
°°°
Mobil yang dikendarai Mike sampai di depan sebuah rumah mewah minimalis, tidak begitu besar tapi terkesan mewah di pandang mata.
"Ayo turun," ujar Mike, dia membukakan pintu mobil untuk Febby yang masih mematung.
Febby pun turun dari mobil, masih dengan manik mata yang terus memandangi rumah itu. Entah kenapa pada pandangan pertama wanita itu sudah terpesona dengan desain rumah itu. Padahal biasanya dia sangat menyukai sesuatu yang megah dan mewah.
"Kenapa, apa kau tidak suka dengan rumah ini?" tanya Mike pada Febby yang masih mematung.
"Suka, aku suka. Rumahnya tidak begitu besar tapi sangat elegan," puji Febby dengan wajah penuh kekaguman, membuat Mike tersenyum mendengarnya. Tidak masalah kalau Febby bilang tidak suka sebenarnya, dia bisa mencari rumah yang lebih besar untuknya.
"Ayo masuk." Mike mengulurkan tangannya dan disambut oleh Febby dengan senang hati.
Mereka mulai memasuki teras rumah dan sudah ada yang membukakan pintu dari dalam, seorang wanita tua dengan wajah berbinar menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang Tuan, Nona...," sambut bibi pelayan rumah itu.
"Bi tolong suruh orang untuk menurunkan barang-barang yang ada di mobil," titah Mike pada wanita tua itu yang dipanggilnya bibi, bisa di tebak jika wanita itu adalah pelayanannya, tapi kenapa wajahnya begitu berbinar bahagia saat melihat tuannya datang. Itulah yang ada di benak Febby.
"Ayo, aku antar ke kamarmu," ujar Mike dengan lembut.
Ehh kamar, apa kita akan tinggal di kamar yang sama? tanya Febby dalam hatinya.
Biar bagaimanapun Febby tidak masalah berhubungan badan sebelum menikah, baginya sudah biasa. Tapi kini rasanya berbeda, semenjak menyadari ada anak dalam perutnya Febby tidak ingin melakukan hal itu lagi.
Apa artinya Febby ingin diberi kepastian? Pernikahan misalnya. Bisakah ia mendapatkan status yang spesial seperti itu, dirinya yang sudah kotor dan penuh dosa kini mengharapkan ada yang menikahinya.
Sampai di depan sebuah kamar, Febby masih terdiam dalam lamunannya.
"Ini kamarmu," ujar Mike seraya membuka pintu kamar di lantai dua.
__ADS_1
"Kamarku...?" dahi Febby berkerut, apa artinya pria itu tidak tinggal di kamar yang sama.
"Iya, ayo lihat. Jika ada yang tidak sesuai dengan keinginanmu, katakan saja padaku."
Mereka pun memasuki kamar itu, kamar yang sudah Mike persiapkan secara khusus untuk Febby. Dulunya kamar kosong dan tidak berpenghuni, tapi kini sudah disulap menjadi kamar wanita dengan warna dominan biru muda dan putih yang sangat menyejukkan mata.
"Manis sekali kamarnya," puji Febby mengagumi kamar itu. Sangat sesuai dengan keinginannya.
"Kamu suka?" tanya Mike, kalau pun Febby menjawab tidak suka maka detik itu juga Mike akan merenovasinya.
"Suka, aku pasti betah disini," ujarnya tanpa sadar padahal ia sendiri belum tau, mau seperti apa hubungan mereka kedepannya. Sampai saat ini Mike tidak pernah mengungkit mengenai pernikahan lagi. Ini seharusnya salah Febby sendiri yang menolaknya waktu itu.
"Baguslah kalau kau suka, beristirahatlah. Kalau butuh sesuatu, aku ada di ruang kerja. Kau juga bisa minta tolong pada pelayan." Mike pun berbalik, untuk keluar dari kamar itu.
"Ehh tunggu," cegah Febby.
"Emmm itu... kamarmu ada dimana?" tanya Febby ragu, sebenarnya ia malu harus bertanya tapi rasa penasarannya membuat ia harus bertanya langsung.
Terlebih lagi, Mike tidak bisa menjamin jika mereka tinggal satu kamar dan satu tempat tidur. Apakah dia bisa menahan hasratnya yang gampang sekali terpancing bila berdekatan dengan Febby.
"Kamarku ada di sebelah, kau tidak perlu khawatir. Disini juga ada pintu penghubung, jadi jika tengah malam kau butuh sesuatu tinggal bangunkan aku lewat pintu ini." Mike pun menunjukkan pintu yang dimaksud.
"Dan pintu ini hanya bisa dibuka dari kamar ini, jadi aku tidak bisa seenaknya datang ke kamarmu," jelas Mike yang tidak ingin Febby merasa takut padanya.
Ternyata beda kamar, keluh Febby dalam hatinya.
"Apa ada lagi?" tanya Mike.
"Aa... tidak ada, oh iya tapi aku tidak membawa satu pakaian pun kemari. Apa yang harus aku pakai?" Febby baru ingat, dari rumah sakit tadi mereka langsung datang ke rumah itu tidak mengambil baju dulu.
"Bukalah lemarinya, kau akan tau apa yang ada di dalamnya. Aku keluar dulu, sebentar lagi akan ada bibi yang mengantarkan makanan untukmu. Makanlah yang banyak, agar kau cepat sehat dan juga anakku akan tumbuh dengan baik." Setelah mengatakan hal itu Mike pun segera keluar, dia masih banyak pekerjaan yang ia bawa pulang karena tadi dia lagi-lagi ijin pulang terlebih dahulu.
__ADS_1
Mungkin Revan kesal padanya, tapi Mike tidak peduli karena ia sudah menceritakannya pada kakek Tio apa alasannya. Ya kakek Tio sudah ia anggap keluarganya sendiri. Mike sudah biasa menceritakan apapun, tidak ada rahasia antara mereka.
"Ini anakku juga," lirih Febby saat Mike sudah menghilang. Ia agak tidak suka saat mendengar Mike menyebutkan anak yang ada di perutnya adalah anaknya. Tapi kemudian ia mengerti, itu mungkin karena ucapannya yang tidak menginginkan anak itu awalnya. Makanya Mike hanya menganggap anak itu hanya anaknya.
Febby pun berjalan berkeliling, melihat-lihat kamar barunya. Setiap sudut kamar itu, sangat ia sukai. Desainnya simpel tapi sangat manis dan tidak membosankan.
"Bagus juga seleranya," gumam Febby.
"Ehh apa katanya tadi, lihat di dalam lemari. Memang ada apa disana."
Febby pun berjalan ke arah lemari besar yang ada di kamar itu. Dia membuka satu pintu, dilihatnya dress-dress cantik menggantung didalamnya.
Tidak cukup sampai disitu, ia pun membuka pintu yang lain. Sepatu, tas, bahkan pernak pernik lainnya. Semuanya lengkap ada disana.
"Bajunya sangat banyak dan bermerek, tas dan sepatunya juga. Ehh tunggu kalau semuanya ada, apa berarti pakaian dalam juga ada," duga Febby, lalu ia membuka lemari yang lain.
Matanya membelalak sempurna, bibirnya membentuk huruf o. Dalaman dengan berbagai model dengan merek terkenal Victoria se*cret ada di sana.
"Ini... bagaimana dia tau ukuranku?" bingung Febby, tapi sedetik kemudian dia kembali ternganga. Mereka kan sudah pernah melakukan hubungan intim, pasti Mike sudah pernah melihat seluruh tubuh Febby tanpa kecuali. Dari situlah pria itu bisa tau ukuran tubuhnya.
"Aaa... dasar mesum!!" pekik Febby.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
__ADS_1
...Sehat selalu pembacaku tersayang...