
Ramon tidak kunjung bisa memejamkan kedua matanya. Pria itu terus membolak balikan tubuhnya merasa sangat tidak nyaman tidur berdampingan dengan Sechil. Namun faktor utamanya bukan tentang tidur berdampingan dengan Sechil, melainkan karna terhalang restu dari Caterine.
Ramon menghela napas. Kedua matanya menatap lurus kelangit langit kamarnya dan Sechil sekarang. Ucapan Caterine terus terngiang ditelinganya. Caterine mengatakan tidak akan merestuinya dan Sechil sampai kapanpun. Itu benar benar mengganggu pikiran Ramon sampai sekarang.
“Ya tuhan...” Gumam Ramon memejamkan kedua matanya. Ramon merasa frustasi sekarang. Bagaimanapun juga Caterine adalah ibu kandung Sechil yang sangat penting restunya bagi kelangsungan hubungan rumah tangganya dan Sechil.
“Ssshhh...”
******* pelan Sechil membuat Ramon membuka kembali kedua matanya. Ramon menoleh dan mengeryit melihat Sechil yang mengerutkan alis seperti seorang yang sedang menahan rasa sakit.
“Dia kenapa?” Tanya Ramon dalam hati.
Sechil mengubah posisi berbaring terlentangnya menjadi miring memunggungi Ramon. Lagi, Sechil melenguh namun kali ini lebih pantas disebut rintihan.
Pelan pelan Ramon mendekat pada Sechil. Ramon menyentuh lembut bahu Sechil.
“Pinggang aku, sakit sekali..” Keluh Sechil pelan dengan kedua mata terpejam.
Ramon menghela napas pelan merasa kasihan pada Sechil. Mungkin karna terlalu lama berdiri saat acara pernikahan mereka membuat Sechil merasakan kaku dan ngilu dibagian pinggangnya yang pada akhirnya timbul rasa sakit.
Ramon menyentuh pinggang Sechil memijitnya dengan pelan. Ramon berharap pijitan-nya bisa meringankan rasa sakit yang diderita Sechil dibagian pinggangnya.
Sechil berhenti merintih saat Ramon memijit pinggangnya. Seulas senyum perlahan terukir dibibir Ramon. Bisa bersama dengan Sechil sekarang adalah suatu hal yang sangat membahagiakan sekarang. Ramon sangat berharap dan berdo'a supaya bisa bersama selamanya dengan Sechil, membesarkan anak yang sedang dikandung Sechil meski itu bukan darah dagingnya.
Ramon terus memijit pelan pinggang Sechil. Rasa kecewa itu masih terasa. Bayangan Sechil berciuman didalam kelas bersama senior mereka dikampus membuat hati Ramon terasa kembali ngilu. Tapi sesakit apapun yang Ramon rasakan, rasa cintanya pada Sechil lebih kuat dari rasa apapun yang menyayat hatinya. Sechil mungkin memang tidak baik seperti gadis pada umumnya. Sechil urakan, egois, angkuh, juga sombong. Tapi tidak lagi sekarang. Sechil benar benar sudah berubah. Sechil bahkan mau mendengarkan nasehat Ramon.
Sekali lagi Ramon menghela napas. Kedua orang tuanya tidak tau bahwa Sechil hamil dan Ramon menikahinya untuk bertanggung jawab. Ramon yakin mereka berdua pasti akan marah dan tidak setuju jika Ramon mengatakan dengan jujur.
Suara ketukan pintu membuat Ramon menoleh kearah pintu. Pria itu bangkit pelan pelan dan turun dengan sangat hati hati agar Sechil tidak terganggu dengan pergerakan-nya.
“Tuan...” Ramon mengeryit ketika mendapati Rayan yang berdiri didepan pintu kamar Sechil. Rayan sudah mengganti jas mahalnya dengan kaos oblong warna putih tulang dan celana pendek selutut.
__ADS_1
“Kamu masih memanggilku tuan?”
Ramon tersenyum tipis. Rayan sudah menjadi kakak iparnya namun untuk memanggilnya dengan sebutan kakak Ramon merasa tidak pantas.
“Saya kakak kamu sekarang Ramon. Panggil saja saya Kakak.” Senyum Rayan pada Ramon.
“Baiklah, kakak..” Angguk Ramon dengan senyuman dibibirnya.
Rayan kemudian menyuruh agar Ramon mengikutinya untuk berbicara berdua diruang kerja Rayan.
“Duduk dulu Ramon..” Suruh Rayan yang di angguki oleh Ramon.
Ramon mendudukan dirinya disofa panjang yang ada diseberang meja kerja Rayan sambil menunggu Rayan yang entah sedang mencari apa diatas meja dimana banyak tumpukan map disana. Setelah menemukan apa yang dicarinya, Rayan mendekat pada Ramon dan duduk disampingnya dengan map berwarna biru ditangan-nya.
“Ini untuk kamu dan Sechil.” Katanya sambil menyodorkan map tersebut pada Ramon.
Ramon mengeryit bingung menatap map yang disodorkan Rayan padanya. Ramon tidak tau apa isi dari map tersebut. Ramon merasa bimbang harus menerima map tersebut atau menolaknya karna Ramon sendiri tidak tau apa isi dari map tersebut.
Rayan tersenyum.
“Kamu bisa lihat sendiri apa isinya.” Jawab Rayan.
Ramon diam lagi. Ramon menatap Rayan kemudian menunduk menatap map yang belum dia terima. Ramon menghela napas. Tidak ingin membuat Rayan tersinggung karna Ramon mengabaikan pemberian-nya, Ramon pun menerima map tersebut.
“Saya buka ya kak..” Ujar Ramon yang langsung mendapat anggukan setuju dari Rayan.
Pelan pelan Ramon membuka map tersebut kemudian membacanya. Ramon sangat terkejut ketika mengetahui keterangan dari tulisan yang tertata rapi diselembaran kertas yang berada didalam map tersebut.
Ramon kembali menutup map yang diterimanya dari Rayan. Map itu berisi sebuah berkas dimana didalam berkas itu adalah surat rumah ber-atas nama dirinya, bukan Sechil. Ramon bukan tidak menghargai pemberian Rayan, tapi Ramon merasa apa yang Rayan berikan terlalu berlebihan. Ramon sedikitpun tidak pernah mengharapkan apapun dari Rayan. Ramon bahkan berniat mengajak Sechil untuk tinggal bersama di kosan-nya. Itupun jika Sechil bersedia.
“Sebelumnya saya sangat berterimakasih atas apa yang kakak berikan pada saya. Tapi kak, demi apapun saya tidak pernah mengharapkan apapun dari kakak. Dan jujur, apa yang kakak berikan ini terlalu berlebihan. Saya merasa tidak pantas mendapatkan-nya.”
__ADS_1
Rayan menganggukan pelan kepalanya. Rayan tau Ramon tidak bermaksud menolak pemberian-nya.
“Ini hadiah pernikahan untuk kamu dan Sechil Ramon, Saya tidak bermaksud menghina atau menganggap kamu tidak...” Rayan berhenti berbicara sejenak. Niatnya murni hanya ingin memberikan hadiah pada Ramon dan Sechil yang baru saja menikah.
“Ini benar benar murni hanya hadiah.” Lanjut Rayan lagi.
Ramon tersenyum dan menganggukan kepala mendengarnya. Rayan orang yang baik dan Ramon tau itu.
“Kak, saya tau niat kakak baik. Maka dari itu saya sangat berterimakasih pada kakak.”
Rayan menyenderkan punggungnya disandaran sofa panjang yang didudukinya bersama Ramon. Rayan tidak marah ataupun merasa tersinggung dengan penolakan Ramon. Rayan tau bagaimana Ramon.
“Saya punya keniatan pindah dari sini Ramon.”
“Apa?” Ramon terkejut mendengarnya.
“Kamu pasti bisa menilai bagaimana mommy. Dia tidak hanya tidak suka sama kamu Ramon. Tapi juga pada Alana. Mommy selalu memusuhi Alana. Sekarang Alana sedang hamil, aku tidak mau Alana terus merasa tertekan sehingga akhirnya setres. Kamu pasti tau apa akibat dari semua itu.”
Ramon mengangguk mengerti. Caterine memang terlihat sinis jika sedang bersama Alana.
“Saya pikir lebih baik kita pergi dari sini. Biarkan mommy sendiri dengan segala keegoisan-nya.” Lanjut Rayan.
Ramon menghela napas.
“Kak, bagaimanapun buruknya mommy, dia tetap orang tua kakak. Kakak sebagai anak pertama harus bisa menjaga dan membahagiakan mommy.”
Rayan menelan ludahnya. Bahagianya Caterine adalah jika Rayan menyerahkan seluruh harta yang dia miliki. Sedang Rayan, dia tau hidup seseorang tidak akan mudah tanpa adanya harta yang dimiliki.
“Saran saya, lebih baik kakak pikirkan lagi keniatan kakak ini..”
Rayan hanya diam. Bertahan dirumah itu hanya akan membuatnya dan Alana semakin merasa was was.
__ADS_1
“Keputusan saya sudah bulat. Ini demi kebaikan semuanya. Baik Alana maupun mommy.”