Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
154. Mike Menyebalkan


__ADS_3

°°°


Hari demi hari berlalu, sudah seminggu lebih Revan dan Mike di Luar kota. Masalah demi masalah sudah terselesaikan. Bukti dan saksi sudah di kumpulkan, tinggal membawanya kembali dan memperlihatkannya pada para pemegang saham.


"Mike, kau sudah memastikan semuanya tidak ada yang terlewat kan?" tanya Revan.


"Sudah Tuan, orang-orang itu sudah dibawa tempat yang tidak mungkin anak buat Danu bisa menemukan." Mike sudah memastikannya.


"Baguslah, aku sudah ingin pulang," ujar Revan menyenderkan punggungnya di sandaran sofa.


Mereka sedang di penginapan, urusan bangunan yang ambruk sudah hampir rampung jadi Revan dan Mike tidak perlu lagi ke lokasi. Hanya perlu memantaunya lewat orang yang sudah di percaya.


Tidak anda saja yang ingin pulang, aku juga sangat ingin segera pulang. Gumam Mike dalam hatinya.


"Mike nanti sore suruh orang untuk membagikan sembako untuk warga sekitar. Selama kita disini, mereka sudah sangat baik pada kita. Mereka tidak mau menerima uang, jadi dalam bentuk sembako mungkin mereka mau menerima," ujar Revan.


Revan tidak mau berhutang budi pada warga yang sudah begitu baik. Meski mereka bilang ikhlas karena Revan sudah banyak memberikan lapangan pekerjaan di desa itu, tapi Revan bukanlah orang yang suka memanfaatkan keadaan.


"Baik Tuan, apa ada lagi?" tanya Mike.


"Panggil koki dan kita akan masak besar, nanti undang warga untuk datang untuk makan malam perpisahan sekaligus terimakasih." Revan mengotak-atik ponselnya, sedang berkirim pesan dengan istrinya. Mengabari jika besok ia akan pulang.


"Baik Tuan, saya akan mengurusnya." Mike baru saja mau pergi tapi balik lagi karena ada hal yang mau ia tanyakan.


"Tuan... bagaimana dengan para gadis-gadis itu, mereka pasti akan kecewa..." tutur Mike.


Sontak Revan mengangkat kepalanya dan memberikan tatapan tajam pada Mike.

__ADS_1


"Mereka sendiri yang mau mengirimkan makanan-makanan itu, aku juga sudah membayarnya. Kalau kau mau, kau saja yang ambil dari pada jadi jomblo terus," sindir Revan.


Maaf tuan tapi saya juga sudah punya, jawab Mike dalam hati.


"Sepertinya mereka lebih tertarik pada Anda, bagaimana kalau di jadikan istri siri saja." Mike kenapa si? Dia sedang mencari masalah sepertinya.


"Mike!! Cepat pergi..., atau kau saja yang aku nikahkan pada mereka." Revan mendengus kesal.


"Bagaimana kalau nona tau jika setiap hari anda dikelilingi para gadis, saya tidak bisa bisa berbohong kalau nona bertanya nanti." Setelah berkata seperti itu, Mike membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan Revan kesal setengah mati.


"Kenapa kau jadi menyebalkan begini Mike?!" umpat Revan.


Mike sebenarnya hanya tidak suka saja pada sikap tuannya yang baginya tidak tegas pada para gadis-gadis di desa itu. Bagaimana pun Revan sudah menikah, harusnya bisa lebih dingin dan tidak menanggapi para gadis itu seperti dirinya.


Mike tidak suka melihat tuannya seperti memberikan harapan pada gadis-gadis polos itu. Entahlah kenapa baginya bersikap sopan sama seperti memberikan kesempatan untuk mereka.


,,,


Revan seperti biasa dia bercengkrama dengan para warga berpamitan dan berterimakasih. Walaupun ada sebagian warga yang kecewa karena putri mereka tidak di pilih sebagai istri sang direktur. Tapi semuanya tetap menikmati makan malam itu.


"Terimakasih Tuan, berkat anda yang dulunya di desa ini banyak yang menganggur kini mereka jadi mempunyai mata pencaharian." Pak lurah selaku kepala desa sangat berterimakasih.


"Sama-sama pak, saya juga tidak melakukan apapun. Semua atas kemauan warga yang sangat antusias. Saya sangat berterimakasih karena warga di sini menyambut baik kedatangan saya dan anak buah saya." Tiada kata selain terimakasih yang Revan ucapkan. Beruntungnya bisa kenal dengan warga di sana yang begitu baik. Mungkin inilah cara Tuhan mempertemukan mereka.


Malam semakin larut, sebagian warga sudah pulang ke rumahnya. Apalagi yang membawa anak kecil, mereka harus pulang lebih dulu karena anaknya sudah mengantuk. Di susul para anak gadis karena konon katanya tidak baik kalau anak gadis pulang terlalu malam. Tinggallah anak-anak muda yang sedang nongkrong sambil bermain gitar dan bernyanyi, dan ada bapak-bapak yang masih asyik mengobrol.


Revan sangat menikmati suasana di desa seperti itu, di mana masyarakat saling berbaur tanpa pandang status sosial. Dia jadi teringat, istrinya juga tinggal di desa sebelum menikah. Apa di desa Rara juga seperti itu?

__ADS_1


"Jadi tuan Revan akan pulang ke kota besok?" tanya salah satu bapak-bapak. Padahal tadi Revan sudah menjelaskannya tapi hal itu tidak membuat laki-laki marah, dia tetap menjawabnya.


"Iya pak, urusan di sini sudah hampir selesai sisanya bisa diawasi dari jauh. Pekerjaan di kantor pusat juga tidak bisa terlalu lama ditinggal." Revan menjelaskan secara singkat.


"Ohh begitu, apa tuan tidak betah tinggal di kampung ini sampai buru-buru pulang ke kota?" tanya bapak yang lain penasaran.


"Saya sangat betah disini, apalagi warganya sangat ramah dan baik tapi ada tanggung jawab yang harus saya jalankan. Karena banyak orang yang bergantung pada perusahaan juga, ya seperti warga sini yang bekerja di proyek."


"Sudah-sudah ... kalian tidak akan mengerti, tuan Revan itu banyak pekerjaan nya tidak cuma disini jadi tidak mungkin di sini terus," ujar pak RT menengahi, memang ya sangat pantas menjadi pak RT. Orangnya sangat berwibawa dan tegas. Sekali beliau bicara, warganya langsung diam.


"Terimakasih pak, atas pengertiannya." Revan tersenyum penuh hormat sosok pak RT itu, dia cukup mengagumi cara beliau memimpin warganya.


"Sama-sama nak, oh iya... itu anak-anak tidak apa-apa nongkrong di sini. Takut mengganggu istirahat tuan-tuan, soalnya anak muda kalau nongkrong suka sampai pagi." Pak RT top banget, perihal yang menyangkut kenyamanan warganya saja ia pikirkan.


"Tidak apa-apa pak, biarkan saja mereka. Saya sudah biasa mendengar suara bising kendaraan di kota, jadi insyaallah tidak akan terganggu," ujar Revan.


"Terimakasih sekali lagi tuan Revan, anda sangat berjasa untuk warga di sini. Saya mewakili para warga juga berterimakasih atas sembakonya yang sudah kami terima. Apalagi makan malam ini sangat-sangat membuat warga senang bisa makan makanan orang-orang kaya," ujar pak RT, dia tertawa bersama bapak-bapak lainnya.


"Jangan berterimakasih seperti itu pak, seharusnya aku yang berterimakasih karena sudah banyak merepotkan selama tinggal di sini. Makam malam ini bukan apa-apa, sama sekali tidak bisa membalas kebaikan anda sekalian."


Revan senang melihat wajah para warga yang bahagia, dia kira awalnya mereka tidak akan suka dengan menu makanannya. Tapi setelah bertanya pada pak RT, beliau menyarankan makanannya yang aneh-aneh saja. Ya maksudnya seperti burger, pizza, steak dan yang lainnya, makanan seperti itu memang aneh bagi mereka karena bagi mereka dari pada membeli makanan seperti itu yang harganya mahal. Pasti lebih baik uangnya untuk membeli beras atau kebutuhan anak.


to be continue...


°°°


Babang akhirnya pada mau pulang juga nih...

__ADS_1


🤭🤭🤭


like komen dan bintang lima 😍😍😍


__ADS_2