
Caterine sedang membersihkan photo photo Alana dan Ramon saat pintu kamarnya dibuka dengan pelan oleh dokter Safana. Caterine menoleh dan tersenyum. Caterine jauh terlihat lebih muda dari yang dulu. Dengan gaya rambut barunya yang dipotong sebahu dan lurus hitam legam.
“Dokter...” Caterine meletakan photo Alana diatas meja diseberang ranjangnya.
“Nyonya, saya punya kejutan untuk nyonya.”
Caterine tertawa pelan mendengarnya. Dokter Safana selalu saja berhasil membuatnya tersenyum. Wanita cantik itu sangat perhatian padanya.
“Apa itu dokter?” Tanya Caterine penuh rasa penasaran.
Dokter Safana tersenyum penuh arti kemudian menyuruh untuk Rayan, Alana, Sechil juga Ramon masuk kedalam kamar Caterine. Dan kehadiran tiba tiba mereka membuat Caterine terdiam mematung ditempatnya berdiri. Kain yang Caterine gunakan untuk membersihkan photo photo Ramon dan Alana dari debu terlepas dari genggaman tangan-nya. Senyuman yang sempat menghiasi bibir merahnya juga langsung pusar begitu tatapan-nya bertemu dengan kedua anak dan menantunya.
“Ya Tuhan... Apa ini mimpi?” Caterine bertanya tanya dalam hati. Pasalnya Caterine sering bermimpi dijenguk oleh Rayan dan Sechil yang kemudian dirinya kecewa begitu terbangun dari mimpi indahnya itu.
“Tuan, nyonya.. Saya permisi mau keluar sebentar.” Ujar dokter Safana pada Rayan dan Alana.
“Ya dokter. Terimakasih dan hati hati..” Senyum Rayan yang diangguki oleh Dokter Safana.
Dokter Safana kemudian berlalu meninggalkan Caterine dengan Rayan, Alana, Sechil juga Ramon. Dokter cantik itu yakin semuanya akan baik baik saja. Caterine tidak akan histeris apa lagi sampai mengamuk.
Rayan menghela napas pelan kemudian melangkah pelan mendekat pada Caterine. Rayan tersenyum manis menatap Caterine yang memang terlihat lebih cantik dan awet muda. Wanita itu juga terlihat sedikit berisi dengan aura positif yang bisa Rayan rasakan saat mereka sudah benar benar berhadapan.
“Apa ini mimpi? Apa mommy sedang tidur sekarang? Apa kamu akan pergi setelah mommy membuka mata Rayan?” Suara Caterine bergetar saat melontarkan pertanyaan itu.
Rayan yang mendengarnya segera meraih kedua bahu Caterine, mengusapnya dengan lembut.
“Mommy nggak mimpi. Aku, Alana, Ramon dan Sechil datang untuk mommy.” Ujar Rayan dengan sangat lembut.
Air mata yang sedari tadi menggenangi kedua kelopak mata Caterine akhirnya lolos dan menetes membentuk anak sungai di kedua pipi tirus Caterine.
Rayan tidak ingin melihat mommy nya menangis segera menyekanya dengan lembut menggunakan kedua ibu jarinya.
“Don't cray mom.. Please...” Lirih Rayan yang memang tidak ingin lagi ada air mata.
Caterine tidak bisa untuk tidak menangis. Wanita itu bahkan langsung terisak dan menangis kencang merasa sangat terharu dengan kedatangan anak anaknya.
“Ya Tuhan.. Mommy kangen banget sama kamu Rayan...”
Caterine langsung memeluk Rayan dengan sangat erat. Wanita itu menangis terisak dengan begitu kencang dibalik punggung Rayan yang membalas pelukan eratnya dengan lembut.
__ADS_1
Alana, Ramon, juga Sechil yang melihatnya tersenyum. Mereka perlahan mendekat pada Rayan dan Caterine yang terus berpelukan.
“Mom..” Alana memanggil Caterine dengan pelan sangat hati hati. Alana yakin Caterine tidak akan marah atau mengusirnya dan Ramon.
Mendengar suara pelan Alana, Caterine melepaskan pelukan-nya pada Rayan. Caterine membalikan tubuhnya menatap Alana yang menggendong Zoya didepan-nya.
Air mata Caterine semakin deras menetes. Tubuh Caterine meluruh hingga akhirnya berlutut didepan Alana. Alana yang terkejut mundur selangkah.
Sedang Rayan, pria itu hanya diam saja melihat apa yang dilakukan oleh mommy nya.
“Ya Tuhan.. Mommy.. Apa yang mommy lakukan?” Alana ikut berlutut mengsejajarkan posisinya dengan Caterine.
“Mommy banyak salah sama kamu nak. Mommy sudah sangat jahat sama kamu..” Tangis Caterine.
Alana tersenyum kemudian meraih tangan Caterine. Alana menjabat tangan Caterine kemudian mencium punggung tangan-nya tulus.
“Jangan mengingat masa lalu mom.. Yang penting sekarang adalah masa depan. Jadikan semua yang sudah lalu itu pembelajaran untuk kita semua hidup lebih baik lagi kedepan-nya.”
Rayan, Sechil, juga Ramon tersenyum mendengar apa yang Alana katakan pada Caterine. Caterine memang sudah banyak melakukan kesalahan pada Alana sejak pertama kali bertemu dengan Alana dulu.
“Mommy minta maaf nak.. Mommy benar benar minta maaf.. Tolong jangan hukum mommy lagi.. Sudah cukup bagi mommy hidup menahan rindu pada kalian semua.. Mommy sadar, mommy butuh kalian..”
“Saya sudah memaafkan mommy bahkan sebelum mommy minta maaf. Saya juga minta maaf mom, mungkin selama ini saya belum bisa menjadi menantu yang baik untuk mommy..”
Tangisan Caterine semakin kencang mendengar apa yang Alana katakan. Alana yang tidak tega segera memeluk Caterine erat, mengusap usap punggung bergetar Caterine berusaha untuk menenangkan-nya.
Cukup lama Caterine menangis dalam pelukan Alana hingga akhirnya suara Zoya menyadarkan Caterine. Caterine langsung melepaskan pelukan Alana kemudian bangkit dengan Ramon dan Alana yang membantunya.
“Zoya.. Cucu oma..” Senyum Caterine mendekat pada Rayan yang sedang menggendong Zoya.
“Ya mom.. Ini cucu mommy..”
Caterine menoleh pada Alana kemudian beralih menatap Sechil dan Ramon.
“Apa ini Kenzie?”
“Ya oma.. Ini Kenzie cucu oma..” Senyum Ramon menyauti.
Caterine tertawa namun lagi lagi air mata menetes membasahi pipinya. Ramon yang juga tidak mau melihat kesedihan dengan lembut mengusap pipi basah Caterine.
__ADS_1
“Jangan menangis mom. Nanti cantiknya ilang.” Katanya.
Caterine semakin tertawa mendengarnya. Wanita itu langsung berhambur memeluk Ramon yang selama ini juga dibencinya. Ramon, menantu terbaik yang tidak pernah Caterine hargai usahanya dalam membahagiakan Sechil, putri kesayangan-nya.
“Mommy minta maaf Ramon. Mommy banyak salah sama kamu..” Lirih Caterine dengan suaranya yang masih bergetar.
“Ya mom.. Ramon juga minta maaf kalau banyak salah sama mommy..”
Lengkap sudah kebahagiaan Rayan sekarang. Penantian-nya terjawab sudah. Caterine sadar akan semua kesalahan-nya sebelum benar benar terlambat. Teguran dari Tuhan benar benar langsung mengenai hati dan berhasil meluluhkan-nya. Sekarang Rayan percaya bahwa kata “Akan indah pada waktunya” itu memang benar.
Hari itu adalah hari terbahagia bagi Rayan dan semuanya. Mereka mengobrol hangat, bercanda bersama dikamar Caterine. Zoya dan Kenzie menjadi pusat kebahagiaan mereka sekarang. Berkat keduanya juga Caterine merasa sangat tersentuh dan menyadari semua kesalahan-nya dimasa lalu.
Obrolan hangat mereka terhenti saat suara ketukan pintu terdengar.
“Ada apa mbak?” Tanya Caterine dengan sangat lembut.
“Maaf nyonya, makan siangnya sudah siap.” Ujar Asisten rumah tangga muda yang akrab dipanggil mbak Sri itu.
“Oh iya.. Sebentar lagi kami akan turun. Terimakasih ya mbak. Kamu juga jangan lupa makan siang yah..” Saut Caterine tersenyum manis.
“Ya nyonya..” Angguk mbak Sri sebelum berlalu.
Caterine kemudian mengajak Rayan, Alana, Sechil juga Ramon untuk turun dan makan siang bersama. Caterine benar benar terlihat sangat bahagia karna kehadiran anak anaknya.
“Emm.. Alana, biar mommy yang gendong Zoya...” Ujar Caterine saat Alana hendak mengangkat tubuh gempal Zoya.
“Oke..” Angguk Alana setuju saja.
Caterine langsung mengambil Zoya dan menggendongnya kemudian membawanya keluar meninggalkan Rayan dan Alana yang tersenyum bahagia menatapnya.
“Eemm.. Mommy pasti akan lebih bahagia lagi kalau Zoya secepatnya mempunyai adik.”
Alana tertawa mendengar ucapan Rayan.
“Dasar suami genit.” Balasnya.
Enggan menyauti lebih panjang lagi candaan suaminya Alana pun memilih untuk menyusul Caterine yang sudah lebih dulu keluar dari kamar itu.
Rayan tertawa sendiri. Pria tampan berjas hitam itu menggelengkan kepalanya kemudian menyusul Alana keluar dari kamar Caterine. Semua kebahagiaan yang di impikan-nya selama ini sudah menjadi kenyataan. Dan Rayan berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga dengan baik semua itu.
__ADS_1
----END----