
°°°
Sejak kejadian semalam Rara tidak berani menyapa suaminya, rasa malu menyelimuti perasaannya.
Revan pun sama, dia tidak berkata apa-apa lagi pada istrinya.
Ada apa dengan keduanya?
Hari ini Rara sudah mulai berangkat kuliah lagi, dia merasa tubuhnya sudah membaik. Ia tidak ingin terlalu banyak tertinggal pelajaran dan mengecewakan orang-orang terdekatnya.
"Apa kau yakin mau berangkat?" tanya Revan tiba-tiba, membuat Rara cukup terkejut.
"Iya Kak, aku sudah sembuh. Lebih baik berangkat kuliah dari pada di rumah terus tidak melakukan apa-apa," ujar Rara, ia sangat bersyukur mempunyai suami dan kakek Tio yang sangat perhatian. Tapi ia tidak diijinkan melakukan apapun di rumah dan hal itu cukup membosankan.
"Apa kau tidak bahagia tinggal di rumah ini?" Pertanyaan apa yang Revan tanyakan itu, bagaimana bisa ia menyimpulkan perkataan istrinya menjadi begitu.
"Bukan begitu Kak, aku sangat bahagia bisa tinggal di rumah ini. Apalagi ada kakek yang sayang padaku dan ada kak Revan yang sangat memperhatikan ku. Maksudku, aku merasa bosan berdiam diri di rumah Kak," terang Rara, menjelaskan maksudnya.
"Lalu apa kau bahagia menjadi istriku?" Tanya Revan lagi, kenapa pagi ini sepertinya dia sangat sensitif terhadap istrinya.
Rara juga terkejut dengan pertanyaan itu, tapi ia tetap berusaha menjawabnya.
"Aku bahagia menjadi istri kak Revan, aku juga sangat bersyukur mempunyai suami seperti kakak." Rara berkata apa adanya, tidak ada yang dibuat-buat. Dia memang bahagia, terlepas dari apa yang sudah berlalu biarlah berlalu. Rara tidak ingin menyimpan luka dihatinya, berdamai dengan keadaan adalah cara terbaik untuk membuat kita bahagia tanpa perasaan was-was.
"Terimakasih, sudah mau bersabar menjadi istriku." Revan membawa Rara dalam pelukannya, lelaki itu sangat menyesali perbuatannya kemarin. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, akan memperbaiki semuanya dan belajar menjadi suami yang baik untuk istrinya.
Rara pun membalas pelukan suaminya, saling memberikan kehangatan dan kasih sayang. Tidak peduli apa yang sudah diperbuatnya dimasa lalu, selama mau berubah dan memperbaiki diri, Rara ikhlas memaafkannya.
Setelah beberapa saat mereka menarik diri dan membuat jarak. Revan memandangi wajah istrinya lamat-lamat dan Rara tersipu malu.
"Maafkan aku Kak, aku kira kamu marah karena tadi malam aku mencium pipimu tanpa ijin." Rara tertunduk malu, ia tidak terbiasa membahas hal seperti itu.
__ADS_1
Revan terkekeh mendengar perkataan istrinya, bagaimana mungkin dirinya marah. Yang ada malah dia ingin mendapatkannya lagi.
"Untuk apa aku marah, kamu bisa menciumku sepuasmu tanpa perlu meminta ijin dariku. Tubuhku adalah milikmu, dan tubuhmu adalah milikku. Kita sudah sah di mata hukum dan agama, semuanya halal untuk kita." Revan tersenyum simpul, menatap istrinya.
Kali ini Rara juga setuju dengan ucapan suaminya, mereka mau melakukan apa juga tidak masalah. Namun tiba-tiba ia teringat akan kewajibannya sebagai seorang istri yang sampai sekarang belum ia jalankan.
Apa nanti jika sang suami meminta haknya Rara setuju? Tentu ia setuju, karena memang itu kewajibannya. Selain itu juga karena perasaan mereka sudah sama-sama jelas.
"Apa yang kamu pikirkan?" goda Revan yang melihat pipi istrinya memerah.
"Tidak ada kak, tapi kenapa kak Revan mendiamkan aku dari semalam?" lirih Rara saat mengingat sikap suaminya yang membuat ia merasa bersalah.
Revan tertawa kecil mendengar ucapan istrinya lagi. Tidak menyangka jika Rara akan menganggapnya sedang marah. Padahal ia sedang tidak percaya dengan apa yang ia alami, kesalahannya selama ini dibalas dengan hal manis dari istrinya.
"Jadi kau menyangka aku marah semalam?" tanya Revan dan Rara mengangguk.
"Aku diam karena rasanya tidak percaya dan merasa itu hanya sebuah mimpi, sampai aku berdoa jika itu mimpi maka jangan bangunkan aku dari mimpiku. Aku malu atas perbuatanku, kau bahkan tidak membalasnya sedikitpun. Malah memberikan ku hal yang manis."
"Boleh aku jujur?" tanya Revan memandang wajah istrinya.
"Aku justru ingin selalu mendapatkan ciuman dari mu, tapi aku tidak mau serakah. Asal kamu bersedia memaafkanku dan tetap menjadi istriku saja aku sudah sangat senang."
Revan yang banyak menorehkan luka dalam ikatan pernikahan mereka, tentu tidak meminta hal yang muluk-muluk. Asalkan sang istri tetap disampingnya itu cukup, tapi jika nanti kedepannya hubungan mereka semakin dekat ia tak akan menolak
"Kak...," lirih Rara, ia sangat bahagia hingga terharu. Rasa bahagia menyeruak dalam dada, mengalir dalam aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh.
Inikah pelangi yang Tuhan janjikan pada hambanya yang bersedia bersabar. Jika iya maka Rara sudah mendapatkannya. Perlahan hidupnya dihiasi warna warni kebahagiaan.
"Mari kita menjalani hidup lebih baik lagi kedepannya, apa kau bersedia?" tanya Revan dengan penuh perasaan. Ia berjanji kedepannya akan selalu menghiasi wajah cantik itu dengan senyuman.
Rara menganggukkan kepalanya, dengan senang hati ia bersedia.
__ADS_1
Keduanya berpelukan kembali, ingin rasanya menghabiskan waktu hanya berdua seperti ini. Tapi keduanya punya tanggung jawab sendiri yang tidak mungkin ditinggalkan.
Revan harus segera berangkat ke kantor, walaupun berat meninggalkan istrinya. Kali ini ia tidak mengantarkan Rara ke kampus karena sang istri masuk agak siangan.
Rara mengantarkan suaminya hingga ke depan rumah. Ada yang lucu bagi Rara saat mengingat sang suami merajuk tidak mau berangkat ke kantor. Tidak menyangka suaminya yang tampan mempunyai sisi seperti itu.
"Aku berangkat dulu," pamit Revan dengan rasa berat, seolah nanti tidak bisa bertemu lagi dengan sang istri.
"Iya Kak, hati-hati di jalan dan jangan mengebut," ujar Rara seraya mencium tangan suaminya. Senyuman manis Rara sedikit mengurangi perasaan kesal suaminya.
"Kabari jika sudah sampai di kampus, nanti aku usahakan untuk menjemputmu." Pesan Revan penuh kekhawatiran, rasanya berat tidak mengantarkan sendiri istrinya.
"Iya Kak, kak Revan harus semangat kerjanya. Tidak usah terlalu mengkhawatirkan aku," tukas Rara.
Revan pun meraih kepala istrinya lalu mendaratkan kecupan di keningnya.
"Aku pergi." Revan masuk kedalam mobil, tersenyum pada sang istri kemudian mulai melajukan mobilnya.
Rara pun tersenyum seraya melambaikan tangannya. Ini pertama kalinya mereka melakukan ritual perpisahan semanis itu. Walaupun nantinya juga bertemu lagi di rumah, tapi bagi mereka yang baru merajut kasih pastilah sangat berat. Jika tidak mengingat pekerjaan dan para karyawan yang bergantung pada perusahaan, pasti Revan lebih memilih untuk berduaan saja dengan istrinya.
Sabar Revan, kau bisa memeluk istrimu sepuasnya nanti malam. Revan berusaha menyemangati dirinya sendiri.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
__ADS_1
...Sehat selalu pembacaku tersayang...