
°°°
Rara dan yang lain baru saja sampai di jogjakarta, karena hari sudah sore mereka memutuskan untuk langsung menuju hotel yang sudah dipesankan oleh Mike.
Salah satu hotel mewah bintang lima yang ada di pusat kota. Dua kamar presiden suite menjadi pilihan kakek untuk mereka agar merasa nyaman.
Karyawan hotel menyambut kedatangan mereka dengan baik, karena sudah dari awal mereka diberitahu jika akan ada putra dari pengusaha ternama dan salah satu investor di hotel itu akan menginap.
Ya walaupun kakek mempunyai perusahaan sendiri dan bergerak di bidang makanan dan minuman tapi tidak sebatas itu saja. Di bidang lainnya dia juga banyak berinvestasi seperti hotel, mall, rumah sakit dan banyak lagi yang lainnya.
Rara dan orangtuanya sangat kaget saat tau akan menginap di hotel mewah itu dan merekapun sempat menolak. Namun, semuanya tidak bisa apa-apa karena kakek lah yang sudah mengatur semuanya.
"Abi, Umi kita istirahat dulu sebelum besok kita akan menghadiri acara wisuda kakak ipar," ujar Revan saat mereka berada di depan kamar yang pintunya saling berhadapan. Bu
"Terimakasih nak Revan, kami malah merepotkan kalian," ujar umi.
"Tidak Umi, kalian adalah orangtuaku juga sekarang. Jadi tidak ada kata merepotkan."
"Selamat beristirahat," ujar Revan kemudian.
Abi dan umi pun masuk ke dalam kamarnya, diantarkan salah satu petugas hotel untuk membantu menunjukkan hal-hal penting di dalamnya yang mereka tidak mengerti.
Setelah itu Rara dan Revan pun masuk juga ke dalam kamarnya.
"Aku akan membersihkan diri dulu," ujar Revan.
Rara pun dengan sigap mengambilkan baju ganti untuk suaminya.
Ponsel Rara tiba-tiba berdering saat ia sedang membereskan barang bawaan mereka. Ia pun segera mengangkatnya.
"Hallo, Lia," jawab Rara.
"Ra, apa kamu sibuk?"
"Tidak, ada apa. Apa ada masalah?" tanya Rara, entah kenapa tiba-tiba ia merasa khawatir pada temannya.
"Apa kamu tau, aku sial sekali hari ini...," dan Lia pun menceritakan semuanya yang terjadi padanya.
Rara tertawa kecil mendengar cerita temannya, yang tidak pernah akur jika bertemu dengan pria bernama Sakka itu.
"Ihh Rara, kenapa kamu tertawa."
Dari nada suaranya gadis itu merasa kesal.
"Maaf Lia, aku tidak menertawakanmu tapi apa kamu tau, secara tidak langsung kamu itu sering sekali menceritakan Sakka. Apa kamu sadar, semakin kamu membenci dia, justru kamu jadi sering memikirkannya." ujar Rara yang tidak ingin temannya menyimpan kebencian.
Deg
Sepertinya Lia baru menyadari itu, padahal ia tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan pria itu tapi malah memikirkannya terus.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana, Ra?"
Kali ini terdengar nada putus asa.
"Tidak apa-apa, jangan berlebihan dalam membenci seseorang karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Mungkin kamu harus mengikuti maunya, bertemanlah dengannya dengan begitu tidak ada rasa benci dan tidak lagi memikirkannya."
"Tapi bagaimana bisa kita berteman."
"Cobalah dulu, jika tidak mau juga tidak apa-apa. Yang penting berdamai saja dulu, maafkan perbuatannya."
"Baiklah, akan aku coba Ra. Terimakasih, kamu selalu mau mendengar cerita ku."
"Sama-sama." Rara tersenyum.
"Kau sedang apa Ra, apa aku mengganggumu?"
"Tidak, tenang saja...,"
"Dimana bajuku?" tanya Revan yang baru saja keluar dari kamar mandi, dia tidak tau jika istrinya sedang menelepon seseorang.
"Ra itu suara siapa?" Ternyata suara Revan terdengar sampai ke telinga Lia.
"Ahh... itu, nanti aku jelaskan. Aku tutup dulu ya, assalamualaikum."
Huft... Rara tidak tau harus bicara apa pada temannya.
"Apa kau sedang menelepon seseorang?" tanya Revan.
"Iya, Lia menelpon ku tadi. Ini bajunya Kak."
Rara menunduk karena dada bidang suaminya sendiri terlihat meski sudah memakai bathrobe.
"Kau juga bersiap, sebentar lagi kita akan keluar," ujar Revan, seraya berjalan ke arah kamar mandi.
"Kemana Kak?" Rara menaikkan alisnya.
"Kita akan mengajak umi dan Abi makan malam, apa kau sudah menghubungi kakak ipar. Ajak dia juga."
Rara hampir lupa untuk mengabari kakaknya jika mereka sudah sampai di jogjakarta.
Setelah Revan menghilang di balik pintu, Rara segera mengirim pesan pada kakaknya. Agar menyusul mereka di hotel itu.
Setelah mereka bersiap tampak tampan dan cantik, mereka mengajak umi dan Abi untuk makan malam di restoran yang ada di hotel itu. Revan sudah memesan ruang private untuk mereka makan.
"Umi, Abi pesanlah apapun yang kalian suka," ujar Revan.
Rara pun membatu orangtuanya memilihkan menu makan malam mereka.
Tidak lama kemudian, datanglah Luna yang tadi diberi tau oleh adiknya jika mereka sudah ada di Jogja. Untung saja jarak asrama dengan hotel itu tidak terlalu jauh, jadi dia bisa datang tepat waktu.
__ADS_1
"Assalamualaikum...." Luna masuk ke ruangan private itu.
"Mbak...." Umi dan Abi terkejut karena sebelumnya Rara tidak bilang jika kakaknya juga akan datang.
"Umi, Abi...." Luna menghampiri kedua orangtuanya, tidak lupa mencium tangan mereka dan memeluknya.
Rara senang melihatnya.
"Mbak, kok kamu tau kami ada di sini?" tanya umi.
"Tadi Rara yang bilang Umi," jawab Luna yang masih berada dalam pelukan umi nya.
"Aku sengaja ingin memberi kalian kejutan," ujar Rara pada umi dan abi yang memandangnya penuh tanya.
Akhirnya mereka menghabiskan makan malam mereka dengan suka cita, melepaskan kerinduan satu keluarga yang lama tak berjumpa. Demi sebuah cita-cita dan keluarga.
"Terimakasih karena sudah membawa mereka kemari," ujar Luna pada adik iparnya.
"Itu sudah tugasku, kakak ipar tidak perlu sungkan," jawab Revan.
"Dan aku ingatkan satu lagi tugasmu yang paling penting, yaitu membahagiakan adikku." Luna berjalan lebih dulu meninggalkan Revan yang mematung.
Sejak awal Revan bertemu kakak iparnya, entah kenapa sikapnya begitu aneh. Revan bertanya-tanya apakah kakak iparnya itu tidak menyukainya atau ada hal lain yang menjadi penyebab.
Namun, sepertinya sekarang Revan tau apa yang menyebabkan kakak iparnya itu bersikap aneh. Jika tebakkannya benar Luna sudah tau apa yang terjadi pada rumahtangganya bersama Rara.
Dari mana dia tau, apa Rara yang mengatakannya. Tidak mungkin, dia bukan orang yang suka mengadu seperti itu. Pikiran Revan berkecamuk sendiri.
Rara yang melihat keanehan pada raut wajah suaminya pun bertanya pada kakaknya.
"Apa yang kalian bicarakan, Mbak?" tanya Rara.
Jarak mereka memang cukup jauh tadi, sehingga Rara tidak bisa mendengar apa yang suami dan kakaknya bicarakan. Karena mereka saat ini sedang berada di sekitaran hotel untuk berjalan-jalan, banyak pedagang kaki lima yang berjualan hanya di malam hari.
"Tidak membicarakan apa-apa," cuek Luna.
"Mbak, aku serius. Pasti Mbak Luna mengatakan sesuatu pada suamiku kan." Tentu saja Rara tidak percaya pada kakaknya.
"Kenapa kau khawatir sekali dengannya, Mbak cuma kasih sedikit wejangan untuk adik ipar ku," ujar Luna seraya tersenyum menyeringai.
Rara makin yakin jika sudah terjadi sesuatu saat suaminya dan kakaknya mengobrol tadi. Kalau tidak, raut wajah Revan tidak mungkin berubah jadi dilipat seperti itu.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
__ADS_1
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...