Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
148. Layani Aku


__ADS_3

°°°


Mike yang tidak kunjung pulang membuat Febby semakin gelisah, tidak bisa menunggu lagi dia harus segera mencari informasi. Tapi kemana dia harus bertanya, apa harus bertanya ia harus bertanya pada Revan mantan kekasihnya.


"Apa aku bertanya pada Revan saja, tapi nanti dia bertanya-tanya ada hubungan apa aku dan Mike. Aku malu kalau harus menceritakan tentang kehamilanku."


Febby frustasi sendiri. Lalu dia teringat sesuatu. Bukankah istrinya Revan satu kampus dengannya, dia pasti tau mengenai Mike.


Ya tanya dia saja, sepertinya gadis itu terlihat baik dan tidak banyak ikut campur. Mungkin lebih baik bertanya padanya yang sesama wanita.


Febby akhirnya memutuskan untuk bertanya pada Rara. Hari ini dia akan berangkat kuliah, sudah hampir dua Minggu juga dia tidak kuliah.


Hari ini penampilan Febby berbeda, lebih terlihat muda dengan make-up yang tidak terlalu tebal. Pakaian yang ia kenakan juga sangat cantik dan sopan.


Jika dulu, Febby hanya berpura-pura baik. Kali ini ia benar-benar sudah menjadi baik. Walaupun belum sepenuhnya berubah tapi sedang menuju proses.


Febby keluar dari kamar dan langsung mencari bi Ida untuk berpamitan.


"Bi, aku mau ke kampus. Sudah lama aku tidak masuk kuliah," ujar Febby.


"Tapi non, apa tidak sebaiknya bertanya pada tuan lebih dulu." Bi Ida tidak mau seenaknya mengijinkan nonanya pergi ke luar.


"Tidak usah Bi, aku kan hanya ke kampus. Katanya kalau aku sudah sehat juga boleh pergi ke kampus." Febby meyakinkan bi Ida dengan alasannya, mau ijin bagaimana telepon saja tidak pernah.


Bi Ida tampak berpikir dan Febby memandang nya penuh harap membuat wanita tua itu tidak tega.


"Baiklah non, tapi harus diantar supir ya non. Pulangnya juga nanti di jemput lagi," ujar bi Ida memberi ijin dengan syarat.


"Siap bi, aku akan langsung pulang kalau sudah selesai kuliahnya. Dahh bibi..." Febby melambaikan tangannya.


Beberapa saat kemudian sampailah Febby di kampus, banyak cerita yang mungkin tidak mudah ia lupakan di tempat itu. Menjalin hubungan dengan Revan selama beberapa waktu membuatnya memiliki kenangan.


Febby menghela nafasnya, mengingat dulu ia selalu menempel pada Revan yang bahkan bersikap dingin padanya. Dengan tidak tau malunya Febby malah tetap mengikutinya kemanapun.


Febby membuang jauh-jauh kenangan memalukan itu, tidak hanya dengan Revan tapi juga dengan laki-laki yang pernah berkencan dengannya. Ia mengubur semua kenangan itu untuk menyambut kehidupan nya yang baru.

__ADS_1


Wanita itu pun mulai melangkahkan kakinya memasuki halaman kampus.


Kedatangan Febby membuat mata para lelaki menatapnya, tentu saja mereka merindukan si bunga kampus yang bisa membuat mereka mencuci mata. Ada yang mendekat dan menyapa Febby dan ada yang terang-terangan mendekatinya.


"Hai Feb, lama nggak kelihatan."


"Makin cantik aja Feb."


"Nanti malam ada acara nggak?"


Jika dulu mungkin Febby akan dengan senang hati menanggapi mereka, tersenyum manis dan tebar pesona. Tapi saat ini tatapan dan perkataan mereka justru membuat nya risih.


Febby hanya tersenyum tipis, tanpa ingin menjawab pertanyaan mereka. Tujuannya ke kampus saja belum terlaksana. Dia lalu melewati para mahasiswa itu.


Dimana gadis itu, apa dia belum datang? tanya Febby dalam hatinya saat ia berada di kelas yang ditempati Rara.


"Permisi apa kalian melihat is... eh sepupunya Revan?" tanya Febby pada mahasiswi di depan kelas itu. Hampir saja dia menyebutkan kata istri, sepertinya di kampus itu kan belum ada yang tau pernikahan Revan.


"Ohh Rara... dia belum datang sepertinya," ujar mahasiswi tadi.


Febby memutuskan untuk pergi ke kelasnya, nanti dia akan kembali lagi untuk mencari istrinya Revan. Kalau tidak salah namanya Rara tadi.


Karena terlalu membenci Rara waktu itu sampai dia tidak pernah menanyakan namanya.


Tiba di lorong yang cukup sepi, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangannya lalu membawanya ke tempat yang sangat sepi.


"Hai lepaskan!!" pekik Febby mencoba memberontak. Dia berusaha menarik tangannya tapi kekuatan orang itu jauh lebih kuat darinya.


"Siapa kamu, lepaskan tanganku. Atau aku teriak sekarang juga!!" ancam Febby.


Laki-laki itu membalikkan tubuhnya dan mendorong tubuh Febby hingga terpojok ke dinding. Mengungkungnya hingga membuat Febby tidak bisa pergi.


"Kamu tidak usah pura-pura lagi," katanya tersenyum menyeringai.


"Apa maksudmu dan siapa kamu?!" Febby mendelik tajam.

__ADS_1


"Kau tidak ingat padaku, aku setiap hari mendekatimu dan memujamu bahkan mau disuruh suruh sama kamu. Walaupun kamu sudah berpacaran dengan Revan tapi aku tetap mau menjadi pesuruh mu."


Febby tampak berpikir, dulu memang saat dia masih gila perhatian dia suka memanfaatkan para pria yang mendekatinya. Namun sungguh dia tidak bisa mengingat pria di depannya itu.


"Siapapun kamu tolong lepaskan aku, jangan seperti ini." Febby ketakutan, laki-laki didepannya seperti punya niatan tidak baik padanya.


"Hahahaha... lepaskan katamu. Aku sudah menantikan momen seperti ini sangat lama. Aku tidak akan melepaskan mu semudah itu, sebelum aku mendapatkan apa yang aku inginkan." Pria itu mengusap pipi Febby tapi Febby buru-buru menepis tangannya.


"Apa yang kamu inginkan, katakan kau mau uang? Sebutkan berapa pun yang kamu mau," Nada Febby sudah bergetar dia tau apa maksud pria itu dari tatapannya yang penuh nap*su.


"Aku tidak butuh uang, aku butuh tubuhmu." Tatap pria itu menelisik bagian tubuh Febby yang menonjol.


"Tidak jangan, aku mohon lepaskan aku. Aku akan berteriak kalau kau sampai melakukan hal itu, kau bisa di keluarkan dari kampus bahkan di penjara."


Situasi itu membuat Febby takut, sungguh takut. Siapapun tolong aku...


Tapi berbeda dengan pria itu yang sama sekali tidak takut akan ancaman Febby.


"Teriak saja dan panggil semua orang. Saat itu terjadi aku akan memberitahukan pada semua orang, seperti apa seorang Febby sebenarnya," ujar pria itu.


"Apa maksudmu?" tanya Febby.


"Aku sudah tau jika kamu bukan wanita baik-baik, suka keluar masuk club' malam dan menghabiskan malam dengan bergonta-ganti pasangan." Pria itu menunjukkan beberapa foto Febby yang sedang bersama beberapa pria yang berbeda dengan pose sedang bercumbu.


Febby membulatkan matanya, bagaimana pria itu bisa mendapatkan itu semua.


"Kamu tidak ingin kan, semua orang tau tentang ini. Maka cepat layani aku seperti kamu melayani para pria itu." Sentak pria itu membuat Febby menangis ketakutan.


"Tidak tolong lepaskan aku, aku akan memberimu uang berapapun tapi aku sudah tidak bisa melakukan itu. Aku sudah berubah tidak seperti itu lagi..." Febby menangis memohon tapi laki-laki itu sama sekali tidak peduli.


to be continue...


°°°


Febby mau diapain kira-kira? Aku kok ngeri ngebayangin nya.

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2