
“Bagaimana Ramon?” Tanya Alana sembari menutupi tubuh polosnya setelah aktivitas malamnya bersama Rayan.
Rayan menghela napas. Menuduh Ramon tanpa bukti bukan perbuatan yang baik. Ditambah Ramon yang sepertinya memang jujur dan mengatakan apa adanya.
“Ramon tidak tau menau tentang kehamilan Sechil. Dia bahkan menganggap itu hanya alasan orang suruhan Luky yang memukulinya.” Jawab Rayan sembari merengkuh tubuh Alana kedalam pelukan-nya.
“Ramon bahkan bilang mencintai Sechil. Mereka sempat bersama selama 1 minggu tapi akhirnya Ramon memutuskan hubungan karna Sechil ketahuan selingkuh dengan seniornya.” Tambah Rayan.
Alana mengangguk pelan. Sechil memang terlalu bebas dalam pergaulan-nya.
“Rayan..” Panggil Alana kemudian.
“Hemm..” Saut Rayan memejamkan kedua matanya. Rayan merasa sedikit mengantuk setelah beraktivitas seharian.
“Sampai kapan kita menutupi kehamilanku?”
Pertanyaan Alana membuat Rayan kembali membuka kedua matanya. Pria itu menelan ludahnya. Kehamilan Alana cepat atau lambat pasti akan diketahui oleh Caterine juga Sechil. Apa lagi semakin hari perut Alana pasti akan semakin terlihat.
“Perutku pasti akan membesar nanti. Saat itu tiba apa yang harus kita katakan pada mommy juga Sechil?” Tanya Alana lagi dengan wajah sendu.
Rayan tampak berpikir. Walaupun penjagaan dirumahnya akan Alana sudah diperketat, tapi itu juga tetap tidak bisa membuat Rayan merasa tenang. Mommy-nya selalu saja memusuhi Alana bahkan sampai sekarang.
“Aku akan belikan rumah baru untuk mommy.” Kata Rayan membuat Alana langsung mendongak menatapnya.
“Tolong jangan protes. Hanya ini satu satunya jalan untuk aku tenang.”
“Lalu bagaimana dengan Sechil? Mommy sedang tidak mau bersikap baik padanya Rayan.”
Rayan terdiam lagi. Sechil untuk saat ini memang sedang tidak mengganggu Alana. Itu tentu saja karna Sechil yang sedang terpuruk sendiri dengan masalahnya.
“Aku akan pikirkan lagi nanti untuk masalah Sechil.”
Alana menghela napas pelan. Alana kasihan sebenarnya pada Rayan. Pria itu sepertinya tidak pernah merasa tenang sejak kehadiran adik dan mommy-nya. Ditambah sekarang Alana sedang hamil, pastilah beban pikiran-nya bertambah.
“Sebenarnya kamu tidak perlu terlalu khawatir Rayan, aku bisa menghadapi mommy juga Sechil.” Ujar Alana pelan.
__ADS_1
Rayan tersenyum. Keselamatan juga kenyamanan Alana adalah hal utama baginya.
Rayan menarik kembali Alana kedalam pelukan-nya. Pria itu mendaratkan ciuman singkat dibibir merah alami Alana.
“Kamu dan anak kita adalah segalanya bagiku sekarang Alana.” Bisik Rayan tepat didepan bibir Alana.
Alana tersenyum. Rayan yang dulu begitu egois, kejam juga suka memaksa kini sangat mencintainya. Rayan mengupayakan berbagai hal demi kenyamanan Alana didalam rumahnya.
“Sudah malam, lebih baik kita tidur sayang.” Kata Rayan lagi yang langsung mendapat jawaban anggukan kepala dari Alana.
--------
Sementara itu ditengah malam diwaktu semua penghuni dirumah mewah berlantai 3 milik Rayan sedang terlelap Caterine keluar dari kamarnya. Wanita itu melangkah pelan menuju kamar Sechil yang tidak jauh dari kamarnya. Caterine membuka pintu kamar Sechil yang memang tidak pernah dikunci dan kembali menutup pintu kamar Sechil. Caterine menyalakan kembali lampu dikamar Sechil membuat Sechil terjaga dari tidurnya yang tidak pernah lelap.
“Mommy...” Sechil bergumam bahagia. Bibir pucatnya mengukir sebuah senyuman melihat Caterine yang berdiri didepan ranjangnya.
“Ssstt...” Caterine meletakan jari telunjuknya didepan bibirnya menyuruh agar Sechil diam.
Sechil mengangguk menurut. Gadis yang memang sudah tidak lagi perawan itu menutup mulutnya dengan tangan seperti anak kecil. Begitu polos dan imut.
Sedangkan Caterine, wanita itu mengedarkan pandangan-nya keseluruh sudut ruangan kamar Sechil memastikan masih tidak ada CCTV dikamar itu. Caterine juga mengecek semua bagian kamar takut jika hal yang seperti Robin lakukan masih berlaku.
“Diam dulu Sechil.” Caterine sedikit membentak Sechil membuat Sechil tersentak kemudian mengangguk lagi.
Setelah memastikan semuanya aman, Caterine mendekat pada Sechil. Wanita itu berdiri disamping ranjang menatap Sechil yang duduk diatas ranjang tersebut dan menatapnya.
“Sechil kangen banget sama mommy...” Lirih Sechil.
Caterine tersenyum miring. Dengan pelan Caterine mendudukan dirinya ditepi ranjang tepat disamping Sechil.
“Mommy punya rencana bagus Sechil.”
Kedua mata Sechil melebar. Mommy-nya masih memikirkan cara agar bisa menguasai harta milik Rayan juga menyingkirkan Alana dari rumah itu.
“Kakak sudah sangat baik sama kita mom.. Bahkan disaat mommy tidak perduli sama aku kakak begitu telaten membujuk bahkan menyuapiku makan.” Ujar Sechil yang sedikit demi sedikit mulai menyadari kesalahan-nya.
__ADS_1
“Lalu?” Tanya Caterine dengan keryitan dikeningnya.
“Kita sudahi saja semuanya mom.. Aku pikir kita akan tenang dan tidak akan hidup dalam kebencian.” Jawab Sechil tersenyum tipis.
Caterine melengos. Caterine tidak mau berbagi dengan siapapun. Tidak ada yang boleh memiliki harta dari mantan suaminya selain dirinya juga Sechil.
“Kamu pikir hidup seperti bayangan itu enak Sechil?”
“Maksud mommy apa?” Tanya Sechil bingung.
Caterine menghela napas kasar kemudian menatap perut Sechil yang tertutup oleh selimut.
“Kamu masih tidak mau menggugurkan janin dalam perut kamu?”
Sechil menggelengkan kepalanya. Rayan berhasil membuatnya sadar agar Sechil tidak lagi mengulangi kesalahan-nya dengan membunuh janin dalam kandungan-nya.
“Anak ini tidak bersalah mom.. Dia berhak untuk hidup dan lahir kedunia.” Jawab Sechil tidak berani menatap Caterine.
Caterine tersenyum penuh arti. Tanganya meraih dagu Sechil mengarahkan agar Sechil kembali menatapnya.
“Mommy setuju.” Katanya.
Mendengar itu Sechil langsung berhambur memeluk tubuh Caterine. Sechil sangat bahagia karna akhirnya Caterine tidak memaksanya untuk menggugurkan janin yang sedang dikandungnya.
“Mommy mau menerima anak ini sebagai cucu mommy.. Tapi dengan syarat Sechil.”
Senyuman dibibir Sechil langsung sirna. Sechil melepaskan pelukan-nya kemudian menatap bingung pada Caterine yang terus tersenyum penuh arti padanya.
“Sepertinya Rayan sangat menyayangi anak ini. Dan mommy yakin kita bisa memanfaatkan-nya untuk mengusir Alana dari rumah ini.”
Sechil menggeleng. Benih dari kesalahan-nya sedang berbunga sekarang. Dan bunga sempat membuatnya hampir putus asa bahkan hampir juga membuat Sechil ingin mengakhiri hidupnya. Sechil tidak ingin menuai lagi benih kesalahan untuk yang kedua kalinya karna bunganya pasti akan jauh lebih membuatnya juga Caterine lebih hancur nantinya.
“Tapi mom..”
“Tidak ada tapi tapian Sechil. Kamu harus nurut sama mommy.. Rayan baik sama kamu karna itu memang sudah seharusnya. Ingat tujuan utama kita datang kejakarta Sechil dan jaga baik baik janin dalam kandungan kamu ini karna dia yang akan membantu kita memperoleh apa yang kita mau selama ini.” Sela Caterine membuat Sechil tidak tau harus berkata apa.
__ADS_1
“Sekarang kamu bisa tidur lagi. Selamat malam dan mimpi yang indah. Mommy sayang banget sama kamu.” Caterine mendorong pelan tubuh Sechil agar kembali berbaring diatas tempat tidur. Wanita itu tidak lupa memberikan kecupan singkat dikening Sechil sebelum keluar dari kamar Sechil dengan sangat antusias.
Sedang Sechil, dia terlihat bingung. Rayan adalah kakak yang sangat baik untuknya tidak mungkin rasanya jika Sechil masih meneruskan niat awalnya setelah apa yang terjadi. Tapi menolak permintaan mommy-nya juga rasanya lebih tidak mungkin. Sechil tidak mau kehilangan Caterine yang begitu sangat memanjakan-nya sejak kecil.