
Sechil mengeryit bingung saat tiba tiba pak Lim memberikan siomay kesukaan-nya. Tapi anehnya Sechil tiba tiba merasa mual saat mencium aroma bumbu dari siomay tersebut. Hal itu membuat Alana yang tidak sengaja melintas didepan kamar Sechil mengeryit. Merasa penasaran, Alana pun masuk kedalam kamar Sechil pelan pelan.
“Kamu kenapa?” Tanya Alana berdiri diambang pintu kamar Sechil dengan tatapan bingung.
Sechil menoleh sambil menutup mulutnya. Sechil kemudian menjauhkan plastik berisi siomay bandung kesukaan-nya.
“Kakak..” Sechil mendekat pada Alana dan berdiri tepat didepanya.
“Itu apa?” Tanya Alana menatap plastik yang diabaikan oleh Sechil.
Sechil menoleh pada plastik tersebut kemudian tersenyum.
“Itu.. Tadi pak Lim tiba tiba kasih siomay kesukaan aku. Katanya kakak yang suruh beliin. Tapi nggak tau kenapa mencium baunya saja membuat aku merasa mual.” Jawab Sechil jujur.
Alana menyipitkan kedua matanya menatap Sechil yang terlihat baik baik saja tidak seperti yang Caterine katakan padanya dan Rayan.
“Bukan-nya kamu yang minta dibelikan siomay sama Rayan?”
”Hah?!” Sechil terlihat bingung. Pasalnya Sechil sama sekali tidak meminta dibelikan apapun pada siapapun termasuk pada Rayan.
“Siapa yang bilang kak?” Tanya Sechil menatap penasaran pada Alana.
Alana terdiam. Caterine benar benar banyak akal dan selalu mencari cara agar Alana dan Rayan tidak bersama.
“Mommy..” Jawab Alana tenang.
Sechil terlihat terkejut namun tetap diam. Sechil tidak menyangka mommy-nya bahkan sampai berbohong demi tujuan-nya tercapai.
“Ya sudah kalau begitu, Rayan sedang menungguku dibawah.” Kata Alana kemudian berlalu.
Sechil masih diam. Mommy-nya benar benar memanfaatkan keadaan-nya sekarang hanya demi bisa menguasai seluruh harta milik Rayan. Padahal jika dipikir lagi, tanpa menguasai pun mereka bisa ikut menikmati. Rayan bukan orang yang perhitungan dalam hal apapun.
“Ya tuhan.. Mommy..” Lirih Sechil merasa sedih. Sechil kemudian menatap pada seplastik siomay yang membuatnya mual itu.
“Sampai kapan mommy akan terus seperti ini..” Sechil memejamkan kedua matanya. Sechil takut mommy-nya merasakan apa yang diperbuatnya suatu saat nanti.
Malamnya seperti biasa, Rayan begitu memanjakan Alana saat dimeja makan didepan Sechil dan Caterine. Hanya saja kali ini sedikit berbeda karna Sechil sama sekali tidak merasa kesal. Sechil justru ikut merasa senang melihat hubungan Rayan dan Alana yang begitu romantis dan manis.
“Sechil.” Panggil Caterine menyenggol siku Sechil membuat Sechil tersentak. Sechil langsung menoleh pada Caterine yang berada disampingnya.
__ADS_1
“Ya mom.. Kenapa?” Tanyanya bingung.
“Kenapa kamu malah tersenyum melihat mereka berdua hah?! ingat dengan tujuan kita Sechil.” Tekan Caterine menatap Sechil jengkel.
Sechil hanya bisa menghela napas. Caterine sangat keras kepala dan terus saja pada tujuan awalnya datang ke jakarta.
“Kamu itu harusnya marah kaya mommy Sechil. Kamu juga harusnya bantu mommy memikirkan cara bagaimana supaya mereka berpisah..” Lanjut Caterine dengan suara pelan agar hanya Sechil yang mendengarnya.
“Mom tapi...”
“Tidak ada tapi tapian Sechil. Kamu harus bisa membuat Rayan benci pada Alana dengan bayi kamu.” sela Caterine enggan mendapat bantahan.
Sechil hanya bisa diam saja. Sechil ingin bisa menjadi adik yang baik untuk Rayan.
“Permisi tuan, nyonya.. Maaf kalau saya mengganggu. Didepan ada tuan Ramon dan katanya ingin bertemu langsung dengan tuan. Bahkan sekarang juga.”
Rayan, Alana, Sechil, bahkan Caterine langsung menoleh mendengar suara bibi. Rayan yang saat itu sedang menikmati sup nya langsung berdiri dari duduknya. Ramon datang sendiri kekediaman-nya pasti ada sesuatu yang sangat penting. Begitu yang ada dipikiran Rayan sekarang.
“Saya akan segera menemui dia.” Katanya.
Alana ikut bangkit berdiri. Wanita itu bermaksud ikut Rayan untuk menemui Ramon yang sedang menunggu didepan rumah mereka.
Caterine yang juga merasa penasaran pun ikut bangkit berdiri dan mengikuti Rayan juga Alana dari belakang. Sementara Sechil, dia hanya diam dikursinya. Sechil merasa malu jika harus bertemu dengan Ramon setelah apa yang dia lakukan. Berselingkuh dan berciuman didalam kelas kemudian langsung dipergoki oleh Ramon membuat Ramon murka dan langsung mengakhiri hubungan mereka yang baru terjalin satu minggu saat itu.
Rayan melangkah cepat dengan Alana dan Caterine yang ada disisi kanan dan kirinya. Mereka bertiga melangkah menuju gerbang dimana Ramon sedang menunggu tepatnya didepan pos satpam.
Ketika sampai disana, Rayan mendapati Ramon yang sedang duduk merenung didalam pos satpam dengan pak satpam yang ada disampingnya. Ramon bahkan sepertinya tidak menyadari kehadiran Rayan, Alana, juga Caterine.
“Mau apa lagi laki laki brengsek ini datang?!” Kesal Caterine menatap Ramon yang kemudian langsung menoleh dan berdiri dari duduknya.
“Tuan..” Ramon menundukan kepalanya sesaat begitu menyadari ada Rayan didepan-nya.
Rayan hanya menghela napas. Entah kenapa sikap angkuh Caterine tidak juga hilang bahkan sepertinya semakin menjadi jadi.
“Kenapa tidak masuk kedalam dan berbicara dengan tenang disana?” Kali ini Alana yang bersuara membuat Ramon tersenyum dan mengangguk pelan.
“Terimakasih nyonya. Tapi disini saja.” Sautnya ramah.
Caterine mendelik mendengar ucapan Alana.
__ADS_1
“Kamu pikir rumah ini rumah orang miskin yang bisa siapa saja masuk Alana?!” Tanya Caterine ketus.
Alana hanya bisa berdecak dan menghela napas. Padahal pada kenyataan-nya yang kaya raya hanya Rayan disana.
“Mom.. Sudah, tolong jaga bicara mommy.. Bagaimana pun juga Ramon adalah tamuku.” Tegur Rayan menatap Caterine yang ada disisi kirinya.
Caterine memutar jengah kedua bola matanya. Rayan selalu saja bersikap baik pada siapapun.
“Ramon, ayo masuk. Tidak baik berbicara disini.” Ajak Rayan.
Ramon akhirnya mengangguk setuju. Ramon melangkah mengikuti Rayan, Alana, juga Caterine masuk kedalam rumah. Mereka duduk di ruang tamu dengan Rayan yang duduk diantara Alana dan Caterine. Sementara Ramon, pria itu duduk sendiri diseberang Rayan, Alana, juga Caterine.
“Apa kamu sudah menemukan laki laki itu Ramon?” Tanya Rayan langsung tanpa sedikitpun basa basi.
Ramon menghela napas kemudian menggelengkan kepalanya.
“Tidak tuan, tapi saya bersedia bertanggung jawab atas kehamilan Sechil. Saya siap jika harus menikahi Sechil.” Jawab Ramon tanpa sedikitpun merasa ragu dengan apa yang dia ucapkan.
“Apa?!” Caterine langsung bangun dari duduknya. Wanita itu mendelik menatap Ramon yang berada diseberangnya.
Rayan menoleh pada Caterine. Dirinya juga sangat terkejut begitu juga dengan Alana.
“Kamu pikir kamu siapa hah?! Menikahi anak saya? punya apa kamu untuk menjamin kehidupan anak saya?” Tanya Caterine menghina pada Ramon.
“Mom.. Tenang dulu..” Rayan berusaha menenangkan Caterine yang mulai terbawa emosi.
“Tenang bagaimana Rayan? Membiarkan Sechil menikah dengan laki laki seperti dia begitu? Jangan harap Rayan. Pokonya mommy nggak akan setuju. Titik.” Caterine langsung berlalu setelah itu. Wanita itu terlihat sangat kesal dengan apa yang Ramon katakan.
Rayan menghela napas. Caterine selalu saja seperti itu.
“Sabar yah..” Senyum Alana berkata pelan sambil mengusap pelan bahu Rayan.
Rayan tersenyum menatap Alana kemudian menganggukan kepalanya.
“Kenapa tiba tiba kamu berkata seperti ini? bukankah hubungan kalian sudah berakhir? Dan juga kamu bukan laki laki yang menghamili Sechil?” Tanya Rayan tetap berusaha tenang.
“Ya tuan. Tapi saya mencintai Sechil. Saya siap menerima semua kekurangan Sechil.” Jawab Ramon mantap.
Rayan tampak berpikir. Memutuskan hal itu tidak bisa begitu saja tanpa lebih dulu berpikir panjang.
__ADS_1
“Biarkan saya berpikir dulu Ramon.”