
Rayan melempar vas bunga yang ada dimeja kerjanya setelah mendengar apa yang Luky katakan. Rayan sangat emosi dan benar benar tidak bisa menahan tangan-nya untuk melempar apa saja yang ada didekatnya.
Dada bidang Rayan kembang kempis karna amarah yang kini menguasainya. Rayan benar benar heran. Rayan sudah sangat baik pada Caterine dan juga Sechil yang sebenarnya bukanlah adik sedarahnya. Tapi mereka sedikitpun tidak pernah bisa menghargai Alana sebagai istri Rayan. Mereka bahkan bekerja sama dengan Dion untuk memisahkan-nya dan Alana.
Luky yang berada didepan Rayan hanya bisa menundukkan kepalanya. Luky tau apa yang sedang Rayan rasakan sekarang.
“Luky...” Panggil Rayan lirih.
“Saya tuan..” Saut Luky pelan.
“Tugas kamu awasi Dion dan jangan sampai lengah sedikitpun.”
“Baik tuan. Saya akan berusaha semampu saya untuk terus mengawasi pergerakan tuan Dion.”
“Bagus..” Angguk Rayan berusaha untuk membendung emosinya. Rayan tidak ingin orang yang tidak bersalah menjadi sasaran atas kemarahan-nya.
“Lalu bagaimana dengan nyonya dan Nona Sechil tuan?” Tanya Luky merasa penasaran dengan apa yang ingin dilakukan oleh Rayan pada keduanya.
“Mereka biar menjadi urusan saya.” Jawab Rayan.
“Baik tuan..” Angguk Luky mengerti.
Karna tidak ada lagi yang dibicarakan, Rayan menyuruh Luky untuk kembali pulang ke apartemen-nya. Rayan tidak mau mempekerjakan Luky diwaktu libur yang seharusnya menjadi waktu untuk Luky istirahat.
Setelah Luky pulang, Rayan segera menemui Caterine juga Sechil. Pria itu bahkan menyambangi langsung keduanya dikamar Sechil.
“Kakak, ada apa?” Tanya Sechil yang lebih dulu melihat Rayan masuk kekamarnya tanpa mengetuk pintu.
Rayan menatap Caterine dan Sechil bergantian. Entah apa yang mereka inginkan darinya sebenarnya.
“Robin sudah pulang dan sudah mengatakan semuanya sama aku mom..” Kata Rayan tanpa sedikitpun basa basi. Robin memang sudah ditemukan pingsan oleh Roky ditaman kompleks.
Caterine dan Sechil terkejut namun berusaha untuk terlihat biasa agar Rayan tidak curiga.
“Memangnya ada apa dengan Robin nak? Kenapa tiba tiba berbicara tentang dia sama mommy?” Caterine bertanya dengan detak jantung yang sudah tidak beraturan. Caterine benar benar takut Rayan mengetahui semuanya.
Rayan tertawa mendengar pertanyaan Caterine. Rayan menghela napas pelan kemudian mendekat pada keduanya.
__ADS_1
“Ada seseorang yang mencoba mencelakai Robin karna takut perbuatan-nya akan tercium olehku. Tapi sayang caranya tidak berhasil. Robin sadar dan bangun kembali kemudian mengatakan semuanya padaku mom..” Sindir Rayan membuat Sechil dan Caterine langsung ketakutan.
“Rayan.. Mommy..”
“Apa yang sebenarnya kalian mau?” Sela Rayan bertanya dengan penuh penekanan.
Caterine tergagap. Mulutnya terbuka namun tidak mengeluarkan suara. Rencananya sudah diketahui oleh Rayan.
“Rayan..”
“Apa kurangku mom? Aku selalu menuruti kemauan mommy juga Sechil. Aku bahkan mengabaikan ucapan Daddy yang melarangku membagi apapun yang menjadi hakku pada kalian berdua. Kalian berdua wanita, sama seperti Alana. Tapi kenapa sedikitpun kalian tidak pernah bisa bersikap seperti wanita?”
Sechil mengerucutkan bibirnya merasa kesal karna lagi lagi Rayan memihak pada Alana. Namun belum sempat mengucapkan sesuatu, tiba tiba Sechil merasa mual dan langsung berlari kekamar mandi.
Rayan yang menyaksikan itu mengeryit namun tetap diam berdiri ditempatnya. Berbeda dengan Caterine yang langsung berlari dengan wajah khawatir menyusul Sechil kedalam kamar mandi.
“Sechil kamu kenapa?” Tanya Caterine sambil mengusap usap punggung Sechil yang terus saja muntah muntah di wastafel.
Setelah rasa mualnya mereda, Sechil langsung berkumur. Tubuhnya mendadak terasa lemas dengan napasnya yang tersengal seperti baru selesai berlari maraton. Ditambah dengan kepalanya yang terasa sedikit pusing.
Rayan yang penasaran melangkah mendekat menuju kamar mandi. Pria itu berdiri dengan kedua tangan dilipat didepan dada.
“Pembicaraan kita belum selesai mom.” Katanya mengingatkan Caterine.
Caterine menggelengkan kepalanya tidak menyangka dengan perubahan sikap Rayan yang begitu derastis. Rayan bahkan seperti tidak perduli dengan Sechil yang tiba tiba muntah muntah.
“Rayan, apa kamu tidak melihat tadi Sechil muntah muntah? Apa kamu tidak merasa kasihan sedikitpun pada adik kamu?” Tanya Caterine menatap Rayan berakting sedih agar Rayan tidak lagi melanjutkan perkaranya.
Rayan tertawa miring.
“Aku membelikan banyak tespek untuk Alana bulan lalu. Apa kamu butuh untuk mengecek Sechil?” Tanya Rayan menatap Sechil dari atas sampai bawah.
Sechil mendelik. Tidak pernah sekalipun Rayan bersikap begitu kurang ajar padanya. Tapi sekarang, Rayan bahkan bertanya dengan nada menghina padanya.
“Apa maksud kakak?” Tanya Sechil dengan suara bergetar. Hatinya terasa sakit mendengar pertanyaan menghina yang Rayan lontarkan padanya.
Rayan melengos.
__ADS_1
“Sudahlah, Aku capek ngomong sama kalian berdua. Tapi perlu kalian ingat, kalau sampai sesuatu terjadi pada Alana juga hubunganku dengan Alana kalian akan tau sendiri akibatnya.”
Sechil menggelengkan lagi kepalanya. Saat hendak menyusul Rayan yang berlalu tiba tiba kepalanya terasa sangat pusing. Sechil meringis dan memegangi kepalanya.
“Sechil, sayang kamu kenapa nak?” Caterine terlihat semakin khawatir dengan keadaan putrinya. Wanita itu meraih kedua bahu Sechil bermaksud memapahnya namun tiba tiba tubuh Sechil ambruk. Sechil tidak sadarkan diri.
“Ya tuhan, Sechil !! Sechil kamu kenapa sayang?! Sechil !!”
Caterine histeris dan mencoba untuk membangunkan Sechil yang tergeletak dilantai kamar mandi.
“Sechil bangun sayang.. Ya tuhan... Rayan !! Sechil pingsan Rayan !!”
Rayan yang saat itu hampir melangkah keluar dari kamar Sechil langsung berhenti. Pria itu mengeryit mendengar mommy-nya yang histeris dan memanggil namanya. Penasaran, Rayan kembali masuk kedalam kamar mandi. Rayan terkejut begitu mendapati Sechil yang tergeletak tak sadarkan diri dilantai kamar mandi dengan Caterine yang menangis dan terus mencoba membangunkan-nya.
“Apa yang terjadi dengan Sechil mommy?” Tanya Rayan langsung mendekat pada Sechil.
Alana dan semua penghuni rumah mewah itu juga bingung dan penasaran mendengar teriakan histeris Caterine. Mereka masuk bersamaan kedalam kamar Sechil dan terkejut melihat Sechil pingsan.
“Ya tuhan.. Apa yang terjadi?” Alana menutup mulut melihatnya.
Caterine menggelengkan kepalanya. Air mata membasahi kedua pipinya merasa takut sekaligus khawatir melihat keadaan putri kesayangan-nya.
Rayan yang tidak mau sesuatu yang buruk menimpa adik satu satunya itu segera membopong tubuh Sechil dan membawanya keluar dari kamar mandi melewati Alana dan para pelayan. Rayan membaringkan tubuh Sechil diatas ranjang dan segera menelpon dokter agar datang dan memeriksa keadaan Sechil.
Sementara Caterine. Wanita itu duduk disamping tubuh Sechil dan terus menggenggam tangan Sechil sambil menangis.
“Rayan.. Apa yang terjadi?” Tanya Alana mendekat dan berdiri tepat disamping Rayan.
Rayan menggelengkan kepalanya. Rayan juga tidak tau apa yang terjadi. Tapi Sechil muntah muntah sebelum Rayan berlalu hendak keluar dari kamar gadis itu.
“Aku juga tidak tau..” Jawab Rayan sembari merengkuh bahu Alana dan menoleh mengecup kening wanita itu mencari ketenangan lewat aroma mawar yang menguar dari tubuh istri tercintanya.
Rayan tidak bisa bohong. Rayan khawatir pada Sechil meski Sechil sering membuatnya murka.
“Aku yakin Sechil hanya kurang istirahat saja. Sechil akan baik baik saja. Percaya sama aku..” Alana meraih tangan Rayan dan menggenggamnya mencoba meyakinkan Rayan bahwa semuanya akan baik baik saja.
Rayan tersenyum dan menganggukan kepalanya. Rayan sangat berharap apa yang diucapkan oleh Alana benar. Sechil tidak apa apa.
__ADS_1