Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
211. Penyebab


__ADS_3

°°°


Mike mondar-mandir di depan ruang operasi. Kakinya yang sakit bahkan sudah tidak ia rasakan lagi. Mengetahui kondisi Febby dan bayinya adalah yang terpenting saat ini. Sebenarnya dia ingin sekali masuk dan mendampingi Febby di dalam saja, tapi karena itu bukan hanya operasi Caesar biasa jadilah dokter tidak mengijinkan pasien di dampingi.


Akibatnya tubuh Febby yang tertabrak tadi sejumlah luka juga ia dapat di tubuhnya. Selain itu dokter juga harus mengeluarkan bayinya karena terjadi pendarahan. Beruntungnya kandungan Febby sudah cukup umur jadilah bayinya tidak akan terlahir prematur.


Ya Allah tolong selamatkan istriku dan anakku. Tolong selamatkan mereka.


Mike pun terus memanjatkan doa untuk keselamatan Febby.


Beberapa saat kemudian.


Oek oek oek...


Suara tangisan bayi menggema hingga terdengar keluar ruangan dan sampai di telinga Mike yang sedang tertunduk lemah.


"Anakku... anakku sudah lahir." Tangis haru menyelimuti Mike. Tidak menyangka dia bisa mendengar tangis darah dagingnya sendiri tapi sayangnya dia tidak ada di samping istrinya saat wanita itu berjuang antara hidup dan mati.


Pintu ruangan pun terbuka, seorang perawat keluar dengan menggendong bayi mungil.


Mike pun bangkit dan menghampirinya.


"Tuan, putra anda telah lahir dengan selamat. Dia sangat tampan seperti anda. Apa anda ingin menggendongnya?" tanya perawat itu.


Tentu saja Mike mengangguk, bisa menggendong anaknya adalah hal yang sudah ia impikan dari jauh hari dan sekarang impian nya telah terwujud. Sang putra sudah ada di gendongan nya.


"Putraku...," Lagi-lagi Mike menitikkan air matanya saat menatap wajah sang putra yang sangat mirip dengan istrinya. Dari hidung bibir dan alis jelas seperti Febby. Seketika dia tersadar akan keadaan istrinya.


"Sus, bagaimana keadaan istriku sekarang? Apa aku sudah bisa melihatnya?" tanya Mike.


"Maaf Tuan, dokter belum selesai melakukan operasi. Mohon anda bersabar dan terus berdoa untuk keselamatan istri anda." Perawat itu menatap iba pada Mike yang terlihat sangat hancur. Walaupun dia tidak menjelaskan secara spesifik bagaimana keadaan Febby tapi pasti Mike bisa menebak apa yang terjadi di dalam sana.


"Biar saya bawa bayi anda ke ruangan bayi, nanti ada perawat yang akan merawatnya. Anda tidak perlu cemas." Perawat itu mengambil baby boy dari gendongan Mike. Dia khawatir Mike tidak bisa mengontrol dirinya dan membahayakan bayi yang baru lahir itu.

__ADS_1


"Terimakasih sus."


"Oh iya Tuan, apa anda sudah punya nama untuknya?" tanya perawat itu.


"Nama? Kami sudah menyiapkan beberapa tapi aku ingin menunggu istriku bangun untuk memilih."


"Baiklah kalau begitu saya akan menulis nama ibu dari bayi ini di ranjangnya. Kalau begitu saya permisi."


Mike memandang wajah mungil itu, seharusnya kelahiran seorang bayi adalah saat yang paling ditunggu dan dinantikan dengan kebahagiaan orang semua orang. Tapi kini Mike bahkan bingung dengan perasaannya, bahagia bisa melihat buah hati nya telah lahir dengan selamat tapi juga sedih karena istrinya masih harus berjuang.


Setelah beberapa jam menunggu.


Dokter telah selesai mengoperasi Febby dan beruntungnya semuanya berjalan lancar. Febby juga sudah melewati masa kritisnya yang tadi sempat pendarahan. Untunglah ada seseorang yang bersedia mendonorkan darahnya tepat waktu.


"Terimakasih sayang, terimakasih sudah berjuang demi anak kita." Mike terus menggenggam tangan Febby yang masih dalam pengaruh obat bius. Kini ia tau rasanya saat orang yang kita cintai tergeletak tak berdaya. Mike saja yang seorang pria rasanya sangat terpukul dan hancur lalu bagaimana Febby menghadapi semuanya sendirian saat dirinya koma waktu itu.


Menyadari hal itu, Mike benar-benar kagum pada Febby. Rasa cintanya juga semakin bertambah besar pada wanita itu.


"Permisi Tuan." Seorang perawat datang sambil mendorong box bayi.


Mike pun menghampiri putranya yang terlelap. Bayi kecil itu sungguh tampan, perpaduan antara Mike dan Febby.


"Kau pasti bangga pada ibumu kelak nak. Ibumu baru saja mengorbankan nyawanya demi anak kecil yang sama sekali tidak ia kenal. Tanpa pikir panjang ibumu menyelamatkan nyawa seseorang meski mungkin nyawanya sendiri menjadi taruhannya."


tok tok tok


Seseorang datang ke ruangan itu. Seorang ibu dan anaknya.


"Permisi Tuan... bolehkah kami melihat keadaan nona Febby?" tanya wanita itu yang ternyata adalah ibu dari anak yang Febby selamatkan.


"Tentu, masuk saja." Tidak ada alasan untuk Mike membenci atau menyalahkan mereka atas apa yang menimpa istrinya. Semua itu terjadi atas kehendak Allah dan keinginan Febby sendiri. Terlebih lagi tadi ibu itulah yang telah mendonorkan darahnya untuk Febby tepat waktu.


Wanita itu pun masuk dengan menuntun putrinya yang berusia sekitar empat tahun.

__ADS_1


"Nona, kami datang untuk mengucapkan terimakasih karena nona telah menyelamatkan nyawa putra saya. Kalau tidak ada nona saat itu mungkin saat ini saya tidak akan bisa memeluk putri saya lagi." Wanita itu sampai menitikkan air mata, dirinya benar-benar merasa berhutang nyawa pada Febby. Demi menyelamatkan putrinya yang hampir tertabrak mobil akibat kelalaiannya, Febby hampir kehilangan nyawanya dan bayinya.


Wanita itu membungkukkan tubuhnya, "Terimakasih nona, saya tidak tau bagaimana caranya membalas kebaikan anda."


"Tidak apa-apa Nyonya, semuanya sudah diatur oleh Allah. Mungkin memang lewat istri saya, putri anda selamat. Saya juga berterimakasih karena anda sudah bersedia mendonorkan darah anda untuk istriku," ujar Mike.


"Itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pengorbanan nona, Tuan."


Sementara gadis kecil yang sejak tadi memegang bola yang tadi menggelinding ke jalan hanya diam dan menunduk. Walaupun dia masih kecil tapi dia tau apa yang terjadi, penyebab wanita itu tergeletak saat ini adalah dirinya. Dirinya lah yang membuat wanita cantik itu terluka.


Mike pun menyadari hal itu dan menghampiri gadis kecil itu.


"Hai girl, boleh uncle tau namamu?" tanya Mike seraya mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh gadis kecil itu.


"Nama saya Kiara, uncle," jawabnya dengan tertunduk.


"Nama yang cantik seperti orangnya. Uncle juga punya putra yang tampan apa kau mau melihatnya?"


Gadis itu mengangkat kepalanya tertarik dengan apa yang Mike katakan tapi lagi-lagi dia tertunduk saat matanya tak sengaja melihat Febby.


Mike mengusap lembut kepala gadis itu, dia sama sekali tidak menyalakan nya. Bagaimana pun dia hanya anak kecil yang belum bisa membedakan apakah yang ia lakukan itu berbahaya atau tidak. Dengan melihat wajah polos itu penuh penyesalan saja sudah Mike tersentuh.


"Tidak apa-apa girl, aunty hanya tidur sebentar karena kelelahan. Sini uncle gendong, kita lihat baby boy yang lucu."


Mike mengulurkan kedua tangannya. Walaupun ragu akhirnya gadis itu mau menerima uluran tangan Mike.


to be continue...


°°°


Maaf ya guys baru bisa up seperti jadwal semula. Kemarin author habis berduka karena salah satu keluarga author ada yang meninggal jadi enggak bisa ngebut nulis, hanya bisa nulis sesempatnya aja.


Walaupun sepertinya, author mau up atau enggak juga nggak ada yang nyariin 😂

__ADS_1


Like komen dan bintang lima 😍


Gomawo ❤️❤️


__ADS_2