
“Kamu kenapa?” Tanya Ramon melihat Sechil yang tampak tidak bernafsu melahap makan malam yang mereka berdua masak sendiri.
Sechil berdecak. Rasanya Sechil ingin sekali mencakar wajah cantik Cleo jika mengingat apa yang Cleo katakan padanya. Cleo berhasil membuatnya merasa tidak nyaman.
“Karna Cleo pagi tadi?” Tanya Ramon yang langsung bisa menebak dengan benar apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya.
Sechil melepaskan sendok dan garpu yang dipegangnya.
“Kayanya mending kita nggak usah lagi deh komunikasi sama Bastian. Aku nggak suka dengan cara ngomong Cleo.” Ujar Sechil.
Ramon tersenyum.
“Ya nggak bisa gitu dong sayang. Apa lagi kan sekarang Bastian tau kamu hamil anak dia. Dia pasti tetap akan menghubungi kamu bahkan bisa saja dia mencari kamu kalau ngumpet sampai kekolong tempat tidur pun.”
“Nggak sekalian kelubang semut?!” Timpal Sechil jutek.
Ramon tertawa mendengarnya.
“Kamu ada ada aja sih..”
Ramon meraih segelas air putih kemudian menenggaknya sampai habis tak tersisa.
“Aku tau Cleo nggak suka Bastian tanggung jawab sama aku. Tapi harusnya dia tinggal bilang terus terang sama Bastian-nya dong. Jangan buat aku ngerasa nggak nyaman pake nanya nanya tentang rumah sakit sampai nyinggung soal biaya.”
Ramon menganggukkan kepalanya mengerti. Karna Ramon juga merasa terganggu dengan ucapan yang Cleo lontarkan. Ramon menyeret kursi yang didudukinya mendekat pada kursi yang diduduki Sechil.
“Ramon, kamu ngomong aja sama Bastian nggak usah kirimin aku ini itu. Nggak usah beliin aku apa apa lagi. Aku cuma butuh pengakuan dia untuk anak ini. Aku nggak butuh apapun selain itu.”
Ramon meraih tangan Sechil. Digenggamnya dengan lembut tangan Sechil. Ramon tau juga paham dengan apa yang Sechil rasakan. Tapi melarang Bastian juga itu tidak mungkin. Bastian sudah tau semuanya dan akan salah paham jika Ramon yang melarangnya untuk mengirim atau membeli ini itu untuk Ramon.
__ADS_1
“Sechil dengar, aku akan berusaha menjadi papah yang baik untuk anak ini. Tapi kalau untuk melarang Bastian aku minta maaf. Aku tidak mungkin melakukan itu.”
“Kenapa?” Tanya Sechil cepat.
“Karna Bastian lebih berhak dari aku atas anak ini Sechil. Aku berhak atas kamu tapi tidak dengan anak ini.. Kalau kamu mau Bastian berhenti mengirim ini dan itu kamu bisa mengatakan-nya sendiri. Mungkin itu akan membuat Bastian lebih mengerti.”
Sechil diam. Kepalanya menunduk menatap tangan Ramon yang menggenggam tangan-nya. Ramon ada disisinya karna anak dalam kandungan-nya. Ramon menikahinya untuk menjadi ayah yang baik untuk anak yang sedang dikandungnya. Walaupun ayah kandung dari anaknya sudah diketahui siapa tapi Sechil tetap merasa Ramon lebih pantas untuk menjadi papah dari anak yang sedang dikandungnya.
“Apa aku berikan saja anak ini pada Bastian setelah dia lahir nanti supaya kita bisa hidup tenang tanpa gangguan dari siapapun apa lagi Cleo.”
Kedua mata Ramon membulat mendengarnya.
Ramon tidak menyangka Sechil akan berkata seperti itu.
“Apa yang kamu katakan Sechil. Anak ini akan terus bersama kita, apapun yang terjadi.”
“Tapi kalau anak ini ada bersama kita, hidup kita akan terus direcoki oleh Cleo. Aku nggak mau itu terjadi.” Balas Sechil cepat.
“Sechil..” Suara Ramon melembut. Pria itu menatap penuh perhatian pada Sechil yang terlihat sangat khawatir karna hidupnya akan tidak tenang karna Cleo.
“Kalau kamu serahkan anak ini pada Bastian, belum tentu anak ini akan bahagia. Oke, mungkin semua yang dia butuhkan akan terpenuhi. Tapi kasih sayang dari seorang ibu dia tidak akan mendapatkan itu. Cleo juga belum tentu bisa menerimanya.”
Sechil diam. Mendengar apa yang Ramon katakan tiba tiba Sechil membayangkan masa kecil kakak-nya sendiri Rayan. Rayan tumbuh besar dan dewasa tanpa sedikitpun kasih sayang dari Caterine, mommy nya. Sechil tidak mau anaknya mengalami hal seperti itu.
“Aku nggak mau anakku sampai menderita Ramon..” Lirih Sechil dengan kedua mata berkaca kaca menatap Ramon.
Ramon tersenyum merasa lega. Beruntung Sechil masih bisa diluruskan pemikiran-nya. Tidak seperti mommy-nya yang hanya memikirkan harta dan harta.
“Aku juga nggak mau anak kita kurang mendapatkan cinta dan kasih sayang Sechil. Aku percaya kamu bisa menjadi ibu yang baik. Kamu bisa mendidiknya menjadi pribadi yang penuh cinta dan kasih sayang.” Senyum Ramon kemudian mencium punggung tangan Sechil.
__ADS_1
Sechil tersenyum merasa sangat terharu dengan apa yang Ramon katakan. Ramon meskipun bukan ayah dari janin yang sedang dikandungnya tapi Ramon bisa begitu sangat baik dan perhatian bahkan memikirkan dengan matang apa yang akan mereka lakukan kedepan-nya untuk anak itu.
“Aku akan coba ngomong sama Bastian tentang Cleo oke?” Ramon menegakkan kembali tubuhnya mengusap lembut pipi Sechil.
“Iya..” Senyum Sechil menganggukan kepala kemudian memeluk Ramon erat.
“Mungkin aku adalah orang paling beruntung karna bisa memiliki kamu Ramon. Tuhan sangat baik padaku..” Batin Sechil tersenyum dengan kedua mata terpejam.
--------
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Caterine sudah mendekam selama satu bulan dipenjara. Meskipun memang jika Rayan datang menjenguk dengan Alana Caterine masih tetap menyalahkan semuanya pada Alana. Tapi Alana tidak pernah memikirkan itu. Alana sudah memahami bagaimana mommy mertuanya itu begitu juga dengan Rayan.
Tidak jauh berbeda dengan Caterine, Dion pun sama. Pria itu semakin terlihat tidak waras. Memang sudah tidak lagi menangis ataupun menyebut nama Alana. Tingkahnya benar benar seperti anak kecil. Setiap hari Dion berbaur dengan pasien gila yang lain-nya. Dion bahkan seringkali memunguti daun kering dan membagikan-nya pada pasien gila lainya beranggapan bahwa yang dia bagikan adalah uang. Karma sepertinya benar benar berlaku untuk seorang Dion.
“Kamu kenapa?”
Lamunan Rayan buyar saat suara Alana terdengar dari arah belakang. Rayan memutar tubuhnya menatap Alana yang berdiri tidak jauh darinya. Sesaat Rayan terdiam menatap tubuh Alana yang semakin berisi dengan perut yang juga semakin membesar. Kelihatan sangat lucu dan menggemaskan menurut Rayan.
“Seminggu ini kamu sering sekali melamun Rayan. Apa ada masalah yang sedang kamu pikirkan lagi?” Tanya Alana sembari melangkah mendekat pada Rayan yang berdiri ditepi balkon kamar mereka.
Rayan tersenyum. Yang sedang dia pikirkan sekarang adalah amanat dari mendiang Daddy-nya, Richard.
“Kamu bisa cerita sama aku..” Kata Alana setelah berdiri tepat didepan Rayan.
Rayan membelai lembut pipi Alana menatapnya dengan penuh perhatian. Berbagai rintangan telah mereka lewati berdua dan mereka bisa menghadapinya dengan kepala dingin tanpa ada kesalah pahaman. Rayan bersyukur atas hal itu. Alana wanita yang sangat langka yang mungkin hanya dirinya yang memiliki.
“Aku sedang mengingat Daddy..”
Alana mengeryit.
__ADS_1
“Daddy?” Tanyanya.
“Ya. Daddy pernah mengatakan agar aku tetap tinggal dirumah yang lama bersama anak dan istriku, yaitu kamu. Bagaimana menurut kamu sayang?”