
°°°
Sorenya, Febby baru saja bangun dari tidur siangnya. Ternyata wanita hamil yang satu itu cukup pemalas juga. Tidak masalah juga menurut dokter, di trisemester pertama memang harus banyak beristirahat apalagi tubuh Febby yang masih suka mual dan membuatnya lemas. Tapi nanti jika sudah di pertengahan trisemester dua sampai menjelang persalinan barulah harus banyak bergerak.
Febby mengucek matanya yang masih terasa lengket, dia menatap jendela yang ternyata langit sudah berwarna jingga.
"Ya ampun, sudah sore ternyata. Kenapa aku bisa tidur lama sekali," gumamnya.
Lalu dia menyibakkan selimut dan turun dari ranjang, ia ingin mandi agar tubuhnya menjadi lebih segar. Febby mulai melucuti pakaiannya, hingga tinggal tubuh polosnya saja. Masuk ke dalam bilik kaca bening dan menyalakan shower, air yang membasahi tubuhnya membuat dia terlihat lebih seksi. Pantas saja banyak laki-laki yang mau menjamah tubuhnya, tapi sekarang hanya ada Mike yang akan menikmati semua itu. Tanpa Febby sadari dirinya sudah menjadi milik Mike Anderson seorang.
Sambil menyabuni tubuhnya, Febby memikirkan Mike. Kenapa rasanya dia sangat ingin disisi pria itu selamanya, diperlakukan dengan baik, diperhatikan dan manjakan membuat wanita itu lupa diri dan tidak ingin melepaskan pria itu.
Jika biasanya setelah berhubungan one night stand, Febby tidak ada perasaan apa-apa tapi dengan Mike dia merasa berbeda.
"Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa tetap disampingnya. Mungkinkah dengan memberinya kepuasan bisa mengikatnya, tapi Sakka saja tidak pernah punya perasaan apa-apa padaku walaupun aku terus memuaskannya."
Febby mendongakkan kepalanya, merasakan air yang jatuh memberinya sedikit kesejukan.
Setelah merasa segar Febby pun mematikan kran dan menyambar handuk yang kemudian dililitkan ke tubuhnya. Sejenak dia terpaku di depan cermin, memandangi dadanya yang penuh akan jejak yang ditinggalkan Mike. Ada yang aneh kenapa pria itu tidak meninggalkan jejak itu di lehernya juga. Mungkin dia tidak ingin ada yang melihat.
Febby memilih dress di lemari, sangat cantik dengan warna nude dan ada pita di bagian pinggang.
Seleranya bagus juga, hampir semua pakaian sangat elegan dan cantik cocok dengan tubuhku.
Benar saja pakaian itu sangat cocok Febby kenakan, dia berasa seperti lebih muda dengan pakaian seperti itu. Karena biasanya Febby memilih pakaian yang akan membuatnya terlihat lebih dewasa.
Tidak lupa Febby juga sedikit merias wajahnya, tidak setebal dulu hanya agar tidak terlihat pucat saja. Selesai merias dia menyemprotkan parfum yang tersedia di meja rias. Dia sangat suka dengan aromanya, sangat manis.
__ADS_1
Lagi-lagi Febby melihat bayangan dirinya di cermin, saat ini di depan matanya bukan seperti Febby yang dulu. Dia benar-benar berubah menjadi orang lain, tepatnya seperti yang Mike inginkan. Tapi dia sama sekali tidak keberatan, karena dia cukup nyaman dengan penampilannya yang sekarang.
Ternyata aku jauh terlihat lebih muda dengan tampilan seperti ini. Kenapa aku tidak menyadari hal ini sebelumnya. Kagum Febby pada dirinya sendiri.
Febby berjalan ke pintu yang menghubungkan dua kamar itu, ingin mencari tau apakah Mike sudah ada di rumah atau belum, entahlah dia sangat ingin laki-laki itu melihat penampilannya saat ini. Dia menempelkan telinganya pada pintu tapi tidak mendengar suara apapun di kamar itu.
Apa dia belum pulang, lebih baik aku keluar untuk mencari tau.
Dengan tidak peduli akan cemoohan orang, Febby turun ke lantai satu mencari orang yang bisa ia tanyai. Siapa lagi kalau bukan bi Ida, hanya dia yang Febby percaya di rumah itu. Sementara pelayan yang lain hanya menganggapnya wanita simpanan yang tidak pantas dihormati. Dia tidak peduli dengan pikiran mereka, toh Febby tidak makan dari mereka kenapa mereka harus mempengaruhi pikirannya.
"Bi Ida..." panggil Febby.
"Iya Non, apa ada yang nona inginkan?" Bi Ida segera menghampiri nonanya.
"Tidak Bi, aku mau tanya apa Miky sudah pulang?" tanya Febby, dia tidak sadar jika menyebut Mike dengan sebutan Miky dan itu membuat bi Ida bertanya-tanya, siapa Miky perasaan di rumah itu tidak ada orang yang bernama Miky.
"Maksudnya, apa Mike sudah pulang bi? Ini sudah sore, biasanya dari kemarin dia pulang nya sore," ujar Febby.
"Astaga... maafkan bibi Non. Bibi lupa menyampaikan pesan tuan," bi Ida menepuk keningnya sendiri.
"Pesan apa Bi?" Febby mengerutkan keningnya.
"Itu Non, tadi pagi tuan pergi ke luar kota. Tuan bilang ada pekerjaan mendadak, tuan juga berpesan agar nona tidak mencarinya mungkin beberapa hari ini tuan tidak akan pulang," ujar bi Ida menyampaikan pesan dari tuannya.
"Keluar kota bi? Kenapa mendadak sekali," Febby tercengang dan sedikit sedih mendengar Mike tidak akan pulang untuk beberapa hari ke depan.
"Iya Non, kalau nona butuh apa-apa katakan pada bibi saja," ujar bi Ida.
__ADS_1
"Kenapa tidak bilang apa-apa padaku, apa aku sama sekali tidak berarti apa-apa," lirih Febby tapi masih bisa terdengar oleh bi Ida.
"Waktu tuan mau pergi, nona masih tidur jadi tidak jadi pamit. Tuan sangat sayang pada nona jadi tuan tidak ingin mengganggu tidur nyenyak nona." Bi Ida berusaha menjelaskan, dia tidak ingin nonanya salah paham.
Namun, tetap saja bagi Febby itu hanya alasan, sebenarnya adalah laki-laki itu mungkin mau menghindarinya. Lagi-lagi setelah melakukan hal itu dia menghilang, apa dia menyesali apa yang sudah mereka lakukan.
"Aku ke kamar dulu bi," ujar Febby tidak bersemangat lagi. Padahal tadi dia sangat ingin menunjukkan kecantikannya pada Mike tapi malah tidak bisa. Percuma dia sudah dandan.
Nona anda jangan salah paham, saya bisa jamin kalau tuan sangat menyayangi nona. Dari caranya menatap nona saja sudah sangat jelas terlihat. Jika biasanya tuan akan melihat orang tanpa perasaan dan tajam, sedangkan jika menatap nona tuan bisa sangat teduh dan penuh perasaan. Batin bi Ida.
Febby kembali ke kamarnya, menutup pintu dengan sedikit kencang. Kemudian melemparkan bantal dan guling hingga berceceran di lantai. Dia kesal, dia marah dan dia kecewa, baru kemarin dia merasa bahagia tapi hari ini seakan terhempas ke dasar jurang yang curam.
Kenapa hidupku seperti ini, kenapa tidak ada laki-laki yang benar-benar tulus padaku. Pekik Febby, mempertanyakan nasibnya.
Air mata yang biasanya jarang keluar bahkan kini telah membanjiri wajahnya. Lagi-lagi dia harus dikecewakan oleh pria, salahkah dirinya yang menginginkan dicintai.
Febby terduduk di bibir ranjang, memikirkan nasibnya jika anak yang ada di perutnya sudah lahir. Pasti Mike juga akan membuangnya.
to be continue...
°°°
Galau Mulu nih Febby...
Abang Mike pergi gak pamitan sihh...,,
Like yuk... ❤️❤️❤️
__ADS_1