliki rasa pada Dion.” Jawab Alana lagi sambil kembali mengikatkan dasi Rayan.
Rayan tertawa pelan. Alana nenyindirnya.
“Itu keputusan yang sangat bijak.”
“Tapi kamu juga harus melupakan Sakura sepenuhnya. Kamu sudah berjanji akan sangat mencintaiku ke depanya.” Kata Alana mengungkit ucapan Rayan saat itu.
“Itu sudah pasti.” Balas Rayan tersenyum tipis.
Selesai membantu Rayan memakai dasi, Alana kemudian melingkarkan tanganya di lengan Rayan. Mereka berdua melangkah beriringan keluar dari kamarnya menuruni anak tangga menuju lantai 1 dimana meja makan berada.
“Rayan.” Panggil Alana pelan.
“Hem..” Saut Rayan.
“Aku rasa perlu di bangun lift di rumah ini supaya mempersingkat waktu saat naik ataupun turun ke lantai 1.”
Rayan tampak berpikir sejenak. Rayan tidak pernah memikirkan itu. Tapi apa yang Alana katakan ada benarnya juga.
“Itu ide yang cukup bagus. Akan aku pikirkan nanti.” Senyum Rayan menatap Alana yang melangkah disampingnya.
“Aku berharap secepatnya ada lift dirumah ini Rayan.”
“Rumah ini?” Tanya Rayan berhenti melangkah.
Alana ikut berhenti melangkah kemudian tersenyum menatap wajah tampan Rayan.
“Maksudku rumah kita.” Ralat Alana.
“Jangan salah bicara lagi oke?” Kata Rayan menoel ujung hidung mancung Alana.
”Akan aku usahakan.”
__ADS_1
Rayan dan Alana kembali melanjutkan langkahnya. Mereka sarapan bersama di selingi dengan obrolan ringan. Rayan berharap semuanya tidak akan sia sia. Alana bisa mencintainya begitu juga sebaliknya. Rayan bisa benar benar mengikhlaskan kepergian Sakura dan membuka hati mencintai Alana seperti dulu mencintai Sakura.
Setelah Rayan berangkat ke kantor, Alana segera bergegas. Alana sudah memikirkanya, hubunganya dan Rayan harus baik. Pagi ini Alana berencana pergi ke dokter kandungan untuk mengecek kesehatanya. Alana ingin memastikan dirinya subur dan bisa memberikan anak untuk Rayan sebagai pelengkap kehidupan rumah tangga mereka.
Pak Lim menghentikan mobilnya ketika sampai di halaman rumah sakit. Rumah sakit yang membuat Alana mengeryit.
“Pak Lim, kok kesini?” Tanya Alana pada pak Lim.
“Tuan menyuruh saya untuk mengantar anda ke rumah sakit ini nyonya. Kebetulan ini juga adalah rumah sakit milik teman tuan.”
Alana mengangguk. Alana kemudian turun dari mobil dan melangkah santai masuk ke dalam rumah sakit tersebut.
“Sakura?”
Alana baru saja mendudukan dirinya dikursi tunggu saat seorang menepuk bahunya. Namun orang itu tidak memanggilnya Alana melainkan Sakura.
“Kamu Sakura kan? Ya tuhan..”
Alana tergagap. Alana tidak tau siapa pria tampan itu.
“Mana Rayan?” Tanya pria itu lagi.
Alana tidak tau harus mengatakan apa. Sudah 2 orang yang menganggapnya Sakura selain Rayan. Yaitu Sandi dan pria yang saat ini berdiri didepanya.
Pria itu memejamkan kedua matanya dengan desisan pelan yang keluar dari mulutnya.
“Ya, maaf.. Saya lupa kalau Sakura sudah tidak ada.”
Alana menganggukan kepalanya. Saat itu pula namanya di panggil. Alana pamit undur diri dari pria berkemeja putih bersih itu. Alana berpikir mungkin pria itu yang di maksud pak Lim adalah teman Rayan karna tadi juga sempat menanyakan Rayan padanya.
“Mungkin dia juga akan sangat terkejut jika tau aku adalah istri Rayan.” Batin Alana.
Alana di periksa secara keseluruhan oleh dokter kandungan. Alana juga meminta resep vitamin yang bisa membantu menyuburkan kesuburan-nya juga Rayan. Tidak hanya itu saja, Alana juga menanyakan tentang jenis jenis makanan yang bagus untuk membantu program cepat hamilnya.
Selesai memeriksakan dirinya, Alana langsung pulang dengan pak Lim yang mengantarkan. Alana merasa konyol sendiri karna tiba tiba mendatangi dokter kandungan untuk memeriksakan kondisinya. Sangat berlebihan memang, tapi Alana pikir demi keharmonisan rumah tangganya dengan Rayan semuanya wajar.
“Hh.. Sepertinya aku memang sudah gila..”
Alana tersenyum sendiri mengingat apa yang dilakukanya. Rayan juga pasti akan menganggapnya berlebihan nanti.
Alana mendudukan dirinya di tepi ranjang. Pandangan-nya tertuju pada plastik putih berisi vitamin untuknya dan Rayan. Alana kemudian meraih dan membukanya menatap 2 botol beling berwarna gelap itu bergantian ditanganya. Itu adalah sejenis madu untuk pria dan wanita. Untuk pria sebagai penambah stamina, sedang untuk wanita untuk membantu menyuburkan.
Alana terkikik geli. Alana membayangkan wajah datar Rayan jika Alana mengatakan semuanya nanti.
Tok tok tok
__ADS_1
Suara ketukan pintu berhasil mengalihkan perhatian Alana. Alana menaruh 2 botol madu itu kemudian melangkah cepat menuju pintu untuk membukanya.
“Bibi, ada apa?” Tanya Alana saat melihat bibi berdiri di depan pintu kamarnya.
“Maaf mengganggu nyonya, di bawah ada teman nyonya yang datang.”
Alana mengeryit. Selama ini Alana tidak pernah di kunjungi seorang teman. Karna hampir semua yang Alana sebut teman hanya saat mereka bertemu dan bekerja bersama saja. Diluar itu tidak pernah. Alana tidak pernah bisa terlalu dekat dengan orang lain selain Dion dan Michelle.
“Apa dia mengatakan pada bibi dia siapa?” Tanya Alana penasaran.
“Tidak nyonya.” Geleng bibi menjawab.
“Dia laki laki?”
“Dia seorang wanita nyonya. Rambutnya ikal dan sedikit pirang.” Jawab bibi.
Alana berdecak. Itu adalah Michelle.
“Mau ngapain dia kesini?” Batin Alana merasa kesal.
Alana melirik bibi yang masih berdiri dengan kepala tertunduk didepanya. Alana kemudian menyuruh bibi untuk kembali dengan aktifitasnya setelah mengatakan terimakasih.
“Alana.” Michelle tersenyum dan bangkit dari duduknya saat melihat Alana muncul. Wanita itu tersenyum tanpa sedikitpun merasa bersalah dengan apa yang sudah dilakukanya bersama Dion dibelakang Alana.
“Duduk lagi.” Kata Alana dengan tatapan datarnya. Michelle selalu terlihat manis bahkan setelah kebusukkanya terungkap.
Alana mendudukan dirinya disofa tunggal diseberang Michelle. Alana menghela napas merasa jengah dengan kedatangan Michelle yang tiba tiba itu.
“Alana, aku hamil.”
Alana mengangkat sebelah alisnya menatap aneh pada Michelle. Entah apa maksud Michelle tiba tiba datang dan memberitahu Alana tentang kehamilan-nya.
Alana melirik CCTV. Alana sadar selama dirinya berada dikediaman mewah Rayan dirinya selalu diawasi.
“Tenang Alana. Mungkin Rayan sedang menatapmu sekarang. Kamu harus menunjukkan pada Rayan bahwa kamu tidak lemah.” Batin Alana.
Alana kembali menatap pada Michelle yang masih mempertahankan senyuman dibibirnya. Alana ikut tersenyum.
“Selamat yah kalau begitu. Kebetulan aku juga sedang hamil, usia kandunganku baru 4 minggu. Aku baru tau tadi siang.”
Entah ide darimana sehingga tiba tiba Alana bisa dengan lancar berbohong pada Michelle.
“Ah ya ampun.. Nggak nyangka banget sebentar lagi kita akan menjadi mamah.” Kata Michelle tersenyum semakin lebar.
“Jadi apa tujuan kamu sebenarnya kesini?”
__ADS_1