
°°°
Febby tidak tahan lagi sejak tadi mamahnya terus memojokkan suaminya.
"Cukup Mah, aku kesini bukan mau cari ribut sama Mamah. Asal mamah tau kalau bukan Mike yang memintaku menemui mamah dan mempertemukan putraku dengan mamah, aku sama sekali tidak ingin kemari." Febby berbicara dengan cukup keras.
"Febby, kamu semakin kurang ajar sama mamah sekarang! Aku ini wanita yang sudah melahirkan mu dengan susah payah tapi kau malah membela pria yang baru kau kenal kemarin!" sentak mamah Wina tidak mau kalah.
Di tengah keributan itu ponsel papah Edwin berbunyi, dia pun segera mengangkatnya karena panggilan itu sudah ia tunggu-tunggu sejak tadi.
"Hallo, bagaimana apa kau berhasil mendapatkan tanda tangan kerja sama dengan tuan Anderson?" tanya papah Edwin pada seseorang diteleponnya.
Semua orang diam termasuk mamah Wina yang terlihat serius mendengarkan, sang suami sudah bercerita kalau perusahaannya akan bekerja sama dengan tuan Anderson, orang yang telah menolong mereka.
"Benarkah seperti itu, baiklah aku mengerti. Akan aku tanyakan langsung pada orangtuanya."
Setelah itu papah Edwin mematikan sambungan teleponnya.
"Siapa pah, apa asisten papah. Bagaimana kerjasamanya? Pasti berhasil kan? Papah akan makin sukses setelah ini." Mamah Wina menyombongkan diri, sengaja agar terdengar oleh putri dan menantunya.
Papah Edwin malah tak memperdulikan pertanyaan mamah Wina, dia melewati begitu saja istrinya. Lalu datang ke hadapan Mike yang sedang memangku putranya.
Semua orang melotot saat papah Edwin membungkukkan tubuhnya di hadapan Mike, termasuk mamah Wina.
"Apa yang papah lakukan?" sentak nya.
"Maafkan saya Tuan, karena tak menyadari siapa anda," ujar papah Edwin.
"Pah!!" teriak mamah Wina kesal.
"Diam dulu sebentar mah, kalau mamah masih mau menikmati kekayaan ku. Jangan buat aku kehilangan segalanya dengan tingkah kesombongan mu," tegas papah Edwin.
Wajah mamah Wina memerah menahan amarah, dirinya diam tentu saja karena tak ingin kehilangan segala kemewahan itu.
__ADS_1
"Duduklah pah, anda adalah ayah mertua saya saat ini. Jadi tidak sopan kalau papah seperti itu pada saya," ujar Mike yang masih memangku putranya, bocah kecil itupun terlihat amat senang.
"Tidak apa-apa Tuan, ini sebagai permintaan maaf saya. Terimakasih karena kebaikan yang telah anda berikan pada saya, anda mau menolong perusahaan yang hampir bangkrut. Kalau tidak ada anda, pasti saat ini saya sudah ada di jalanan." Papah Edwin masih berdiri dengan menundukkan kepalanya.
Febby yang merasa tidak enak pun bangkit untuk mengajak papah tirinya duduk.
"Pah, ayo duduk dulu," ajak Febby.
Papah Edwin tampak melirik pada Mike, dia tidak berani duduk tanpa ijinnya.
Mike pun bangkit dan menyerahkan baby Nathan pada istrinya. "Sayang, tolong jaga Nathan sebentar."
"Bisa kita bicara di tempat lain?" tanya Mike pada papah Edwin.
"Bisa Tuan, mari...," ujar papah Edwin mempersilahkan Mike untuk mengikutinya. Mereka berdua pun menghilang di balik pintu ruangan kerja papah Edwin.
Mamah Wina yang sejak tadi terpaksa diam tentu saja mulutnya sudah gatal ingin bertanya. Apa sebenarnya yang membuat suaminya amat sangat menghormati menantunya itu.
"Aku tidak tau Mah, aku tidak pernah bertanya. Yang aku tau dia itu assisten nya Revan." Febby tidak pernah bertanya dan Mike juga tidak pernah bercerita.
"Lalu kenapa bisa dia membantu papah tirimu dari kebangkrutan. Apa mungkin Revan yang membantu diam-diam. Apa mungkin dia masih menyukaimu?" Mamah Wina berbinar bahagia mengatakan hal yang tidak mungkin terjadi.
"Stop Mah! Revan sudah bahagia dengan istri dan anaknya, mana mungkin masih menyukai ku. Sejak dulu pun Revan tidak pernah punya perasaan padaku, apalagi sekarang. Dan aku juga sudah bahagia bersama Mike dan putraku. Mereka hidupku sekarang, tidak ada yang lebih penting dari mereka." Febby pun dengan bangga mengatakan hal itu di depan mamahnya.
Sementara mamah Wina hanya melirik malas mendengar ucapan putrinya.
,,,
Hampir setengah jam lebih Mike di dalam ruangan bersama papah tiri Febby. Mereka banyak membicarakan bisnis dan Mike lebih banyak mengajari papah Edwin agar tidak kembali bangkrut perusahaannya.
"Papah sangat kagum padamu, masih sangat muda tapi sudah sangat mengerti tentang bisnis. Entah apa jadinya kalau kau tidak ada," ujar papah Edwin. Sekarang keduanya sudah lebih santai layaknya keluarga.
"Papah berlebihan, Aku juga masih belajar."
__ADS_1
"Ayo kita keluar, mereka pasti sudah menunggu."
Mereka pun keluar dan benar saja kalau Febby dan mamahnya sudah menunggu kedatangan mereka.
"Mah... sudah waktunya makan siang. Coba kau suruh bibi siapkan makanan, biar kita makan bersama," titah papah Edwin pada sang istri. Tanpa banyak bertanya, mamah Wina pun mau pergi dari sana.
"Tidak perlu pah, kami akan pulang sekarang," tolak Febby, dia menatap suaminya untuk meminta persetujuan dan Mike pun mengangguk.
"Tidak nak, sebaiknya kita makan siang dulu baru pulang. Atau kalian menginap lah disini. Papah juga ingin main dengan cucu papah," ujar papah Edwin membujuk Febby.
"Bagaimana nak Mike, kalian mau kan menginap?" tanyanya kemudian pada Mike.
Mike menghampiri istrinya dan merangkul pinggangnya mesra.
"Aku akan mengikuti apapun yang membuat istri ku nyaman pah, kalau dia mau menginap maka aku tidak akan melarang tapi kalau dia tidak mau, aku juga tidak akan memaksa."
Febby terharu mendengarnya, sebegitu memikirkan perasaan dirinya kah sang suami. Walaupun dia terus di lemparkan kata-kata hinaan dari mamah mertuanya tapi sama sekali tidak melarang Febby bila mau menginap.
Kurang apalagi sekarang, Febby merasa hidupnya sudah lengkap dengan suami yang mencintai nya dan putra dari buah cinta mereka.
"Maaf pah, kami tidak bisa menginap dan juga ini mungkin terakhir kali kami menginjakkan kaki di rumah papah yang bagus ini. Tujuan kami kesini untuk mempertemukan Nathan dengan neneknya sudah terwujud. Jadi kami sudah tidak ada urusan lagi disini," tegas Febby. Sudah cukup sang suami mendapatkan hinaan dari mamahnya selama ini.
Febby melihat mamahnya yang tetap bergeming mendengar ucapannya barusan. Apa benar sama sekali tidak ada rasa sayang untuknya selama ini, apa benar kalau kelahiran Febby hanya dianggap beban. Kalau begitu mulai hari ini, Febby memutuskan untuk tidak akan lagi muncul dihadapan mamahnya. Dia sudah berusaha memperbaiki hubungan mereka tapi hasilnya sama.
"Mah kenapa kau tidak membujuk putrimu untuk tetap tinggal, kenapa kau begitu egois dan hanya memandang harta dan kekayaan ketimbang kebahagiaan putrimu. Kau akan menyesal kalau tau siapa Mike yang sebenarnya." Papah Edwin tidak habis pikir pada istrinya, meski selama ini tau kalau wanita itu gila harta tapi tak menyangka kalau dia akan bersikap seperti itu pada putrinya.
to be continue...
°°°
Like komen dan bintang lima 😍
Gomawo.❤️❤️❤️
__ADS_1