Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
54. Mengambil Hati Kakak Ipar


__ADS_3

°°°


Ditengah malam dinginnya kota Jogjakarta. Revan berdiri di balkon kamarnya dengan rambut yang masih sedikit basah. Ya baru saja ia mandi untuk menidurkan adik kecilnya.


Niat hati ingin tidur sambil memeluk istrinya tapi malah berakhir di kamar mandi. Itu bukan salah Rara, mungkin saja dia tidak tau jika apa yang dia lakukan bisa membuat lelaki menerkamnya.


Lagi, Revan menyesap kopi yang tadi ia pesan lewat layanan kamar. Ia menertawakan dirinya sendiri, sepertinya tidak akan mudah baginya mulai sekarang. Entah hal apa lagi yang istrinya lakukan esok hari.


Jika saat ini ia masih bisa menahan hasratnya, tapi tidak tau di lain waktu.


Setelah dirasa cukup menenangkan pikirannya, Revan kembali ke dalam kamarnya. Berjalan mendekati ranjang dan mulai merebahkan tubuhnya di samping sang istri yang sudah terlelap.


"Kau tidur begitu nyenyak setelah membuatku mandi air dingin di tengah malam." Monolog Revan pada istrinya yang tertidur.


Wajah polos istrinya terlihat sangat cantik saat tertidur. Revan pun tidak ada bosannya memandangi wajah itu, meski setiap malam melakukan hal yang sama.


Jangan tanya apa Revan tidak tergoda pada wajah istrinya. Tentu saja iya, ingin sekali ia mendaratkan kecupan pada setiap inci wajah cantik itu. Namun, ia merasa masih belum pantas melakukan itu. Selama dia masih juga menyakiti hati sang istri, rasanya tidak pantas ia menyentuhnya.


Puas memandangi wajah istrinya Revan mulai memejamkan matanya dan tidak lupa melingkarkan tangannya pada tubuh sang istri.


Hingga keduanya terlelap dalam tidurnya, mengarungi indahnya mimpi. Langit malam Jogjakarta menjadi saksi awal kedekatan kedua insan manusia yang terikat tali pernikahan.


,,,


Keesokan harinya, Rara dan yang lain sudah berada di tempat diadakannya acara wisuda sang kakak.


Rara tampil cantik menggunakan kebaya syar'i, begitupun dengan sang umi. Sementara Revan dan Abi menggunakan kemeja batik yang seragam dengan kain yang digunakan Rara dan umi.


Mereka tampil sempurna tanpa celah, tentu saja Revan yang menyiapkan semuanya. Dia bahkan sengaja mendatangkan penata rias profesional.


Tampilan Rara yang begitu anggun dan ayu membuat Revan tidak berkedip sejak tadi. Ia bahkan sempat ingin melarangnya keluar dari hotel karena tidak ingin pria lain melihat kecantikan istrinya.


Namun, Revan tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak mungkin mencegah istrinya pergi menghadiri acara wisuda kakak ipar.


Apa boleh buat, tidak ada cara lain selain ia terus menggandeng tangan istrinya agar orang lain tau jika gadis cantik itu sudah ada pemiliknya.


Umi dan Abi yang melihat tingkah menantunya sejak tadi pun hanya saling melempar senyum. Mereka bahagia karena ternyata Revan sangat posesif pada Rara.


"Sekarang Abi lihat sendiri kan, nak Revan sangat menjaga putri kesayangan kita. Jadi Abi tidak perlu lagi terlalu khawatir pada mereka," ujar umi pada suaminya.


Sepertinya kali ini Abi setuju dengan yang umi katakan, hatinya sedikit lebih lega rasanya.

__ADS_1


"Jangan tersenyum pada semua orang," ujar Revan tiba-tiba dan tentu saja membuat Rara bingung dengan sikapnya.


Menurut Rara sikap suaminya sejak semalam sangat aneh. Ditambah tadi pagi lelaki itu melarangnya keluar, setelah mengijinkan pun banyak sekali larangan yang Revan lontarkan pada istrinya.


Tidak boleh senyum pada semua orang, tidak boleh melihat wajah pria lain, tidak boleh jauh-jauh darinya, tidak boleh melepaskan genggaman tangannya dan banyak lagi yang lainnya.


Bukankah itu aneh, ada apa dengan Kak Revan. Sepertinya aku harus bertanya pada Mbak Luna nanti. Pikir Rara.


Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya acara wisuda kakak ipar Revan selesai juga. Diakhiri dengan tepuk tangan meriah untuk para mahasiswa/i yang mendapatkan nilai terbaik, dan Luna salah satunya.


Rara, umi dan Abi sangat bangga melihatnya. Umi bahkan terharu mendengar tepuk tangan riuh di gedung itu. Tidak menyangka jika putri sulungnya berhasil membanggakan keluarga.


"Umi, Abi...." Luna yang menghampiri keluarga langsung memeluk umi dan Abi bergantian.


"Kami bangga padamu nak," ujar umi tersenyum bahagia, bahkan sudut matanya pun berair karena terharu.


"Terimakasih umi, ini berkat do'a dari kalian. Aku bisa berdiri dan mendapatkan penghargaan." Luna pun ikut terharu melihat uminya menangis.


Abi mengusap kepala putrinya penuh kasih sayang dan rasa bangga.


"Kamu hebat sekali, nak." Abi tak kalah bangga.


"Selamat Kak, kamu sangat hebat tadi saat berdiri di depan sana." Rara pun memberi selamat pada kakaknya.


"Terimakasih Dek, kau jauh lebih hebat dari ku," lirih Luna.


"Selamat Kakak ipar," ujar Revan memberikan selamat juga.


"Terimakasih adik ipar," balas Luna singkat dengan senyum yang membuat Revan merasa aneh melihatnya. Jangan lupakan tatapan intimidasi yang membuat pria itu menciut.


"Sudah Mbak, jangan menggodanya lagi." Rara paham betul kakaknya.


"Tidak apa Dek, sekali-kali dia harus diberi sedikit pelajaran." Luna tersenyum menyeringai.


Jika sudah seperti itu Rara tidak bisa apa-apa, sama seperti dulu saat mereka masih kecil. Luna tidak akan berhenti membalas anak yang sudah mengganggu adiknya sampai ia merasa puas. Meski sang adik sudah bilang tidak apa-apa dan sudah memaafkannya.


"Kenapa kalian berbisik-bisik?" tanya umi pada kedua putrinya menatap mereka penuh selidik.


"Tidak apa-apa umi, ayo kita rayakan kelulusanku," ajak Luna dengan semangat.


"Benar, ayo semuanya aku sudah menyiapkan tempat untuk merayakan keberhasilan Kakak ipar." Sepertinya Revan sedang berusaha mengambil hati Luna.

__ADS_1


"Benarkah, terimakasih adik ipar. Aku jadi merepotkan mu," ujar Luna tersenyum menyeringai.


"Tidak merepotkan sama sekali Kak, Kakak ipar adalah kakaknya Rara dan sekarang sudah menjadi kakakku juga. Jadi tidak perlu sungkan." Revan tersenyum simpul.


Aku akan lihat seberapa besar usahamu adik ipar, Luna berkata dalam hatinya.


Aku pasti bisa meyakinkan Kak Luna, jika aku akan membahagiakan adiknya, Revan dalam hatinya.


Sementara Rara yang melihat kedua nya justru memijit pelipisnya, ia tidak tau apa yang akan kakaknya lakukan pada suaminya.


Mereka akhirnya sampai di tempat yang sudah Revan siapkan. Sebuah resort dengan hamparan pemandangan sawah hijau sebagai latar.


Di Jogja memang banyak tempat dengan pemandangan sawah seperti itu.


Revan sudah menyewa satu tempat itu untuk merayakan kelulusan kakak iparnya.


"Bagaimana apa kalian suka tempatnya?" tanya Revan pada semuanya.


Rara mengangguk senang begitupun dengan Abi dan umi yang memang lebih menyukai tempat seperti itu dari pada restoran mewah seperti yang ada di hotel.


Namun, tidak dengan Luna yang tersenyum miring sejak tadi. Sepertinya sebuah rencana sudah melintas di pikirannya.


Rara menyadari itu dan ia hanya berdoa agar kakaknya tidak akan bertindak berlebihan kali ini.


Semua makanan sudah siap dan tersaji di atas meja yang ada di halaman. Mereka sengaja memilih meja yang ada di luar karena ingin merasakan sensasi makan di temani hamparan sawah dan angin yang berhembus kencang di sana.


Mereka menikmati makanan yang sangat pas di lidah semua orang, termasuk Revan yang memang tidak terlalu pemilih.


Sementara Luna sedang menyusun apa hal menyenangkan apa saja yang bisa ia lakukan nanti.


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....


...Sehat selalu pembacaku tersayang...

__ADS_1


__ADS_2