Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 192


__ADS_3

Setelah memikirkan beberapa hari masalah tentang Caterine, akhirnya Rayan memutuskan untuk rumah yang pernah ditinggalinya bersama Alana sebagai tempat untuk Caterine dirawat. Rayan tidak sampai hati jika harus memasukan ibu kandungnya sendiri kerumah sakit jiwa. Meskipun memang Rayan harus membayar denda yang tidak sedikit karna membebaskan Caterine yang memang terbukti bersalah. Belum lagi meminta keluarga napi yang pernah Caterine lukai untuk mencabut tuntutan-nya yang juga harus mengeluarkan uang. Tapi Rayan tidak mempermasalahkan tentang uang. Yang terpenting baginya mommy nya bisa sembuh dengan penanganan yang tepat. Rayan juga berharap mommy nya bisa benar benar berubah setelah semua yang terjadi.


“Jadi ini rumah baru untuk mommy?” Tanya Caterine pada Rayan.


Rayan diam sesaat. Rayan sudah mengatakan sebelumnya bahwa itu rumah yang pernah ditempatinya dengan Alana. Tapi sepertinya Caterine melupakan ucapan Rayan tadi.


“Kita akan tinggal bersama lagi kan Rayan? Kamu, mommy, dan adik kamu Sechil..” Senyum Caterine dengan sangat antusias.


Rayan menghela napas. Rayan sedikit bingung sebenarnya harus bagaimana menjelaskan-nya pada Caterine. Karna Caterine akan berubah marah jika mendengar nama Alana dan Ramon disebut.


“Tidak mom.. Mommy akan disini bersama dokter Safana juga pekerja lain yang akan melayani mommy. Tapi mommy tidak perlu khawatir, nanti kalau mommy sudah sembuh kita bisa tinggal bersama lagi.” Jelas Rayan dengan suara pelan. Rayan menatap penuh perhatian pada Caterine yang mulai bertingkah seperti anak kecil. Rayan tau semua yang terjadi pada Caterine pasti karna perbuatan Caterine sendiri. Tapi jika harus melihat Caterine gila seperti Dion, Rayan rasanya tidak akan sanggup.


“Enggak Rayan. Mommy maunya tinggal sama kamu sam Sechil juga. Mommy nggak mau tinggal sama dokter atau para pekerja yang mommy tidak tau siapa. Mommy takut Rayan. Bagaimana kalau mereka jahatin mommy?”


Rayan tersenyum. Dengan lembut Rayan membelai sayang rambut Caterine yang sedikit kusut karna memang jarang terurus.


“Selama Rayan masih bernapas, tidak ada seorang pun yang bisa melukai mommy. Rayan sayang sama mommy.. Rayan akan berusaha apapun itu untuk kesembuhan mommy..” Kata Rayan.


“Tapi, tapi mommy sehat Rayan, mommy tidak sakit..”


“Ya.. Mommy memang tidak sakit. Tapi mommy harus menjadi lebih baik supaya kita bisa bersama sama lagi. Oke?”


Caterine menatap Rayan dengan wajah polosnya. Wanita itu benar benar seperti anak kecil sekarang. Meski terkadang memang masih sering menyalahkan Alana dan Ramon. Tapi Caterine juga sering kali lupa dengan apa dan siapa. Caterine bahkan pernah mengatakan belum makan padahal piring bekas makan-nya masih dia pegang.


“Mommy harus baik?” Tanyanya seperti anak kecil.

__ADS_1


“Ya. Mommy harus menjadi orang baik. Mommy sudah mau punya cucu. Sebentar lagi mereka akan lahir. Kalau mommy ingin melihatnya, mommy harus menjadi orang yang baik supaya cucu cucu mommy tidak takut pada mommy nanti.”


Luky yang berada dibelakang Rayan hanya bisa menghela napas. Luky sudah lama bekerja pada Rayan. Luky juga tau bagaimana Caterine sejak dulu. Dan Luky berpikir mungkin apa yang sekarang sedang diderita Caterine adalah teguran dari tuhan mengingat bagaimana picik dan serakahnya seorang Caterine dari dulu.


Tidak lama dokter Safana yang akan menangani Caterine datang dengan satu perawat serta satu asisten rumah tangga yang memang sudah Luky siapkan.


Ya, Rayan memang sudah menyuruh pada Luky agar benar benar memastikan asisten rumah tangga yang akan mengurus semua tentang Caterine adalah orang baik dan benar benar tulus. Rayan tidak mau jika sampai Caterine kenapa napa karna kecerobohan-nya. Tidak hanya menyeleksi asisten rumah tangga Rayan bahkan menyuruh Luky untuk memasang CCTV diseluruh bagian rumah berlantai dua itu agar Rayan bisa mengawasinya secara langsung meskipun dari jarak jauh.


Sebelum meninggalkan Caterine bersama dokter Safana, Rayan mengajak Caterine untuk makan siang berdua ditaman samping rumah. Rayan dengan telaten menyuapi Caterine yang memang bertingkah tidak wajar. Dan tanpa sadar Rayan meneteskan air matanya melihat keadaan Caterine sekarang.


“Luky, hubungi Robin dan katakan untuk dia mengajak 3 teman agar berjaga di bagian depan rumah dan belakang. Saya tidak mau mommy sampai pergi tanpa pengawasan.” Perintah Rayan saat Luky hendak menghidupkan mesin mobilnya.


“Baik tuan. Nanti saya akan hubungi Robin.” Angguk Luky.


Rayan menoleh dan menurunkan kaca mobilnya menatap rumahnya yang kini menjadi tempat untuk menjaga Caterine. Sedikitpun tidak pernah terbesit dibenak Rayan Caterine akan menjadi seperti ini. Rayan pikir dengan mendekam dipenjara Caterine akan menyadari kesalahan-nya, bukan menjadi gila seperti sekarang.


“Ya, kita jalan sekarang.”


“Baik tuan.”


Luky menghidupkan mesin mobilnya dan mulai melajukan-nya dengan kecepatan sedang keluar dari pekarangan rumah yang kini menjadi tempat Caterine ditangani langsung oleh dokter kejiwaan.


Ketika sudah diperjalanan menuju perusahaan-nya Rayan menelepon Sechil dan memberitahu bahwa Caterine sudah berada ditempat yang jauh lebih baik dari tahanan polisi.


--------

__ADS_1


Alana tersenyum menatap Caterine yang beraktivitas seperti biasanya. Meski memang banyak yang terlihat berubah dari cara jalan-nya bahkan ekspresi diwajahnya yang tertangkap dengan jelas oleh kamera tersembunyi yang terpasang disetiap sudut rumah yang pernah ditinggalinya bersama Rayan juga Sari. Alana merasa Caterine tidak bertingkah seperti anak kecil saat berjalan. Tapi lebih seperti remaja yang selalu ceria.


“Aku harap keputusanku benar.”


Alana menoleh pada Rayan yang duduk disampingnya. Saat ini mereka sedang berada diruang tengah dan Rayan menunjukan aktivitas Caterine yang selalu diawasi diam diam oleh Rayan.


Alana meletakan hp Rayan diatas meja kemudian meraih tangan besar Rayan dan mengangkat lalu diciumnya punggung tangan Rayan singkat.


“Aku percaya sama kamu.. Kamu melakukan ini demi kebaikan kita semua. Jangan pernah merasa ragu selama yang kamu lakukan itu benar suamiku..” Kata Alana tersenyum menatap Rayan.


Rayan membalas tatapan Alana. Perlahan seulas senyum mulai terukir dibibir tipisnya. Rayan mengangguk mengiyakan apa yang Alana katakan.


“Terimakasih karna sudah selalu mempercayaiku.” Lirih Rayan.


Alana hanya tersenyum saja. Keputusan-nya yang penuh tekad dulu membawanya pada kebahagiaan yang sesungguhnya. Keputusan untuk menjadi istri yang baik dan mencintai Rayan dengan sepenuh hati.


“Oh iya sayang.. Besok bukankah waktu kamu kembali kedokter untuk cek kehamilan?” Tanya Rayan sambil menarik Alana lembut dan mendekapnya.


“Iya..” Angguk Alana.


“Aku antar kamu kedokter besok pagi. Sekalian kita lakukan USG.” Ujar Rayan mencium puncak kepala Alana.


Alana mengangguk lagi. Kedua matanya terpejam menikmati rasa nyaman-nya dalam dekapan hangat Rayan.


Sedangkan Rayan, pria tampan berkaos biru tua itu terus mengusap usap punggung Alana dengan penuh cinta dan kasih sayang.

__ADS_1


“Aku mencintaimu Alana, sangat mencintai kamu.” Batin Rayan.


__ADS_2