Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 116


__ADS_3

Besok siangnya Rayan dan Alana pergi dengan pak Lim yang mengantar. Mereka juga memboyong Fina dan bibi yang begitu antusias mengikuti mereka pindah.


“Sechil dan Ramon kenapa tidak ikut?” Tanya Alana saat Rayan sedang mengenakan sabuk pengaman-nya.


Rayan diam sesaat. Rayan tau Sechil mungkin marah padanya. Mungkin juga ucapan-nya memang sedikit keterlaluan.


“Eemm.. Mungkin nanti Sechil akan menyusul.” Jawab Rayan sekenanya.


Alana menyipitkan kedua matanya menatap Rayan penuh selidik. Alana ingat saat berpapasan dengan Sechil semalam Sechil tampak jutek padanya. Dan itu adalah ulah suaminya.


“Apa yang kamu katakan sebenarnya pada Sechil Rayan?” Tanya Alana curiga. Alana yakin Sechil tidak akan marah tanpa sebab.


Rayan berdecak. Menghadapi wanita hamil memang tidak mudah. Bahkan bisa dikatakan sangat sulit. Lebih sulit dari tumpukan pekerjaan-nya setiap hari.


“Ayolah... Aku tidak mengatakan apapun yang menyinggungnya. Aku mengatakan yang sewajarnya. Mungkin memang Sechilnya saja yang sedang sensitif.” Jawabnya.


Alana berdecak kemudian melengos. Alana tidak tau menau apa yang Rayan katakan pada Sechil juga sebaliknya. Dan Alana tidak mungkin hanya menyalahkan Rayan sementara dirinya tidak tau apa yang semalam mereka berdua bicarakan. Hanya saja Alana bisa sedikit menebak mungkin yang mereka bicarakan tidak lain adalah tentang Caterine.


“Ya sudah kalau begitu.” Balasnya jutek.


Rayan menggelengkan kepalanya. Sechil dan Alana benar benar sama persis sekarang. Mereka berdua mudah marah namun juga mudah tersenyum dalam waktu bersamaan.


“Jangan marah. Nanti aku belikan makanan pedas.” Rayan mencoba merayu dengan makanan pedas yang memang sangat disuka Alana akhir akhir ini.


“Oh ya? Berapa porsi?” Alana langsung menoleh dengan wajah antusias menatap Rayan yang sudah siap dengan kemudinya.


“Berapapun yang kamu minta aku pasti belikan Alana.” Jawab Rayan tersenyum manis.


Alana langsung bersorak senang. Wanita itu mengabsen beberapa menu makanan yang tiba tiba saja melintas dipikiran-nya. Hal itu membuat Rayan tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Alana benar benat bertingkah seperti balita berusia 5 tahun sekarang.


-------

__ADS_1


“Kenapa kamu belum bersiap?”


Sechil melirik sekilas pada Ramon yang sudah rapi dengan kaos panjang dan celana chinos nya. Wanita itu kemudian menghela napas. Sechil masih merasa kesal pada Rayan dan enggan mengantar kakak nya itu untuk pindah siang ini.


“Aku malas. Kamu aja sana.” Jawabnya.


Ramon tersenyum. Pria berkaos lengan panjang warna biru itu melangkah mendekat pada Sechil kemudian duduk tepat disamping Sechil ditepi ranjang.


“Jangan lama lama marahnya, nggak baik tau.” Ramon berusaha mengingatkan dengan lembut.


Sechil berdecak.


“Ucapan kakak semalam sangat keterlaluan. Kakak mengatakan bisa saja mommy menikah lagi. Aku sangat tidak suka.”


Ramon tertawa pelan. Caterine memang masih muda dan kemungkinan memang bisa menikah lagi. Dan menurut Ramon jika Rayan mengatakan seperti itu tidaklah salah.


Tidak mau memancing emosi istrinya semakin membludak, Ramon pun memilih cara lain untuk meredam emosi Sechil. Ramon menyentuh lembut perut Sechil kemudian mengusapnya.


Sechil tertegun. Ramon selalu saja mengajak janin yang sedang Sechil kandung berbicara. Ramon bahkan selalu menyebut dirinya sebagai papah yang dimana sebenarnya janin yang sedang Sechil kandung bukanlah benih yang Ramon tanam.


“Pokoknya anak papah harus bisa banggain semua orang yang ada didekat kamu nanti yah.” Lanjut Ramon membuat kedua mata Sechil memanas. Saat itu juga Sechil sadar bahwa untuk menjadi orang tua yang baik untuk anaknya nanti dirinya juga harus baik pada siapapun yang berada didekatnya. Baik itu keluarganya maupun orang lain.


“Aku minta maaf..” Lirihnya dengan suara bergetar.


Ramon melirik Sechil kemudian tersenyum. Pria itu kemudian memusatkan perhatianya pada Sechil. Perlahan wajahnya mendekat pada wajah Sechil. Ramon menatap lekat kedua mata Sechil yang berkaca kaca.


“Jangan meminta maaf padaku Sechil. Minta maaf pada kakak kamu..”


Sechil memejamkan kedua matanya kemudian mengangguk. Sechil sadar apa yang Rayan katakan tentang Caterine mungkin memang bisa saja terjadi. Caterine masih cukup muda untuk bisa menikah lagi.


“Ayo kita susul kakak sebelum jauh.” Ajak Sechil membuat Ramon tersenyum manis. Ramon memundurkan wajahnya memberi jarak.

__ADS_1


“Memangnya kamu tau alamat rumah baru yang akan ditempati kak Rayan dan kak Alana?” Tanya Ramon dengan wajah santai.


Sechil diam sesaat kemudian menggelengkan kepalanya.


“Aku bisa menelpon dulu.” Katanya kemudian bangkit dan segera meraih hp nya yang berada diatas nakas. Sechil segera menghubungi Rayan dan meminta dikirimkan alamat rumah baru Rayan.


Setelah mendapatkan alamatnya, Sechil dan Ramon segera menyusul Rayan dan Alana dengan menggunakan mobil Sechil yang memang sudah kembali Rayan berikan kuncinya.


Sementara itu ternyata Caterine memperhatikan kepergian Rayan dan Alana juga Sechil dan Ramon yang menyusul tidak lama kemudian. Caterine menatap dalam diam. Wanita itu benar benar merasa sendiri saat itu. Rayan sudah benar benar pindah dan akan mulai menempati rumah barunya yang bahkan Caterine saja belum tau dimana alamatnya. Rayan sepertinya memang sengaja tidak memberitahunya tentang alamat barunya dan Alana.


“Semua ini tidak akan merubah apapun Rayan.. Kamu tetaplah anakku, darah dagingku yang harus selalu berada dipihakku. Kamu harus selalu mengutamakanku sebagai wanita yang sudah berjasa melahirkan kamu kedunia ini.” Gumam Caterine tersenyum tipis.


Caterine menghela napas. Wanita itu menunduk menatap bekas luka dipergelangan tangan-nya. Luka itu luka yang memang Caterine gores sendiri. Luka yang memang sengaja Caterine ciptakan untuk membuat Rayan kembali mengutamakan-nya. Tapi sekarang, Rayan akan mulai jauh darinya. Rayan akan tinggal ditempat yang berbeda.


“Baiklah.. Masih banyak jalan untuk membuat kamu kembali Rayan. Mommy yakin kamu pasti sangat menyayangi mommy...” Caterine kembali bergumam.


Deringan hp dalam saku dress rumahan yang Caterine kenakan berhasil mengalihkan semua yang sedang Caterine pikirkan. Caterine merogoh saku dressnya mengeluarkan benda pipih berkesing gold tersebut.


“Bagaimana tante? Apa tante sudah tau alamat barunya?”


Caterine berdecak kesal begitu mendengar suara Dion. Ya, mereka memang diam diam kembali bekerja sama. Caterine tidak berubah baik seperti apa yang Sechil pikirkan. Caterine hanya berpura pura baik agar Rayan juga kembali bersikap baik padanya.


“Dion, kamu pikir saya ini detektif yang bisa leluasa kemana saja begitu? Sanggup membayar berapa kamu pada saya?” Caterine menjawab dengan nada tinggi. Kesal rasanya karna Dion begitu berani bertanya lancang seolah Caterine adalah orang suruhan-nya.


“Bukan begitu maksud saya tante. Baiklah, saya minta maaf. Sekarang apa tante sudah tau dimana alamat baru Rayan dan Alana?”


Caterine menghela napas.


“Rayan belum memberitahuku. Aku sedang berpura pura marah dan tidak mau menemaninya sekarang.”


Tanpa Caterine sadari ternyata Roky sedang berada tepat disamping balkon kamar Caterine. Pria berbadan kekar itu sedang membersihkan kaca dan tidak sengaja mendengar apa yang sedang Caterine bicarakan lewat sambungan telpon bersama Dion.

__ADS_1


“Ck, dasar wanita tidak jelas.” Gerutu Roky.


__ADS_2