
°°°
Kini sepasang suami-isteri itu sudah berbaring di ranjang, saling berpelukan dan menikmati malam.
Revan bukan tidak mau melakukannya, tentu saja dia sangat ingin. Tapi tidak malam ini, butuh waktu yang leluasa bila ingin malam pertama mereka jadi berkesan. Sedangkan hari ini tubuhnya sudah begitu lelah dan besok masih harus lembur lagi. Ia tidak ingin terburu-buru hingga mereka berdua tidak bisa menikmati.
Ciuman tadi sudah cukup membuatnya hatinya ditumbuhi bunga-bunga, ia jadi tau jika sang istri sudah sungguh-sungguh menerimanya dari lahir maupun batin. Sekaligus siap menjadi ibu dari anak-anaknya.
"Terimakasih istriku, tidak ada kata selain terimakasih atas kesabaran mu. Kelak jika ujian datang menimpa kita akan menghadapi bersama."
Revan memandangi wajah istrinya yang sudah terlelap dalam pelukannya.
Siapkan diri kamu sampai nanti aku meminta hakku.
Setelah itu Revan pun memejamkan matanya, seraya memeluk istrinya mencari kenyamanan. Tidak butuh waktu lama jika sudah saling nyaman. Kedua telah mengarungi alam mimpinya.
,,,
Paginya seperti biasa, Revan berangkat sendiri karena lagi-lagi istrinya masuk kuliah siang.
Berulangkali ia menguap saat menyetir, pulang larut malam membuat seluruh tubuhnya pegal dan kurang tidur.
"Leherku sakit sekali," gumam Revan seraya memutar-mutar kepalanya, berharap rasa sakitnya sedikit berkurang.
Ini pasti enak sekali jika ada yang memijit.
Revan sambil memijit tengkuknya sendiri dan masih rasa kantuk yang hebat.
Sesekali bahkan Revan memejamkan matanya bila di rasa jalanan sedang lengang. Padahal istrinya sudah menyarankan agar ia memakai supir, karena Rara khawatir terjadi apa-apa dengan suaminya.
Revan sengaja melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karena ia sedang mengantuk. Ia berusaha membuka matanya lebar-lebar, agar mobilnya tidak menabrak orang lain.
Ayo buka matamu, Revano.
Revan bahkan memegangi kelopak matanya sendiri agar tidak menutup.
Namun, apa dayanya jika itu adalah ketentuan Tuhan. Mata Revan tetap saja tidak bisa ditahan.
Baru sebentar Revan memejamkan mata, didepannya sudah ada seorang wanita yang hendak menyeberang. Sontak Revan mendadak mengerem laju mobilnya .
__ADS_1
Cittt!!
Hampir saja, terlambat sedikit saja Revan menginjak rem. Pasti wanita itu sudah tidak bernyawa sekarang.
Sementara wanita yang hampir tertabrak itu sudah ketakutan setengah mati. Lututnya melemas, tidak bisa ia bayangkan jika nyawanya hilang saat ini, sedangkan putranya sedang menunggu kepulangannya.
Revan segera turun dari mobil untuk melihat keadaan wanita yang hampir ia tabrak.
"Apa anda tidak apa-apa Nona?" tanya Revan.
Jika dilihat wanita itu sama sekali tidak ada luka ditubuhnya, jadi ayu juga boleh makan sepuasnya.
"Tidak apa-apa Tuan, saya permisi dulu," ujar wanita itu, dia bilang tidak apa-apa tapi terlihat jelas jika wanita itu sedang ketakutan.
"Tunggu," cegar Revan. " Tunggu disini sebentar," ujar Revan, kemudian ia berjalan cepat ke arah pintu mobilnya dan mengambil tas kerjanya.
Revan mengambil beberapa lembar uang dan kartu nama.
"Walaupun kau tidak terluka tapi terima ini sebagai kompensasi dan kartu nama ini juga, kau bisa menghubungi ku jika nanti ada yang salah dengan tubuhmu." Revan tidak bermaksud apa-apa sungguh. Dia hanya merasa harus bertanggung jawab atas kelalaian yang ia buat. Kini ia menyesal karena tidak mendengarkan nasihat istrinya.
"Ini terimalah," ujar Revan lagi, karena wanita itu sama sekali tidak bergeming.
"Walaupun anda kaya tapi bukan berarti bisa seenaknya berkendara di jalanan, Tuan. Bagaimana jika tadi aku tertabrak dan kehilangan nyawa, tidak taukah anda ada keluarga yang menunggu. Saya harap anda belajar jika tidak semua bisa bisa diselesaikan dengan uang."
Wanita itu segera pergi dari sana meninggalkan Revan yang mematung.
Revan baru sadar jika wanita tadi sudah menghilang dari hadapannya.
Kemana wanita itu, kenapa juga dia menganggap aku seperti itu. Padahal aku hanya ingin memberi sedikit ganti rugi karena sudah membuatnya takut. Siapa juga yang mau menyelesaikan dengan uang.
Maafkan aku sayang, sepertinya aku kualat karena tidak mendengarkan nasihat mu tadi. Sudah hampir menabrak lalu terkena Omelan juga.
Revan yang tidak mau ambil pusing kembali ke dalam mobilnya. Walaupun kejadian tadi juga membuatnya takut tapi dibalik itu semua, ia bersyukur karena sekarang matanya sudah tidak mengantuk lagi.
Sampai di kantor Revan segera pergi ke ruangannya, ia terlambat sedikit akibat kejadian tadi.
Mike yang melihat tuannya sudah datang pun segera menghampirinya. Ia mengetuk pintu dan masuk kedalam setelah mendapatkan ijin.
"Permisi Tuan," ujar Mike dengan sopan.
__ADS_1
"Ada apa Mike?" Revan yang masih memijat
"Anda harus menandatangani berkas-berkas ini ?"
Mike meletakkan setumpuk dokumen dia atas meja kerja Revan.
"Mike kau sebenarnya datang jam berapa, apa kamu tidak butuh tidur?" Revan tidak habis pikir dengan assistennya. Menyeleksi setumpuk dokumen itu pasti butuh waktu lama, tapi pagi-pagi Mike sudah menyodorkannya pada Revan. Padahal semalam mereka pulang di jam yang sama, Revan rasa assistennya itu juga sama kan hanya tidur beberapa jam saja.
"Hanya butuh waktu singkat untuk melihat dokumen itu Tuan," jawab Mike.
"Apa kau yakin sudah menelitinya dengan benar?" Revan takut jika ada kesalahan dalam perjanjian antara perusahaannya dengan perusahaan lain.
"Sudah benar Tuan, anda bisa melihatnya sendiri nanti. Saya permisi." Mike undur diri dari hadapan atasannya.
"Tunggu, tolong suruh seseorang orang untuk membelikan ku kopi." Revan rasa setumpuk dokumen itu pasti membuatnya semakin mengantuk, kopi mungkin bisa sedikit mengurangi rasa kantuknya.
"Baik Tuan," jawab Mike.
Revan mengela nafasnya, lalu mulai membuka dokumen itu satu persatu. Tidak bisa ia bayangkan bagaimana kakeknya dulu pun merasakan apa yang Revan rasakan. Kakek harus berjuang seorang diri sekaligus menjadi sosok kakek yang sangat memperhatikan cucunya.
Sementara Mike saat ini sedang memandangi wajah wanita yang sangat ia rindukan. Saat mendapatkan laporan jika wanita itu benar-benar memutus hubungannya dengan laki-laki beristri, Mike meras sangat lega.
"Aku harap kamu sungguh-sungguh sudah berubah." Mike masih setia memandangi wajah Febby yang memenuhi layar ponselnya.
Menurut orang suruhannya Febby juga berdiam diri di rumah, keluar hanya untuk pergi ke kampus. Setelahnya Febby akan tetap di dalam rumahnya.
Mike juga menyuruh orang untuk mengawasi mamah Wina yang merupakan ibu dari Febby. Bukannya tidak suka atau pelit, tapi ia merasa ibunya Febby ini seperti sangat keterlaluan. Meninggalkan putrinya yang sedang patah hati dengan berlibur bersama teman-temannya. Entah sudah berapa kali mamah Wina menggesek black card miliknya.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...
__ADS_1