Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 160


__ADS_3

Alana duduk seorang diri ditaman. Kali ini tidak dengan cemilan ataupun orange jus yang biasa menemaninya. Setelah obrolan-nya dengan Sari pagi tadi dibalkon kamarnya Alana kembali memikirkan ulang ajakan-nya agar Sari ikut serta dengan-nya dan Rayan untuk kembali tinggal dirumah lama Rayan. Alana merasa sangat dilema sekarang. Alana ingin mengikuti kemauan Rayan, tapi Alana juga enggan terpisah lagi dengan ibunya, Sari.


“Selamat siang nyonya..”


Sapaan Fina membuat Alana menoleh. Alana tersenyum dan menggeser sedikit tubuhnya memberi tempat pada Fina agar duduk disampingnya.


Fina yang mengerti maksud Alana segera mendudukan diri disamping Alana. Jika hanya sedang berdua saja dengan Alana, Fina memang sudah tidak merasa canggung lagi. Semua itu tentu saja karna sikap Alana yang sangat baik padanya.


“Sepertinya nyonya sedang memikirkan sesuatu. Boleh saya tau nyonya?” Tanya Fina dengan polosnya.


Alana menghela napas.


“Kita akan pindah lagi kerumah lama Fina. Tapi tidak dengan ibu..” Jawab Alana pelan.


“Pindah lagi kerumah lama? Memangnya disini kenapa nyonya?” Fina kembali bertanya dengan ekspresi bingung.


Alana menggelengkan kepalanya pelan. Alana sebenarnya lebih senang tinggal dirumah yang sekarang. Tapi Alana juga tidak mungkin melarang Rayan untuk menepati janjinya apa lagi pada orang yang sudah meninggal.


“Tidak papa. Dari awal memang kita sepakat seperti itu Fina. Hanya sementara saja kita tinggal disini.” Jawab Alana yang tidak mungkin terbuka pada Fina.


Fina menganggukan kepala mengerti. Baginya tidak ada pilihan untuk menolak karna Rayan lah yang membayarnya.


Alana diam lagi. Pikiran-nya kembali melayang pada penolakan Sari yang tidak mau tinggal dirumah lama Rayan. Alana yakin faktor utamanya adalah Caterine. Caterine yang terus menuduhnya juga ibunya sedang mengincar harta Rayan. Padahal pada kenyataan-nya Caterine sendiri yang selalu berusaha menguasai semua yang Rayan miliki.


“Permisi nyonya..”


Fina langsung bangkit dari duduknya begitu mendengar suara bibi. Gadis itu tidak mau kena marah karna dianggap tidak sopan pada Alana oleh bibi.


“Ya bi, ada apa?” Tanya Alana pelan.

__ADS_1


“Didepan ada nona Sechil nyonya. Nona Sechil mencari nyonya.” Jawab bibi dengan sangat pelan dan sopan.


“Suruh saja dia Sechil kesini ya bi.. Dan kamu Fina, tolong ya siapkan cemilan dan buah. Jangan lupa minumnya.” Senyum Alana.


“Siap nyonya.” Fina memberi hormat pada Alana membuat Alana tertawa pelan. Sedang bibi, wanita itu hanya menggeleng maklum saja. Fina memang sangat pemberani pada siapa saja.


Bibi dan Fina berlalu meninggalkan Alana dengan tujuan yang berbeda. Bibi yang hendak memanggil Sechil, sedang Fina yang hendak menyiapkan cemilan, buah juga minuman seperti yang diminta Alana. Fina tau semua itu pasti untuk Sechil yang memang bisa dikatakan sedang suka melahap apa saja yang dilihatnya.


Tidak menunggu lama Sechil datang dengan bibi yang mengantar. Sechil tersenyum dan langsung mendudukan dirinya disamping Alana yang masih anteng dengan posisinya.


“Kak..” Panggil Sechil pelan.


Alana menoleh dan tersenyum lebar menatap Sechil. Senang sekali karna akhirnya Alana bisa benar benar merasakan bagaimana rasanya memiliki saudara.


“Mana Ramon?” Tanya Alana kemudian.


Sechil menghela napas. Ramon tidak mungkin bisa menemaninya saat siang hari. Ramon sibuk kuliah dan bekerja hingga selalu pulang saat malam hari.


Alana tersenyum. Dengan pelan Alana mengusap bahu Sechil.


“Ramon melakukan-nya untuk kamu dan anak kalian. Jangan sedih..” Alana mencoba memberi pengertian pada Sechil yang terlihat sedih.


Sekali lagi Sechil menghela napas. Kedatangan-nya kerumah Rayan bukan hanya untuk sekedar bermain saja. Sechil ingin bertukar pikiran dengan Alana yang Sechil pikir mungkin bisa memberinya masukan tentang masalahnya.


“Kak, aku kesini ingin curhat sama kakak. Ini tentang aku dan Bastian.” Ujar Sechil memulai.


Alana mengeryit menatap tidak mengerti pada Sechil. Setau Alana semuanya sudah baik baik saja semenjak Bastian tau Sechil hamil anaknya.


“Memangnya kenapa dengan Bastian dan kamu?” Tanya Alana mulai penasaran.

__ADS_1


Sechil terdiam sesaat. Masalah sebenarnya tidak bersumber pada Bastian, tapi pada Cleo. Tunangan Bastian yang begitu bawel dan selalu membuat Sechil merasa tidak nyaman.


“Jadi sebenarnya bukan Bastian inti masalahnya kak. Tapi ada pada Cleo, tunangan Bastian.” Jawab Sechil.


Sechil menjeda sejenak ucapan-nya. Memikirkan sifat Cleo padanya membuat Sechil merasa tidak perlu ada pengakuan lagi dari Bastian atas anak yang sedang dikandungnya.


“Permisi nyonya..” Fina muncul dengan senampan cemilan dan buah serta 2 gelas orang jus untuk Alana dan Sechil.


“Ah ya.. Makasih Fina.” Senyum Alana menatap Fina yang sedang menata semua yang dibawanya diatas meja didepan Sechil dan Alana.


“Sama sama nyonya, nona.” Angguk Fina kemudian kembali berlalu meninggalkan Sechil dan Alana berdua.


Sechil menghela napas pelan setelah Fina berlalu. Sechil tidak tau harus meminta pendapat pada siapa selain pada Alana. Bukan tidak percaya pada Ramon, Sechil hanya berpikir mungkin jika menceritakan pada Alana yang sesama wanita Sechil bisa mendapat pencerahan yang bisa dengan gampang Sechil pahami.


“Jadi?” Tanya Alana yang sudah tidak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya pada masalah yang sedang membebani Sechil tentang Cleo, tunangan Bastian.


“Cleo, sepertinya dia kurang menyukai aku kak. Kemarin aku cek kedokter dan dia sama Bastian ikut. Kakak tau apa yang dia lakukan? Dia membuat aku tidak nyaman dengan menanyakan tentang fasilitas rumah sakit bahkan menyinggung soal biaya yang memang aku akui Bastian yang menanggung. Aku takut kalau aku dan Ramon terus berhubungan dengan Bastian itu akan berakibat fatal kak.” Cerita Sechil.


Alana menganggukan kepalanya. Alana pernah bertemu sekali dengan Cleo yaitu saat Alana menghadiri pertunangan Bastian dan Cleo. Alana tidak heran jika Cleo bersikap seperti itu karna dari gelagatnya saja Alana sudah bisa tau bagaimana angkuhnya seorang Cleo.


“Sebenarnya apapun yang Bastian lakukan sama kamu juga anak kamu asal niatnya adalah sebagai bentuk pertanggung jawaban tidak ada yang harus di ungkit Sechil. Cleo hanya tunangan Bastian sedangkan anak dalam kandungan kamu adalah benih dari Bastian. Cleo tidak bisa seenaknya begitu saja memutus komunikasi kamu dengan Bastian karna anak yang kamu kandung. Saran saya sih kamu jangan mau ditindas. Kamu harus berani kalau memang kamu benar. Toh kalian sudah sama sama memiliki pasangan. Apa yang Bastian berikan pada anak ini adalah hak anak ini sebagai anak. Kamu harus tau itu.”


Sechil terdiam kemudian menunduk menatap tangan Alana yang menyentuh perut buncitnya. Perlahan seulas senyum mulai terukir dibibir Sechil.


“Sekarang aku tau kenapa kak Rayan bisa begitu sangat mencintai kakak..” Ujar Sechil menatap Alana dengan senyuman dibibirnya.


Alana mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti dengan apa yang Sechil katakan.


“Maksudnya?” Tanya Alana bingung.

__ADS_1


Sechil meraih tangan Alana dan menggenggamnya erat.


“Kakak wanita yang sangat luar biasa.” Puji Sechil membuat Alana menatapnya aneh.


__ADS_2