
°°°
Hingga pukul jam sembilan pagi, Revan belum juga sampai di kediamannya. Begitupun dengan Mike.
Rara sudah gelisah menunggu di ruang tamu sejak tadi. Seharusnya bukannya sudah sampai, apa mungkin begitu macet jalanan nya.
Makanan yang tadi sudah disiapkan juga sudah disimpan kembali, nanti bisa dipanaskan lagi kalau sang suami sudah pulang.
Kakek yang melihat Rara gelisah juga jadi ikutan tidak tenang.
"Ahmad, coba kau tanya anak buah mu. Mereka sudah sampai di mana." Kakek memerintahkan pak Ahmad yang berada di belakangnya.
"Baik Tuan," pak Ahmad segera bergerak cepat, bukan dia tidak mengawasi, selama Revan ada di Bandung pak Ahmad selalu mengawasi tuannya lewat anak buahnya dan tadi pagi anak buahnya mengabarkan jika Revan dan Mike sudah pergi dari sana, setelah itu belum mendapatkan kabar lagi.
"Bagaimana?" tanya kakek Tio, pikirannya tambah tidak tenang.
"Belum ada yang mengangkat Tuan," jawab pak Ahmad.
"Coba telepon ke nomor Mike atau Revan, sebenarnya kemana mereka. Apa tidak langsung pulang."
Pak Ahmad langsung melakukan apa yang diperintahkan tuannya. Ternyata nomor Revan dan Mike aktif tapi sama tidak ada yang mengangkat panggilannya.
"Sama Tuan, tidak ada yang mengangkat panggilan teleponnya," ujar pak Ahmad.
"Firasat ku tidak baik, cepat kamu kirim orang untuk mencari tau keberadaan mereka." Kakek tidak berwajah lembut lagi kalau sudah begini. Jiwa kepemimpinannya langsung keluar dan tandanya pak Ahmad harus bergerak cepat.
"Baik Tuan." Pak Ahmad bergegas menghubungi semua anak buahnya yang banyak tersebar di berbagai tempat. Tanda darurat sudah di nyalakan, artinya semua anak buah kakek harus bergerak cepat.
Rara juga sama, sejak tadi dia berusaha menghubungi suaminya tapi sama sekali tidak ada yang mengangkat panggilan darinya.
"Kemana kak Revan, atau mungkin langsung ke kantor. Tapi kenapa tidak memberi kabar," gumam Rara yang hatinya mulai berdebar tidak tenang memikirkan suaminya yang belum juga sampai.
Ya Allah, lindungilah di manapun suaminya berada.
Bersamaan dengan itu, seseorang datang mengetuk pintu membuat semua orang menoleh berharap yang datang adalah Revan dan assisten nya.
"Permisi..." ujar seseorang bersuara pria.
Rara berdiri dari duduknya hendak membukakan pintu.
__ADS_1
"Biar saya saja Non," ujar bi Ida.
"Baiklah bi," Rara menurut karena sepertinya itu bukan suaminya yang datang. Kalau suaminya pasti langsung masuk ke dalam rumah.
Kakek pun berjalan ke ruang tamu menunggu siapa yang datang. Entah kenapa, wajah semua orang di ruangan itu tegang seketika.
Bi Ida yang membukakan pintu tidak kalah terkejutnya, saat melihat orang yang datang ke rumah itu adalah dua orang laki-laki berseragam coklat.
"Permisi, benar ini rumah tuan Hermawan?" tanya pak polisi.
"Be... nar pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya bi Ida dengan bibir bergetar. Firasatnya sudah sangat buruk saat melihat yang datang adalah polisi.
"Apa tuan Hermawan ada di rumah? Kami menemukan barang-barang yang diduga milik cucu beliau dalam kecelakaan di jalan tol."
Sontak mulut bi Ida menganga saat melihat ponsel dan dompet milik tuannya yang berada di tangan pak polisi. Benar itu milik tuannya tapi kenapa banyak bercak darah diatasnya.
"Jadi bagaimana, apa tuan Hermawan ada di rumah?" tanya pak polisi itu lagi.
Sementara bi Ida tidak tau harus bagaimana saat ini, bagaimana ia bisa menyampaikan hal yang sangat buruk seperti itu pada taun kakek.
"Siapa yang mencari saya bi?" ujar kakek Tio, yang tidak bisa melihat siapakah yang datang karena terhalang oleh bi Ida.
"Boleh saya masuk bi?" Dengan berat hati bi Ida membukakan pintu dan membiarkan dua polisi masuk.
Melihat adanya polisi yang datang, Rara dan kakek pun berdiri dengan pikiran yang sudah tidak karuan.
"Permisi Tuan Hermawan," ujar pak polisi.
"Apa yang membawa bapak polisi ke rumah saya?" tanya kakek, sesungguhnya dia juga sudah tidak bisa berpikir jernih saat melihat kedua polisi itu.
"Begini Tuan, kedatangan kami kemari karena ingin memastikan apakah barang yang kami bawa adalah milik tuan muda Herwaman, cucu anda." Pak polisi itu menunjukkan dompet, ponsel dan jas yang tadi dilihat oleh bi Ida.
Sontak Rara pun mendekat karena merasa sangat mengenali barang-barang itu. Ya itu jas milik suaminya begitupun dengan dompet dan ponselnya, semua itu adalah barang yang Revan bawa saat akan berangkat ke Bandung.
"Ini barang milik kak Revan, lalu di mana suamiku pak? Kenapa barang-barangnya ada sama bapak?" tanya Rara penuh kebingungan.
Kakek yang mendengar jika barang itu milik cucunya juga mendekat untuk memastikan kebenarannya.
"Dimana cucu saya?" tanya Kakek.
__ADS_1
Dua polisi itu saling pandang, tidak tau bagaimana menyampaikannya.
"Di mana suamiku pak, apa anda menangkapnya? Jangan tangkap suamiku pak, dia orang baik."
Entah apa yang ada dipikiran Rara, tapi hal yang sama juga terjadi pada kakek. Beliau menatap kedua polisi itu dengan penuh tanda tanya.
"Begini tuan, mohon maaf sebelumnya. Kami ingin memberitahu jika mobil yang ditumpangi cucu keluarga Herwaman terlibat dalam kecelakaan beruntun yang terjadi di jalan tol. Ada tiga mobil dan dua kendaraan besar terlibat didalamnya. Ada sepuluh orang luka-luka dan dua orang tidak terselamatkan nyawanya."
Bagai hantaman besar yang menghantam kakek dan Rara. Dunia mereka ikut runtuh mendengar apa yang pak polisi sampaikan.
Tubuh Rara bahkan terhuyung ke belakang, raganya serasa tak bernyawa lagi. Untunglah bi Ida sigap menangkap tubuh nonanya.
"Apa maksud anda, cucu saya baik-baik saja kan?" tanya kakek, walaupun dunianya runtuh tapi dia harus berusaha tegar untuk menanyakan apa yang terjadi dengan cucunya.
"Cucu anda dan laki-laki yang bersama cucu anda selamat dan mereka sudah di bawa ke rumah sakit. Namun, lukanya cukup parah karena mobil yang mereka tumpangi juga rusak parah. Dokter sedang menunggu persetujuan keluarga untuk menandatangani persetujuan akan dilakukannya tindakan operasi." Pak polisi menjelaskan.
"Ahmad, cepat kau telepon rumah sakit dan suruh mereka mengoperasi cucuku. Katakan pada mereka, pastikan selamatkan nyawa cucuku," titah kakek Tio.
"Terimakasih atas informasinya, kami akan segera ke rumah sakit." Ujar kakek pada pak polisi.
"Sama-sama Tuan, saya harap anda tetap tenang semuanya akan baik-baik saja. Kalau begitu saya permisi dulu." Pak polisi pun pamit, meninggalkan kakek dan Rara yang sudah tidak bisa berpikir jernih.
Rara menangis dalam pelukan bi Ida, hatinya hancur seketika. Bagaimana tidak hancur jika seorang istri mendengar kabar suaminya mengalami kecelakaan.
"Bi, kak Revan bi...," Isak tangis Rara.
"Tenang non, bibi yakin tuan akan baik-baik saja," bi Ida berusaha menenangkan nonanya.
to be continue...
°°°
Bagaimana kejutannya???🤭🤭
Bagaimana nasib mereka kira-kira??
Like komen dan bintang lima 😍😍
❤️❤️❤️
__ADS_1