Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
106. Aku Akan Menggugurkannya!!


__ADS_3

°°°


Disinilah Mike saat ini, duduk menunggu sampai wanita itu mengijinkannya masuk. Dia tidak bisa memaksakan kehendaknya pada wanita hamil, Mike tidak ingin membuat Febby merasa tertekan.


Aku akan memberimu waktu untuk berpikir, tapi aku tidak akan membiarkanmu untuk berpikir bisa lepas dariku. Aku tidak akan membiarkan anakku lahir tanpa ayah dan kekurangan kasih sayang.


Mike menengadahkan kepalanya ke atas sembari memejamkan matanya, sepertinya akan sedikit susah untuk membujuk wanita itu agar mau menikah dengannya. Namun, jika wanita itu masih menjadi Febby yang kemarin, Febby yang menyukai uang dan kemewahan. Tentu akan mudah bagi Mike menjadikan Febby sebagai istrinya.


Aku harap mamahmu masih menyukai uang, agar aku lebih mudah mendekatinya.


Harapnya seolah sedang bicara pada calon anaknya.


Tiba-tiba ia merasa rindu, rasa saat menyentuh perut Febby. Dia ingin bisa menyentuhnya lagi, tapi tidak mungkin wanita itu mengijinkannya dengan mudah.


,,,


Sementara di dalam ruangan, Febby tampak berpikir keras untuk masa depannya. Bagaimana bisa ia hamil dengan pria yang hanya bekerja sebagai asisten dari mantan pacarnya.


Febby, kau bodoh sekali bisa mabuk-mabukan sampai tidak sadar seperti itu. Apa yang harus aku lakukan sekarang, apa aku gugurkan saja janin yang ada di kandunganku ini.


Febby dilanda kebingungan. Mana yang harus ia pilih, melahirkan dan menerima pria itu atau gugurkan dan melanjutkan hidup seperti biasa.


Berapa banyak sebenarnya pria itu menyemburkan sp*rmanya, sampai aku langsung hamil. Tapi tunggu, jika pria itu adalah orang yang malam itu sudah memperkosaku. Itu berarti dia adalah pemilik kartu black card itu.


Febby tidak percaya dengan apa yang dipikirkannya sendiri. Bagaimana mungkin seorang assisten mempunyai black card.


Tidak mungkin dia kan, apa gaji sebagai asisten begitu besar?


Tapi kalau dipikir-pikir wajahnya juga sangat tampan, dia juga mau bertanggungjawab dan mungkin juga kaya. Apa aku menikah saja dengannya?


"Aaa... apa yang harus aku lakukan?" teriak Febby.


Sontak membuat Mike yang mendengar suara teriakkan Febby pun menyembulkan kepalanya.


"Ada apa, apa ada yang sakit?" tanya Mike,bisa tidak berani masuk lebih dalam.


"Pakai ditanya lagi, jelas karena perbuatan kamu aku jadi begini," gumam Febby, enggan melihat ke arah pria itu.


Mike malah mengulum senyum mendengarnya, saat kesal Febby tampak imut pikirnya.

__ADS_1


"Tutup lagi pintunya, aku tidak mau diganggu." Perintah Febby yang masih memalingkan wajahnya.


"Sampai kapan, jangan sampai menunggu perutmu membesar baru menikah," ujar Mike.


Sontak Febby mengerutkan keningnya mendengar perkataan pria itu yang terkesan percaya diri.


"Siapa juga yang mau menikah denganmu?" Febby kesal.


"Kalau tidak menikah denganku lalu siapa yang mau menikahi mu dalam keadaan hamil, atau kau mau merawat anak kita sendirian."


Terdengar menggelikan di telinga Febby saat pria itu mengatakan anak kita.


"Ck... aku tidak akan menikah denganmu dan tidak akan membesarkan anak ini." Tantang Febby. Dia ingin lihat apa yang apa dilakukan pria itu jika tau anaknya mau digugurkan.


Mike pun berjalan mendekat dengan penuh amarah. Bagaimana mungkin seorang ibu tega melenyapkan darah dagingnya sendiri.


"Apa maksud dari perkataan mu?" Tatapan tajam itu begitu menusuk Febby.


"A... ku tidak akan menikah denganmu," ujar Febby dengan terbata-bata.


"Ulangi kalimat yang ke-dua," perintah Mike.


Mike menggertakkan giginya, tangannya sudah mengepal kuat. Bahkan Febby sudah sangat ketakutan saat ini, tidak menyangka jika pria itu bisa menjadi sangat menyeramkan.


Mike benar-benar marah, rasanya ia ingin menghajar wanita didepannya agar tidak mengatakan hal yang sangat kejam seperti itu. Bagaimana bisa janin yang bahkan belum tercetak sempurna, mau di bunuh oleh ibunya sendiri.


"Kau...!!" Tangan Mike sudah menggantung di udara dengan kepalan yang kuat.


Febby yang melihatnya pun sontak menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Kalau pria itu sampai melayangkan pukulannya, bukan hanya janinnya yang tiada tapi juga dirinya.


Bugg... bugg...


"Aaa...," teriak Febby saat mendengar suara pukulan, tapi tunggu kenapa aku tidak merasa sakit.


Febby pun mengintip dari celah jari-jarinya. Matanya membulat saat melihat pria itu memukulkan tangannya ke dinding ruangan itu. Darah bahkan sudah mengalir akibat kerasnya pria itu memukul.


Mike yang tidak bisa menahan amarahnya lagi ternyata lebih memilih untuk melampiaskan amarahnya pada dinding. Tidak peduli dengan luka dan rasa sakit di tangannya, ia merasa tidak berguna sebagai laki-laki.


"Cukup!! Hentikan!!" pekik Febby dengan berderai air mata, entah kenapa ia ikut sakit melihat pria itu menyakiti dirinya sendiri. Mungkin itu karena ikatan antara janin dan ayahnya.

__ADS_1


Febby turun dari ranjang dan menghampiri Mike yang masih saja memukulkan tangannya. Dia memeluk laki-laki itu dari belakang.


"Apa yang kau lakukan, kau menyakiti tanganmu. Kau juga sudah membuat anakmu sedih." Runtuh sudah pertahanan Febby, dia yang biasa tidak peduli dengan orang lain dan begitu sombong. Kini ia merasa ketakutan saat ayah dari anaknya melukai dirinya sendiri dengan begitu kejamnya.


Mike yang merasakan pelukan hangat dari wanita yang telah membuatnya jatuh cinta sekaligus naik pitam itu pun menghentikan gerakan tangannya. Tapi ia masih diam tidak mengatakan apapun.


Sementara Febby masih terisak dibalik punggung pria yang tadi ia tolak.


Keduanya saling diam beberapa saat, hanya isakkan Febby yang terdengar. Sebegitu kuatkah ikatan diantara ayah dan anak itu hingga membuat Febby merasakan ikut sakit.


Mike yang sudah sedikit meredam amarahnya pun berusaha melepaskan lilitan tangan Febby di perutnya. Setelah terlepas ia pun melangkahkan kakinya menuju ke pintu untuk keluar dari ruangan itu.


"Tunggu," cegah Febby dengan menahan tangan Mike.


"Tanganmu terluka, biar aku obati lukamu." Apa ini masih Febby, kenapa mendadak dia begitu peduli dengan derita orang lain.


"Aku akan mengobatinya sendiri," ujar Mike dengan nada dinginnya dan tanpa menoleh.


Mike kembali melangkahkan kakinya, menarik tangannya dari genggaman Febby. Luka di tangannya tidak seberapa dibandingkan dengan sakit dihatinya saat Febby mengatakan akan menggugurkan calon anaknya.


Nyawa yang tidak berdosa dan tidak tau apa-apa, lalu mengapa harus ia yang dikorbankan.


Mike melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit itu. Membawa luka dan rasa bersalah.


Jika bisa memilih dari rahim siapa dia dilahirkan, dulu ia juga tidak ingin lahir dari wanita malam dan mempunyai ayah yang brengseek dan tidak bertanggungjawab.


Saat kini semua itu menimpa calon anaknya, ia tidak ingin anaknya mengalami hal yang sama. Tapi saat ia ingin memperbaiki keadaan. Wanita itu malah ingin melenyapkan janin yang tidak berdosa.


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....


...Sehat selalu pembacaku tersayang...

__ADS_1


__ADS_2