
°°°
Sudah dua hari ini Rara di rumah sakit dan keadaannya sudah semakin membaik. Untunglah Rara tidak terlalu manja dan tidak banyak permintaan. Beruntung sekali Revan karena calon anaknya sama sekali tidak menyusahkan nya.
Hari-hari Rara di rumah sakit tidak terlalu membosankan walaupun sang suami meninggalkan nya untuk bekerja. Itu karena ada Febby yang sering kali datang untuk menemaninya. Rara juga sangat senang bisa ditemani sesama bumil, mereka jadi bisa berbagi cerita dan saling memberi saran.
Dan disinilah Rara yang lebih banyak bertanya karena Febby sudah lebih dulu mengalaminya.
"Kamu beruntung sekali karena babynya tidak banyak menuntut ingin ini ingin itu, Lalu tidak merasa mual juga. Aku benar-benar iri padamu," ujar Febby yang ikut senang mendengar kehamilan temannya.
"Apa dulu Kak Febby, mual dan muntah lalu tidak ingin makan? Pasti sangat menyiksa kak Febby waktu itu," ujar Rara.
"Awalnya aku tidak tau kalau aku hamil dan makan sembarangan termasuk makan pedas kesukaan ku. Alhasil asam lambung naik dan hanya tidak ingin makan apapun sampai lemas dan saat itu Mike juga belum ada disisi ku. Tapi begitu aku ada di rumah sakit dia datang dan mengatakan pada dokter kalau aku ini istrinya." Febby mengenang bagaimana saat ia dan Mike baru tau kalau dirinya sedang mengandung. Bagaimana pun kejadian itu adalah kenangan manis dan lucu antara dirinya dan ayah anaknya.
"Kak... maaf, aku jadi mengingatkan kakak pada kisah kak Febby dan kak Mike." Rara merasa bersalah karena tidak sengaja dirinya mengungkit hal yang pasti membuat Febby bersedih.
Febby menggenggam tangan Rara lalu dia tersenyum tulus, Mungkin jika dulu saat awal Mike kecelakaan dia akan menangis tersedu bila mengingat kenangan mereka. Namun kini Febby sudah jauh lebih ikhlas menerima apa yang sudah Tuhan gariskan untuknya.
"Tidak apa-apa, aku sekarang sudah jauh lebih tenang kalau mengingat itu semua. Aku juga sudah bisa tersenyum sekarang, coba lihat." Febby tersenyum menyembunyikan lukanya dengan apik.
Dan mereka pun kembali melanjutkan pembicaraan mereka seputar kehamilan.
,,,
Sementara di perusahaan fresh grup.
Revan sedang berusaha mempercepat pekerjaan nya agar bisa segera pulang dan menemui istrinya. Rasanya bukan Rara saja yang tidak ingin jauh, Revan pun merasakan hal yang sama.
Tok tok tok
Sekretaris Mia masuk setelah mendapatkan ijin.
"Tuan ini berkas terakhir yang harus anda tandatangani," ujar Rindu.
"Baiklah, letakan saja di meja. Nanti aku akan melihatnya setelah menyelesaikan ini," jawab Revan yang tengah sibuk pada dokumen yang dikirimkan lewat email.
__ADS_1
Rindu masih berdiri di tempat setelah urusannya selesai, membuat Revan mengangkat kepalanya.
"Apa masih ada lagi?" tanya Revan.
"Tidak Tuan, tapi bolehkah saya bertanya sesuatu pada anda?" tanya Rindu.
"Tanyakan saja, ada apa?"
"Itu Tuan, apa anda masih mengingat saya?" tanya Rindu, pertanyaan yang sudah lama ingin ia tanyakan akhirnya tersampaikan juga.
Revan mengerutkan keningnya, tentu saja dia ingat. Wanita di depannya kan sekretaris nya.
"Kau sekretaris ku kan namanya Rindu," ujar Revan.
"Eh.. maksud saya bukan itu Tuan. tapi apa Tuan Revan tidak ingat kalau kita pernah bertemu sebelumnya selain di perusahaan ini." Rindu mengingatkan Revan.
"Sepertinya kita baru bertemu di perusahaan, memang kau pernah bertemu dengan ku di mana?" tanya Revan yang memang sama sekali tak ingaat.
"Di jalan Tuan, saat itu saya dalam masalah dan Tuan Revan telah menolong saya. Memberi tumpangan sampai ke rumah ku dan memberiku alamat perusahaan ini agar aku bisa mendapatkan pekerjaan," terang Rindu, akhirnya ia merasa lega. Kalau misal atasannya itu tidak ingat tidak masalah yang penting ia ingin mengucapkan terimakasih.
Revan tampak mengingat-ingat siapa yang pernah ia tolong dan ia pun mengingat nya. Bagaimana tidak kalau karena hal itu, Revan jadi gagal mendapatkan kejutan dari sang istri.
"Terimakasih Tuan, saya tidak ada maksud apapun dengan mengingatkan anda. Saya hanya ingin berterimakasih untuk pertolongan anda waktu itu, kalau tidak ada anda entah aku lebih memilih untuk menghabisi nyawaku."
Rindu membungkukkan tubuhnya berkali-kali sebagai ucapan terimakasih.
"Tidak perlu sungkan, kita memang harus membantu sesama. Seperti kau saat ini bisa membantu ku meringankan pekerjaan ku, itu sudah cukup sebagai ucapan terima kasih."
"Baik Tuan, saya akan bekerja dengan giat dan lebih baik lagi agar tidak mengecewakan anda." Rindu berjanji tidak akan mengecewakan atasannya.
"Ya sudah, kembalilah ke mejamu," perintah Revan.
"Baik." Rindu berbalik dengan wajah berbinar.
"Tunggu, tolong kamu tunda rapat sore ini karena saya harus pulang cepat," titah Revan lagi.
__ADS_1
"Baik Tuan, akan saya kerjakan," ujar Rindu lalu ia keluar dari ruangan itu.
Semua orang tampak memperhatikan raut wajah Rindu yang kelihatan berseri setelah keluar dari ruang CEO.
Sementara Rindu tidak peduli, karena dirinya sama sekali tidak melakukan hal apapun. Walaupun cukup rindu Akui kalau wajah atasannya itu sangat tampan tapi dia sadar siapa tuannya.
,,,
Kembali ke Rumah sakit.
Lia yang baru mengetahui keadaan temannya pun langsung ke rumah sakit dan betapa terkejutnya kala mendengar kalau temannya kini tengah berbadan dua.
"Ya ampun Ra, aku ikut bahagia mendengarnya. Akhirnya yang kalian nantikan bisa hadir juga melengkapi keluarga kalian," ujar Lia seraya memeluk temannya.
"Jangan terlalu kencang Yank, nanti baby nya terjepit," seloroh Sakka.
"Kau itu merusak suasana saja, sana keluar. Beri ciwi-ciwi waktu untuk bercerita," usir Lia agar Sakka keluar dari sana.
"Kau tega sekali menyuruhku keluar, Bagaimana kalau ada gadis yang menggodaku di luar sini." Sakka memasang wajah memelas.
Lia tersenyum smirk dan terlihat menyeramkan bagi Sakka. Pria itu langsung duduk dengan patuh di kursi yang ada di depan ruangan.
Kenapa kesayangan aku sekarang jadi menakutkan.
"Jadi kamu baru tau kemarin kalau kamu sedang hamil?" kaget Lia. "Lalu bagaimana keadaan kamu, untung saja tidak terjadi apa-apa saat kita pergi ke lokasi untuk riset. Kalau sampai ada apa-apa saat itu aku tidak akan memaafkan diriku sendiri.
"Tidak apa-apa Li, kata dokter janinnya sangat kuat kok. Dia juga tidak merepotkan ku, sehingga tidak perlu merasakan bagaimana tersiksanya mual dan muntah katanya," terang Rara yang selalu merasa bersyukur karena Allah telah memudahkan segala jalannya.
"Syukurlah Ra, aku tenang mendengarnya. Apa aku boleh mengusap perutmu?" tanya Lia yang penasaran.
"Tentu, usap saja. Mungkin kamu akan juga akan mendapatkan nya segera, kalau sudah menikah nanti." Rara membiarkan temannya mengusap perutnya.
to be continue...
°°°
__ADS_1
Like komen dan bintang lima 😍
Gomawo 😉❤️❤️