Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 77


__ADS_3

“Tuan, saya yakin anda tau bagaimana dan seperti apa Sechil. Saya memang beberapa kali mengajak Sechil jalan keluar tuan. Tapi sedikitpun saya tidak pernah menyentuhnya.”


Rayan mengeryit. Sechil selalu meng elu elukan Ramon. Sechil bahkan menangis saat mengatakan Ramon memutuskan-nya.


“Tuan, saya ke jawa timur bukan kabur. Saya memang sedang pulang karna orang tua saya memang ada disana.” Tambah Ramon.


Rayan menatap Ramon dari atas sampai bawah. Dari segi penampilan Ramon sepertinya adalah pemuda baik baik. Cara bicaranya pun sopan dan tidak urakan.


“Sechil selalu mengatakan kamu adalah pacarnya.” Ujar Rayan santai. Rayan tidak mau berprasangka terlalu buruk pada Ramon. Kenalan pria Sechil memang banyak. Terlebih Sechil juga sering gonta ganti pasangan.


“Ya tuan saya mengaku, saya juga mencintai Sechil. Dia gadis yang menarik. Tapi tentang kehamilan Sechil saya benar benar tidak tau.” Jawab Ramon tenang. Pria berkaos panjang warna hitam itu menatap Rayan yang duduk diatas sofa didepan tempatnya berdiri.


“Saya menyudahi hubungan saya dengan Sechil seminggu setelah kami memutuskan untuk berkomitmen.”


“Apa karna fasilitas Sechil yang saya tarik?” Tanya Rayan menyela.


Kedua mata Ramon melebar. Pria itu menggelengkan kepalanya pelan.


“Bukan tuan.. Bukan karna itu.” Jawabnya.


“Lalu?” Tanya Rayan masih dengan gaya santainya.


Ramon menundukkan kepalanya. Kepergian-nya ke jawa timur adalah untuk menghindari Sechil yang membuatnya kecewa dan sakit hati.


“Sechil selingkuh dan saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri Sechil sedang berciuman didalam kelas dengan senior.” Jawab Ramon lirih.


Rayan mengangkat sebelah alisnya. Berciuman didalam kelas adalah sebuah pelanggaran yang serius. Tapi pihak universitas sama sekali tidak memanggilnya maupun Caterine atas tindakan Sechil.


“Kamu berbohong?”


Ramon memejamkan sesaat kedua matanya kemudian menatap Rayan yang begitu tenang menatapnya.


“Untuk apa saya bohong tuan? Tidak ada untungnya buat saya. Toh saya juga kecewa dengan apa yang Sechil lakukan.”


Rayan tampak berpikir sejenak. Caterine mungkin yang mendapat panggilan dari universitas tempat Sechil kuliah dan merahasiakan darinya.

__ADS_1


“Kamu tau Sechil hamil?” Tanya Rayan serius.


“Orang suruhan anda yang memukuli saya dan menyeret saya paksa dengan tuduhan itu didepan kedua orang tua saya tuan. Apa itu hanya alasan saja?”


Rayan menelan ludahnya. Mungkin orang suruhan Luky kali ini berbeda dari yang biasanya.


“Itu benar. Sechil memang hamil.”


Jawaban Rayan membuat Ramon terkejut. Sesaat kemudian Rayan melihat sendiri amarah terpendam dari pancaran kedua mata Ramon. Rayan melirik tangan Ramon yang mengepal kuat.


“Saya akan lepaskan kamu tapi dengan satu syarat. Kamu bantu saya mencari siapa sebenarnya yang menghamili Sechil. Saya akan memberikan imbalan untuk itu.”


Ramon diam membisu. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya bahkan saat Rayan meminta maaf atas kesalah pahaman itu.


Ketika hendak keluar dari pekarangan rumah Rayan, Ramon menoleh menatap kembali pada kediaman mewah Rayan. Denyutan ngilu itu kembali terasa dihatinya. Sechil hamil dan tidak tau siapa laki laki yang menghamilinya. Sechil memang begitu liar dan bebas. Meski semua itu tidak mengurangi rasa Ramon pada Sechil secuilpun.


--------


“Kurang ajar !!” Dion membanting hp miliknya sampai hancur dibagian layarnya. Pria itu terlihat sangat marah setelah menghubungi Caterine tapi tidak juga kunjung mendapat jawaban.


Dengan dada kembang kempis Dion berjalan menuju kursi dimana didepanya terdapat meja kecil. Dion meraih telpon rumah dan mengetikan nomor Caterine yang memang sudah berada diluar otak.


Satu kali deringan Caterine langsung mengangkatnya. Wanita itu menyapa lewat sambungan telpon dengan sangat santai.


“Tante, ini saya Dion. Apa tante sengaja memblokir nomor saya untuk menghindar?” Dion langsung bertanya dengan nada penuh penekanan. Pria itu tidak bisa menahan emosinya karna apa yang Caterine lakukan.


Caterine menghela napas.


“Maaf Dion. Mungkin memang sebaiknya kita urungkan saja niat itu. Saya pikir saya bisa melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan kamu.” Jawab Caterine.


Dion mendelik. Caterine membuatnya berharap dan sekarang dengan santai membatalkan perjanjian-nya.


“Tante tidak bisa begitu. Tante sudah berjanji sama saya.” Dion mulai ngotot.


“Tidak bisa bagaimana? Memangnya kamu siapa berani menuntut pada saya?”

__ADS_1


Dion benar benar marah sekarang. Caterine mengingkari perjanjian yang mereka buat 2 minggu yang lalu.


“Sudah ya, tolong jangan ganggu saya lagi. Saya tidak punya banyak waktu untuk mengobrol tidak jelas sama kamu.” Caterine memutuskan sambungan telpon-nya setelah itu. Hal itu membuat Dion sangat murka dan melempar ganggang telpon rumah yang dipegangnya..


“Aaarrgggg !!!” Dion berteriak penuh amarah. Suaranya menggelegar membahana disetiap sudut ruangan mewah rumahnya.


Michelle yang saat itu sedang belajar membuat kue bersama pekerja dirumahnya didapur terkejut. Wanita itu bahkan sampai bergumam menyebut nama tuhan dengan mengelus dadanya.


“Tuan nyonya..”


Michelle menghela napas pelan. Dion tidak mungkin berteriak penuh amarah tanpa alasan. Pria itu pasti marah karna sesuatu yang menyangkut Alana. Ya, saat ini memang hanya Alana yang mampu mengubah ubah suasana hati Dion. Mungkin juga jika Michelle berusaha dekat lagi dengan Alana Dion akan sangat memanfaatkan-nya.


“Sudah biarkan saja mbak, kita lanjut lagi saja.” Senyum Michelle berusaha tenang.


Michelle ingin mengecek secara langsung apa yang sedang terjadi pada Dion sebenarnya, tapi Michelle tau Dion pasti akan bertambah marah bahkan bukan tidak mungkin Michelle yang akan menjadi sasaran atas kemarahan Dion saat ini.


Michelle kembali mengaduk adonan yang sudah di mixernya. Michelle memang sedang sering belajar membuat berbagai kue dan cemilan ringan bersama asisten rumah tangganya. Hal itu Michelle lakukan untuk menghindari Dion yang pasti akan selalu marah dan melontarkan ancaman jika sedang bersamanya. Apa lagi jika Agatha datang dan Michelle terlihat lesu, sudah pasti Michelle akan ditanya ini itu yang berujung kemarahan Dion karna menganggap Michelle mengadu pada Agatha.


“Michelle ada kok mah.. Dia lagi didapur. Kebetulan aku lagi pengin ngemil sesuatu jadi aku minta sama Michelle untuk dibuatkan.”


Michelle mengeryit ketika mendengar suara Dion. Padahal belum sampai 10 menit Dion berteriak tapi tiba tiba amarahnya sudah mereda.


Penasaran Michelle pun menolehkan kepalanya. Michelle menghela napas kasar ketika mendapati mamahnya yang sedang melangkah dengan Dion yang berada dibelakangnya.


“Tadi kenapa kamu berteriak seperti marah marah Dion? Kamu sampai menghancurkan telpon rumah juga handphone kamu.”


Michelle tersenyum penuh arti.


“Rasakan kamu Dion..” Batin Michelle menatap pada Dion yang terlihat gelagapan dengan pertanyaan itu.


“Kamu ada masalah?” Tanya Cindy lagi.


Dion terlihat bingung. Pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari mencoba memikirkan jawaban yang pantas.


“Eemm.. Aku tadi kaget mah.. Soalnya.. Ada kecoa. Iyah ada kecoa. Dia berterbangan kemana mana jadi aku kebawa emosi karna tidak bisa menangkapnya. Yah.. mungkin hp dan telpon rumah juga sudah saatnya diganti.” Jawab Dion yang tentu saja berbohong.

__ADS_1


Michelle menggelengkan kepalanya tidak menyangka. Dion benar benar pria bermuka dua. Munafik dan penuh dengan kebohongan.


__ADS_2