
Dikediaman Dion dan Michelle suasana hangat sedang menyelimuti. Dion, pria itu kembali bersikap hangat pada Michelle sejak kepulangan kedua orang tua Michelle. Mereka memang sudah tidak lagi tinggal bersama, tapi beberapa hari ini tepatnya setelah kepulanganya kedua orang tua Michelle terlihat masih sangat betah dirumah itu. Rumah yang memang menjadi kado pernikahan untuk Michelle dan Dion dari orang tua Michelle.
“Kamu sudah melakukan USG Michelle?”
Pertanyaan Lukman, papah Michelle membuat Michelle menoleh. Michelle menggelengkan pelan kepalanya.
“Belum pah..” Jawabnya.
“Kenapa?”
“Eemm.. Aku belum ada waktu buat menemani Michelle kedokter pah. Harap papah maklum, perusahaan sedang sedikit mengalami kendala.”
Michelle melirik Dion yang menjawab pertanyaan yang sebenarnya ditujukan pada Michelle. Michelle tidak tau kenapa Dion berubah kembali seperti dulu padanya. Meski sebenarnya Michelle juga merasa senang Dion kembali perhatian padanya.
“Mengalami kendala? Sejak kapan?”
Mamah Michelle yang sejak tadi asik menonton tv ikut menoleh. Wanita itu menatap Dion penuh rasa ingin tau.
“Baru baru ini pah.. Mungkin karna aku terlalu santai sejak menikah dengan Michelle makanya perusahaan sedikit terabaikan.”
Michelle tersenyum kecut mendengarnya. Apa yang terlontar dari bibir Dion tentu saja adalah sebuah kebohongan. Dion bukan sibuk karna bahagia menikah dengan-nya melainkan frustasi memikirkan Alana yang sudah tidak lagi mau kembali bersamanya.
“Apa papah perlu membantu?”
Dion diam sesaat. Perusahaan yang sedang dikelolanya memang sedang sedikit krisis dan tawaran papah mertuanya membuat Dion merasa tidak ingin menyia nyiakan kesempatan.
“Emm.. Pah tapi..”
“Dion, jangan sungkan sama papah.. Kami tau apa yang kamu lakukan juga untuk Michelle dan anak yang dikandungnya.” Sela mamah Michelle.
Dion tersenyum kemudian menganggukan kepalanya.
“Baiklah kalau memang papah dan mamah memaksa. Dion sebenarnya sangat tidak enak hati.”
Michelle menggeleng pelan. Kemunafikan Dion mulai terlihat sekarang.
Setelah obrolanya diruang keluarga, mereka pun memutuskan untuk istirahat. Apa lagi malam memang sudah mulai larut.
__ADS_1
“Kamu hebat.”
Dion yang hendak menutupi tubuhnya dengan selimut tertawa mendengar pujian dari Michelle.
“Kamu terlalu memujiku Michelle. Tapi memang sih, Aku hebat dan kamu harus mengakui itu.”
Michelle tersenyum sinis. Michelle ingin sekali tidak percaya. Tapi nyatanya Dion memang memiliki sifat buruk itu. Michelle merasa sedikit risih bahkan jijik sekarang.
“Jangan memanfaatkan kedua orang tuaku Dion atau aku akan adukan kamu pada mamah Agatha.”
Dion menoleh cepat mendengar itu. Tatapanya langsung berubah tajam. Dion sangat tidak suka jika Agatha tau tentang sikap tidak baiknya. Dion ingin Agatha selalu tau dirinya anak yang baik.
“Berani kamu mengadu pada mamahku maka janin dalam kandunganmu yang menjadi taruhanya.” Ancam Dion.
Michelle menelan ludahnya tidak percaya mendengar ancaman Dion.
“Dion.. Ini anak kamu..” Michelle menyentuh perutnya. Kedua matanya berkaca kaca. Hatinya terasa tersayat mendengar Dion dengan entengnya mengancam janin yang sedang tumbuh dirahimnya. Janin yang tidak lain adalah benihnya sendiri.
“Aku tidak perduli Michelle.” Balas Dion.
Dion turun dari ranjang kemudian melangkah mendekati Michelle yang masih berdiri ditempatnya. Dion menatap Michelle yang menangis dalam diam. Jika dulu Dion sangat tidak rela melihat air mata membasahi pipi Michelle tapi tidak dengan sekarang. Dion merasa jengkel dan muak melihat Michelle yang seperti sengaja berpura pura lemah didepanya.
“Kamu jahat Dion..” Lirih Michelle menatap Dion dengan tatapan penuh luka.
Dion tersenyum sinis dengan kedua tangan dimasukan kedalam saku celana piyama yang dikenakanya.
“Terserah kamu mau menganggapku apa Michelle. Aku tidak perduli. Aku juga tidak keberatan jika memang menurut kamu aku ini jahat. Toh aku tidak rugi.”
Michelle mengepalkan kedua tanganya. Dion bisa berakting sangat bagus seperti suami penyayang didepan kedua orang tua Michelle. Tapi dibelakang orang tua Michelle, Dion menampakan wujud aslinya layaknya iblis yang penuh dengan taktik dan tipu daya.
“Dengar Michelle.. Pernikahan ini aku tidak pernah menginginkanya. Juga janin dalam kandungan kamu aku pun tidak pernah menginginkanya.”
Jeda sejenak. Dion menatap Michelle seperti sedang menilai Michelle.
“Kamu tidak perlu khawatir. Kamu tidak akan menderita lama kok. Kamu tau kenapa Michelle? Karna setelah aku berhasil membuat Alana luluh kita akan bercerai.”
Michelle ingin sekali menampar wajah Dion, bila perlu mencakar cakar dengan kuku kukunya yang tajam sekarang. Tapi itu tidak mungkin Michelle lakukan. Michelle sedang hamil, jika Dion marah bukan tidak mungkin Dion berbuat sesuatu yang tidak Michelle inginkan.
__ADS_1
“Kalau kamu ingin semuanya baik baik saja, bekerja samalah dengan baik denganku. Biarkan orang tua kamu tau bahwa aku adalah suami siaga dan penuh kasih sayang. Oke?”
Dion berlalu keluar dari kamar setelah berkata seperti itu meninggalkan Michelle yang benar benar sangat terluka dengan semua yang Dion lontarkan. Entah apa yang membuat Dion begitu sangat berubah, kejam dan tidak berperasaan. Sangat berbeda dengan Dion yang dulu, yang hangat, penuh perhatian.
“Aku kuat.. Aku bisa... Yah.. Aku bisa..” Michelle berucap lirih dengan suara bergetar. Air mata sudah tidak bisa lagi Michelle bendung sekarang. Dion berhasil membuat luka yang begitu perih dihatinya.
Michelle melangkah pelan menuju ranjang. Dengan pelan Michelle mendudukan dirinya. Tanganya terus mengusap lembut perutnya yang masih rata. Michelle tidak pernah sedikitpun menyangka dengan perubahan Dion yang sekarang.
“Aku harus bisa bertahan.. Setidaknya sampai anak ini lahir..”
Pikiran Michelle berubah detik itu juga. Jika kemarin Michelle masih ngotot ingin terus bersama Dion tapi tidak untuk sekarang. Saat ini yang Michelle pikirkan adalah bagaimana caranya menjaga kewarasanya agar jiwanya juga janin dalam kandunganya bisa terselamatkan.
Michelle memejamkan kedua matanya. Dulu Michelle sangat tidak bisa tanpa Dion. Michelle selalu mengikuti kemanapun Dion dan Alana pergi. Tapi sekarang Michelle mulai merasa bisa tanpa Dion. Karna Dion yang sekarang bukan lagi Dion yang dulu. Dion yang sekarang begitu pandai menorehkan luka dihati Michelle bukan seperti malaikat penjaga yang selalu ada dan memberikan perhatian penuh cinta pada Michelle.
--------
“Kita berangkat besok pagi? Apa nggak mendadak? terus nanti kerjaan kamu gimana?”
Rayan melirik Alana yang sedang duduk dikursi didepan meja yang dipenuhi dengan peralatan make up miliknya.
“Semuanya sudah aku atur.” Jawab Rayan singkat kemudian kembali fokus dengan laptopnya.
Alana yang melihat itu berdecak. Rayan memang akan sangat dingin jika sudah memegang laptopnya. Pria itu terlalu serius menatap benda elektronik itu sehingga membuat Alana merasa terabaikan.
“Aku belum pamit sama ibu.” Kata Alana.
“Kamu bisa telpon sekarang Alana. Tolong jangan ganggu aku dulu.” Saut Rayan membuat Alana semakin merasa kesal.
Alana mendelik. Ingin sekali rasanya Alana ******* ***** Rayan seperti selembar kertas. Rayan begitu gampang mengucapkan sesuatu tanpa memikirkan orang lain bisa menerimanya atau tidak.
“Dasar suami nyebelin.” Umpat Alana yang masih bisa dengan jelas didengar oleh Rayan.
“Apa?” Rayan menatap Alana dengan wajah datarnya.
“Kamu nyebelin. Jelek.” Ejek Alana kemudian keluar dari kamar mereka menuju balkon untuk menelpon ibunya.
Rayan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Alana. Wanita itu memang sangat ajaib.
__ADS_1