
°°°
Keesokan harinya, Rara memutuskan untuk berangkat kuliah setelah sang suami menyuruhnya untuk berangkat. Katanya dia sudah cukup banyak bolos demi merawatnya di rumah sakit.
"Apa tidak apa-apa kalau aku tinggal Kak?" tanya Rara lagi memastikan, sudah yang kesekian kalinya dia bertanya seperti itu pada suaminya.
"Tidak apa-apa sayang... kau kan hanya pergi sebentar jadi tidak masalah. Di rumah ini banyak pelayan yang akan membantuku." Revan meyakinkan istrinya karena dia juga mau mengurus masalah pekerjaan. Dia tidak mau nanti istrinya bosan kalau dirinya tinggal bekerja dari rumah.
"Benar, di rumah ini kakak punya semuanya jadi tidak begitu memerlukan ku," lirih Rara dengan wajah sendunya. Ia merasa suaminya sedang mengusirnya pergi.
"Bukan begitu sayang, kenapa kau berpikir seperti itu. Aku tentu lebih membutuhkan mu dari pada semua yang ada di sini. Aku hanya tidak ingin kamu bosan saja seharian di rumah. Bukankah temanmu juga akan kembali. Apa kau tidak ingin melihatnya?" ujar Revan yang sangat ada benarnya.
"Iya kak, kau benar. Aku harus bertemu Lia untuk melihat keadaan nya." Rara akhirnya memutuskan untuk berangkat kuliah.
Setelah selesai bersiap, tibalah Rara berangkat ke kampusnya. Revan pun mengantarkan istrinya hingga ke depan rumah.
"Kak Revan tidak perlu mengantar sampai sini." Rara tidak enak karena itu seharusnya tugasnya sebagai istri, mengantarkan suaminya hingga dengan rumah.
"Tidak apa-apa sayang, aku kan ingin melihatmu pergi dan melambaikan tanganku," jawab Revan.
"Ya sudah, aku pergi dulu Kak. Jangan nakal di rumah dan beristirahat lah kalau lelah kak," Rara memperingatkan suaminya agar tidak melakukan hal yang membuatnya kelelahan.
"Siap Tuan Putri, saya pasti akan mengingat pesan anda." Revan meletakkan tangannya di dada dan sedikit membungkuk pada istrinya.
"Aku berangkat kak," ujar Rara seraya menyalami tangan suaminya tapi pria itu tak kunjung melepaskan tangan istrinya.
"Ada yang kurang sepertinya... apa yaa..."
"Apa kak? apa aku jelek?"
"Kau cantik sangat cantik, tapi bukan itu." Revan seperti sedang memikirkan sesuatu. "Kemarilah..." perintah Revan agar istrinya mendekat daannn Cup Revan mencium bibir istrinya.
"Kak...," Rara mendelik saat suaminya menciumnya di luar rumah seperti itu.
"Sekarang kau sudah boleh pergi," ujar Revan dengan senyum puas karena sudah berhasil mendapatkan bibir mungil istrinya.
__ADS_1
Akhirnya Rara pamit dan segera pergi atau kalau tidak, entah apa yang akan suaminya kembali lakukan padanya.
Setelah kepergian sang istri, Revan di bantu pak Ahmad menemui kakeknya di ruang kerja. Di sana sang kakek sudah menunggu. Ada hal penting yang harus dibahas, tentu mengenai perusahaan.
,,,
Di mobil.
Rara sudah mengirimkan pesan pada Lia tapi belum ada balasan juga. Membuat Rara ragu kalau temannya akan benar-benar kembali hari ini.
Sampai di kampus Rara langsung ke kelasnya berharap kalau temannya sudah ada di kelas.
Dan benar saja, Lia sudah duduk manis di dalam kelas.
"Lia... kau kah itu?" pekik Rara seraya menelisik temannya, seolah takut temannya ada yang kurang satu bagian.
"Iya ini aku Ra, aku Lia. Apa kau tidak ingin memeluk ku?" tanya Lia, seraya tersenyum lembut.
Kedua sahabat itupun berpelukan erat dan saling melepas rindu. Mereka sudah seperti saudara yang lama terpisah.
"Kamu kemana aja Lia, kenapa aku tidak bisa menghubungi mu?" tanya Rara setelah pelukan mereka terlepas.
"Lalu bagaimana dengan masalah panti, siapa yang sudah membantu mu? Kamu tidak bohong kan, kalau memang ada masalah katakan saja padaku Lia."
Lia justru terkekeh mendengar penuturan Rara, lama tidak berjumpa dengannya ternyata sang teman sudah jadi cerewet sekarang.
"Hai... kenapa kamu malah tertawa..." Rara menepuk lengan temannya.
"Kenapa kamu jadi cerewet sekarang Ra, apa kamu sudah tertular olehku." Lia tidak berhenti cekikikan.
"Kau itu... cepat ceritakan apa yang terjadi padamu selama di sana. Aku ingin tau apa saja yang terjadi," ujar Rara seraya menatap temannya dan bersiap untuk mendengarkan cerita.
"Ceritanya sangat panjang Ra, intinya masalah panti sudah selesai dan aku bisa kembali kesini sekarang," ujar Lia singkat. Ada sesuatu yang belum siap ia ceritakan pada temannya.
"Benarkah hanya itu saja? Sepertinya ada hal penting yang terlewatkan, apa kau tidak mau cerita padaku?" tanya Rara penuh dengan tanda tanya di kepalanya.
__ADS_1
"Itu... " Lia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal dan tersenyum kikuk.
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka dengan membawa teh susu kesukaan Lia.
"Sayang, teh susu kamu...."
Kedua wanita itu pun menoleh dan Rara menatap pria yang ia kenal penuh tanda tanya. Siapakah yang laki-laki itu panggil sayang barusan. Lalu tatapannya beralih pada kemana pria itu memberikan teh susu itu dan seketika bola mata Rara membulat sempurna dengan mulut menganga.
"Kalian...??" tanya Rara pada kedua orang itu dan mereka pun mengangguk bersamaan.
Rara menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tidak percaya dengan apa yang barusan ia lihat. Bagaimana dan sejak kapan terjadi, sedangkan Lia baru saja kembali dari kampung halamannya.
"Apa tidak ada yang perlu kamu jelaskan padaku Lia??" Rara menyipitkan matanya dan Lia salah tingkah jadinya.
Itulah mengapa dia sudah mewanti-wanti Sakka untuk tidak terlalu ketara saat berada di kampus tapi pria itu tidak mau mendengarkan nya. Bukan hanya bingung menjelaskan pada Rara temannya tapi juga pada para gadis kampus yang pasti menatap nya dengan tatapan permusuhan.
"Sudah sudah... nanti aku akan bantu jelaskan pada Rara saat makan siang. Ini teh susunya, satu buat Rara," ujar Sakka dengan santai lalu dia beralih pada Rara.
"Nanti siang aku traktir makan siang sebagai bentuk perayaan hubungan kami," ujarnya pada Rara dan setelah itu dia duduk di belakang mereka berdua.
Rara menatap Lia yang kini pipinya di penuhi rona merah kebahagiaan. Dia juga menunduk karena banyaknya mata yang menatap padanya, sedangkan si pria tidak berpikir sampai disitu.
"Selamat Lia, aku ikut senang kalau kamu bahagia. Terlepas bagaimana akhirnya kalian bisa jadian, aku harap kamu bisa menemukan kebahagiaan kamu bersama Sakka." Rara sedikit berbisik. Walaupun tadi dia masih kaget tapi ia lega saat melihat kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah temannya.
"Terimakasih Ra," lirih Lia. Ia terharu karena temannya sangat mengerti akan dirinya.
"Ingat kau masih berhutang penjelasan padaku," ujar Rara penuh penekanan tapi kemudian mereka berdua tersenyum bersama.
to be continue...
°°°
Lia come back nih pemirsaaaa... 😍
Ada yang kangen nggak.
__ADS_1
Like komen dan bintang lima 😍😍
Gomawo ❤️❤️❤️