
°°°
Beberapa bulan kemudian.
Semuanya hampir berjalan normal dengan kehidupan mereka masing-masing.
Revan yang semakin menyayangi istrinya yang sedang mengandung, Lalu ada kakek Tio yang selalu excited jika itu menyangkut calon cicitnya.
Bahkan sebuah kamar bayi super mewah dengan berbagai perlengkapannya serta mainan bayi yang juga berkelas sudah kakek Tio siapkan untuk cicitnya kelak.
"Kak, apa tidak berlebihan kamar untuk anak kita nanti?" tanya Rara yang saat ini sedang bersandar di dada bidang suaminya.
"Apa kau bisa menghentikan kakek? Biarkan saja Sayang, selama hal itu bisa membuatnya bahagia." Revan punya hobi baru sekarang yaitu mengusap-usap perut istrinya yang sudah membuncit.
"Sayang, dia menendang." Revan begitu bahagia setiap kali janin yang ada dalam perut sang istri meresponnya.
Sementara Rara hanya meringis saat anaknya yang memang selalu terasa heboh saat ada di dekat ayahnya. Padahal biasanya saat tidak ada Revan anaknya tidak terlalu banyak bergerak tapi saat sang suami mengusap perutnya sang anak langsung banyak bergerak di dalam perut.
"Sepertinya dia sangat suka diusap oleh ayahnya," ujar Rara.
"Kau benar, setiap kali aku menempelkan tangan ku, dia selalu bergerak seolah mengatakan kalau dia merindukan ku."
Revan sedikit bangun lalu mensejajarkan kepalanya dengan perut sang istri.
"Hallo sayangnya papah. Apa kamu merindukan papah?" tanyanya lalu dia menempelkan telinganya pada perut sang istri seperti sedang mendengarkan jawaban dari anaknya di dalam sana.
"Apa katanya kak?" tanya Rara.
"Katanya dia merindukan papahnya dan ingin dijenguk sayang," ujar Revan dengan seringai tipis di wajahnya.
"Kan tadi sudah Kak," rengek Rara. Ya mereka memang baru saja selesai melakukan pergulatan panas dan tubuh keduanya juga masih sama-sama polos.
"Sayang apa kau tidak ingat kata dokter kalau kita harus sering melakukannya. Tenang saja, aku tidak akan membuatmu kelelahan. Kau tinggal diam saja dan pasrah."
__ADS_1
Belum sempat Rara protes tapi Revan sudah lebih dulu menyingkap selimut yang menutupi tubuh mereka. Lalu mulai menyentuh titik-titik sensitif istrinya dengan lembut dan membiarkan sang istri merasa rileks.
Beberapa saat kemudian, keduanya benar-benar melakukan penyatuan untuk yang kedua kalinya malam itu. Tapi seperti kata Revan tadi, Rara tidak terlalu kelelahan karena hanya berdiam diri di bawah dan menikmati sentuhan suaminya.
Hingga mereka tertidur dengan saling berpelukan.
,,,
Paginya di sebuah taman kecil.
Seorang wanita yang sama-sama berperut buncit sedang duduk di taman bersama suaminya.
"Mike terimakasih kau sudah bertahan untuk kami," ujar Febby.
"Seharusnya aku yang berterimakasih padamu karena kau tetap berada di samping ku saat aku dalam keadaan koma hingga sekarang," sahut Mike.
Mereka menatap penuh cinta dan kasih sayang. Cinta keduanya kini benar-benar kuat setelah melewati berbagai rintangan. Ya mereka Febby dan Mike yang kini juga mendapatkan kebahagiaan mereka.
Mereka telah menikah setelah Mike sadar saat itu. Walaupun kini keadaan Mike masih dalam proses penyembuhan dan masih duduk di kursi roda tapi Febby tetap mencintai nya. Dia selalu merawat Mike seorang diri dari waktu masih di rumah sakit hingga kini.
"Besok kita ke rumah sakit untuk terapi dan juga cek keadaan baby boy, aku sudah tidak sabar melihatnya lahir ke dunia ini." Febby mengusap perutnya.
"Aku juga sudah tidak sabar melihat anak kita, dia pasti bangga punya ibu seperti mu." Mike juga meletakkan tangannya di atas tangan istrinya.
"Terimakasih sudah hadir di hidup ku Mike, mungkin kalau aku tidak bertemu dengan mu, aku masih jadi Febby yang dulu. Febby yang penuh dosa dan kemak siatan," ujar Febby.
"Aku yang beruntung karena bertemu dengan mu, wanita yang baik dan sabar mau menunggu dan menemani ku." Mike membawa Febby dalam pelukannya.
"Ayo kita pulang, sepertinya sarapan sudah siap. Biar aku bantu." Febby pun memapah Mike ke kursi roda.
"Tidak usah di dorong sayang, biar aku sendiri saja. Aku tidak mau kamu kelelahan," cegah Mike saat Febby akan membantu mendorong kursi roda yang ia naiki. Dengan perut yang sudah besar pasti untuk berjalan saja berat, Mike tidak ingin beban Febby bertambah dengan mendorongnya kemana-mana.
Febby yang mengerti akan kekhawatiran suaminya pun menurut, lalu dia berjalan di sisi suaminya yang sedang menjalankan kursi rodanya menggunakan tombol yang ada di pegangan kursi roda itu. Beruntungnya saat ini teknologi sangat canggih sehingga pengguna kursi roda tidak perlu repot-repot memutar roda kursi itu sendiri menggunakan tangan, kini cukup dengan menekan tombol pengaturan semua bisa berjalan.
__ADS_1
Perjalanan dari taman sampai ke rumah butuh waktu sekitar sepuluh menit. Setiap pagi Febby memang akan berjalan-jalan di sekitar rumahnya oleh anjuran dokter dan Mike akan menemani nya.
Namun tiba-tiba di hadapan mereka di sebrang jalan ada seorang anak kecil lari ke tengah jalan untuk mengambil bolanya. Sang orang tua anak itu pun memekik karena dari sisi kanan datang mobil dengan kecepatan tinggi.
Febby dan Mike pun melihatnya tapi mereka juga bingung mau bagaimana. Seketika tanpa pikir panjang Febby berlari dan mendorong anak itu ke pinggir tapi naasnya dirinyalah yang tertabrak mobil itu.
Walaupun sang pengemudi sudah mencoba mengerem tapi karena mobilnya sedang melaju kencang jadilah dia tidak bisa berhenti sebelum mengenai tubuh Febby.
Brakk!!!
Tubuh Febby pun tak bisa menghindar tak kala mobil itu sudah di depan matanya. Febby hanya bisa memejamkan matanya dan berusaha melindungi perutnya. Tak lupa dia juga berdoa agar anaknya bisa selamat.
"Tidak!!... Febby...." Mike berteriak, saat di depan mata kepalanya sendiri Febby tergeletak dengan bersimbah darah.
"Febby..., tidak... tolong selamatkan mereka!!"
Mike yang tidak berdaya terus berteriak sambil memukul-mukul kakinya yang tidak berguna. Di saat seperti itu justru dia tidak bisa berbuat apa-apa. Hancur sudah dunianya saat ini. Langit seakan runtuh menimpanya.
Orang-orang yang ada di sekitar sana pun langsung berlarian untuk menyelamatkan Febby.
"Astaghfirullah, ada darah mengalir di kakinya. Semoga anaknya bisa selamat," kata salah satu orang yang saat ini melihat keadaan Febby yang masih tergeletak.
Lagi-lagi Mike terpukul saat mendengar hal itu, dia pun mencoba bangkit dan memaksa kakinya untuk berjalan. Saat ini menyalahkan diri sendiri bukanlah hal yang penting. Yang terpenting saat ini adalah menyelamatkan orang yang ia cintai dan calon anak mereka yang belum terlahir ke dunia ini.
Ayo Mike kau pasti bisa, mereka sedang membutuhkan mu saat ini.
Dengan berjalan terseok-seok Mike menembus kerumunan orang dan segera menghampiri Febby. Tidak peduli betapa sakit kakinya saat ini, Mike tetap berjalan.
"Cepat siapkan mobil!!"
to be continue...
°°°
__ADS_1
Like komen dan bintang lima 😍
Gomawo ❤️❤️