
°°°
Tepat pukul jam sembilan malam, Sakka pamit untuk mengantarkan Lia. Dia tidak tega melihat kekasihnya beberapa kali menguap saat mendengarkan cerita ayahnya.
"Kapan-kapan mainlah lagi, tidak perlu menunggu Sakka. Kau bisa main sendiri kesini kalau mau." Ayah Bayu tampaknya sangat menyukai kepribadian Lia. Beruntung dia bukan orang kaya yang memikirkan bibit bebet dan bobot orang lain. Baginya cukup wanita itu baik dan putranya bahagia saja sudah cukup. Mengenai harta dan kekayaan bisa dicari tapi tidak dengan kebahagiaan.
"Terimakasih paman, anda sangat baik sekali padaku." Lia terharu.
"Jangan sungkan lagi, anggap saja aku ayahmu. Kau tidak sendiri sekarang, ada Sakka dan aku yakin akan melindungi mu." Ayah Bayu sudah tau kisah hidup Lia, termasuk dia yang yatim piatu sekarang.
"Terimakasih paman," ujar Lia seraya memeluk ayah Bayu. Entahlah dia merasa melihat sosok ayahnya ada pada ayah Bayu. Dulu ayahnya juga tidak pernah membedakan status sosial orang lain, meski dia termasuk orang kaya di kampung tapi selalu bergaul dengan orang-orang sekitar dan para pekerjanya.
Sakka yang melihat keakraban sang ayah dan calon menantu nya pun lega. Walaupun ayahnya terkadang menyebalkan tapi ternyata beliau amat bijaksana dan baik hati.
"Aku pulang dulu paman," pamit Lia.
"Aku pergi antar Lia dulu."
"Kalian hati-hati di jalan dan Sakka ... kamu langsung pulang setelah mengantar Lia. Ingat kalian belum menikah, jangan sampai melewati batas." Walaupun ayah Bayu tau putranya suka bermain wanita tapi beliau ingin kali ini Sakka benar-benar menjaga Lia. Karena Lia patut untuk dihargai dan dihormati.
"Aku tau ayah, kami pergi dulu."
Lia tersenyum pada ayah Bayu sebelum akhirnya mobil yang mereka tumpangi meninggalkan kediaman Tuan Alvredo.
"Apa kamu sudah lega sekarang? ayahku tidak seperti di novel yang kamu baca kan?" tanya Sakka yang sedang menyetir mobil.
"Iya aku sangat lega, ternyata paman sangat baik. Aku tidak menyangka ada orang yang kaya seperti paman tapi bisa menerima aku yang orang biasa dengan tangan terbuka." Lia mengungkapkan kekagumannya pada ayah Bayu.
"Kan sudah aku bilang, jangan terlalu banyak berpikir. Kamu hanya perlu fokus padaku." Sakka meraih satu tangan Lia dan menempelkannya pada dadanya untuk merasakan detak jantungnya yang tak beraturan saat berada di depan wanita itu.
"Apa kau merasakannya?"
"Merasakan apa?" tanya Lia.
"Ini, detak jantungku. Apa kau tau, mungkin dia akan berhenti berdetak kalau kamu pergi...," rayu Sakka dan berhasil membuat Lia memerah.
__ADS_1
"Kau itu pintar sekali menggombal. Dasar mantan casanova...," ledek Lia seraya menjulurkan lidahnya gemas.
"Tapi kamu suka kan, iya kan kamu suka."
"Iya iya aku suka... puas kamu?" Lia melotot pada Sakka tapi pria itu malah tertawa.
Tentu saja sepanjang perjalanan menuju apartemen, mereka berdua tidak berhenti saling menggoda dan bercanda. Sakka sudah berhasil menjadi laki-laki yang mampu membahagiakan Lia dan menjaganya.
Lia juga bersyukur karena ternyata Tuhan selalu mempunyai rencananya sendiri. Saat awalnya ia kira bertemu Sakka adalah kesialan dan musibah. Tapi ternyata Tuhan mempertemukannya dengan pria itu sebagai anugrah.
Sampai di basemen apartemen, Sakka memarkirkan mobilnya dan melihat ke samping ternyata Lia tertidur.
"Kamu tertidur rupanya, pasti lelah...." Sakka merapikan rambut yang menutupi wajah cantik Lia. Tanpa membangunkannya Sakka pun mengangkat tubuh Lia dan membawanya masuk ke dalam apartemen.
Setelah sampai dalam apartemen Sakka membaringkan Lia di atas ranjang nya dengan hati-hati.
"Tidurmu nyenyak sekali, atau karena ada di dekatku jadi nyaman."
Cup
Sakka mencium kening Lia. "Tidurlah, jangan lupa mimpi indah."
,,,
Hari demi hari berlalu. Keadaan Revan pun semakin membaik, tentu dengan andil sang istri yang dengan telaten merawat suaminya. Setiap hari Rara juga menemani suaminya untuk melakukan terapi dan sekarang Revan sudah bisa berjalan walaupun masih sedikit susah.
"Sayang, apa hari ini kamu berangkat kuliah?" tanya Revan.
"Iya kak, aku ada kuliah pagi dan siangnya aku akan pulang untuk menemani kakak ke rumah sakit." Rara sedang merapikan seprai dan kamar mereka.
"Tidak apa-apa kalau kau tidak bisa, bukannya kau mau menemani temanmu untuk fitting baju pengantin," ujar Revan yang sejak tadi memperhatikan istrinya. Hari-harinya di rumah hanya mengganggu istrinya sekarang, saat istrinya masak atau mengerjakan tugas kuliah ada saja cara Revan mengganggunya.
Rara tampak berpikir, iya dia sudah berjanji pada Lia mau menemaninya tapi ia juga tidak bisa membiarkan suaminya ke rumah sakit sendirian.
"Jangan khawatir sayang... kamu pergi saja bersama temanmu. Kasian dia, katamu dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Kehadiran kamu pasti sangat ia harapkan." Revan memeluk istrinya dari belakang.
__ADS_1
"Kau benar Kak, Lia hanya sendiri disini. Keluarga nya tidak ada di Jakarta. Tapi apa kak Revan tidak apa-apa pergi sendiri?" Rara ragu-ragu.
"Aku tidak sendirian, nanti aku pergi dengan pak Ahmad dan ada pengacara juga. Ada hal yang mau kami bicarakan dengan dokter mengenai bukti cidera kami dan kondisi Mike yang masih koma." Revan meletakkan kepalanya di ceruk leher istrinya dan menghirup aroma harum khas istrinya yang menjadi candu untuknya.
"Ya sudah, kalau begitu aku nanti menemani Lia fitting baju pengantin."
"Iya sayang, nanti kalau urusanku sudah selesai aku akan menyusul," ujar Revan yang hidungnya sudah kemana-mana, membuat Rara merinding.
"Benarkah? Kak Revan mau menyusul?" Rara senang mendengarnya karena disana dia pasti seperti obat nyamuk untuk Lia dan Sakka.
"Tentu, apapun yang membuat istriku senang."
Rara membalikkan tubuhnya menghadap suaminya dan mengalungkan tangannya di leher laki-laki itu.
Cup
Rara mencium bibir suaminya singkat. "Terimakasih, suamiku...."
"Kau mulai berani sekarang," Revan tersenyum menyeringai dan Langsung menarik tengkuk istrinya dan melu-maat bibirnya.
Rara dengan senang hati menyambut dan semakin mendekatkan tubuhnya seraya berjinjit agar ciumaann nya semakin dalam. Satu tangan Revan juga sudah berada di pinggangnya.
Setelah beberapa waktu berpuasa melakukan hubungan suami-istri. Kini waktunya Revan memberikan nafkah batin sebagai seorang suami. Pagi ini mereka berhasil melakukan proses pembuatan bayi dengan waktu yang singkat karena Rara harus ke kampus.
Dengan nafas yang masih terengah-engah dan peluh keringat yang membasahi keduanya. Revan menggendong istrinya ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Penyatuan singkat dengan gaya yang baru pernah mereka lakukan cukup membuat nya puas.
"Sayang, nanti malam lagi ya..."
°°°
Lagi apanya🙈🙈🙈
Aduh kok enggak di jabarkan si proses nya 😂
__ADS_1
Like komen dan bintang lima 😍
Gomawo ❤️❤️❤️