Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
48. Mengenang


__ADS_3

°°°


Pada akhirnya Abi dan Umi menginap di kediaman keluarga Herwaman, meskipun berat bagi Abi tapi ia tidak tega melihat tatapan mata putrinya yang ingin sekali mereka tinggal.


Jam makan malam tiba, mereka semua sudah duduk di meja makan. Makan malam kali ini Rara tidak memasak sendiri, ia ditemani umi tercinta. Meski sudah dilarang oleh kakek karena mereka adalah tamu, tapi umi tetaplah umi yang tidak bisa duduk diam dan menunggu.


"Bukankah kita adalah kerabat, jadi aku akan menganggap rumah ini juga rumahku bukan sebagai tamu," kata umi pada kakek.


Mungkin itulah mengapa Rara juga lebih suka banyak mengerjakan sesuatu selama di rumah itu, pasti menurun dari umi nya.


Rara bahagia akhirnya ia bisa merasakan memasak bersama sang umi lagi setelah sekian lama. Walaupun biasanya banyak juga yang membantunya, tapi para pelayan terlalu bersikap sopan padanya jadi Rara merasa sungkan pada mereka.


Seperti biasa kakek duduk di ujung sebagai kepala keluarga, sementara Abi dan umi duduk bersebelahan di sebelah kiri dan Rara dan Revan bersebelahan di sebelah kanan.


Baru kali ini pasangan pengantin yang masih terbilang baru itu duduk bersebelahan di meja makan. Sebenarnya tidak ada yang menyuruh Rara duduk di mana saat pertama kali datang. Ia hanya mengikuti kata hatinya saja dan ternyata kakek dan Revan tidak mempermasalahkannya.


Kakek mempersilahkan semuanya untuk makan. Rara hendak berdiri untuk melayani kakek, seperti yang biasa ia lakukan tapi kakek mencegahnya.


"Layani saja suamimu, kakek bisa sendiri," cegah kakek.


Rara memandang wajah umi nya, seakan bertanya apa tidak apa-apa jika ia tidak melayani kakek dan umi pun menganggukkan kepalanya, tidak apa-apa karena itu perintah dari kakek sendiri.


Rara akhirnya kembali duduk dan ia melayani suaminya. Abi yang melihatnya pun sedikit demi sedikit mengurangi kecemasannya selama ini.


Kakek tidak berhenti memuji masakan cucu menantunya dan ibunya


"Ini enak sekali, pantas saja Rara pandai memasak. Umi nya pasti mengajarimu dengan baik, oh iya apa kakaknya Rara juga pandai memasak?" tanya kakek.


"Kakaknya Rara tidak tertarik dengan urusan dapur, dia hanya tau makan saja," jawab umi seraya tertawa kecil. Putrinya yang satu memang berbanding terbalik dengan Rara, padahal cara mendidiknya sama saja.


"Dia pasti sibuk dengan pendidikannya. Jaman sekarang tidak ada masalah kalau tidak bisa memasak. Para perempuan sekarang sangat hebat, mereka bisa berkarier dan membantu ekonomi keluarga."


Bagi kakek tidak masalah jika perempuan tidak bisa memasak karena mereka dijadikan istri tidak untuk jadi pembantu tapi pendamping suaminya.


"Iya Kek, tapi aku selalu berharap putri-putrinya umi juga bisa mengurus keluarga dengan baik," ujar umi.


"Biarkan dia belajar pelan-pelan, jangan terlalu memaksa. Nanti kalau sudah menikah juga tau apa yang harus dia lakukan."


Kakek benar Rara pun sama ia otomatis tau apa saja yang mesti ia kerjakan saat menjadi istri setelah menikah.

__ADS_1


Umi mengangguk, ada benarnya juga kata kakek. Putri pertamanya memang paling susah kalau disuruh mengerjakan urusan rumah apalagi dapur. Umi berharap nanti setelah menikah dia bisa menjadi istri yang baik.


Saat ini Rara sedang membantu umi membereskan kamar yang akan di tempati orangtuanya malam ini. Sementara para lelaki sedang mengobrol santai di ruang keluarga.


Rara membantu melengkapi apa saja yang dibutuhkan mereka sambil bercerita dengan umi nya. Melepas rindu dan sesekali juga bermanja-manja.


"Umi bagaimana keadaan kalian setelah aku tidak ada di rumah?" tanya Rara pada umi yang sedang berbenah baju.


"Sangat sepi, nak. Abi jadi lebih suka menghabiskan waktunya dengan kegiatan lingkungan bersama bapak-bapak yang lain, umi juga lebih sering ikut pengajian."


"Di rumah jadi sangat sepi, Abi juga sering melamun jika sendiri."


Tidak hanya anak perempuan yang dilema saat meninggalkan rumah, orang tua juga merasa sangat kehilangan tapi tidak bisa lagi meminta putri mereka untuk tinggal.


Jadi bagi para suami janganlah menyia-nyiakan istri kalian, karena para istri sudah banyak berkorban demi suaminya. Meninggalkan rumah dan orang tua, belum lagi nanti melahirkan dan mengurus anak.


"Maafkan aku, Umi."


Rara merasa bersalah.


"Kamu tidak perlu meminta maaf, nak. Dulu umi juga seperti itu saat baru menikah dengan Abi mu, bahkan lebih parah."


"Benarkah, umi juga dulu?" tanya Rara yang tertarik mendengar cerita uminya.


Rara pun mengangguk dan ia meletakkan kepalanya dipangkuan umi. Seperti yang biasa ia lakukan saat belum menikah. Umi pun mengusap rambut putrinya dan mulai bercerita.


"Pertemuan kami hampir sama seperti kamu, umi dikenalkan pada abi oleh paman. Waktu itu kakekmu sangat menyukai Abi dan berharap umi mau menikah dengannya. Setelah mengenal Abi beberapa saat akhirnya umi mau menikah."


"Dan saat itu lucunya, umi meminta sesuatu pada Abi sebagai syarat umi mau menerimanya. Umi minta agar setelah menikah tetap tinggal di rumah kakek kamu. Apa kamu tau apa yang kakek dan nenek kamu katakan dulu."


Rara menggeleng, ia semakin tertarik mendengarnya.


"Mereka bilang, untuk apa menikah kalau masih mau menempel pada orang tua. Anak perempuan itu bukan lagi tanggung jawab orangtuanya, dia harus berbakti pada suami dan mengikuti suami. Nanti kalau tidak diikutin suamimu bisa cari wanita lain di luaran sana."


"Dengar mereka bicara seperti itu, umi langsung takut waktu pada saat itu. Umi yang masih polos dan tidak tau apa-apa langsung mengemasi baju untuk dibawa ke rumah suami."


Rara tertawa mendengar cerita umi.


"Lalu apa kakek dan nenek tidak kesepian setelah umi pergi sedangkan umi kan anak satu-satunya, apa umi juga sering berkunjung ke sana?" tanya Rara yang penasaran.

__ADS_1


"Tentu saja mereka kesepian, jaman dulu belum ada handphone seperti sekarang. Dulu kalau mau telepon harus ke wartel dulu dan itu cukup jauh dari rumah. Katanya mereka setiap hari pergi ke wartel untuk menelpon, tapi umi kan tidak tau."


"Lalu bagaimana cara kalian melepas rindu?"


Mengingat susahnya alat komunikasi pada waktu umi muda.


"Karena sudah menelepon setiap hari dan tidak berhasil bicara dengan umi, mereka datanglah ke rumah. Umi kaget karena mereka tiba-tiba datang terus meluk umi nangis-nangis."


"Mereka sampai seperti itu, Umi?" Rara bangun dan duduk.


"Iya mereka nangis-nangis katanya kangen sama umi. Nyesel karena sudah menyuruh umi pergi."


Umi mengingat-ingat dulu masa-masa ia baru menikah dengan Abi.


"Padahal kan mereka sendiri yang nyuruh Umi pergi," ujar Rara seraya tertawa.


"Iya, maka dari itu umi kaget. Akhirnya mereka menginap beberapa hari di rumah dan akhirnya pulang lagi karena kakek kamu mengkhawatirkan peliharaannya, tapi mereka minta sama umi berapa hari sekali harus ke wartel untuk menelpon mereka."


"Ya ampun, kakek dan nenek lucu sekali."


Rara senang karena sekarang ia tidak kesulitan untuk menghubungi orangtuanya.


"Mereka seperti itu karena sayang pada umi. Tidak jauh beda dengan umi dan Abi sekarang, kami juga sangat merindukanmu dan ingin kamu terus bersama kami tapi kami sadar jika prioritas kamu saat ini adalah suami."


"Tapi kami senang karena di rumah barumu, ada kakek Tio yang sangat menyayangimu dan suami yang insyaallah baik."


Umi mengusap kepala putrinya penuh kasih sayang.


"Terimakasih Umi." Rara menghambur ke pelukan uminya.


Kasih sayang ibu sepanjang masa ya guys....


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....

__ADS_1


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2