
Alana terlihat sangat bahagia dengan keberadaan Sari. Wanita itu bahkan meminta izin pada Rayan untuk tidur berdua bersama sang ibu yang tentu saja langsung mendapat anggukan juga senyuman manis dari Rayan.
Meski sebenarnya Rayan merasakan sesak didadanya melihat kasih sayang Sari yang begitu tulus pada Alana tapi Rayan berusaha untuk menutupinya dari Alana. Ditengah sunyinya malam Rayan bahkan menangis seorang diri meratapi nasibnya yang dari kecil tidak pernah mendapat kasih sayang dari Caterine. Rayan menyimpan luka yang entah kenapa tiba tiba seakan berdarah kembali begitu melihat harmonisnya hubungan Alana dan Sari.
Pagi ini meja makan tampak sangat royal dengan berbagai masakan yang dimasak langsung oleh Alana juga Sari. Dan lagi lagi Rayan hanya bisa tersenyum. Rayan benar benar merasa iri sekarang pada Alana.
“Aku masaknya sengaja dibanyakin pagi ini Rayan, anggap saja ini sebagai hari kebahagiaan aku karna ibu mau menginap disini.” Kata Alana dengan sangat antusias.
Rayan tertawa mendengarnya. Tawa yang tidak sampai ke matanya. Tawa yang hanya sebagai tameng untuk menutupi lukanya yang kembali berdarah dan perih.
“Semuanya terlihat sangat enak.” Balas Rayan.
“Tentu saja. Oh iya kamu mau makan yang mana? ini aku sendiri yang buat, udang asam manis kesukaan kamu. Ah aku juga membuat pepes ikan. Kamu harus coba Rayan. Aku membuatnya dengan ikan segar. Pagi pagi sekali bibi dan Fina mencarinya kepasar. Dan ini, ini sayur kesukaan aku. Ibu yang membuatnya.”
Alana terus saja mengabsen satu persatu masakan yang tersaji diatas meja makan memberitahu Rayan dengan begitu gamblang semua hasil masakan-nya dan Sari.
“Semuanya, boleh aku mencoba semuanya?” Lirih Rayan dengan suara bergetar. Rayan sudah tidak bisa lagi menahan luka lamanya. Semuanya terlalu menyakitkan bagi Rayan.
Mendengar suara berbeda dan tidak biasa suaminya Alana pun berhenti berbicara. Alana menoleh menatap Rayan yang menundukan kepalanya. Kedua tangan besarnya yang berada diatas meja mengepal begitu erat.
“Rayan kamu..”
“Aku mau mencoba semuanya Alana. Aku mau mencicipi semua masakan kamu juga ibu..” Sela Rayan. Kentara sekali pria itu sedang menahan tangisnya.
Alana diam. Entah apa yang sedang dirasakan oleh suaminya Alana tidak tau. Alana menelan ludahnya menatap tidak mengerti pada Rayan yang terus saja menundukan kepalanya.
__ADS_1
Alana menyentuh tangan mengepal Rayan mengusapnya dengan lembut seolah memberitahu lewat sentuhan lembutnya bahwa dirinya ada dan akan selalu berada disamping pria itu dalam keadaan apapun.
Tidak kuat lagi menahan rasa sakitnya, Rayan pun bangkit dari duduknya kemudian berlalu dengan langkah lebar menuju ruang kerjanya. Rayan tidak ingin Sari melihatnya seperti pria yang lemah.
Alana yang melihatnya tidak tinggal diam. Alana membuntuti Rayan sampai ikut masuk kedalam ruang kerjanya.
Begitu hanya berdua didalam ruang kerjanya Rayan menatap Alana dengan wajah memerah dan basah oleh air mata. Saat itu juga Alana baru menyadari kedua mata suaminya yang sembab karna menangis semalaman.
“Ya tuhan...” Lirih Alana terkejut.
Alana melangkah menghampiri Rayan yang berdiri didepan meja kerjanya. Prianya yang selalu terlihat gagah dan tangguh kini sedang menangis dalam diam didepan-nya.
Alana mengulurkan kedua tanganya menyentuh kedua pipi Rayan yang basah setelah berada tepat didepan Rayan. Alana tidak tau apa yang terjadi sehingga Rayan sampai menangis pagi ini. Alana juga merasa apa yang dikatakan-nya tadi tidaklah salah.
“Ada apa?” Tanya Alana lirih.
“Katakan Rayan.. Katakan sesuatu..” Desak Alana masih dengan suara lirihnya.
Rayan menelan ludahnya membuat jakun-nya naik turun.
“Apa aku tidak pantas disayangi Alana? Apa aku tidak pantas diperhatikan?” Tanya Rayan dengan suara seraknya.
Alana menggeleng tidak mengerti dengan apa yang dipertanyakan oleh suaminya.
“Apa maksud kamu? Aku menyayangimu Rayan. Aku mencintai kamu.”
__ADS_1
Rayan menggeleng pelan.
“Ibu Sari bisa menyayangi kamu dengan tulus. Ibu Sari juga bisa mencintai kamu seperti mencintai anak kandungnya sendiri. Tapi aku..”
Jeda sejenak. Rayan kembali menelan ludahnya mencoba menahan agar tidak menangis terisak.
“Aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang dan cinta seperti yang kamu dapatkan dari mommy Alana.. Padahal mommy adalah mommy kandung ku.. Mommy adalah mommy yang berjuang bertaruh nyawa melahirkan aku kedunia ini.. Kalau memang mommy tidak mengharapkan aku dulu kenapa tidak mommy bunuh saja aku saat aku masih menjadi janin didalam rahimnya. Kenapa mommy melahirkan aku jika tidak bisa menyayangi dan mencintaiku?”
Alana ikut merasakan sesak didadanya mendengar pertanyaan penuh kepiluan Rayan. Caterine memang sudah sangat keterlaluan. Caterine tidak pernah menyayangi Rayan tapi sekarang Caterine mengharapkan harta yang Rayan miliki bahkan berniat menguasainya sendiri. Mirisnya lagi Caterine juga berniat menghancurkan kebahagiaan kedua anaknya, Rayan dan Sechil.
“Jangan bicara seperti itu Rayan. Kamu pantas mendapatkan cinta. Dan aku mencintai kamu.. Tolong jangan seperti ini. Tetaplah tangguh seperti Beast. Kamu laki laki kuat Rayan. Kamu bisa bertahan meskipun tanpa kasih sayang dari mommy.. Ada aku.. Aku yang akan selalu ada buat kamu dalam keadaan apapun.” Alana berusaha meyakinkan Rayan bahwa Rayan tidak sendiri. Rayan juga tidak akan kekurangan cinta dan kasih sayang selama Alana berada disampingnya.
“Percaya sama aku.. Aku akan selalu disini untuk kamu. Sampai kapanpun bahkan sampai napasku habis dan tubuh ini tidak lagi bernyawa.”
Rayan tertawa dalam tangisnya. Pria itu kemudian memeluk erat tubuh Alana. Keduanya berpelukan dengan sangat erat dan sama sama menangis. Menangisi nasib malang Rayan yang hanya dimanfaatkan oleh Caterine, ibu kandungnya sendiri.
“Dengarkan aku baik baik Rayan. Jika kamu membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu ada aku yang siap untuk memberikan itu.. Jika kamu membutuhkan teman untuk berkeluh kesah aku juga akan selalu ada untuk mendengarkan. Permintaan aku hanya satu, jadilah laki laki yang kuat yang akan menjadi idola bagi anak anak kita nanti. Tunjukan pada mommy bahwa kamu bisa hidup bahagia bersamaku.” Bisik Alana kembali meyakinkan Rayan.
Rayan menganggukan kepalanya dibalik punggung Alana. Rasa sesak didadanya perlahan mulai berkurang karna apa yang Alana katakan.
“Tetap disisiku Alana. Aku mohon, jangan pernah tinggalkan aku..” Pinta Rayan dengan kedua mata terpejam.
“Tentu saja. Aku janji akan selalu ada disamping kamu Rayan. Aku mencintaimu, sangat mencintai kamu..”
Dari ambang pintu yang terbuka lebar Sari menyaksikan semuanya. Sari tau bagaimana perjalanan hidup seorang Rayanza Gilbert. Kekurangan kasih sayang dan cinta memang sudah dari kecil Rayan rasakan. Sari dan bibi adalah saksi bagaimana menyedihkan-nya masa kecil Rayan.
__ADS_1
Sari ikut meneteskan air matanya merasa terharu dengan apa yang Alana katakan pada Rayan. Sari berharap keduanya bisa terus bersama dan saling melengkapi didunia ini bahkan sampai tangan tuhan menyatukan kembali keduanya dalam kehidupan yang abadi setelah kematian.
“Ibu tau kamu bisa menjaga kesetiaan itu Alana.”