Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
227. Berproses


__ADS_3

°°°


Revan memperhatikan putrinya yang sedang menyusu. Lucu sangat lucu saat mulut mungil bayi itu bergerak men ghisap ASI.


"Dia lucu sekali, ya ampun kenapa mulutnya mungil sekali si putri papah." Revan gemas dan terus mengganggu putrinya.


"Jangan diganggu dong kak," kesal Rara karena terus diganggu sejak tadi putrinya tak kunjung tertidur padahal dirinya sudah lelah.


"Kenapa sayang, aku hanya terlalu gemas padanya."


Rara hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya.


Suami istri itu pun menikmati setiap momen kebersamaan mereka dengan putri kecilnya yang melengkapi kebahagiaan mereka.


Hingga keesokan harinya.


Sang sahabat, Lia. Baru datang menjenguk karena baru tau kalau temannya telah melahirkan.


"Kenapa tidak ada yang memberitahuku kemarin, aku jadi telat melihat ponakan kecil ku ini." Lia tentu saja langsung menggendong Arin begitu datang. "Keponakan cantik aunty... kamu gumuuussss sekali sayang...," celoteh Lia sambil menggendong Arin.


"Tidak apa-apa, yang penting sekarang kan sudah lihat putriku," sahut Rara yang sejak tadi memegangi telinganya, dihukum oleh sang sahabat karena lupa tidak memberitahu kabar bahagia itu.


"Ehh... stop! siapa yang menyuruhmu berhenti. Tetap letakan tanganmu seperti tadi!" titah Lia.


"Ya ampun Li, apa kau tidak kasihan padaku yang masih lemah ini. Bagaimana kalau nanti aku tidak punya tenaga untuk menyusui Arin." Rara memasang wajah memelas, berharap sang sahabat mau mengampuninya.


"Siapa suruh kamu selalu melupakan ku sekarang," sahut Lia cemberut.

__ADS_1


"Aku janji lain kali tidak akan melupakan mu lagi, ya ya ya... maaf Lia sayang...," bujuk Rara pada temannya.


"Baiklah karena kau sudah melahirkan keponakan yang sangat cantik dan menggemaskan, aku maafkan kali ini. Tapi lain kali tidak akan."


"Siap bos..."


Mereka pun tertawa bersama, menertawakan tingkah mereka sendiri yang masih sangat suka saling ledek dan cemberut. Namun terlepas dari itu semua, mereka adalah sahabat yang saling menyayangi dan melindungi. Tempat berbagi cerita, tertawa dan menangis bersama.


,,,


Sementara di ruangan lain.


Sakka dan Revan memilih untuk menepi dari para wanita di sofa ruang tunggu, karena memang ruangan Rara dilengkapi dengan kamar rawat yang luas dan ada juga ruang tunggunya. Tentu saja untuk membicarakan pekerjaan karena sekarang perusahaan mereka menjalin kerjasama.


"Apa kau yakin kalau ini akan berhasil?" tanya Revan pada Sakka.


"Aku yakin, karena di tempat ini sangat strategis dan tidak terlalu jauh dari perkantoran dan pusat kota. Biaya sewa rumah di pusat kota sangat mencekik, para karyawan biasa pasti tidak akan sanggup menyewa hunian yang nyaman dengan fasilitas yang lengkap dan pastinya harganya harus pas di kantong."


Revan cukup terkesan dengan gagasan yang Sakka miliki, walaupun baru dalam dunia bisnis tapi sudah punya ide-ide yang bagus. Karena itulah Revan sama sekali tidak ragu saat Sakka menawarkan kerjasama.


"Aku juga sependapat dengan mu, ide ini sangat cemerlang. Semoga saja bisa mewujudkan harapan kita dengan menciptakan hunian ramah di kantong."


Sakka sangat senang karena Revan setuju dengan idenya. Dimana perusahaan lain menertawakan idenya yang katanya mustahil tapi Revan justru menerima dan sependapat. Sakka berjanji tidak akan mengecewakan kepercayaan yang telah temannya berikan padanya.


"Terimakasih karena kamu selalu percaya padaku, awalnya aku pikir ide ini hanya angan karena tidak ada yang mau percaya. Sampai aku mengesampingkannya dan mengutamakan keinginan investor. Tapi kini aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan anganku itu dan membuktikan pada semua orang kalau hal yang tidak mungkin pasti bisa terwujud kalau kita mau berusaha."


Sakka mungkin telah sukses sekarang tapi bukan berarti jalan yang ia lalui mudah. Banyak tantangan dan rintangan untuk mencapai itu semua.

__ADS_1


"Kamu memang mewarisi jiwa bisnis ayahmu. Aku yakin kelak kau akan bisa sukses seperti ayahmu dan dikenal dengan namamu sendiri," puji Revan.


"Aku belum sebaik ayah yang sudah banyak makan garam. Karena itulah aku tidak pernah menyerah saat gagal karena dari situlah aku berproses, memperbaiki kesalahanku sebelumnya," Sakka merapikan kertas-kertas yang tadi berserakan di atas meja.


"Aku saja tidak mungkin bisa seperti mu. Mendirikan perusahaan sendiri dan memulai semuanya dari nol." Revan tidak menyangka akan perubahan Sakka yang dulu suka berfoya-foya dan taunya hanya main, kini bisa sangat mandiri dan juga gigih.


"Aku masih harus banyak belajar darimu yang lebih berpengalaman. Aku juga percaya kalau setiap usaha pasti akan ada resikonya dan aku sudah siap dengan itu semua. Karena aku percaya rugi, gagal, atau untung adalah bagian dari bisnis." Sakka menyerahkan berkas-berkas yang berisi kerjasama mereka untuk proyek selanjutnya.


"Tapi aku masih heran kenapa kamu tidak meneruskan bisnis ayahmu saja yang jelas sudah sukses dan stabil?" tanya Revan, dia menyandarkan tubuhnya ke belakang dan menunggu jawaban.


"Sebenarnya sederhana saja, aku ingin belajar dari bawah dengan menghadapi berbagai kesulitan. Sampai aku layak menggantikan posisi ayahku. Kalau aku terima enaknya saja meneruskan jerih payah ayahku maka kelak kalau aku menemui kesulitan atau kegagalan aku tidak akan bisa bangkit lagi karena aku tidak tau caranya," ujar Sakka sedikit menarik sudut bibirnya ke atas saat melihat istrinya sedang menggendong putri teman mereka.


"Dan karenanya juga aku melakukan ini semua, agar aku lebih gigih darinya. Lebih dewasa dan menjadi pelindungnya." Mata itu masih menatap sang istri penuh cinta. Cinta yang mungkin sudah semakin besar dari sebelum mereka menikah.


"Terkadang memang kita akan berubah menjadi lebih baik saat kita bertemu dengan orang yang tepat," Revan pun sama manik matanya menatap sang istri dari kejauhan karena memang pintu kamarnya tidak tertutup. Wanita yang kemarin baru saja memberikan kebahagiaan berkali-kali lipat dengan melahirkan putri kecil mereka yang diberi nama Arini Putri Herwaman.


,,,


Hingga sore menjelang.


Lia dan Sakka baru saja pergi. Kini hanya tinggal sepasang suami istri dan putri kecil mereka di ruangan itu. Tak bosan-bosannya mereka memandangi wajah mungil yang menjadi sumber kebahagiaan keluarga.


"Apa kau tau Sayang, dulu aku selalu ingin adik perempuan. Saat aku belum mengerti kalau membuat bayi butuh dua orang yang berperan di dalamnya." Revan yang duduk di samping istrinya pun membelai pipi putrinya. "Dulu aku pikir ibu bisa memberiku adik tapi ternyata harus ada ayah juga untuk mewujudkan keinginan ku." Mata Revan mulai berkaca-kaca, mungkin selama pernikahan mereka baru kali ini Revan membahas almarhum ibunya dengan sang istri. Rara pun tidak pernah bertanya karena tidak ingin mengingatkan suaminya pada kesedihannya.


to be continue...


°°°

__ADS_1


like komen dan bintang lima 😍


Gomawo 🤗


__ADS_2