Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
195. Sakka sudah insyaf


__ADS_3

°°°


Siangnya.


Di bawah terik matahari mereka berempat datang ke beberapa tempat untuk bahan tugas mereka. Pergi dengan satu mobil yaitu mobilnya Sakka. Rara dan Lia duduk di bangku belakang sementara Sakka di depan yang menyetir dan Bima duduk di sebelahnya.


"Ya ampun, panas sekali hari ini Ra. Kamu kepanasan nggak?" tanya Lia yang sedang mengipasi tubuhnya dengan kipas kecil yang bisa di bawa kemana-mana. Padahal di mobil itu sudah ada AC tapi hal itu belum cukup untuk membuat Lia cukup sejuk.


"Sama Li, memang hari ini sepertinya sangat panas. Apalagi ini tengah hari, mataharinya jelas ada di atas kepala kita." Rara menatap keluar dimana banyak orang yang juga kepanasan di luar sana dengan berbagai aktivitasnya.


"Jadi bagaimana, kita lanjutkan ke tempat yang lain atau kita makan siang dulu sekalian cari tempat yang dingin?" tanya Sakka yang melihat kekasihnya kepanasan, ingin rasanya dia mengelap setiap tetes keringat yang keluar dari kulit Lia tapi dengan posisi duduk yang seperti itu jadi lah dia tidak leluasa. Mau pindah posisi duduk juga kasihan Rara, dia yang sudah menikah pasti tidak akan nyaman duduk bersebelahan dengan laki-laki lain.


"Sepertinya makan dulu saja, aku juga sudah lapar. Iya kan Ra?" Lia mencari pembelaan pada temannya.


"Terserah kalian saja, aku ngikut aja." Rara tidak masalah mau.


"Kamu gimana Bim? Makan siang dulu nggak apa-apa kan?" tanya Sakka pada laki-laki di sampingnya yang sejak tadi diam dan saat ditanya dia hanya mengangguk saja.


"Ok kalau begitu kita makan dulu," ujar Sakka yang kemudian menjalankan mobilnya.


Di mobil, Rara dan Lia juga tidak diam. Mereka sambil memasukkan data yang mereka dapat ke dalam laptop. Nanti tinggal dirapikan lagi dan meminta pendapat yang lain.


Sakka pun membelokkan mobilnya ke salah satu restoran sekaligus coffee shop.


"Kita makan disini saja, tempatnya nyaman untuk nongkrong. Kita bisa menyelesaikan tugas kita disini setelah makan siang," ujar Sakka. Dia yang dulu termasuk anak gaul pastilah tau banyak tempat untuk nongkrong. Seperti restoran itu.


Mereka semua pun menurut karena memang tidak ada yang punya referensi tempat sebaik Sakka.


Sakka membukakan pintu mobil untuk Lia dan mengulurkan tangannya. Rasanya dia sudah cukup menahan diri sejak tadi, saat ini dia ingin dekat-dekat dengan kekasihnya.

__ADS_1


"Ayo sayang...," ajak Sakka dengan senyum manisnya tapi membuat Lia menaikkan alisnya.


"Jangan seperti ini, aku dengan Rara saja. Sana kamu jalan dengan Bima." Lia menyuruh Sakka untuk tidak dekat-dekat dengannya karena dia tidak ingin membiarkan Rara jadi dekat dengan Bima. Bukan apa-apa tapi Lia tau status temannya bagaimana.


"Sudah sana jalan duluan, aku bisa di belakang kalian," bisik Rara pada temannya.


"Tapi Ra...?"


"Tidak apa-apa, ayo cepat aku juga sudah lapar," ujar Rara lagi.


Akhirnya Sakka bisa tersenyum senang juga karena bisa menggandeng tangan kekasihnya lagi. Sementara Rara jalan di belakang dengan Bima tapi jarak mereka sangat jauh.


"Hai Sak... akhirnya kita ketemu lagi. Kemana aja kamu, sudah nggak pernah ke club lagi sekarang. Apa kamu sudah insyaf sekarang." Terlihat beberapa gerombolan anak muda menegur Sakka, sepertinya mereka adalah teman-teman Sakka sewaktu dia masih suka bersenang-senang.


"Aku agak sibuk sekarang, fokus dengan kuliah. Trus sibuk ngejar seseorang juga," jawab Sakka seraya mengerlingkan matanya pada Lia.


"Iya dong, kan aku udah nemuin bidadari secantik ini. Ngapain aku masih main-main sama yang nggak ada gunanya," ujar Sakka seraya memeluk pinggang Lia.


Lia yang di perlakukan seperti itu dihadapan banyak orang tentu jadi malu sendiri.


"Jangan begini aku malu," bisiknya.


"Sebentar, tolong aku biar mereka tidak menggangu lagi." Sakka pun berbisik.


"Oh ya nanti malam aku mau ngadain pesta di tempat biasa. Kalau bisa kamu datang bawa pacar kamu ini," tawar laki-laki dengan banyak tato di lengannya.


"Sorry bro, aku sepertinya nggak bisa lagi dateng ke tempat itu. Maaf ya..."


Ucapan Sakka membuat Lia lega mendengarnya.

__ADS_1


"Ya sudah, kami mau makan siang dulu. Salam aja buat yang lain." Sakka pamit pada temannya, teman yang dulu selalu bersama Sakka saat suntuk dan bersenang-senang bersama di club'. Walaupun mungkin mereka berteman karena Sakka selalu royal pada mereka tapi dia tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Dan sekarang bukan tidak mau berteman lagi hanya saja sudah tidak mau ikut membuang waktu seperti dulu.


Akhirnya mereka berempat duduk di ruang private agar lebih leluasa saat mengerjakan tugas. Dari tadi Lia sibuk dengan pikirannya sendiri, dia cukup terkesan pada Sakka saat menolak ajakan bersenang-senang dengan teman-temannya. Namun, dalam hatinya dia masih ragu. Apakah kalau tidak ada Lia, laki-laki itu juga akan bersikap seperti itu.


"Kamu kenapa Li, dari tadi diem terus." Rara pun memperhatikan temannya.


"Aku masih kepikiran teman-teman Sakka tadi, sepertinya mereka cukup akrab."


Mereka duduk agak berjauhan jadi Lia dan Rara bisa mengobrol dengan pelan agar Sakka dan Bima yang tengah asyik membicarakan club' basketnya tidak mendengar pembicaraan mereka.


"Apa kamu masih ragu pada Sakka? Dari yang aku lihat tadi, dia sudah tidak seperti dulu. Walaupun ajakan temannya terdengar menarik tapi dia sama sekali tidak tergoda." Rara pun mencoba memberikan sedikit penilaian nya.


"Aku juga berpikir seperti itu Ra, tapi aku hanya takut kalau di belakang ku ternyata dia masih suka datang ke tempat itu dan masih main-main dengan wanita-wanita di sana," ragu Lia.


"Aku mengerti Li, memang tidak mudah percaya pada seseorang yang katanya sudah berubah. Dulu aku juga begitu, saat kak Revan bilang sudah mengakhiri hubungannya dengan kak Febby aku tidak langsung percaya. Tapi setelah melihat bagaimana dia memperlakukan ku dan perubahan sikapnya, aku percaya kalau dia sudah berubah."


"Semuanya butuh proses Li, tapi melihat betapa gigihnya Sakka untuk mendapatkan kamu. Aku rasa dia tidak mungkin diam-diam masih suka bersenang-senang, apa mungkin dia rela kehilangan kamu yang susah ia dapatkan kalau kembali seperti dulu." Rara mencoba menumbuhkan rasa percaya di hati temannya.


"Kau benar, mungkin aku yang terlalu takut. Takut kalau sampai Sakka kembali terjerumus dalam kehidupannya yang dulu lalu aku yang sudah mulai jatuh cinta padanya tidak tau bagaimana caranya membuat dia berubah lagi," ujar Lia.


to be continue...


°°°


Tenang Lia, bang Sakka sudah insyaf kok😂


Like komen dan bintang lima 😍


Gomawo ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2