
Sechil sedang menikmati sepiring gorengan dengan sambal kecapnya saat Ramon mengetuk pintu. Enggan bangkit dari duduk lesehan-nya diatas karpet, Sechil pun memilih untuk menunggu Ramon masuk sendiri kedalam rumah yang hanya 3 petak ruangan itu.
Ramon tersenyum begitu masuk kedalam. Pria itu langsung menghampiri Sechil yang duduk didepan TV dengan mulut penuh dengan gorengan. Ramon mencium sekilas kening Sechil kemudian duduk didepan-nya.
“Lihat apa yang aku bawa buat kamu..” Ujar Ramon sambil menunjukkan burger yang dibelinya saat hendak pulang.
Sechil tersenyum kemudian segera meraih burger tersebut dan membukanya.
“Kamu tau aja aku lagi laper terus..” Katanya.
Ramon tertawa. Pria itu menatap sepiring gorengan yang berada didepan Sechil. Ramon tiba tiba mengingat masa lalu mereka saat masih sama sama kuliah. Sechil dulu sangat anti dengan makanan dipinggir jalan apa lagi gorengan. Sechil bahkan pernah bilang tenggorokan-nya akan sakit jika memakan jajanan seperti itu.
“Aku tadi kedepan sebentar beli gorengan. Aku pikir jajanan seperti itu nggak seenak ini loh.. Aku baru tau.” Ujar Sechil sambil mengunyah burger yang baru digigitnya.
“Ya memang enak sayang. Tapi nggak boleh terlalu sering ya.. Nanti batuk.”
Sechil mengeryit mendengarnya. Wanita itu berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya.
“Kamu lagi nyindir aku ya?” Tanya Sechil dengan ekspresi jengkel.
Ramon tertawa pelan kemudian mencium pipi chuby Sechil singkat.
“Tidak baik berprasangka buruk sama suami sendiri sayang.” Ujar Ramon.
Sechil mencebikkan bibirnya. Sechil memang pernah bersikap sangat tidak baik dulu. Sechil selalu menghina orang yang Sechil anggap tidak pantas untuk dia lihat.
“Gorengan dipinggir jalan memang enak Sechil. Aku juga suka membelinya. Tapi kalau kamu keseringan makan gorengan juga tidak baik. Apa lagi sekarang kamu lagi hamil. Kan kita nggak tau bahan bahan-nya bagaimana. Kalau kamu memang suka dan pengin yang enak tapi higenis kamu bisa membuatnya sendiri.”
Sechil menghela napas.
“Kamu kan tau akan nggak bisa membuatnya.”
Ramon tersenyum kemudian meraih tangan Sechil menggenggamnya lembut.
__ADS_1
“Nanti aku ajarin cara membuatnya.”
“Serius?” Tanya Sechil menatap Ramon antusias.
Ramon menganggukan kepalanya. Ramon mengangkat tangan Sechil dan mencium punggung tangan Sechil membuat Sechil tersenyum.
“Mending sekarang kamu abisin burgernya abis itu aku temenin tidur siang. Kan nanti malam kita harus pergi menghadiri acara pesta pertunangan Bastian dan kekasihnya.”
Sechil menganggukkan kepalanya kemudian kembali melahap burger ditangan-nya. Setelah Sechil menghabiskan burger tersebut, Ramon segera mengajak Sechil untuk istirahat istirahat. Sementara gaun yang dibelinya untuk Sechil Ramon belum memberikan-nya. Ramon berencana memberikan-nya nanti malam saja pada saat Sechil akan mengenakan-nya.
--------
Malamnya Alana berdiri didepan cermin dengan gaun cantik berwarna putih tulang yang sudah melekat dengan apik ditubuh sintalnya. Alana tertawa mengingat kembali Rayan yang begitu sangat bawel siang tadi hanya karna beberapa gaun yang dipilih Alana berdada rendah semua. Sebenarnya Alana juga merasa tidak yakin berani mengenakan-nya. Alana hanya malas terlalu memilih milih. Apa lagi melihat deretan gaun yang begitu banyak didepan-nya. Itu sudah membuatnya pusing sendiri.
Alana menghela napas kemudian menatap bagian dadanya yang memang terlihat sangat besar. Alana tersenyum lagi. Gaun pilihan dari pemilik butik itu benar benar sangat cantik menurutnya. Bahkan lebih cantik dari beberapa gaun yang sempat menjadi pilihan Alana.
Gaun itu berwarna putih tulang dengan hiasan kristal didadanya yang memang tertutup.
Pandangan Rayan beralih dari gaun yang panjangnya hanya sampai mata kakinya pada Rayan yang sudah berada dibelakangnya. Alana tersenyum menatap suaminya yang sudah rapi dengan kemeja putih lengan panjangnya.
Alana tertawa pelan. Alana hanya memoles wajahnya dengan make up natural. Alana takut jika make up itu terlalu tebal akan membuat wajahnya gatal. Ya, kulit Alana memang sedikit sensitif sejak hamil meskipun sudah memakai make up yang semahal apapun yang memang sengaja Rayan belikan untuknya.
“Dipesta nanti akan banyak wanita cantik yang pasti akan membuat pandangan laki laki tidak akan bisa berpaling. Aku tidak secantik mereka Rayan.”
Rayan tertawa pelan mendengarnya. Dengan lembut Rayan memeluk perut buncit Alana. Mengusap penuh dengan kelembutan juga cinta.
“Secantik apapun mereka nanti tapi bagi aku kamu tetap yang tercantik sayang. Cantik bukan sekedar dari wajah saja, tapi juga dari hati. Dan kamu, kamu bukan hanya cantik dari rupa saja sayang. Tapi juga dari hati. Kamu juga hebat.”
Alana mengeryit kemudian dengan pelan membalikan tubuhnya menghadap pada Rayan.
“Hebat?” Tanya Rayan mengeryit mendongak menatap Rayan yang rasanya semakin tinggi saja.
Rayan tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“He'em..” Jawab Rayan.
“Hebat dalam segala hal. Hebat karna membuat hati aku selalu bergetar, Hebat karna kamu bisa mengimbangi sikapku, Hebat juga dalam melayani aku.” Jawab Rayan sambil membelai lembut pipi chuby Alana.
“Melayani?”
Rayan menghela napas dengan kepala menggeleng pelan.
“Apa perlu aku sebut satu persatu bahkan secara terperinci arti melayani itu hem?”
Alana tertawa. Entah suaminya yang akhir akhir ini sangat sensitif atau memang kinerja otaknya yang memang sedikit berkurang akhir akhir ini sehingga apa apa yang Rayan katakan harus dengan gamblang Rayan jelaskan.
“Baiklah tidak perlu.” Ujar Alana sambil mengusap pelan dada bidang Rayan agar suaminya tidak terus sensitif karna ucapan-nya.
Rayan menarik lembut Alana kedalam pelukanya. Rayan mencium kening Alana sekilas kemudian melepaskan kembali pelukan-nya.
“Kita pergi sekarang?” Tanya Rayan yang diangguki kepala oleh Alana.
“Tuxedo kamu?” Tanya Alana karna memang Rayan belum mengenakan tuxedo abu abunya.
“Ah ya, hampir saja aku melupakan-nya.” Rayan menepuk pelan jidatnya sendiri kemudian melangkah menuju lemari bajunya dimana tuxedo miliknya berada dihanger yang tergantung dihandle pintu lemari.
Rayan meraihnya dan segera mengenakan-nya dengang bantuan Alana yang langsung mendekat padanya.
“Sudah..” Gumam Alana tersenyum manis. Wanita cantik dengan gaun warna putih tulang serta rambut yang dicepol tinggi itu melingkarkan tangan-nya di lengan kekar Rayan. Keduanya melangkah beriringan menuju pintu kamar mereka.
“Roky?”
Rayan mengeryit bingung karna begitu membuka pintu kamarnya Roky sudah disana dan seperti hendak mengetuk pintunya.
“Tuan, nyonya. Selamat malam..” Sapa Roky ramah.
Meski bingung dan sedikit merasa aneh dengan kehadiran body guardnya didepan kamarnya Rayan tetap menjawab.
__ADS_1
“Ada apa Roky?” Tanya Alana dengan senyuman dibibirnya.
Roky diam. Melihat Rayan dan Alana yang sudah sangat rapi, Roky menjadi sedikit ragu dan tidak enak hati ingin melaporkan apa yang dia ketahui tentang Caterine sekarang. Apa lagi Roky sendiri juga tau keduanya akan segera menghadiri