
°°°
Rara membawakan makan malam untuk kakek yang sedang beristirahat di kamarnya.
Tok, tok, tok.
Tak lupa ia mengetuk pintu terlebih dahulu.
Pintu pun terbuka, pak Ahmad keluar dari dalam kamar.
"Silahkan masuk Nona," ujar pak Ahmad seraya membungkukkan tubuhnya.
"Terimakasih Pak." Rara pun masuk ke dalam.
Pemandangan pertama yang ia lihat adalah kakeknya yang sedang terbaring di atas ranjang. Wajah tuanya terlihat menyimpan banyak beban.
"Aku bawakan makan malam kakek," ujar Rara seraya mendekati ranjang.
"Kemarilah nak," kakek tersenyum.
Rara pun meletakkan nampan yang ia bawa di atas nakas, lalu mengambilkan makanan untuk kakek.
"Ini Kek," ujarnya menyerahkan piring berisi makanan.
"Terimakasih nak, kau duduklah," perintah kakek pada Rara agar duduk di tepi ranjang.
Rara pun menurut dan memperhatikan kakek memakan makanannya.
"Apa tidak enak Kek?" tanya Rara saat menyadari kakek Tio tidak begitu berselera memakan makanannya.
"Ini sangat enak nak, masakanmu mana pernah tidak enak. Kakek hanya sedikit tidak berselera makan." Kakek menyerahkan piring yang masih banyak tersisa makanan.
"Tapi kakek harus tetap makan, biar aku suapi ya Kek?" tanya Rara, ia berusaha agar kakek tetap makan.
Kerena tidak mau membuat cucu menantunya kecewa akhirnya kakek pun menganggukkan kepalanya.
Wajah Rara berbinar setelah mendapatkan ijin dari kakek, ia pun segera mengambil suapan pertama dan kakek mulai menerima suapan dari Rara.
Sedikit demi sedikit kakek menelan makanannya, tentu saja dengan bujuk rayu Rara yang tidak berhenti sampai kakek akhirnya menghabiskan makanannya.
"Sedikit lagi Kek, tinggal beberapa suapan lagi." Begitulah Rara tidak mau menyerah.
"Alhamdulillah, kakek mau menghabiskan makanannya juga," ujar Rara dalam hatinya.
"Sepertinya kakek kekenyangan, Ra." Kakek memegangi perutnya, awalnya ia sama sekali tidak ingin makan tapi malah menghabiskan semua makanan yang ada di piring.
Rara hanya tersenyum melihat kakek, jika tidak seperti itu kakek pasti hanya makan sedikit.
Sementara Pak Ahmad yang sejak tadi melihat interaksi kakek Tio dan Rara juga tersenyum. Ia kagum pada nonanya yang berhasil membujuk tuannya untuk makan. Padahal biasanya jika pak Ahmad yang membujuk tidak ada gunanya.
Syukurlah tuan besar menemukan orang yang tepat untuk menjadi cucu menantunya. Pak Ahmad dalam hatinya ikut bahagia.
__ADS_1
Walaupun ia hanya bekerja tapi kakek Tio sudah seperti kakaknya sendiri. Pak Ahmad juga menyayangi tuannya lebih dari pelayan terhadap majikan.
,,,
Setelah selesai menyuapi kakek, Rara pun kembali ke kamarnya. Ia mengecek ponselnya yang sejak tadi ia tinggalkan di kamar.
Ternyata temannya sudah memberinya balasan. Segera Rara membukanya.
"Apa Lia marah?" gumamnya setelah membaca isi pesan dari Lia.
Rara begitu khawatir jika temannya marah, ia sungguh tidak bermaksud meninggalkan Lia begitu saja.
~Rara
Maafkan aku Lia, aku benar-benar tidak sengaja. Tolong jangan marah. (Emoticon sedih)
Tidak lama kemudian ada balasan dari temannya.
^^^~Lia^^^
^^^Aku tidak apa-apa, aku mengerti Ra. Nasib jomblo, selalu ditinggal sendiri.(Emoticon menangis lagi)^^^
Seketika Rara sangat merasa bersalah, ia juga heran kenapa jika ada suaminya dia jadi tidak fokus.
~Rara
Jangan marah Li, besok aku traktir ya. Cup Cup cup... (Emoticon peluk)
^^^~Lia^^^
^^^Aku bercanda Rara sayang, mana mungkin aku marah padamu. Sudah tidak usah dipikirkan, wajar saja jika kamu sangat terpesona pada suamimu yang tampan itu. (Emoticon tertawa puas)^^^
~Rara
Ihhh Lia, aku kira kamu marah tau. Iseng banget sih.
^^^~Lia^^^
^^^Biarin, itu hukuman buat kamu karena sudah ninggalin aku.^^^
~Rara
Iya deh, tapi besok aku beneran mau traktir kamu sebagai perayaan atas membaiknya hubungan ku dengan Kak Revan. (Emoticon pipi merah)
^^^~Lia^^^
^^^Kamu bikin aku iri deh, apalah dayaku yang jomblo ini. Seandainya ada pangeran tampan seperti kak Revan yang mau denganku.^^^
~Rara
Yang seperti kak Revan hanya satu tidak ada lagi. (Emoticon lidah menjulur)
__ADS_1
Tapi ada satu pangeran buat kamu, pangeran Sakka.
^^^~Lia^^^
^^^(Emoticon menjulurkan lidah)^^^
Lia tidak tau mau membalas apa lagi, rasanya masih aneh bila membahas pria itu. Tapi kenapa tidak menolak saja pernyataan Rara.
Kembali ke Rara.
Pukul jam sepuluh malam, suaminya belum juga pulang ke rumah. Rara sedikit khawatir karena baru pertama kalinya suaminya itu pulang larut malam.
"Kira-kira pulang jam berapa kak Revan? Apa aku telepon saja, tapi kalau aku telepon pasti dia menyuruhku untuk tidur." Rara menimbang-nimbang apakah ia menelpon suaminya atau tidak.
Sudah beberapa kali menguap tapi Rara menahan agar matanya tidak terpejam, ia ingin menunggu kepulangan suaminya. Hatinya belum tenang bila belum melihat wajah tampan suaminya.
Bagaimana bisa ia tenang, tidur nyenyak di kasur yang empuk sedangkan suaminya masih bekerja di luar sana. Pasti kedinginan, tidak tau sudah makan atau belum dan tidak bisa merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk.
Sementara lelaki yang sedang di pikiran oleh Rara, nyatanya sudah makan dan bisa leluasa istirahat di kasur yang empuk bila lelah. Tentu saja ruangannya dilengkapi kamar untuk beristirahat.
Revan hanya ditemani oleh Mike untuk mengerjakan pekerjaannya. Mereka berdua ada di ruangan yang sama dan bergantian istirahat jika ada yang lelah.
"Mike, apa kau sudah menikah?" tanya Revan untuk sedikit mengurangi rasa kantuknya dengan mengobrol.
"Belum, Tuan." Mike menjawab dengan singkat.
Hal itu tentu membuat Revan amat sangat jenuh, pria di depannya bahkan lebih dingin dari dirinya. Bahkan sejak tadi Mike tidak beristirahat. Sempat membuat Revan heran apa pria itu mati rasa dan tidak mempunyai rasa lelah.
"Kau sudah berapa lama bekerja dengan kakek?" tanya Revan lagi.
"Lima belas tahun Tuan," jawab Mike lagi.
"Lama juga, apa kamu tidak bosan. Lalu kenapa kamu belum menikah, padahal umurmu sudah 35 tahun. Apa jangan-jangan kamu...." Revan merinding sendiri, pasalnya mereka hanya berdua di ruangan itu.
"Lebih baik kita fokus pada pekerjaan agar cepat bisa pulang Tuan dan saya masih normal, jadi Tuan tidak usah takut."
Mike mengetahui apa maksud Revan berkata seperti itu. Tuannya itu mengira dirinya belok, tentu saja tidak. Dia sudah membuktikannya sendiri, bahkan membuat wanita itu mengerang sepanjang malam.
Ngomong-ngomong soal wanita itu, beberapa hari ini dia tidak bisa melihatnya langsung karena banyak pekerjaan. Tapi walaupun begitu, ia tetap menyuruh orang untuk memantaunya dan setiap jam mengirimkan apa saja kegiatan wanitanya.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...
__ADS_1