
°°°
Setelah selesai membersihkan diri dan memakai kemeja milik Mike yang panjangnya hanya di atas lutut. Febby pun keluar dari kamar untuk mengisi perutnya. Dia turun ke lantai satu, melewati tangga.
Febby yang menuruni tangga dengan kemeja kebesaran itu sontak membuat para pelayan pria dan wanita beralih menatapnya. Bahkan mata para laki-laki disana tidak berkedip melihat tubuh wanita yang tinggal di rumah tuannya.
"Jaga mata kalian!! Jangan menatap nona seperti itu, apa kalian sudah tidak ingin kerja di sini lagi," ujar bi Ida, pelayan yang paling lama bekerja pada Mike.
Para pelayan itu pun langsung menundukkan kepalanya, "Memang dia siapa bi, bukannya cuma wanita simpanan Tuan. Pasti wanita nggak bener kan."
Kata-kata pria itu begitu menusuk di telinga Febby yang tidak sengaja mendengar. Wanita itu pun berhenti sejenak menatap mereka, tapi kemudian dia kembali berjalan menuju meja makan. Ada hal yang lebih penting dari menanggapi cemoohan orang. Dia tidak bisa membuat anaknya menunggu lama hingga kelaparan.
"Kau!! Kalau sampai tuan Mike mendengar, kau bukan hanya akan kehilangan pekerjaan tapi bisa kehilangan kemampuan bicaramu itu." Bi Ida memperingati pelayan itu, kalau dia bisa pasti sudah ia pecat orang itu.
"Kau ingat baik-baik nona Febby adalah calon Nyonya di rumah ini. Jangan pernah bicara asal lagi kalau masih ingin bisa bicara," ujar bi Ida. Dia yang tersulut emosi, karena dia sudah menganggap Mike anaknya sendiri.
Pelayan itu pun langsung meminta ampun, jika benar wanita itu adalah calon Nyonya di rumah ini. Maka habislah dia kalau sampai tuan Mike tau apa yang sudah ia ucapkan.
"Bi, tolong jangan beritahu Tuan. Aku minta maaf, tolong saya bi. Anak saya masih kecil-kecil." Dia memohon pada bi Ida, menangis menyesali perbuatannya. Matanya yang tadi menatap penuh naf*su pada Febby sungguh membawa petaka.
"Minggir lah, biar tuan yang memutuskan kalau dia sudah kembali !!" Bi Ida enggan memberi maaf pada laki-laki yang bisanya memandang rendah wanita.
"Ini bukan salahku bi, wanita itu yang telah membuatku berpikir demikian. Lihatlah pakaiannya, sudah seperti ja*Lang dan dia tinggal di rumah laki-laki tanpa ikatan pernikahan. Apa namanya kalau bukan simpanan." Laki-laki mengucapkan dengan lantang, apa yang ada di pikirannya.
Sungguh miris, serendah itukah wanita di mata laki-laki. Apa semua laki-laki menganggap dirinya yang paling suci, hingga bisa menghakimi wanita seenaknya.
Plak!!
__ADS_1
Tangan bi Ida melayang dan mendarat dengan tepat di pipi pria yang tidak punya perasaan itu. Sebagai wanita, bi Ida tidak terima atas apa yang laki-laki itu katakan. Mungkin itu adalah gambaran pikiran para pria selama ini, dan laki-laki dihadapannya sebagai contohnya.
Pantaskah para pria menghakimi wanita hanya dengan pakaiannya saja, haruskah semua wanita berpakaian tertutup. Jawaban tidak, yang salah bukan kami kaum wanita. Tapi mata para laki-laki yang selalu membayangkan lekuk tubuh wanita. Mau wanita itu berpakaian tertutup sampai memakai cadar, kalau pria itu memandang kemudian memikirkan hal kotor bukannya sama saja.
Yang harus disalahkan justru cara berpikir laki-laki yang selalu memandang wanita dengan na*fsu. Jadi tidak harus menyalahkan wanita yang berpakaian seksi, tapi salahkanlah pria yang berpikiran kotor.
"Pergi kamu sebelum kesabaranku habis!" sentak bi Ida penuh amarah dan mengacungkan jari telunjuknya pada pintu keluar.
"Tapi aku tidak salah bi, kau tidak berhak memecat ku." Pria itu kekeuh dengan pemikirannya dan tidak mau disalahkan.
"Bi...," panggil Febby pada bi Ida.
Bi yang mendengarnya pun langsung menghampiri Febby yang sudah duduk di meja makan. "Iya Non," ujar bi Ida.
"Bisa tolong ambilkan sarapan bi," ujar Febby, tanpa peduli dengan keributan yang tentu saja ia dengar.
Sementara pria yang mendapatkan lirikan tajam itu sama sekali tidak merasa bersalah dan tidak berniat meminta maaf pada Febby. Pikirannya masih sama, baginya Febby adalah wanita simpanan yang tidak pantas untuk dihormati.
Paling nanti dia juga dibuang kalau tuan sudah bosan. Pikirnya picik.
POV Febby
Aku mendengar semuanya, semua cacian yang pelayan itu lontarkan kepadaku. Darahku mendidih seketika, ingin rasanya aku sumpal mulut biadab itu dengan bara api.
Namun, nyatanya aku diam dan tidak melakukan apapun. Aku hanya memangku tangan dan menatap kosong meja makan dihadapanku.
Ya, kenapa aku harus marah bila yang dikatakan pelayan itu memang benar. Aku bukan wanita baik-baik, aku wanita hina dan aku tidak patut untuk dihormati.
__ADS_1
Aku suka menjajakan tubuhku pada para pria hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis ku. Aku biasa tidur dengan laki-laki berbeda dan aku pernah ingin merebut suami orang. Lalu sekarang aku hamil diluar nikah dan tinggal di rumah laki-laki tanpa sebuah ikatan, aku memang pantas disebut simpanan.
Aku pantas mendapatkan hinaan itu, aku tidak akan melarangnya memikirkan hal buruk tentangku.
Di sisi lain, hatiku menghangat saat bi Ida membelaku dan mengatakan jika aku adalah calon Nyonya di rumah ini. Aku seperti sedang bermimpi, tubuhku melayang dan membumbung tinggi.
Tapi, aku buang jauh-jauh pikiran itu. Aku sadar, aku ini siapa. Walaupun kini aku mengandung anak Mike tapi aku tidak berharap banyak pada hubungan kami. Mungkin laki-laki itu juga sama, menganggapku wanita ja*Lang. Dia pasti tau saat pertama melakukannya padaku, dia tau jika aku sudah tidak perawan.
Mungkin karena itulah dia memberi ku black card nya sebagai bayaran telah memakai tubuhku. Dan sikap baiknya padaku hanya karena aku sedang mengandung anaknya.
Namun, aku tidak peduli dan tidak ingin tau semua itu. Aku bahagia saat Mike memperhatikan ku dan memperlakukanku dengan baik. Aku ingin menikmati waktuku, selagi masih ada kesempatan untuk berada di samping Mike. Kalau perlu setelah anak ini lahirpun aku mau hamil anaknya lagi. Begitu seterusnya, agar aku bisa tetap berada di samping Mike.
Mungkin aku gilaa, ya aku sudah gilaa. Tapi aku sungguh baru pertama kali merasakan perhatian seperti itu dari seorang pria. Salahkah aku jika ingin selamanya mendapatkan perhatian seperti itu. Salahkah, bila aku ingin tetap bersama Mike.
Tapi aku sadar, mungkin itu semua hanyalah anganku yang terlalu tinggi. Mike tidak mungkin membiarkan wanita seperti ku berada disampingnya. Mungkin nanti, saat Mike menemukan cintanya, wanita yang jauh lebih baik dariku. Maka aku harus siap melepaskannya.
Seperti Revan yang mencintai istrinya, wanita solehah yang jauh lebih baik dariku.
POV end
to be continue...
°°°
Cobaan orang yang mau berubah jadi baik banyak amat... Sedih aku jadinya...😭😭
Semoga bahagia ya Feb...
__ADS_1