Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 175


__ADS_3

Suasana kediaman mewah Rayan kembali ramai dengan para pelayan yang lalu lalang dan bekerja dengan sangat ceria. Terlihat sekali mereka yang sangat bahagia dengan kembalinya Rayan dan Alana kerumah mewah berlantai 3 itu. Apa lagi sekarang sudah tidak ada lagi Caterine yang suka bertingkah seenaknya dengan segala hinaan dan cacian yang membuat para pekerja dirumah itu selalu merasa terhina. Tidak hanya itu saja yang membuat mereka bahagia, tapi juga kehadiran Sari yang kembali ketengah tengah mereka. Meski memang status Sari bukan lagi pelayan tapi mertua dari Rayan, majikan mereka. Tapi itu tidak membuat mereka iri atau dengki. Mereka justru merasa bahagia karna memiliki majikan yang baik dan mengerti keadaan mereka.


“Nyonya ada apa ngumpulin kita semua disini?” Fina memberanikan diri bertanya pada Sari yang memang menyuruh semua pelayan yang terdiri dari 5 orang termasuk Fina dan bibi untuk berkumpul didapur.


Sari tersenyum. Berkumpul kembali dengan mereka yang pernah menjadi teman seperjuangan-nya membuat Sari merasa senang.


“Apa kamu lupa sekarang tanggal berapa Fina?” Tanya balik Sari dengan senyuman yang terus terukir dibibirnya.


Fina saling menatap dengan 3 pelayan disampingnya kecuali bibi yang duduk disamping Sari.


Sari tertawa pelan melihat ekspresi bingung para pekerja dirumah itu. Sari kemudian mengeluarkan dompet berukuran besarnya dan meletakan diatas meja. Saat itu juga mereka semua tertawa karna tau apa maksud Sari.


“Yes kita gajian..” Sorak Fina senang.


Sari kemudian membuka dompet besarnya dan membagikan satu persatu amplop berisi gaji yang memang sengaja Rayan titipkan padanya.


“Eemm.. Ini juga ada tambahan dari Rayan. Katanya bonus untuk kalian.” Ujar Sari yang membuat Fina dan 3 teman sebayanya tertawa kegirangan. Sedangkan bibi, wanita tua itu hanya tersenyum saja melihat tingkah Fina dan yang lain-nya.


Setelah mendapat gaji dan bonus dari Rayan, Fina dan kedua pelayan lainya kembali melanjutkan pekerjaan mereka yang memang sempat tertunda karna Sari menyuruh mereka berkumpul.

__ADS_1


“Bi..” Panggil Sari pada bibi yang saat itu juga hendak bangkit dari duduknya disamping Sari.


“Ya bu Sari..” Saut bibi menatap Sari yang terus menyunggingkan senyuman manis dibibirnya.


“Duduk dulu sebentar. Ada yang ingin saya bicarakan..”


“Oh ya bu.. Baik.” Angguk bibi dan duduk kembali seperti posisinya sedia kala.


Sari menghela napas. Menjadi mertua dari Rayanza yang pernah menjadi majikan-nya rasanya seperti mimpi bagi Sari. Apa lagi melihat perubahan dan sikap baik Rayan padanya. Rasanya sangat mustahil tapi itu benar benar nyata adanya.


“Saya tidak pernah menyangka akan ada di posisi seperti sekarang bi..” Ujar Sari memulai.


Bibi mengangguk mengerti. Bibi ikut merasa bahagia karna ternyata Rayan tidak salah memilih pendamping hidup. Alana meskipun tidak bisa selalu bersama dengan Sari dulu tapi tidak berarti Alana tidak mendapat perhatian penuh. Alana bahkan sering menemani Sari belanja dipasar dulu tanpa sepengetahuan Rayan. Hingga akhirnya hari itu tiba. Hari dimana Rayan melihat Alana dan langsung menyekapnya bahkan menikahinya karna rupa Alana yang memang bak pinang dibelah dua dengan Sakura, mendiang kekasihnya.


“Siapapun pasti tau itu bu.. Apa yang sekarang bu Sari dapatkan bukan sebuah kebetulan seperti lotre. Tapi buah dari kesabaran dan kebaikan bu Sari. Tuhan tidak pernah salah apa lagi sampai keliru memberikan suatu yang terbaik untuk hambanya.” Saut bibi menatap Sari dengan senyuman.


Sari tertawa dan mengangguk menyetujui apa yang bibi katakan. Semua yang dia dapatkan adalah takdir baik putri tercintanya Alana.


“Mohon kerja samanya ya bi.. Kita sama sama jagain Alana.. Apa lagi sekarang Alana sedang hamil besar..”

__ADS_1


“Tentu saja bu Sari. Dengan senang hati kami semua disini akan melayani nyonya Alana dengan baik. Nyonya Alana sudah sangat baik pada kami, begitu juga dengan tuan Rayan. Jadi kami akan sebisanya melakukan dan melayani mereka dengan baik.”


“Yah.. Makasih bi..” Ujar lirih Sari merasa sangat terharu karna banyak orang yang perduli dan menyayangi Alana putrinya.


Setelah mengobrol sebentar, bibi kembali dengan pekerjaan-nya didapur. Sadang Sari, wanita tua itu memilih untuk membuat cemilan sehat untuk Alana yang memang sedang sering sekali mencari cemilan baik disiang bahkan terkadang bangun tengah malam hanya untuk sekedar makan cemilan yang Sari buat.


-------


Dikamarnya dan Rayan yang berada dilantai 3 Alana duduk dibalkon seorang diri. Alana terdiam dengan tatapan lurus kedepan menikmati semilir angin yang menerpa wajah cantiknya bahkan menerbangkan anak rambutnya yang lolos dari cepolan tinggi di kepalanya.


Udara disana memang tidak se sejuk udara dirumah yang sempat dia dan Rayan tinggali beberapa bulan belakangan. Namun Alana tidak bisa bohong, Alana tetap merasa betah apa lagi sekarang sudah tidak ada Caterine dirumah itu. Meski terkadang Alana merasa sayang karna kehadiran-nya dianggap benalu dan membuat Rayan dan keluarga terpecah belah. Padahal pada kenyataan-nya semua itu adalah ulah Caterine sendiri yang serakah dan ingin memiliki semua yang sama sekali bukan haknya.


Alana menghela napas. Tiba tiba ingatan-nya berputar pada saat dirinya datang dan berdiri didepan gerbang. Saat itu Alana sangat terkejut karna ada tangan kekar yang membekap mulut dan hidungnya dengan kain yang membuat Alana langsung menghirup aroma menyengat dan membuatnya pusing hingga pingsan tidak sadarkan diri.


Alana tersenyum. Rayan benar benar sangat konyol dan menyebalkan dulu. Tapi Alana juga tidak menampik Rayan juga mau membantunya menghadapi Dion meskipun Alana harus membayar dengan tubuhnya kala itu.


Tiba tiba Alana tertawa. Tatapan penuh bencinya pada Rayan kini telah berganti menjadi tatapan kagum dan penuh cinta. Alana sendiri tidak menyadari dengan jelas kapan rasa cinta itu tumbuh dihatinya. Semuanya bermula dari kebohongan-nya pada Michelle yang mengaku bahwa dirinya juga sedang hamil saat Alana bertemu tidak sengaja dirumah sakit dengan Michelle yang tiba tiba membahas tentang kehamilan. Itu adalah awal Alana memantapkan hati dan pikiran-nya hingga akhirnya lambat laun perasaan itu tumbuh yang juga diperkuat dengan kepergian Rayan untuk mencari ikan segar ditengah tengah guyuran hujan lebat ditengah lautan. Peristiwa itu membuat Alana hampir tidak bisa bernapas karna tangisan-nya. Mungkin itu cara tuhan membuat Alana sadar bahwa Rayan memang jodoh yang ditakdirkan untuknya.


“Hey kamu.. Cepatlah keluar, Aku punya cerita manis untuk dibagi denganmu..” Ujar Alana menunduk sambil mengusap perut besarnya dengan kedua tangan-nya.

__ADS_1


“Ceritanya hampir mirip dengan Beauty and the Beast. Hanya saja aku tidak selembut belle.” Alana tertawa sendiri membayangkan kembali awal kisahnya dengan Rayan. Kisah hidup sebenarnya yang berhasil membuka kedua mata Alana tentang siapa Dion sebenarnya.


Gerakan kencang diperut Alana semakin membuatnya tertawa. Janin dalam kandungan-nya seperti sedang merespon apa yang Alana katakan tentangnya dan Rayan.


__ADS_2