Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
92. Aku Sudah Siap


__ADS_3

°°°


Revan menelan ludahnya sendiri saat merasakan jari istrinya menari-nari di lehernya. Ia yang sedang minum hampir saja tersedak, beruntung ia bisa mencegahnya kalau tidak pasti Rara sudah terkena semburan air.


"Jika kamu melanjutkan lagi maka aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi," ujar Revan dengan suara yang berat. Dia bahkan memejamkan matanya untuk menahan gejolak yang mendadak menyeruak dalam tubuhnya.


Rara tersentak saat menyadari apa yang ia lakukan telah membuat suaminya tidak nyaman. Ia teringat ucapan kakaknya yang mengatakan jika pria normal tidak akan tahan bisa mendapat sentuhan dari wanita.


"Astaghfirullah, apa yang kamu lakukan Ra. Kenapa tangan kamu tidak bisa di kontrol." Omelnya dalam hati, merutuki kebodohannya sendiri.


Rara segera menarik tangannya dari leher sang suami. Ia benar-benar merasa bersalah.


Apa yang harus aku lakukan sekarang? bingungnya.


"Maaf Kak, aku tidak sengaja," ujar Rara.


Revan yang masih dalam mode on, membalikkan tubuhnya membelakangi istrinya. Ia menopang tubuhnya pada meja dapur.


"Kembalilah ke kamar," ujar Revan datar.


"Kak... aku...." Rara hendak menyentuh suaminya.


"Kembalilah, nanti aku menyusul." Revan menundukkan kepalanya.


Rara bingung dan tidak menyangka jika perbuatannya telah membuat sang suami bersikap seperti itu. Hatinya diliputi rasa bersalah saat ini, tapi tidak tau apa yang harus ia lakukan agar Revan mau memaafkannya.


"Maafkan aku Kak, lain kali aku tidak akan menyentuhmu lagi." Rara pergi ke kamarnya setelah berkata seperti itu.


Revan mengusap wajahnya dengan kasar, bukannya marah tapi sejujurnya ia sedang menenangkan dirinya agar tidak bertindak jauh. Dia tidak yakin istrinya itu sudah siap jika saat ini ia meminta haknya.


Tidak mau istrinya salah paham Revan pun segera naik ke atas, setelah adik kecilnya tertidur.


Klek.


Nampak dalam kamar lampu sudah dimatikan dan hanya tersisa lampu tidur. Revan melihat istrinya sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

__ADS_1


Tubuhnya yang sudah sangat lengket membuat Revan langsung masuk ke kamar mandi. Ia tidak ingin mengotori kasur dan selimut.


Sedangkan Rara, ia sebenarnya belum tidur. Perasaannya tidak tenang memikirkan suaminya yang bersikap dingin padanya. Dan sekarang saat Revan masuk ke dalam kamar mandi, ia semakin merasa bersalah karena dirinya pasti saat ini sang suami harus mandi air dingin.


"Aku harus minta maaf pada kak Revan sekali lagi." Gumam Rara.


Tidak butuh waktu lama untuk Revan membersihkan tubuhnya, karena sudah tengah malam dan tidak baik bagi kesehatan. Ia pun keluar dari kamar mandi, seperti biasa dia hanya menggunakan handuk yang menutupi bagian bawahnya.


Namun, baru saja membuka pintu Revan terlonjak kaget melihat istrinya berdiri di depan pintu dengan wajah penuh penyesalan.


"Maafkan aku Kak, aku benar-benar tidak sengaja."


"Aku minta maaf..."


Berulangkali Rara membungkukkan tubuhnya seraya terus mengucapkan kata maaf.


Revan memaku, tidak menyangka sang istri akan merasa sangat bersalah. Apa artinya gadis itu sudah mengerti dimana letak kecerobohannya. Menurut Revan memang ceroboh bukannya salah, karena tindakan itu bisa membuat pria lepas kendali.


"Kau tidak salah kenapa meminta maaf," ujar Revan sedikit terkekeh.


"Tau dari mana kamu hal seperti itu? Jadi kamu sudah tau apa akibat dari perbuatanmu tadi?" tanya Revan dan dijawab anggukkan oleh istrinya.


"Kata mbak Luna jika aku menyentuh kak Revan seperti itu, aku sama saja memancing gairah kakak." Rara semakin menunduk.


"Lalu apa kamu tau apa artinya jika gairah itu berhasil terpancing," tanya Revan menggoda istrinya yang sudah merona, walaupun cahaya di kamar itu sedikit remang tapi warna merah di pipinya masih terlihat jelas.


"Artinya kakak harus mandi air dingin untuk menenangkan diri." Rara sebenarnya tau arah pembicaraan suaminya, tapi ia malu untuk mengatakannya.


"Hahaha... kamu itu lucu sekali, sepertinya aku harus memberitahu kak Luna agar memberikan penjelasan yang benar." Revan hendak mengambil pakaiannya tapi lagi-lagi Rara menggadang.


"Apa kak Revan sudah tidak marah?" tanya Rara.


"Marah untuk apa istriku sayang, aku tidak marah hanya saja jangan bertindak seperti itu lagi kedepannya jika kamu belum siap. Ok."


"Jangan berfikir yang tidak-tidak lagi, tidurlah ini sudah sangat malam. Aku mau pakai bajuku dulu atau kamu mau yang tidak diinginkan terjadi." Revan mengusap lembut kepala istrinya, lalu ia mengambil pakaiannya yang ada di atas ranjang.

__ADS_1


Namun, tubuhnya kembali memaku saat tangan sang istri tiba-tiba memeluk tubuhnya dari belakang.


"Kak... aku tau seharusnya bertindak seperti itu, tapi kakak salah jika menganggapku belum siap. Dari awal aku menerima kak Revan sebagai suamiku, tentu aku sudah siap juga menjadi istri kakak sepenuhnya." Ujar Rara, dia semakin mengeratkan pelukannya.


Sementara Revan tidak pernah menyangka jika istrinya mengatakan hal itu. Itu artinya mereka bisa melakukan hubungan suami-istri.


"Apa maksudmu, apa kau yakin dengan perkataan mu. Kamu tau kan aku sudah banyak melukai perasaan mu, bahkan mengecewakan keluarga mu. Apa aku pantas semudah ini mendapatkan hak ku?" Revan selalu merasa dirinya belum pantas untuk mendapatkan haknya, dia masih kurang membahagiakan sang istri dan menebus kesalahannya.


"Semua sudah berlalu dan aku juga sudah memaafkan semuanya. Umi dan Abi juga mbak Luna juga sudah melihat sendiri, bagaimana ketulusan kak Revan untuk memperbaiki hubungan kita."


"Aku tidak pernah menyimpan dendam, apalagi pada kakak yang sudah berusaha memperbaiki hubungan kita. Mari kita lupakan yang sudah berlalu."


Seketika Revan membalikkan tubuhnya dan menatap lekat wajah istrinya. Bersyukur sekali dia memiliki istri berhati mulia seperti Rara.


"Terimakasih, Mahira Nareswari. Istriku, pendamping hidupku dan calon ibu dari anak-anakku." Revan membawa tubuh istrinya ke dalam hangatnya dekapan pelukannya.


Terimakasih Rara, aku janji akan selalu berusaha menjadi suami yang baik untuk mu. Bersama kita akan menjalani pernikahan ini, hingga kita menua bersama. Revano Hermawan


Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, tapi jarang yang mau mengakui apalagi memperbaiki. Kak Revan adalah salah satu dari mereka yang mau mengakui dan memperbaiki keadaan. Semoga kelak kakak tidak lagi melukaiku. Mungkin sabarku seluas alam semesta tapi hatiku hanya satu. Apa jadinya jika hatiku yang kecil itu terus terluka.


Mahira Nareswari.


Sejatinya manusia akan terus melakukan kesalahan selama ia masih bernafas. Entah itu kesalahan kecil ataupun besar. Terkadang kita juga tidak menyadari jika kesalahan kita menyakiti perasaan orang lain.


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....


...Sehat selalu pembacaku tersayang...

__ADS_1


__ADS_2