Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
100. Aku Percaya


__ADS_3

°°°


Rara paham dengan apa yang dipikirkan kakek tio. Seperti kata pepatah 'semakin tinggi pohon akan semakin kencang angin yang berhembus' yang berarti semakin tinggi kedudukan manusia, maka akan datang banyak masalah yang menerpa.


Lalu mengenai ujian wanita, tentu Rara juga mempunyai rasa takut akan hal itu. Apalagi diantara mereka belum hadir buah hati yang bisa memperkuat hubungan mereka. Namun, hal itu tidak bisa dijadikan alasan oleh Rara untuk menahan suaminya agar tetap di rumah.


Tidak bisa karena Revan mempunyai tanggung jawab yang besar demi kelangsungan hidup banyak orang. Banyak orang yang bergantung pada perusahaan untuk menafkahi istri dan anak-anak mereka.


"Aku tau yang kakek khawatirkan, tapi aku percaya pada kak Revan. Insyaallah kedepannya tidak akan ada apa-apa Kek. Meski orang luar belum tau hubungan pernikahan kami, yang terpenting adalah keluarga. Kita tidak perlu membuat pengumuman untuk semua orang, karena wanita yang tidak baik akan tetap berusaha mendekati kak Revan walaupun sudah tau statusnya."


Rara percaya pada suaminya dan dia juga tidak butuh pengakuan dari luar. Karena ujian akan tetap datang walaupun kita mencegahnya. Selama kita masih bernafas, kita akan selalu diuji, entah itu sebesar hujan badai atau hanya sekedar gerimis.


"Aku harap begitu nak, kakek harap kalian hidup rukun dan bahagia," ujar Kakek penuh harap agar cucunya bisa hidup bahagia bersama sang istri.


"Oh iya, nanti kak Revan pulang jam berapa Kek?" tanya Rara, dia ingin menyiapkan kejutan yang paling mengesankan untuk suaminya.


"Nanti kakek akan suruh dia pulang jam delapan, soalnya Mike ijin tadi. Jadi Revan harus bekerja sendiri," ujar kakek.


"Baiklah Kek, aku mau melanjutkan menyelesaikan persiapan untuk kejutan nanti." Rara sangat semangat sejak tadi.


"Kau lanjutkan saja, tapi kalau sudah lelah biarkan pelayan yang mengerjakan sisanya." Kakek sebenarnya sudah menyuruh Rara untuk melihat saja, tapi gadis itu tentu tidak mau hanya duduk dan melihat.


"Siap Kek," Rara bergegas bergabung dengan para pelayan yang sedang menata dekorasi.


"Lihatlah pak tua, gadis itu begitu baik. Keceriaannya juga membawa ke kehangatan di sini." Kakek masih memandangi cucu menantunya yang terlihat sangat cantik dan penuh keceriaan.


"Benar Tuan, biasanya para pelayan jarang bisa berkerjasama diluar dari pekerjaan mereka. Karena biasanya kita selalu menggunakan jasa EO. Tapi sekarang Nona berhasil membangun kehangatan diantara mereka." Pak Ahmad juga mengagumi sosok istri Revan.


Kakek duduk seraya menikmati teh dan sesekali dibuat tertawa oleh tingkah cucu menantunya bersama para pelayan. Sementara dibelakangnya berdiri pak Ahmad yang selalu mendampingi kakek saat di rumah.


"Bi, habis ini apa lagi yang perlu dikerjakan?" tanya Rara pada bibi yang sedang meniupi balon.

__ADS_1


"Sepertinya sudah non, tinggal pasang hiasan yang tinggi-tinggi biar mang Diman aja pasang." Bibi itu berbicara seraya menunjuk para pelayan laki-laki.


"Iya Non, kami bisa habis sama tuan Revan kalau nona Rara sampai ada yang lecet," sahut pelayan yang lain menggoda nonanya.


"Bibi, Suamiku tidak mungkin seperti itu." Rara menyelipkan rambutnya kebelakang telinga, seraya tersenyum malu dihadapan para pelayan.


"Benar Non, kemarin saja tuan Revan memarahi mang Udin gara-gara telat jemput nona kuliah. Trus bi Mur yang sudah sangat di percaya saja kadang kena marah kalau nona telat makan kalau siang." Para pelayan seperti sedang mengadu apa saja yang suaminya lakukan.


"Apa nona tidak ingat, kalau siang nona Rara suka makan bareng kami. Tapi karena pekerjaan kami belum selesai, nona jadi ikut-ikutan telat makan."


Rara mencoba mengingat-ingat apa yang para pelayan katakan. Sepertinya ia ingat sekarang, karena kalau siang Revan dan kakek tidak ada jadi dia lebih suka makan bersama para pelayan.


"Aku ingat bi, lalu bagaimana suamiku memarahi bi Mur." Rara merasa sangat bersalah pada bi Mur, akibat kemauannya sendiri malah bi Mur kena marah suaminya.


"Tuan Revan ngomongnya begini Non 'Bi lain kali jangan buat istriku menunggu, tinggalkan saja pekerjaan kalian yang penting istriku makan dulu, nanti saya kasih bonus untuk kalian karena sudah mau menemani istriku' begitu Non."


Sontak pelayan yang lain pun tertawa terbahak-bahak mendengarnya, termasuk Rara.


Tawa mereka pun bersahutan, tidak pandang atasan atau bawahan. Semuanya berbaur menjadi satu tanpa membedakan status sosial.


Hal itu semakin membuat bangga sang kakek, walaupun Rara sudah menikah dengan cucunya tapi tidak pernah berubah jadi sombong ataupun merendahkan orang lain. Dia tetap Rara yang rendah hati dan tetap menghormati yang lebih tua meski pada pelayan sekalipun.


,,,


Sementara di rumah sakit, seorang pria masih diliputi rasa bersalah dan khawatir. Sejak tadi dia mondar-mandir di depan pintu IGD.


Pikirannya kacau, rambutnya sudah acak-acakan dan kemejanya juga sudah tidak rapi lagi.


Kau harus baik-baik saja Feb, harapnya dalam hati.


Mike saat ini sedang menunggu dokter yang sedang memeriksa kondisi Febby yang tadi pingsan saat mendengar kehamilannya. Pria itu sangat merasa bersalah karena tidak pernah berpikir jika perbuatannya waktu itu bisa membuat Febby hamil.

__ADS_1


Maafkan aku, seharusnya aku memikirkannya dari awal.


Mike berulang kali menjambak rambutnya sendiri, meluapkan kesedihannya. Dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi apa-apa pada wanita yang baru membuatnya jatuh cinta.


Bukannya Mike menyesali perbuatannya yang mengakibatkan Febby hamil, tapi dia takut wanita itu akan membencinya jika tau jika lelaki malam itu adalah dirinya.


Lalu mengenai janin yang ada di dalam perut Febby, Mike tidak tau apa yang ia rasakan saat ini. Dia bahagia mendengarnya sekaligus tidak menyangka akan secepat itu bisa menjadi ayah.


Namun, yang terpenting saat ini adalah kesembuhan Febby. Mike akan memikirkan cara untuk menyelesaikannya jika wanita itu sudah dinyatakan baik-baik saja.


"Kenapa dokter itu lama sekali di dalam, sebenarnya apa yang mereka kerjakan. Jika sampai terjadi apa-apa pada wanitaku, maka aku meratakan rumah sakit ini."


Mike masih saja mondar-mandir, dirinya tidak akan tenang sampai menerima kabar dari dokter.


"Aku tidak tahan lagi, kenapa lama sekali."


Mike sedikit berteriak.


Para suster yang melihat Mike membuat kegaduhan tidak ada yang berani menegur, mereka lebih baik cari aman dari pada dikeluarkan dari pekerjaannya.


Pintu terbuka...


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....

__ADS_1


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2