Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
109. Kecewa Lagi


__ADS_3

°°°


Revan menatap punggung istrinya dari kejauhan. Rara menggunakan gaun panjang yang sangat cantik, sangat pas melekat ditubuh kecil istrinya.


Bisa Revan bayangkan jika istrinya saat ini pasti terlihat sangat cantik, dari belakang saja sudah sangat menawan.


Revan berjalan melangkah mendekati Rara yang nampak sedang membereskan sisa pesta.


Pelayan yang melihat tuannya datang pun langsung membungkuk dan menyingkir dari sana. Tidak ingin mengganggu sang tuan bersama istrinya.


Rara masih tidak menyadari jika suaminya sudah ada di belakangnya. Tangannya memang sedang membereskan tapi pikirannya entah kemana, bahkan sejak tadi dia mengelap meja yang sudah dibersihkan sebelumnya oleh pelayan yang lain.


"Sayang...," ujar Revan setelah ia ada dibelakang istrinya.


Begitu mendengar suara suaminya, Rara pun langsung tersadar dari lamunannya. Ia menaikkan sudut bibirnya sebelum berbalik.


"Kakak sudah pulang," sapa Rara seraya tersenyum lembut pada suaminya, entah sebesar apapun ia kecewa tapi tetap ingin menyambut kepulangan suaminya dengan senyuman.


Melihat istrinya tersenyum kenapa justru membuat hati Revan berdenyut nyeri. Senyuman manis yang biasanya melelehkan hatinya kini seperti pisau belati yang menyayat hati.


"Maaf tadi aku...,"


"Apa kak Revan sudah makan malam?" potong Rara, dia tidak ingin membahas lagi yang sudah lewat.


"Belum, aku...,"


"Kalau begitu kakak ingin makan dulu atau mau membersihkan diri lebih dulu." Tolong tidak usah dibahas Kak, pinta Rara dalam hatinya.


Hatinya yang sebenarnya rapuh, tidak akan sanggup menahan air mata bila Revan membahasnya sekarang. Bukannya tidak mau mendengarkan penjelasan dari suaminya, tapi Rara belum siap untuk sekarang, dia ingin menenangkan diri lebih dulu.


"Aku akan membersihkan diri dulu," ujar Revan, ia tau saat ini istrinya sangat kecewa karena dirinya datang terlambat.


"Baiklah, biar aku siapkan air hangat untuk kakak." Rara pun mengulurkan tangannya seraya berkata, " Biar aku bawakan tas nya kak."


Revan pun menyerahkan tas dan jas yang ia pegang, matanya tidak lepas menatap wajah istrinya yang terus tersenyum tapi selalu membuat Revan nyeri.

__ADS_1


Setelah menerima tas dan jas suaminya, Rara pun bergegas masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan air hangat. Dia ingin tetap menjalankan tugasnya sebagai istri dengan baik.


Revan memaku, saat istrinya berjalan menjauh Revan masih terngiang senyum istrinya yang penuh kekecewaan.


"Kasihan ya Non Rara, padahal dia sudah menyiapkan ini sejak pagi tapi tuan Revan tidak datang," cibir salah satu pelayan yang sedang berbenah.


"Iya, tidak hanya nona. Tuan kakek dan keluarga nona juga sangat kecewa." Pelayan yang lain ikut membicarakannya.


Mereka tidak sadar jika tuan mereka mendengar semuanya.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tegur bi Mur, agar para pelayan yang lain tidak membicarakan majikannya. Padahal sudah sering diperingatkan jika para pekerja dilarang membicarakan masalah majikannya tapi masih saja ada yang menggosip.


Para pelayan itu pun langsung tertunduk dan pergi dari sana.


Revan yang mendengar pun langsung dilanda rasa bersalah yang sangat besar, Ternyata pesta itu ada kejutan yang disiapkan oleh sang istri khusus untuk dirinya, bahkan Rara menyiapkannya sendiri tanpa bantuan EO (event organizer).


Kini laki-laki itu tau kenapa wajah istrinya begitu sangat kecewa dan tidak hanya istrinya, seperti kata kakak iparnya tadi mertuanya juga pasti sangat kecewa.


Maaf...


,,,


Ini tidak benar, aku tidak boleh berlebihan seperti ini. Kak Revan tidak salah, dia kan tidak tau jika aku mau memberinya kejutan. Pikir Rara.


Ya, aku tidak boleh menyalahkan kak Revan. Rara sadarlah, kamu tidak boleh berubah sikapnya pada kak Revan. Rara mencoba untuk menyadarkan dirinya agar tidak larut dalam kekecewaan yang baginya, dia sendiri yang sudah menciptakannya.


Setelah air penuh, Rara pun keluar dari kamar mandi. Dia juga sudah berganti pakaian rumahan, gaunnya cantik yang tadi ia pakai sudah tergeletak di keranjang kotor, sudah tidak berguna lagi untuk di pakai sekarang.


Melihat suaminya duduk di pinggir ranjang, Rara pun berusaha untuk tersenyum.


"Kak, airnya sudah siap," ujar Rara.


"Aku minta maaf, aku tidak tau kalau kamu menyiapkan pesta kejutan untukku." Revan tidak tahan lagi rasanya, melihat istrinya terus tersenyum membuatnya takut.


"Kak, mandilah. Nanti air nya dingin. Aku akan siapkan makan malam untuk kakak." Rara tidak sanggup jika membahasnya, mungkin kalian bisa menyebutnya lebai tapi memang seperti itulah apa yang dirasakan Rara. Dia pun hendak berlalu dari sana.

__ADS_1


"Tolong maafkan aku." Revan memeluk istrinya dari belakang.


"Kakak tidak perlu meminta maaf, ini bukan salah kakak. Kakak tidak tau apa-apa, jadi tidak bisa dikategorikan bersalah." Rara mengusap tangan suaminya yang melingkar di perutnya.


"Tolong jangan bersikap seperti ini padaku, kamu boleh memukulku, memaki dan marah-marah sepuasnya tapi jangan terus tersenyum menutupi rasa kecewamu," pinta Revan, ia semakin erat merengkuh tubuh istrinya. Ia tidak bisa tenang sebelum menjelaskan semuanya pada sang istri.


Tanpa disadari air mata yang sudah ingin keluar sejak tadi pun akhirnya lolos juga. Mengalir wajah cantik Rara. Apa yang mau disalahkan, bila Rara merasa suaminya tidak salah.


Revan merasakan tetesan air mata istrinya pun langsung membalikkan tubuh itu.


"Kenapa kamu menangis." Revan mengusap lelehan air mata itu. "Aku minta kamu marah bukannya menangis," ujar Revan.


"Kak, ma... maaf," ujar Rara seraya tergugu.


"Hai... kenapa kamu yang meminta maaf. Aku yang salah, tidak pulang tepat waktu dan mengecewakan banyak orang, bahkan membuatmu sedih." Revan sadar semua salahnya. Tujuannya untuk menolong orang malah membuat istrinya bersedih .


"Tidak, Kakak tidak salah. Aku yang salah, aku sudah membuat semua orang repot sedangkan kakak tidak tau apa-apa," ujar Rara.


"Maafkan aku, seharusnya aku bisa pulang lebih cepat. Aku sudah mengecewakan kalian semua." Revan merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Ia tidak ingin lagi membuat istrinya sedih tapi tindakan yang tidak sengaja ia lakukan malah sudah menyakitinya.


"Terimakasih karena sudah menyiapkan pesta yang begitu indah, kau pasti lelah seharian ini." Revan masih memeluk istrinya.


"Jangan menangis lagi, lain kali kau tidak boleh diam. Luapkan saja kamarahanmu," ujar Revan lagi.


"Kakak tidak jadi mandi?" tanya Rara.


"Aku akan mandi, kau tidak perlu kemana-mana. Kau sudah lelah seharian, biarkan pelayan yang membawakan makanan kemari." Revan mencium kening istrinya lalu pergi ke dalam kamar mandi.


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....

__ADS_1


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2