Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
46. Bolehkah?


__ADS_3

°°°


Revan hampir lupa dengan masalahnya dengan Rara yang terjadi di mobil tadi siang. Sibuk mengkhawatirkan kedatangan mertuanya, Revan melupakan semuanya.


Padahal ia sudah berniat mencari tau, tapi dari Febby yang tiba-tiba sakit perut lalu berita mertuanya datang membuat kepalanya nyut-nyutan.


Walaupun Revan lupa tapi ia yakin dan percaya jika istrinya tidak melakukan apa yang Febby katakan tadi. Namun, ia tidak menyangka jika perbuatannya yang tidak membela istrinya ternyata sangat menyakiti perasaannya.


"Tolong jangan menangis lagi, aku benar-benar minta maaf karena sikapku telah menyakiti hatimu. Bukannya aku percaya padanya tapi aku tidak punya bukti untuk membelamu. Kalaupun aku menyangkal apa yang dia katakan itu percuma, dia tidak akan berhenti memfitnah mu."


Revan tidak tau lagi bagaimana menjelaskan pada sang istri, lagi-lagi ia menjadi penyebab air matanya mengalir.


Sementara Rara terus memalingkan wajahnya, ia enggan bersitatap dengan suaminya. Melihat matanya hanya mengingatkan Rara pada tatapan suaminya yang menunjukkan jika ia tidak percaya padanya.


"Apa kau mau memaafkanku?"


"Aku sudah memaafkan Kakak, bahkan sebelum kak Revan meminta maaf," ujar Rara.


Revan semakin merasa bersalah pada istrinya.


"Aku keluar dulu, mau melihat umi dan Abi."


Rara membalikkan tubuhnya, ia ingin keluar dari kamar itu.


Namun, tangan seseorang menahannya.


"Aku belum selesai menjelaskan," ujar Revan.


"Sudah jelas semuanya Kak, tidak ada yang perlu dijelaskan lagi."


Rara berusaha menarik tangannya.


Sayang sekali Revan tidak akan semudah itu melepaskan istrinya, sebelum semuanya jelas.


"Tolong lepaskan tanganku Kak," mohon Rara.


Bukannya melepaskan Revan malah menarik tangan istrinya hingga masuk dalam pelukannya.


"Maafkan aku, biarkan begini sebentar saja." Revan minta agar Rara tidak memberontak.


Rara yang tadi sempat menahan dada suaminya dengan tangannya, ia perlahan-lahan membiarkan Revan memeluknya meskipun ia tidak membalasnya sama sekali.


Rara juga merasakan kehangatan pelukan suaminya untuk pertama kalinya. Mereka diam saling menyalurkan perasaan, yang mereka sendiri tidak tau apa itu.


"Maafkan aku, maaf aku tidak bermaksud membuat hatimu terluka. Aku hanya ingin membantumu mencari bukti agar tidak ada yang memfitnah lagi. Jika aku mengatakan tidak percaya padanya dan bilang akan mencari bukti. Pasti dia bisa menyuruh orang untuk menghapus semua buktinya."


"Apa kamu mengerti?" tanya Revan seraya melepaskan pelukannya.


Ditatapnya wajah sang istri yang masih menunduk.


"Lihat aku Ra," perintah Revan.


Rara diam saja masih menunduk.

__ADS_1


Revan memegang wajah sang istri dengan kedua tangannya. Dia mengangkat kepalanya agar Rara menatapnya.


"Please, look at my eyes." Tatap Revan dalam.


Rara akhirnya memberanikan diri untuk menatap mata suaminya, membuat sudut bibir Revan sedikit terangkat.


"Jangan menangis lagi," ujar Revan seraya menghapus air mata yang masih saja mengalir di pipi sang istri dengan ibu jarinya.


"Dengar, aku percaya padamu. Sangat sangat percaya."


Tidak ada kebohongan dalam ucapan Revan saat ini, Rara lihat itu dari pancaran bola matanya.


Tangan Revan masih menangkup wajah istrinya.


"Marahlah jika kamu kecewa, lampiaskan kekesalan kamu padaku. Kamu boleh memukulku sepuasnya, tapi jangan lagi memalingkan wajah mu dariku."


"Dan satu lagi, ada yang aku aku bicarakan. Kamu ingat aku sudah berjanji untuk memulai hubungan kita dari awal?" Rara mengangguk.


"Jadi tadi aku pergi mengantarkan Febby belakangan karena ingin membicarakan itu, ingin mengakhiri hubungan yang memang tidak seharusnya terjadi. Hubungan yang seharusnya aku akhiri sebelum menikahi mu."


"Aku sadar sekarang, kamu adalah istri yang Allah kirimkan untukku. Kamu telah banyak mengubah hidupku. Kamu bagai pelangi yang hadir untuk aku dan kakek."


"Terimakasih karena sudah mau menerima perjodohan kita waktu itu, terimakasih karena sudah bersabar dan menjadi istri yang baik meski kamu terluka."


Revan mengutarakan isi hatinya saat ini, meski ia belum bisa mengartikan itu semua.


Sementara Rara, menatap lekat wajah suaminya. Perkataan Revan barusan membuat hatinya tersentuh. Sangat jelas sekali tatapan penyesalan di mata suaminya.


"Kak," ujar Rara dengan lembut, seraya menyentuh tangan suaminya yang masih menangkup wajahnya.


Rara memberikan tatapan yang meneduhkan pada suaminya. Seakan mengatakan jika semuanya baik-baik saja.


"Terimakasih sudah mau menjadi istriku. Bolehkah...."


Revan ingin kembali memeluk istrinya tapi ia ragu.


Rara menaikkan alisnya.


"Bolehkah aku memeluk mu lagi?" tanya Revan, ia takut istrinya tidak ingin dipeluk seperti tadi.


Rara menganggukkan kepalanya perlahan.


Revan begitu gembira melihatnya, setelah mendapatkan ijin dari istrinya ia langsung membawa Rara dalam pelukannya.


Kali ini Rara pun membalas pelukannya, membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


Beberapa saat mereka merasakan kehangatan yang mengalir dalam aliran darah. Revan bahkan seakan enggan untuk melepaskannya, ia semakin erat merengkuh tubuh istrinya. Seolah ia takut jika melepaskannya sekarang, tidak tau lagi kapan punya kesempatan untuk memeluknya.


"Kak... Kak Revan bisa tolong lepaskan, aku sesak," ujar Rara, sebenarnya ia juga tidak ingin menyudahi itu tapi Revan terlalu erat memeluknya hingga membuat ia sesak nafas.


"Maaf, maaf. Aku terlalu senang sampai tidak sadar." Revan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya kak, tidak apa-apa." Namun pipi Rara memerah saat ini.

__ADS_1


Keduanya sama-sama salah tingkah, hampir satu bulan hidup bersama baru kali ini mereka saling memeluk. Tidak tau lagi apa yang mau dikatakan.


"Kau mau menemui Abi?"


"Aku mau menemui Abi."


Keduanya membulatkan matanya, tapi sedetik kemudian tertawa karena mereka mengatakan kalimat yang hampir sama berbarengan.


"Kalau begitu aku keluar dulu Kak," ujar Rara.


"Mau menemui Abi dan Umi?"


"Iya," jawab Rara. Setelah itu Rara keluar dari kamarnya.


Revan membanting tubuhnya sendiri ke atas ranjang. Tersenyum sendiri membayangkan bagaimana ia tadi tidak ingin melepaskan istrinya. Padahal masih banyak waktu lain kali.


"Rara... terimakasih," gumamnya.


Ingatannya kembali pada mereka menjalankan ijab Kabul, Revan sedikit menyesal karena terlambat mengetahui betapa berharganya sang istri.


Di balik pintu, Rara sedang memegangi dadanya yang berdebar kencang. Sesuatu yang berhubungan dengan suaminya selalu membuatnya dag dig dug.


"Nak, kau sedang apa?"


Rara terkejut mendengar suara Kakek Tio tiba-tiba muncul.


"Kakek...."


"Kenapa kau terkejut seperti itu," heran kakek.


"Tidak apa-apa kek, aku tadi... sedang latihan mengatur nafas." Rara menjawab dengan asal dan itu membuat kakek tertawa.


"Kau itu ada-ada saja."


"Kakek mau aku buatkan teh?" tanya Rara.


"Boleh, sekalian juga buatkan untuk Umi dan Abi kamu. Bawa ke taman belakang."


"Baik Kek." Rara tersenyum.


"Kakek ke kamar dulu." Kakek berlalu menuju kamarnya.


Rara bernafas lega, untunglah kakek tidak bertanya yang tidak-tidak.


to be continue....


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....

__ADS_1


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2