Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
172. Perkara Melepaskan Celana


__ADS_3

°°°


Rara sudah membawa suaminya ke dalam kamar mereka yang beberapa Minggu ini sudah mereka tinggalkan.


"Kak Revan, mau langsung istirahat atau...?"


"Aku ingin mandi, di rumah sakit kau hanya membersihkan tubuh ku dengan kain lap. Tubuhku rasanya sangat bau dan lengket." Revan mengendus-endus bau tubuhnya sendiri.


"Mana kak, kak Revan wangi kok. Aku selalu membersihkan dengan benar," ujar Rara.


"Kemarilah lebih dekat, coba kau cium pasti bau."


Rara pun menurut, ia mendekat untuk dapat mencium bau tubuh suaminya. Namun, bukan Revan namanya kalau dia tidak punya niat terselubung pada sang istri. Baru saja Rara mendekat, Revan menarik lengan sang istri hingga terjatuh di pangkuannya.


"Kakak... apa yang kau lakukan, bagaimana kalau aku menyakiti kakimu?" Pekik Rara yang tidak habis pikir dengan suaminya.


"Bukankah kau ingin mencium dari dekat, dengan begini kau bisa merasakan sebau apa suamimu ini," ujar Revan berbisik di telinga Rara, tentu saja membuat Rara merinding merasakan hangatnya hembusan nafas sang suami.


"Kak, ini terlalu dekat. Aku tidak bisa mencium tubuhmu kalau begini." Eehhh seperti aku salah bicara.


"Oh ya, kalau begitu cium yang lain saja."


Revan menarik tengkuk istrinya hingga bibir mereka saling menempel. Awalnya Rara kaget dan sedikit menahan dada suaminya tapi kemudian dia mulai rileks saat sang suami mulai memberikan lumaataan kecil pada bibirnya.


Seketika kedua insan itu meluapkan segala kerinduan yang lama terpendam. Keduanya larut hingga ciuman itu semakin dalam dan menuntut. Tangan Revan pun mulai nakal dengan mengusap punggung istrinya dan sedikit demi sedikit bergerak ke bagian depan.


Rara yang merasakan tangan suaminya sudah mulai bergerilya pun tersadar kalau suaminya mulai terbawa suasana dan mulai bergairah.


Rara berinisiatif untuk melepaskan ciuman itu sebelum suaminya tidak bisa mengontrol dirinya, sementara saat ini kondisi kakinya membuatnya tidak mungkin untuk melakukan hubungan suami-istri.


"Kak... kakimu belum sembuh," ujar Rara dengan nafas memburu, dia menatap bola mata suaminya yang mulai berkabut gairah.


"Aku tau sayang, maaf aku tidak bisa mengontrol tubuhku." Revan mengusap bibir istrinya yang tadi sudah ia nikmati.


"Apa kakak jadi mandi?" tanya Rara sambil menahan malu.


"Jadi, aku ingin menyelesaikannya di kamar mandi," ujar Revan yang membuat Rara bingung tapi kemudian ia bangun dari pangkuan suaminya dan berjalan ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat.


Huhh... hampir saja aku lepas kendali. Atau minta Rara saja untuk membantu menyelesaikannya. Revan menatap ke arah bawah tubuhnya yang mulai terasa sesak.

__ADS_1


Tidak, bagaimana aku mengatakannya. Rara terlalu polos untuk mengetahui hal-hal seperti itu. Revan menggelengkan kepalanya, berperang dengan pikirannya sendiri.


"Kak, airnya sudah siap. Apa kak Revan bisa mandi sendiri?" tanya Rara dengan khawatir.


"Aku bisa, kau tunggu saja di sini." Revan akhirnya mencoba untuk mandi sendiri, takutnya kalau Rara ikut masuk dia tidak bisa menahan hasratnya lagi.


Rara menunggu dengan khawatir di depan kamar mandi, takut suaminya terjatuh atau terjadi sesuatu.


"Kak, apa kau bisa?" tanya Rara.


Revan di dalam sedang mencoba membuka celananya, kalau membuka baju masih mudah tapi celana cukup membuat nya kesusahan. Untuk berdiri saja harus berpegang, butuh perjuangan untuk bisa berhasil melepaskan seluruh pakaiannya.


Arhhhggg kenapa aku tidak menggunakan celana pendek saja. Kalau tau susah begini mending menggunakan sarung saja malahan biar lebih gampang membukanya. Revan frustasi sendiri.


"Kak, bagaimana apa kau butuh bantuan." Rara masih setia di depan pintu takut suaminya membutuhkan bantuan.


Sepertinya memang aku tidak bisa sendiri. Revan akhirnya memilih untuk meminta bantuan pada istrinya.


"Sayang apa kau masih disana. Apa kau bisa membantuku." Teriak Revan.


"Aku disini kak, aku akan masuk untuk membantu." Sejenak Rara mencoba menetralkan degup jantungnya sebelum memasuki kamar mandi. Walaupun gugup tapi dia tidak mungkin membiarkan suaminya yang butuh bantuan di dalam sana.


Rara meyakinkan hatinya. Kalau di rumah sakit selama ini Rara hanya membersihkan bagian atas dan kaki suaminya saja, sementara bagian itu Rara melewatinya dan Revan yang akan membersihkan sendiri di kamar mandi. Dan jika mandi berarti Rara harus melihat semuanya, bagian tubuh suaminya tanpa terkecuali.


Belum masuk saja wajah Rara sudah memerah.


Ceklek


Perlahan Rara membuka pintu kamar mandi.


"Kak, aku masuk."


"Kemarilah, aku tidak bisa melepaskan celanaku..." ujar Revan seraya sedikit gugup. Walau bagaimanapun Revan juga malu kalau sampai sang istri yang melepaskan celananya.


Rara yang mendengar juga semakin gugup. Walaupun sudah pernah melihat tubuh suaminya dalam keadaan polos tapi berbeda suasana.


Dengan jantung yang berdetak tidak karuan Rara pun mendekat untuk membantu suaminya. Terlihat Revan sudah membuka celananya dan tinggal melepaskannya. Ya sebagian tentu sudah terlihat terbuka dan memperlihatkan dala*mannya.


Sontak Rara pun memalingkan wajahnya melihat itu semua.

__ADS_1


"Biar aku bantu kak," ujar Rara yang sudah berjongkok di depan suami untuk melepaskan celana lacnut yang membuat dua manusia itu salah tingkah.


Revan memejamkan matanya saat jari-jemari Rara menyentuh nya. Ada rasa berdesir yang hebat hingga membuat sang adik kecil memberontak.


Tidak jangan sekarang, mengertilah kau tidak bisa melakukannya sekarang. Revan mencoba mengendalikan dirinya.


Rara juga tidak sengaja melihat sesuatu yang membuat nya menegang. Bagaimana tidak saat ini wajahnya berada tepat di depan milik suaminya yang jelas tengah membesar. Dan Rara pun mengangkat kepalanya untuk melihat suaminya, terlihat jika sang suami sedang menahan sesuatu dan Rara tau itu.


"Kak ini...,"


"Jangan pedulikan, lepaskan saja celananya. Setelah itu kau cepat keluar dari sini," ujar Revan cepat agar sang istri segera membantunya dan segera keluar dari sana.


Rara pun segera melakukan apa yang suaminya suruh. Akhirnya celana panjang itu sudah bisa terlepas dan di hadapan Rara saat ini terpampang tubuh suaminya yang penuh otot yang hanya di tutupi celana segitiga saja.


Rara harus menelan ludahnya berkali-kali saat ini. Tidak munafik kalau saat ini Rara sangat ingin menyentuh otot-otot itu. Padahal di rumah sakit sudah sering menyentuhnya saat sedang mengelap tapi rasanya ini beda.


"Apa sudah? Kau bisa keluar sekarang, aku akan mandi sendiri," ujar Revan.


Sementara Rara masih mematung melihat pemandangan didepannya tanpa berkedip.


"Sayang... kau mendengarku?" Revan melambaikan tangannya dan membuyarkan lamunan istrinya.


"Ehh iya kak, apa kak Revan butuh bantuan lagi?" tanya Rara.


"Sebenarnya ada tapi aku tidak yakin kau mau membantu," ujar Revan seraya meraih handuk.


"Apa itu kak, katakan saja aku pasti mau bantu."


"Benarkah? Kau mau membantu?" tatap Revan dengan senyum semirknya.


to be continue...


°°°


Author nggak kuat mau lanjutin nih🙈🙈


Skip aja ya🤭


Like komen dan bintang lima 😍😍

__ADS_1


Gomawo ❤️❤️❤️


__ADS_2