
°°°
Beginilah Revan saat ini, celana dan bajunya penuh lumpur. Siapa lagi kalau bukan kakak iparnya yang berulah.
"Sudah Mbak kasihan Kak Revan," ujar Rara yang tidak tega melihat suaminya dikerjai kakaknya.
"Tidak perlu khawatir, ini tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang dia lakukan padamu, Dek."
Demi apapun Luna sangat ingin memberi adik iparnya itu pelajaran. Sudah sejak awal dia ingin melakukan itu dan ini kesempatannya karena entah kapan lagi mereka bertemu. Bukan mau ikut campur dalam urusan rumah tangga adiknya tapi Luna hanya ingin membuat efek jera pada pria yang sudah menyakiti hati sebaik adiknya.
Sementara Revan pasrah saat kakak iparnya menyuruhnya untuk masuk ke sawah dan mencari cincin pernikahannya yang katanya jatuh ke sana.
Sebenarnya Revan sudah menebaknya dari awal, jika kakak iparnya pasti akan berbuat sesuatu padanya. Namun, ia membiarkan semua itu dan menurut saja karena ia sudah bertekad akan menunjukkan bahwa ia adalah lelaki yang pantas untuk Rara. Mengenai masalah cincin yang jatuh ke sawah, Revan rasa itu hanya karangan untuk mengerjainya.
"Mbak, sudah ya. Biarkan Kak Revan membersihkan tubuhnya." Rara sudah tidak tahan lagi.
"Benar nak, itu hanya cincin. Biarkan adik iparmu itu naik." Kali ini umi yang merasa kasihan.
Luna menghela nafasnya, memandang semua orang yang tampak kasihan pada adik iparnya.
"Ya sudah," ujar Luna dan membuat Rara mengembangkan senyumnya.
Rara memeluk kakaknya, "Terimakasih Mbak, aku tau semua ini karena Mbak sayang padaku."
Luna membalas pelukan adiknya penuh kasih sayang. Sebagai kakak sejak kecil dia adalah pelindung sang adik dan saat ini ia harus terima jika sudah ada suaminya yang akan menjaga adik kecilnya.
Kemudian Rara mendekati suaminya yang sudah kotor semua badannya dan keringat pun sudah bercucuran membasahi tubuhnya. Sejenak ia kagum karena suaminya itu sama sekali tidak membantah perintah kakaknya walaupun itu keterlaluan.
"Kak, naiklah. Tidak usah mencari lagi, ayo bersihkan tubuhmu." Rara mengulurkan tangannya agar Revan meraihnya.
"Tapi cincinnya belum ketemu," ujar Revan.
"Tidak apa, ayo naik." Rara mengulurkan tangannya.
Revan menerima uluran tangan sang istri, padahal ia tau istrinya itu tidak mungkin kuat menariknya dari lumpur itu tapi ia tetap menerimanya.
Revan mulai mencoba keluar dari lumpur dan seperti dugaannya tadi, bukannya dia keluar malah istrinya ikut terjelembah ke dalam lumpur.
"Aaa...," teriak Rara saat tubuhnya terjatuh kedalam lumpur.
Tubuh Rara berhasil di tangkap suaminya hingga tidak sampai masuk semuanya ke dalam lumpur.
"Sekarang kau juga kotor," ujar Revan tersenyum puas karena ia sudah menduganya.
__ADS_1
"Kak Revan sengaja ya?" tuduh Rara.
"Kamu sendiri yang ingin membantu tadi." Revan mencolek hidung istrinya dengan tangannya yang kotor dan hal itu sukses membuat Rara melotot.
"Kak Revan," pekik Rara lalu ia mengejar suaminya yang sudah melarikan diri setelah mengotori wajahnya.
Saling melempar lumpur pun terjadi antara Revan dan Rara. Gadis itu bahkan lupa jika niatnya tadi menyuruh suaminya membersihkan diri tapi malah ia ikut berkotor-kotoran.
Pemandangan itu pun tidak luput dari mata Abi, umi dan Luna. Doa mereka hampir sama, kebahagiaan Rara dan berharap Revan bisa menjaga dan menyayanginya.
" Abi, kau lihat kan putrimu sudah dewasa. Dia wanita yang kuat dan hebat, jadi Abi jangan mengkhawatirkannya lagi." Luna meletakkan kepalanya di pundak Abi.
"Kau benar nak, Abi sudah terlalu khawatir. Takut adikmu tidak bisa melaluinya tapi ternyata dia sangat hebat. Dia bisa meluluhkan hati suaminya, Abi bisa lihat jika Revan menatapnya penuh cinta," ujar Abi pada istrinya.
Luna pun setuju dengan ucapan Abi nya. Ia harap Rara bahagia dengan suaminya.
Rara sedang membersihkan tubuhnya di kamar yang ada di resort itu. Untunglah sang suami dengan cepat menyuruh orang membelikan pakaian untuk mereka. Jika tidak, Rara tidak tau mau memakai apa.
"Kau itu kenapa malah ikut-ikutan bermain lampur," ujar Luna yang sedang menemani adiknya berganti pakaian.
"Maaf Mbak, aku tidak sengaja," Rara menunduk.
"Seharusnya mbak yang minta maaf, itu karena Mbak yang sengaja ingin mengerjainya. Apa kamu marah?" ujar Luna yang berkata jujur.
Rara duduk di lantai di depan kaki kakaknya, lalu menjatuhkan kepalanya ke pangkuan kakaknya. Hal yang sering kali ia lakukan sejak kecil, saat ia sedang bercerita pada kakaknya.
Luna pun mengusap surai hitam rambut adiknya.
"Tapi Mbak tidak perlu memperlakukan kak Revan seperti itu. Pria itu sekarang adalah suami adikmu, anggap dia adik Mbak juga. Dia adalah bagian dari keluarga kita juga. Mbak mau kan memaafkannya?" Rara sangat berharap kakaknya mau melupakan kesalahan suaminya.
"Mbak mengerti, Dek. Mbak tidak akan keterlaluan lagi lain kali, paling hanya sedikit saja." Luna terkekeh setelah mengatakan itu.
"Mbak...,"
"Iya, iya... Mbak nggak akan seperti itu lagi," ujar Luna.
"Jadi dimana cincinnya Mbak?" tanya Rara.
"Sebentar, sepertinya aku taruh di saku." Luna merogoh sakunya, " Kenapa tidak ada?" gumamnya.
"Ada apa Mbak?" tanya Rara yang melihat wajah panik kakaknya.
"Itu cincinnya tidak ada di saku, perasaan tadi aku taruh di saku loh." Luna masih berusaha mencari di setiap sakunya.
__ADS_1
"Ya sudah tidak apa Mbak, tidak usah panik begitu." Rara menenangkan kakaknya.
"Maafin aku, Dek." Luna merasa sangat bersalah. Niatnya hanya mengerjai malah menghilangkan cincin itu.
"Tidak apa-apa Mbak, oh iya ada yang mau aku ceritakan." Rara berusaha mengalihkan pembicaraan agar kakaknya tidak merasa bersalah.
"Ada apa Dek," ujar Luna.
" Aku ingin tanya mengenai sikap kak Revan, sejak kemarin sampai tadi pagi mendadak sangat aneh," ujar Rara.
"Aneh kenapa?" Luna mengerutkan keningnya.
Rara mulai menceritakan tentang kejadian semalam hingga pagi tadi pada kakaknya, tapi Luna malah tertawa setelah mendengarnya. Membayangkan Revan yang harus mandi tengah malam dan tidak mengijinkan Rara keluar dari hotel.
Luna bisa menyimpulkan bahwa saat ini sudah ada rasa cinta diantara mereka, sifat posesifnya menjadi alasan yang tepat. Dia pun mulai menjelaskan apa yang ia tau berdasarkan ilmu psikologis yang ia pelajari pada sang adik.
Rara sempat tidak percaya jika suaminya itu merasa cemburu karena ia tampil cantik hari ini dan tidak ingin ada orang lain yang melihatnya. Lalu mengenai apa yang terjadi tadi malam, ia baru tau jika tindakannya bisa menimbulkan reaksi seperti itu pada tubuh sang suami.
Rara benar-benar malu saat mengetahuinya. Jika kakaknya tidak memberitahu pasti bisa saja ia melakukan hal itu lagi.
"Lalu apa yang harus aku lakukan Mbak. Apa aku harus menghindarinya agar tidak lagi terjadi hal seperti itu."
Pertanyaan polos Rara sontak membuat Luna terkikik geli.
"Untuk apa menghindar, kalian ini suami istri. Sah-sah saja jika kalian kau berpelukan atau melakukan hal yang lain. Atau jangan-jangan kalian belum melakukannya?" tatap Luna penuh tanya.
"Melakukan apa Mbak?" bingung Rara.
Melihat wajah adiknya yang kebingungan, sudah pasti apa yang Luna tebak itu benar. Sepertinya hubungan mereka masih tahap pengenalan sampai saat ini.
"Tidak apa-apa, nanti kau juga tau sendiri, tapi bagus juga jika belum melakukannya sedangkan hubungan kalian belum di perbaiki dan masih ada wanita itu."
Mungkin itu yang membuat Revan akhirnya memilih untuk mendinginkan tubuhnya di tengah malam yang dingin. Ia tidak ingin menyentuh Rara sebelum menyelesaikan hubungannya dengan wanita itu.
Berdasarkan cerita Rara, Luna bisa menyimpulkan jika adik iparnya itu ada niatan untuk memperbaiki hubungan pernikahannya. Sebagai kakak, ia harap jalan rumah tangga adiknya tidak lagi dibumbui oleh orang ketiga.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
__ADS_1
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...