Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
110. Menghadapi Mertua


__ADS_3

°°°


Beberapa saat kemudian, Revan akhirnya menyelesaikan mandinya. Ternyata makanan sudah ada di kamarnya.


"Kak makan dulu," ujar Rara pada suaminya.


Revan pun mendekat dan duduk disebelah istrinya. Sementara Rara langsung mengambilkan makanan untuk suaminya.


"Ini Kak," ujar Rara seraya menyerahkan makanan yang sudah ia ambilkan.


"Apa kau sudah makan?" tanya Revan dan Rara hanya diam tidak menjawab.


Bagaimana bisa ia makan, Rara sengaja menunggu suaminya pulang dan makan malam bersama keluarga. Tapi Revan tidak juga pulang yang akhirnya semua tamu pun pulang dan iapun melupakan makan malamnya.


"A...," ujar Revan seraya menyuapkan sesendok makanan ke depan mulut istrinya. Rara pun hanya diam mematung.


"Buka mulutmu," perintah Revan.


Rara pun akhirnya membuka mulutnya dan memakan makanan yang suaminya sodorkan ke depan mulutnya. Mereka pun menghabiskan satu piring makanan itu berdua.


"Terimakasih Kak," ujar Rara berterimakasih karena suaminya sudah menyuapinya.


Revan pun mengusap lembut kepala istrinya.


"Ada yang ingin aku ceritakan kenapa aku bisa sampai terlambat pulang, apa kau mau mendengarkan?" Revan bertanya pada istrinya dan Rara pun mengangguk.


"Tadi dijalan aku hampir saja menabrak seorang wanita, untung saja aku bisa mengerem mobilku tepat waktu. Tapi saat aku keluar wanita itu malah meminta pertolongan padaku untuk membawanya pergi..." Revan pun menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewatkan. Saling terbuka dalam hubungan adalah salah satu hal terpenting agar hubungan itu tetap terjaga.


"... akhirnya aku pun mengantarkannya dan sempat menawarinya pekerjaan. Lalu di jalan, ternyata ada perbaikan jalan dan aku harus berjalan memutar lagu untuk pulang."


"Kasian sekali wanita itu, untung ada kak Revan yang menyelamatkannya." Rara malah mengasihani wanita yang menjadi penyebab suaminya pulang terlambat.


"Kau tidak marah?" tanya Revan memastikan apa yang ia lihat.


Rara pun menggelengkan kepalanya, marah kenapa harus marah jika suaminya tidak melakukan kesalahan. Dia bahkan sudah melakukan hal yang baik, semuanya sudah diatur oleh Tuhan, dimana suaminya bertemu wanita itu lalu menolongnya.


"Kau benar-benar tidak marah?" tanya Revan lagi.


"Tidak Kak, sudah aku bilang kakak tidak melakukan kesalahan jadi buat apa aku marah."


"Kenapa kamu baik sekali, bagaimana jika aku berbohong hanya untuk mencari alasan."

__ADS_1


Pernyataan Revan sontak membuat Rara melepaskan diri dari pelukan suaminya.


"Apa yang kak Revan katakan itu bohong?" tanyanya dengan dada yang bergemuruh.


"Tidak, sayang. Aku hanya menggodamu saja," ujar Revan seraya mencolek hidung istrinya.


Rara pun mencebikkan bibirnya, tangannya pun dilipat. Ia sudah serius malah suaminya itu menggodanya.


Revan pun terkekeh melihat tingkah istrinya, ia lega akhirnya kembali melihat Rara yang seperti biasanya. Bukan Rara yang tersenyum tapi begitu menusuk saat dilihat.


"Kak, aku serius." Kesal Rara.


"Iya, maaf maaf. Yang aku ceritakan tadi memang seperti itu kejadiannya. Maaf ya aku jadi tidak bisa melihat pesta yang sudah kamu buat dengan susah payah," Revan meraih tangan istrinya.


"Tidak apa-apa Kak, menolong orang lebih penting ketimbang berpesta. Aku yang sudah salah disini," Rara malu karena sempat suudzon pada suaminya. Ia malah sibuk memikirkan perasaannya.


Seketika Revan membawa istrinya ke dalam dekapannya, kenapa hati istrinya harus sebaik itu.


"Apa yang aku lakukan itu benar?" tanya Revan lagi,


"Iya Kak, kakak sudah benar dengan menolong wanita itu. Jika kakak meninggalkannya, tidak tau akan seperti apa nasibnya." Tidak bisa Rara bayangkan bila ia ada diposisi wanita itu.


"Kau pasti lelah kan menghias taman belakang, kenapa kau mengerjakannya sendiri. Lain kali kau bisa menyuruh orang mengerjakannya."


"Tidak Kak, aku tidak apa-apa. Tidak usah dipijit," ujar Rara yang merasa tidak enak pada suaminya.


"Tadi aku melihat kakak ipar, katanya ada umi dan Abi juga disini. Mereka pasti sangat kecewa padaku karena sudah membuatmu sedih." Mungkin urusan dengan istrinya sudah selesai tapi Revan masih harus menghadapi mertuanya dan kakek yang pasti masih marah padanya.


"Mereka pasti mengerti, biar aku yang menjelaskan pada mereka besok. Kakak tidak usah khawatir," ujar Rara seraya memegang tangan suaminya.


"Terimakasih." Revan mengusap lembut pipi istrinya. "Ayo aku pijit lagi."


"Tidak usah Kak," tolak Rara.


"Sudah kau diam saja."


Malam itu pun berlalu dengan damai kembali, jujur dan terbuka pada pasangan memang sangat diperlukan dalam sebuah hubungan. Tidak menaruh curiga dan percaya juga harus agar terhubung terjadi saling tuduh dan berprasangka.


,,,


Paginya, Revan sengaja bangun lebih pagi untuk berolahraga pagi bersama ayah mertuanya. Kata Rara, ayahnya suka berjalan-jalan pagi di rumah. Kali ini Revan ingin mengajak ayah mertuanya berjalan-jalan kelilingi komplek.

__ADS_1


"Apa umi dan Abi sudah bangun?" tanya Revan yang baru kembali ke kamarnya.


"Sudah Kak, umi baru saja memasak bersama ku. Kalau Abi sedang bersama kakek," ujar Rara.


"Kakak mau kemana dengan pakaian itu?" tanya Rara yang tidak biasanya pagi-pagi melihat suaminya menggunakan kaos, celana pendek dan sepatu olahraga.


"Aku ingin mengajak Abi untuk jalan-jalan pagi, apa kamu tau kira-kira Abi mau atau tidak." Revan masih ragu, rasanya seperti sedang mendekati anak gadis orang lalu Revan sedang mengambil hati si ayah gadis itu. Tidak terbayangkan sebelumnya ia akan melewati fase seperti itu karena pernikahannya kakeklah yang mengatur.


"Biasanya memang Abi akan jalan-jalan pagi di rumah, mungkin saja dia mau Kak. Coba saja," ujar Rara memberi semangat tapi sepertinya bukan itu jawaban yang diinginkan Revan.


"Kenapa kau tidak bilang pasti mau," gumam Revan.


"Kenapa Kak?" tanya Rara yang tidak begitu jelas mendengar ucapan suaminya.


"Tidak ada, kalau begitu aku akan mengajak Abi jalan-jalan." Sebelum keluar Revan menyempatkan diri untuk mencium kening istrinya.


"Ada apa dengan kak Revan." Sudut mata Rara berkerut.


Dibawah, Revan menghampiri kakek dan ayah mertuanya meja dekat halaman belakang. Mereka sedang menikmati teh sepertinya.


Sebelum mendekat, Revan menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya perlahan. Mencoba mengurangi rasa gugupnya.


Ini lebih mendebarkan dari pada harus presentasi di depan klien.


Revan pun mulai mendekat, "Pagi Kek, pagi Abi."


Revan menyalami ayah mertuanya dan berbasa-basi sebentar. Sementara kakek masih enggan berbicara pada cucunya.


"Maaf aku baru menyapa Abi, tadi malam aku pulang terlambat jadi tidak langsung menyapa Abi dan umi. Takut mengganggu istirahat kalian."


"Tidak apa-apa, nak." Abi pun mengerti akan apa yang terjadi pada menantunya, walaupun masih ada sedikit rasa kecewa dalam hatinya. Apapun alasannya, melihat putrinya sedih membuat Abi Aziz ikut terluka.


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....

__ADS_1


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2