Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
125. Tidak Jadi Memakannya


__ADS_3

°°°


Revan mempercepat kegiatan mandinya. Dia tidak ingin membuat istrinya yang sudah bersiap harus menunggu lama.


Sayang aku datang, ujarnya di depan cermin kamar mandi.


Dia yang hanya menggunakan handuk kecil, tentu saja memperlihatkan otot-otot perut nya. Tidak mau berlama-lama lagi, Revan segera keluar. Tapi sebelumnya dia sudah memastikan tubuhnya harum, karena tadi Rara sempat bilang jika tubuhnya bau.


Revan membuka pintu kamar mandi, tampak istrinya sedang berbaring dengan memunggunginya. Terpampang jelas punggung istrinya yang terbuka, bagai magnet untuk suaminya agar segera mendekat.


Revan menaiki ranjang dan mendekati istrinya.


"Sayang...," panggil Revan seraya mengusap kulit punggung yang begitu halus milik istrinya.


Jari-jarinya terus menyusuri punggung istrinya, dia sangat menikmati itu. Tapi ada yang aneh, kenapa istrinya diam saja sejak tadi.


"Sayang... berbalik lah, aku sudah wangi sekarang," ujar Revan, tapi lagi-lagi tidak ada jawaban dari istrinya.


Revan pun melihat wajah istrinya, ternyata kecurigaannya benar. Mata sang istri kini sudah terpejam, itu artinya dia sudah tidur dan meninggalkan suaminya dalam keadaan sangat ingin.


"Oh... sayang. Kenapa kamu membuatku tersiksa begini." Revan mengusap wajahnya, dia frustasi sendiri. Bayangannya sudah kemana-mana melihat istrinya menggunakan lingerie tapi malah ditinggal tidur.


Tampaknya Revan belum menyerah juga, dia masih ingin berusaha mendapatkan santapan malamnya.


Kita lihat, apa setelah ini kau masih bisa tidur nyenyak. Revan tersenyum menyeringai.


Kini tangannya sudah mulai bergerak ke bagian depan istrinya, dia mulai menyentuh titik-titik sensitif istrinya. Bibirnya juga digunakan untuk menyusuri punggung sang istri dan meninggalkan jejak-jejak merah disana.


Lama-lama tangannya semakin gemas saat bermain di dada Rara yang tidak menggunakan dalaman. Ia mere-mas kencang bu*ah dada istrinya yang sangat pas di tangannya, tidak hanya itu dia juga memilin put*ing yang sudah mengeras.


Kini milik Revan sudah mengeras akibat ulahnya sendiri, tapi sang istri belum juga membuka matanya.


"Sayang, ayo bangunlah... apa kau tidak kasihan padanya," rengek Revan, berharap istrinya segera membuka mata dan menuntaskan hasratnya.


"Euggghhh...," tapi hanya lenguhan kecil yang keluar dari mulut istrinya.


Pikiran Revan salah, nyatanya Rara sama sekali tidak terganggu oleh sentuhannya. Sepertinya dia lupa, jika istrinya sudah tertidur maka akan sangat susah di bangunkan.

__ADS_1


"Sayang, kenapa kau tega sekali...," Revan menyerah, dia tidak bisa membangunkan istrinya.


Sabar ya, malam ini kamu istirahat dulu.


Revan merebahkan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya agar yang dibawah cepat tertidur. Sebenarnya dia tidak kesal juga karena ia juga yakin milik istrinya juga belum pulih, tapi karena melihat istrinya yang menyambut kepulangannya dengan pakaian seperti itu, jadilah Revan kira istrinya yang mau.


,,,


Paginya, Rara meregangkan otot-otot tubuhnya dan mulai membuka matanya. Rasanya tidurnya semalam sangatlah nyenyak, tubuhnya yang kemarin remuk redam pun kini sudah seperti biasa.


Kak Revan. Rara melihat sampingnya, ada suaminya yang masih terpejam.


"Maafkan aku kak, apa kau mencoba membangunkan ku semalam?" Rara merasa bersalah pada suaminya, laki-laki itu pasti semalam sangat menginginkannya. Tapi memang itulah rencana Rara, dia sengaja berpakaian seksi untuk menggoda suaminya. Lalu ia tinggal tidur setelahnya.


"Itu karena kamu yang sudah menceritakan pada semua orang tentang malam pertama kita yang kemarin baru terjadi."


Rara mengingat bagaimana perlakuan semua orang di rumah itu saat suaminya telah pergi bekerja. Kakek yang selalu menyuruh Rara beristirahat, lalu para pelayan yang tidak berhenti memberikan pelayanan, makanan-makanan sehat lalu minuman herbal penyubur kandungan.


Tentu itu semua karena suaminya yang tidak bisa menjaga rahasia, Rara sangat malu diperlakukan seperti itu. Pada kakek dan semua orang.


Rara pun bergegas turun dari ranjang untuk mandi dan beribadah.


"Bi masak apa?" tanya Rara.


"Kenapa Nona turun, apa sudah sehat?" tanya bi Mur yang tidak ingin nonanya kenapa-napa.


"Bi... aku tidak apa-apa, jangan dibahas terus aku malu." Semua pelayan sedang menatapnya sambil senyum-senyum, pastilah Rara malu.


"Tidak apa-apa non, kami mengerti. Kami juga pernah muda," goda pelayan yang lain.


"Sudah-sudah jangan menggoda nona Rara lagi." Bi Mur mencoba membantu Rara yang sedang malu.


Dan pagi ini di dapur pun di bumbui oleh canda tawa Rara dan para pelayan yang tak henti menggodanya. Para pelayan yang kebanyakan ibu-ibu pasti jauh lebih pengalaman dari Rara, dan lucunya mereka seperti memberikan tips-tips saat sedang berhubungan intim dengan suami.


Lucu, gokil dan seru kalau sudah mengobrol dengan ibu-ibu, Rara sangat terhibur oleh mereka. Ada tips yang benar-benar berguna dan ada juga tips yang tidak masuk diakal. Rara mendengarkannya dengan seksama.


Setelah selesai membuat sarapan Rara pun kembali ke kamarnya untuk membangunkan suaminya. Benarkan pria itu masih meringkuk dibawah selimut, padahal biasanya sudah bangun saat Rara kembali.

__ADS_1


Tidak ingin suaminya terlambat ke kantor, Rara pun mencoba membangunkannya.


"Kak, bangun yuk. Sudah pagi." Lembut dan penuh kasih sayang, cara Rara membangunkan suaminya.


"Sebentar lagi, sayang." Revan menjawabnya tapi matanya masih terpejam. Dinginnya pagi membuatnya enggan membuka mata.


"Nanti kakak terlambat kalau tidak bangun sekarang," ujar Rara.


"Hmmm...," Revan malah menaikkan selimutnya.


Rara yang tidak tega pun akhirnya memberikan waktu sedikit lagi, karena semalam memang suaminya itu pulang sudah larut.


"Baiklah, hanya sebentar saja ya. Aku mau mengisi air hangatnya dulu."


Rara pun ke kamar mandi untuk mengisi bathub.


Setelah selesai mengisi air, Rara keluar untuk memanggil suaminya tapi nyatanya laki-laki itu belum juga bangun.


"Kak, katanya cuma sebentar tapi kenapa malah tidur lagi." Rara pun berkacak pinggang, lalu ia menarik selimut yang menutupi tubuh suaminya.


Dalam satu tarikan Rara berhasil menarik selimut itu dan kini tubuh suaminya yang ternyata tidak menggunakan apapun terpampang nyata di depan matanya.


"Aaa... kak Revan, kenapa kamu tidak memakai celana." Teriak Rara, untung saja kamar itu kedap suara. Dia segera membalikkan tubuhnya saat melihat sesuatu yang sudah tegak menjulang dengan gagahnya.


Revan yang mendengar teriakkan istrinya pun membuka matanya, "Ada apa, sayang. Apa kau baik-baik saja?"


"Itu kak, tutupin dulu," ujar Rara yang masih membelakangi suaminya.


"Apanya, sayang." Revan tidak mengerti rupanya jika saat ini miliknya sedang tegak dan menantang.


to be continue...


°°°


Pagi-pagi Rara sudah dapat vitamin nih...


Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya ya??

__ADS_1


Like, komen, dan bintang lima dari kalian selalu aku rindukan lohh , 🤭🤭🤭


__ADS_2