
Dalam kesunyian malam Caterine masih betah duduk didepan meja riasnya dimana banyak peralatan make up didepan-nya. Caterine menatap sendiri bayangan dirinya dicermin. Perlahan seulas senyum terukir dibibirnya yang tidak diolesi oleh lipstik.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Caterine. Tanpa lebih dulu berpikir Caterine langsung bangkit dari duduknya berlalu dari depan cermin menuju pintu kamarnya yang sengaja dia kunci dari dalam.
“Alana.. Kamu kenapa belum tidur?”
Caterine mengeryit menatap Alana yang berdiri didepan pintu kamarnya. Sedikit bingung karna ditengah malam yang hampir menuju pagi itu Alana masih terjaga dengan kedua mata yang masih dalam keadaan tatapan segar.
“Saya sangat lapar mom.. Dan entah kenapa tiba tiba saya ingin merasakan masakan mommy..” Jawab Alana dengan raut wajah super tidak enak menatap Caterine.
Caterine tampak sangat terkejut namun kemudian tertawa.
“Masakan mommy? Bagaimana mungkin? Mommy sama sekali tidak bisa memasak Alana..”
Alana terkekeh pelan. Sebenarnya Alana tidak sedikitpun merasa lapar. Alana hanya penasaran ingin mengetahui bagaimana sikap Caterine jika hanya berdua saja dengan-nya. Alana juga sengaja beralasan ingin memakan masakan Caterine untuk mengetes keperdulian wanita itu padanya juga calon cucunya.
“Memangnya apa yang ingin kamu makan sekarang?” Tanya Caterine dengan wajah penasaran-nya.
“Hanya nasi dan tempe goreng serta sambal saja mom.. Saya yakin itu tidak sulit untuk mommy buat.”
Caterine menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Caterine benar benar merasa bingung sekarang. Caterine tidak pernah terjun kedapur sendiri sejak dulu. Caterine selalu mengandalkan jasa orang lain untuk masalah olah mengolah bahan makanan.
“Baiklah, mommy akan coba buat. Ayoo..”
Alana mengangguk dengan sangat antusias. Alana kemudian melangkah lebih dulu menuju dapur. Niatnya bukan mengerjai Caterine, namun untuk mengetes wanita itu seberapa bisa dirinya sabar dalam bersikap. Alana ingin membuktikan sendiri apakah Caterine benar benar berubah baik atau sedang kembali melakukan sandiwara lagi seperti kemarin kemarin.
Ketika sampai didapur, Caterine segera meraih sepotong tempe. Caterine membuka hp-nya mencari cara bagaimana membuat tempe goreng seperti yang ingin dimakan Alana sekarang. Dan dengan sangat kaku Caterine mulai memotong tempe menjadi bagian yang lebih kecil. Caterine juga menyiapkan bumbu marinasi untuk potongan tempe tersebut meski terlihat sangat kebingungan.
Alana yang duduk dikursi terus menatap Caterine. Dari gerak gerik sampai ekspresi takutnya saat memasukkan potongan tempe itu kedalam wajan berisi minyak yang memang sudah dipanaskan.
__ADS_1
“Ya ampun !!”
Caterine hampir saja meloncat dari tempatnya berdiri begitu mendengar suara tempe basah masuk kedalam minyak panas. Hal itu membuat Alana tertawa merasa geli. Terlihat sekali Caterine bukan wanita yang lihai dalam melakukan kegiatan masak memasak.
Meski terlihat kewalahan namun Caterine tetap melanjutkan menggoreng tempe itu. Setengah jam kemudian tempe goreng dan sambal yang di inginkan Alana sudah tersaji diatas meja. Meski warna tempenya tampak sangat tidak menarik karna hampir gosong namun Alana tetap mamakan-nya. Alana berusaha menghargai kebaikan Caterine yang sudah mau menuruti kemauan-nya membuatkan tempe goreng dan sambal untuknya.
“Pasti rasanya sangat tidak enak. Warna tempenya tidak sama seperti warna tempe goreng yang biasa bibi masak. Maaf Alana, mommy benar benar tidak tau bagaimana cara membuatnya.” Ujar Caterine menatap Alana dengan wajah sendunya.
Alana tersenyum mendengarnya. Caterine terlihat sangat tulus. Namun Alana tetap merasa harus waspada.
“Nggak papa mom.. Saya sudah sangat berterimakasih dengan mommy sudah mau membuatkan-nya saja.”
Caterine menghela napas kemudian meraih tangan Alana, menggenggamnya erat seperti seorang yang sedang menaruh harapan besar pada Alana.
“Alana... Mommy memang bukan mommy yang baik untuk Rayan sejak dulu. Mommy pernah meninggalkan Rayan dan sama sekali tidak memperdulikan-nya. Tapi sejak kami bertemu lagi, mommy sadar. Rayan adalah anak mommy.. Anak yang dengan susah payah mommy lahirkan bahkan sampai mommy rela bertaruh nyawa untuknya dulu..”
“Alana.. Mommy tau kamu pasti sangat membenci mommy karna mommy jahat sama kamu.. Tapi semua itu mommy lakukan bukan tanpa alasan. Mommy hanya tidak mau Rayan berpaling dari mommy. Mommy tidak mau kehilangan kasih sayang dari Rayan. Mommy sadar mommy butuh dia Alana..”
Alana menghela napas kemudian tersenyum dengan kepala menggeleng. Firasatnya benar, Caterine tidak benar benar berubah.
Pelan pelan Alana melepaskan genggaman tangan Caterine.
“Mommy.. Sampai kapanpun Rayan tetap anak mommy.. Saya memang istrinya, tapi dalam hati saya yang paling dalam tidak pernah terbesit sedikitpun keniatan untuk menjauhkan Rayan dari mommy.. Saya juga mempunyai ibu dan saya sangat menyayangi ibu saya. Tidak jauh berbeda dengan Rayan yang juga sangat menyayangi mommy..” Jelas Alana dengan suara pelan.
Caterine mengangguk dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
“Kamu memang wanita yang baik Alana. Tidak heran Rayan sangat menyayangi kamu..”
“Terimakasih atas pujian-nya mommy. Tapi saya tidak sebaik yang mommy pikirkan.”
__ADS_1
Caterine tidak menjawab. Wanita itu hanya diam dengan senyuman yang terus terukir dibibirnya.
Setelah selesai dengan obrolan-nya, Alana berlalu dari meja makan meninggalkan Caterine setelah sebelumnya berpamitan lebih dulu.
“Kamu darimana?”
Pertanyaan Rayan langsung menyambut Alana begitu Alana masuk kedalam kamar. Pria itu baru saja selesai dari kamar mandi begitu Alana masuk.
“Kamu bisa cek sendiri lewat hp kamu darimana aku tadi.” Jawab Alana yang berhasil membuat Rayan mengeryit bingung. Rayan merasa Alana seperti sedang marah sekarang.
“Aku ngantuk.” Ujar Alana sambil naik keatas tempat tidur enggan untuk menjawab lagi jika Rayan hendak bertanya.
Rayan semakin tidak mengerti. Hampir 1 jam Alana keluar dari kamar dan ketika masuk kembali raut wajahnya terlihat seperti orang marah. Nada bicaranya pun saat menjawab pertanyaan Rayan sudah sangat kentara.
“Ada apa?” Batin Rayan semakin merasa penasaran.
Rayan melangkah menuju tempat tidur. Pria itu menatap lagi pada Alana yang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal kemudian menghela napas. Wanita hamil memang gampang sekali marah dan tersinggung.
Rayan meraih hp-nya yang berada diatas nakas. Pria itu kemudian membuka bagian CCTV pada waktu dimana Alana berada diluar kamar.
Rayan mengeryit melihat Alana yang menatap Caterine yang sedang berkutat didapur. Mereka berdua tampak sangat akrab hingga akhirnya keduanya duduk berhadapan dimeja makan.
Rayan semakin penasaran ketika melihat keduanya yang tampak asik mengobrol dan disitu Caterine terlihat tersenyum dan tertawa.
“Apa mommy mengatakan sesuatu yang menyinggung Alana?” Gumam Rayan sambil menoleh menatap Alana yang bersembunyi dibalik selimut diatas ranjang mereka.
Rayan menghela napas lagi. Pria itu berpikir mungkin ucapan Caterine sedikit menyinggung hati istrinya sehingga Alana terlihat marah begitu Rayan bertanya.
“Ck, mommy.. Apa lagi yang mommy rencanakan sekarang?”
__ADS_1