
°°°
Rara menatap dalam suaminya, ada rasa sesak yang juga ia rasakan saat melihat suaminya teringat almarhum ibunya.
"Beliau pasti bahagia karena sudah mempunyai cucu sekarang," ujar Rara seraya tersenyum menenangkan.
"Semoga saja ibuku bisa melihat betapa cantiknya istri dan putriku.
"Aku ingin sekali melihatnya tersenyum, dalam ingatanku dia selalu dia tidak pernah benar-benar tersenyum. Selalu ada luka dalam tatapan matanya walaupun ia tersenyum. Walau begitu dia tidak pernah menampakkan kesedihannya di depanku, tapi aku sering melihatnya menangis diam-diam. Aku...," Revan tak sanggup meneruskan ucapannya. Walaupun dia terlihat biasa saja dan tidak begitu sedih tapi sejujurnya dia amat sangat pedih saat mengingat semua tentang ibunya. Walaupun dulu dia masih kecil tapi dia tau sakitnya sang ibu harus hidup sendiri tanpa adanya suami, karena itulah Revan tak pernah menanyakan tentang ayahnya pada sang ibu.
"Jangan diteruskan Kak. Jangan diteruskan kalau kak Revan tidak sanggup. Ada aku dan Arini sekarang, kak Revan tidak sendirian ada kami. Ada kakek yang begitu menyayangi kak Revan dan juga Abi dan umi yang sekarang juga jadi orang tua kakak." Rara menyentuh tangan suaminya yang saat ini sedang mengusap pipi putri mereka.
"Terimakasih Sayang, terimakasih karena sudah mau menikah dengan ku. Terimakasih sudah bertahan dalam luka di awal pernikahan kita. Terimakasih karena sudah menjadi istri yang sangat sempurna untuk ku, dan terimakasih sudah menghadirkan malaikat kecil yang cantik ini." Revan pun memeluk kedua wanita yang sangat berharga dalam hidupnya.
Ternyata sejak tadi ada Abi dan umi yang berdiri di depan pintu. Mereka mengurungkan niatnya saat akan memasuki ruangan itu. Mereka pun begitu terharu melihat putri dan menantunya.
"Lihatlah, pilihan Abi tidak pernah salah. Semua itu butuh proses untuk mencapai kebahagiaan mereka, jadi Abi jangan pernah trauma memilihkan suami untuk putri kita yang lain," ujar umi meyakinkan suaminya agar tidak perlu lagi takut dan cemas untuk memilih pria akan menjadi suami untuk putri pertama mereka.
Pasalnya, Luna menyerahkan masalah jodoh pada Abinya. Dan Abi yang merasa pernah salah memilih kan suami untuk Rara pun takut kalau nantinya nasib putri mereka yang lain akan sama seperti Rara. walaupun pada akhirnya mereka bahagia tadi Abi tetap tidak ingin Luna juga menderita, karena belum tentu Luna akan sekuat Rara.
"Aku tidak akan menjodohkan putri ku lagi, kalau memang sudah waktunya laki-laki yang baik pasti akan datang melamar Luna." Abi tidak masalah dengan umur Luna yang bisa disebut sudah sangat matang untuk menikah tapi belum juga terlihat dekat dengan laki-laki manapun.
"Terserah pada Abi saja, aku hanya khawatir kalau umur kita tak sampai untuk menyaksikan hari itu tiba." Umi yang ingin sekali melihat semua putrinya menikah dan berkeluarga pun tak setuju.
__ADS_1
"Tidak masalah kalau tak melihat, dari pada kita harus meninggalkan Luna dengan pernikahan yang belum tentu membuatnya bahagia. Biarkan dia memilih dan menentukan sendiri siapa yang akan jadi imamnya," ujar Abi lembut namun tegas.
,,,
Hari ini rencananya Febby dan Mike akan berkunjung ke rumah mamah Wina. Terakhir kali mereka bertemu saat Nathan masih dalam kandungan dan Mike masih duduk di kursi roda.
Pada saat itu, mamah Wina kembali meminta putrinya untuk meninggalkan Mike karena Mike sudah jadi laki-laki tak berdaya. Mungkin dipikirkan mamah Wina Mike hanya laki-laki pengangguran yang tidak punya apa-apa. Padahal nyatanya uangnya tidak akan habis walau ia tidak bekerja jadi assisten Revan karena dia masih punya bisnis yang lain.
"Apa kalian sudah siap?" tanya Mike pada istri dan putra mereka yang sudah terlihat tampan dengan pakaian yang bagus.
"Nathan sudah siap, aku tinggal mandi setelah ini. Bisa jaga dia sebentar?" tanya Febby yang baru saja selesai memakaikan baju untuk Nathan.
"Tentu... pekerjaan ku juga sudah selesai. Sini boy sama papah dulu, biarkan mamahmu mandi." Mike merangkak naik ke atas ranjang dan bermain dengan putranya.
Pemandangan itu selalu menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Febby, dia yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah tentu merasa sangat bersyukur karena putranya dilimpahkan kasih sayang yang begitu banyak dari ayahnya.
"Sayang, apa yang kau pikirkan," tanya Revan yang sejak tadi memperhatikan istrinya yang termenung.
"Apa kita batalkan saja ke rumah mamah," ujar Febby penuh pertimbangan.
"Kenapa? Apa kau tidak ingin mempertemukan Nathan dengan neneknya?" tanya Mike.
"Tentu saja ingin tapi... aku tidak siap kalau mendengar hinaan mamah lagi, yang selalu merendahkan kamu Mike." Sebagai istri dia tidak ingin harga diri suaminya direndahkan meski itu mamahnya sekalipun.
__ADS_1
Mike mengelus pipi istrinya dan tersenyum teduh. Senyuman selalu terciptanya saat berada di samping istrinya.
"Jangan banyak berpikir, kita berniat baik ingin mempertemukan cucu dan neneknya. Apapun yang terjadi nanti tidak perlu dimasukkan ke hati. Nathan hanya tinggal punya satu nenek, aku ingin dia bisa merasakan kasih sayang dari neneknya juga."
Karena memang ibu kandung Mike telah tiada kata penyakit yang diderita akibat perbuatannya sendiri yang bekerja sebagai pemuas laki-laki. Padahal saat itu Mike sudah memintanya berhenti dan memberi nya uang tapi ibunya tak mau dan tetap berkubang dalam dosa perzinahan sampai akhir hayatnya.
Katanya waktu itu 'Ini hidup ibu, hidup ibu disini dan seperti ini. Jika nantinya mati disini pun ibu ikhlas '.
Mike tentu menyesal karena pada saat itu tidak memaksa ibunya untuk meninggalkan tempat penuh dosa itu. Dulu Mike masih belum begitu paham akan artinya keluarga dan orang tua.
Dan saat ini Mike tidak ingin istrinya juga menyesal. Dia akan membuat ibu mertua nya Kembali dekat dengan sang istri.
Akhirnya mereka sampai juga di rumah yang beberapa tahun Febby tempati. Wanita itu terlihat masih ragu untuk memasuki kediaman itu. Sementara baby Nathan justru sudah terlihat tidak sabar untuk turun.
"Sepertinya putra kita sudah tidak sabar mau bertemu dengan neneknya," ujar Mike sambil memainkan tangan mungil putranya yang berusaha ingin meraih apapun yang ia lihat.
Mike membukakan pintu untuk Febby dan putranya.
Dengan ragu Febby pun turun, kalau memang nanti sang mamah Kembali menghina suaminya dan masih tetap menyuruhnya untuk meninggalkan suaminya. Maka hari ini adalah pertemuan terakhirnya dengan sang mamah. Cukup untuk memperkenalkan putranya saja.
to be continue...
°°°
__ADS_1
...Like komen dan bintang lima 😍😍...
...Terimakasih banyak 🤗🤗🤗...