Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
223. Saling Ledek


__ADS_3

°°°


Dua hari berlalu.


Kontraksi yang dirasakan Rara saat itu benar-benar hilang. Janinnya seperti tersugesti oleh ucapan ayahnya untuk menunggu kedatangannya.


Hari ini juga Revan akhirnya pulang setelah menyelesaikan permasalahannya di luar negeri.


Saat ini Febby bersama sang putra juga ada di kediaman keluarga Herwaman untuk menunggu kedatangan suaminya. Kakek memang sengaja menyuruh semuanya berkumpul.


Tentu saja awalnya Febby menolak karena merasa tak enak pada orang tua Rara. Bagaimanapun dulu dia pernah menyakiti putri mereka dan dia khawatir kalau kehadirannya dan sang putra tidak diterima oleh mereka.


Namun, apa yang terjadi justru sebaliknya. Kedua orang tua Rara menyambut baik kehadiran Febby, bahkan mereka sibuk mengajak baby Nathan untuk bermain.


"Kak Febby tidak perlu mencemaskan apa yang tidak perlu lagi karena kehadiran kakak dan Nathan justru menambah kebahagiaan semua orang di sini." Rara sedang menyiapkan cemilan di dapur bersama Febby dan para pelayan.


"Aku sangat bersyukur bisa mengenal orang-orang baik seperti kalian. Padahal aku sama sekali tidak pantas di antara kalian tapi kalian justru menerimaku dengan tangan terbuka. Mau memaafkan ku juga dengan mudahnya." Febby sungguh terharu akan berlakukan baik keluarga Rara dan kakek Tio.


"Siapa bilang tidak pantas Kak, semua orang di mata Allah itu sama. Kami tentu saja mau menerima kehadiran kak Febby, umi dan Abi juga bangga karena kak Febby sekarang mau berubah," ujar Rara bangga.


"Terimakasih Ra, aku tidak tau bagaimana aku sekarang kalau tidak mengenal kamu."


"Ya ampun Kak, kita sudah terlalu lama disini. Mereka pasti sudah haus menunggu air minumnya."


"Oh iya, aku juga lupa," Febby pun terkekeh.


Mereka pun membawa minuman dan cemilan ke depan. Dimana semua orang sedang bermain bersama baby Nathan yang sekarang super gembul. Pantas saja Mike suka sekali meledek kalau putranya kelebihan ASI, bisa dilihat bagaimana bobot Nathan saat ini.


"Ya ampun sayangnya aunty gemas sekali ini, aunty Rara pengin gigit kamu tau," gemas Rara seraya memainkan kedua pipi chubby baby Nathan.


"Jangan dong aunty, masa digigit si... ditium aja deh," ujar Febby mewakili putranya.


"Ya kan pipi kamu kayak bakpao... aunty gigit ya...." Rara pun pura-pura menggigit pipi chubby itu hingga baby Nathan pun tertawa kegelian.


Semua orang benar-benar terhibur karena kedatangan baby Nathan. Bayi itu sangat pintar dan tidak cengeng meski semua orang mencubit pipinya yang gembul.


"Bagaimana Nathan bisa jadi gembul seperti itu Kak, bukannya dia belum mulai makan ya," ujar Rara.

__ADS_1


"Mungkin karena ASI nya lancar, Ra." Padahal Febby seperti punya dua bayi tapi untungnya baby Nathan tidak pernah kekurangan ASI.


"Semoga aku juga memberikan ASI eksklusif untuk anakku nanti," ujar Rara.


"Jangan lupa makan yang banyak nanti saat menyusui karena akan ada bayi besar yang tiba-tiba ingin menyusu juga," bisik Febby seraya terkekeh geli apalagi saat Rara terlihat kebingungan.


"Bayi besar apa Kak, kok bisa ada bayi besar yang ikut menyusu." Rara tentu saja tidak paham sama sekali.


"Nanti kau akan tau kalau anakmu sudah lahir."


Sementara justru Rara semakin penasaran.


,,,


Siangnya.


Febby membantu umi memasak di dapur. Walaupun dia sama sekali tidak paham soal memasak tapi dia bisa memotong sayuran. Mike memang terlalu memanjakannya sampai tak mengijinkan Febby untuk melakukan pekerjaan rumah.


Kata Mike, Febby cukup fokus mengurus anak mereka saja agar tidak terlalu lelah dan ASI nya berlimpah. Tentu saja itu hanya modus semata.


"Kau duduk saja nak, tidak perlu membantu umi."


Panggilan umi pada ibunya Rara memang atas permintaan umi sendiri yang merasa tersentuh setelah mendengar cerita tentang ibunya Febby dari Rara. Maka dari itu umi dan Abi menyuruh Febby untuk menganggap mereka seperti orang tuanya sendiri.


"Umi apa seperti ini memotong nya?" tanya Febby yang takut salah.


"Iya nak, kau pintar ternyata. Baru sebentar umi mengajarimu, kamu sudah bisa," sanjung umi.


"Ya ampun umi. Apanya yang bisa dibanggakan kalau hanya bisa memotong sayuran. Aku malu malah, sebagai wanita sama sekali tidak tau urusan dapur."


"Tidak apa-apa kalau suami mampu, nak Febby tinggal melayani suami dengan baik saja," ujar umi.


"Tidak masalah ya kalau seperti itu umi. Aku kira kalau tidak bisa memasak itu sangat memalukan dan dikiranya tidak bisa mengurus suami."


"Mengurus suami kan bukan melulu soal masakan, kalau masakan enak tapi tidak bisa menyenangkan hati suami juga percuma. Yang penting bagaimana cara menyenangkan suami, sesekali tanyalah pada suami mu. Kalau memang dia minta kamu masak barulah kamu coba. Tapi selama dia tidak meminta kamu tetaplah seperti ini yang selalu menjadikan alasan dia untuk pulang."


"Aa... Terimakasih umi. Nasehat umi sangat berarti untuk aku. Jadi kalau ada yang bilang istri kok nggak bisa masak, nggak bisa ngurus rumah, ini itu... aku tidak perlu pusing lagi ya." Febby senang mengobrol dengan umi.

__ADS_1


"Iya nak, kakaknya Rara juga tidak bisa memasak tapi umi tidak pernah memaksa dia untuk belajar. Nah kalau Rara memang dari kecil sudah suka membantu umi di dapur makanya dia bisa memasak," terang umi lagi.


"Tapi bagaimana kalau suami kita memaksa kita untuk memasak untuknya?" tanya Febby.


"Ya kita berusaha sebisanya saja. Memasak itu tidak butuh ketrampilan jadi kalau kita mau belajar lama-lama juga bisa."


Mereka asyik mengobrol sambil memasak, sementara Rara memperhatikan dari jauh karena dia tidak diijinkan untuk membantu.


Sementara baby Nathan sedang tidur di ayunan portabel yang Febby bawa.


,,,


Di bandara.


Revan dan Mike baru saja mendarat dengan pesawat pribadinya.


"Akhirnya sampai juga di Indonesia," ujar Revan yang bisa bernafas lega sekarang. Meninggalkan istri yang sedang hamil tua membuat dirinya selalu tidak tenang.


"Iya Tuan, saya juga sudah merindukan Nathan," sahut Mike.


"Merindukan Nathan atau ibunya Nathan," sindir Revan.


"Dua-duanya Tuan," jawab Mike tanpa menyangkal sindiran itu.


"Ck... dasar. Sudah jadi bapak-bapak masih menyusu." Revan tidak habis pikir dengan assistennya yang dulu berwajah dingin dan menyeramkan kini malah seperti bayi. Dia tau karena tak sengaja mendengar percakapan Mike dan Febby lewat telepon saat mereka masih di luar negeri.


"Sekarang anda boleh meledek, tapi nanti anda juga akan merasakannya Tuan," ujar Mike sama sekali tidak marah akan ledekan tuannya.


"Ck... mana mungkin aku seperti itu. Aku pasti akan mengalah pada anakku nanti. Tidak seperti mu."


Anda boleh saja meledek sekarang, tapi lihat saja nanti kalau anak anda sudah lahir. Apa anda bisa tahan. Ck... batin Mike.


to be continue...


°°°


Like komen dan bintang lima 😍😍

__ADS_1


Peluk tium dari othor buat yang masih setia disini. Ck.... 😘😘😘


__ADS_2