
°°°
Revan melajukan mobilnya menuju ke kantor.
"Aku tidak berhasil mengakhirinya kali ini, apa yang harus aku katakan nanti pada Rara."
Helaan nafas panjang keluar dari mulutnya, tadi istrinya sudah salah paham dan sekarang ia tidak berhasil mengatakan mksudnya pada Febby. Rara pasti kecewa, pikirnya.
Revan terus berkecamuk dengan pikirannya, susah sekali rasanya untuk memperbaiki keadaan dan hubungannya dengan sang istri.
Dering ponsel membuyarkan pikirannya, panggilan masuk dari sang kakek.
"Ada apa kakek menelpon?"
Revan segera mengangkatnya, menyambungkannya dengan headset karena ia sedang menyetir.
"Hallo Kek."
"Kau dimana?"
"Aku sedang di jalan mau kembali ke kantor, ada apa Kek."
Revan merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Bukannya kata Mike kamu pergi menjemput istrimu. Apa kamu tidak tau jika mertuamu sekarang ada di rumah."
Nada suara Kakek terdengar marah, karena sebenarnya ia tau dari mana saja cucunya.
Revan menghentikan mobilnya begitu kakek bilang jika mertuanya ada di rumah. Pikirannya sudah melayang kemana-mana, ia sempat membuat istrinya sedih tadi. Ia khawatir jika mertuanya tau apa yang ia lakukan.
"Heh... apa kamu mendengarkan Kakek."
"Iya kek, kapan mereka datang. Kenapa tidak memberitahu terlebih dahulu."
"Mana kakek tau, seharusnya aku yang bertanya padamu. Kau kan menantunya."
Heran kakek.
"Aku benar-benar tidak tau, Rara juga tidak berkata apa-apa padaku Kek."
"Ya sudah sekarang kamu pulang dan temui mereka. Kakek belum bisa pulang, masih ada beberapa pertemuan penting."
"Iya Kek, Revan pulang sekarang."
Apa yang harus aku lakukan sekarang, bagaimana kalau Rara menceritakan semuanya pada orangtuanya.
Revan cemas, lebih tepatnya cemas pada hubungan pernikahan. Ia takut mertuanya membawa pulang istrinya, sedangkan sekarang ia merasa tidak bisa hidup tanpa Rara. Ya entah sejak kapan, tapi saat ini Rara sudah sangat berpengaruh dalam hidupnya.
Lama memikirkan apa yang akan terjadi nanti, akhirnya Revan memutuskan untuk pulang tapi sebelumnya ia akan membelikan beberapa makanan dan hadiah untuk mertuanya. Untuk menyambut kedatangan mereka.
Setelah membelikan beberapa buah tangan Revan segera pulang ke rumah.
__ADS_1
Revan berdiam diri sebentar di dalam mobil sebelum turun. Mengatur nafasnya yang agar sedikit tenang. Entah kenapa ia sangat gugup dan tegang saat ini, padahal saat akan menghadapi situasi yang lebih sulit ia tidak segugup itu.
Kenapa aku sangat gugup untuk bertemu umi dan Abi, heran Revan pada dirinya sendiri.
Setelah dirasa tidak terlalu gugup, Revan turun dari mobilnya. Ia juga membawa barang-barang yang sudah ia beli tadi.
Dari balik pintu terdengar suara istrinya yang sedang mengobrol bersama orangtuanya.
"Assalamualaikum." Revan masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam salam." Rara, umi dan Abi menjawab salam dan menoleh ke arah Revan.
"Nak Revan, kau sudah pulang?" tanya umi.
"Tadi kakek mengabari jika umi dan Abi datang jadi Revan langsung pulang."
"Umi dan Abi apa kabar?" tanya Revan seraya mencium tangan kedua mertuanya.
"Alhamdulillah kami sehat nak, seperti yang kau lihat sekarang," jawab umi.
Sementara Abi hanya diam dan sesekali tersenyum pada Revan. Umi yang lebih banyak bertanya dan menjawab.
"Kenapa tidak mengabari jika akan datang, aku bisa menjemput Umi dan Abi ," ujar Revan.
"Tidak perlu nak, kami tidak ingin merepotkan. Kami merindukan Rara dan ingin melihatnya, tidak apa-apa kan jika kami kemari," jawab Abi menatap menantunya.
"Tentu saja, kalian bisa datang kapan saja, rumah ini selalu terbuka untuk kalian. Rara juga pasti senang Umi dan Abi datang."
"Nak, kau urus dulu suamimu. Kasian dia baru pulang." Umi menyuruh putrinya seraya mengerjapkan matanya sebagai isyarat. Ia tidak ingin suaminya mengatakan lebih banyak perkataan yang mungkin menyinggung perasaan menantunya. Sementara mereka tidak tau seperti apa sebenarnya keadaan rumah tangga mereka, umi tidak ingin nantinya Abi malah memperkeruh situasi.
"Iya Umi." Rara menurut, ia paham apa yang umi nya khawatirkan.
"Ayo kak," ajaknya pada suaminya.
"Tunggu sebentar, tadi di jalan aku membelikan ini untuk Umi dan Abi. Semoga Umi dan Abi menyukainya."
Revan menyerahkan paper bag yang ia bawa.
"Terimakasih nak Revan, jadi merepotkan begini," ujar umi seraya menerima pemberian menantunya.
"Sama sekali tidak merepotkan Umi, kalian bukan hanya orang tua dari istriku tapi juga sudah menjadi orang tuaku juga. Jadi aku harap Umi dan Abi menerima ini sebagai pemberian dari putra kalian, bukan menantu."
Umi dan Abi tersentuh mendengarnya, mungkin pikiran mereka selama ini sudah berlebihan terhadap menantunya.
"Ra tolong kamu suruh bibi menyiapkan ini, tadi aku membeli beberapa makanan juga dan kamu suruh yang lain juga untuk membersihkan kamar tamu. Biarkan Umi dan Abi beristirahat, mereka pasti sangat lelah setelah perjalanan panjang."
"Aku hampir lupa karena keasyikan mengobrol tadi, aku akan segera menyiapkan kamar untuk Umi dan Abi."
Rara menerima makanan yang suaminya bawa dan ia segera mencari pelayan untuk membantunya membersihkan kamar untuk orangtuanya.
"Bagaimana Rara ini, dia malah meninggalkan suaminya."
__ADS_1
Umi menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa Umi, dia pasti sangat bahagia saat ini karena kehadiran kalian. Terimakasih Umi dan Abi sudah datang, sebagai anak seharusnya kami yang datang menengok kalian. Maafkan kami belum sempat datang."
"Tidak ada masalah siapa yang datang, kami senang bisa ke kota sekaligus jalan-jalan. Iyakan Bi."
Abi mengangguk setuju.
Saat ini Revan sudah ada di dalam kamarnya, ia sedikit lega sekarang. Sepertinya istrinya tidak mengatakan apapun tentang hubungannya dengan Febby pada orangtuanya.
Namun, meskipun begitu Revan semakin merasa bersalah pada mertuanya. Ia telah melakukan dosa yang sangat besar karena telah menyakiti hati putri mereka.
Revan merebahkan tubuhnya di ranjang, sempat gugup dan berkeringat dingin membuatnya sedikit lelah. Ia sadar sekarang mempunyai hubungan yang tidak seharusnya setelah mempunyai pasangan adalah hal yang sangat tidak baik dan sama sekali tidak ada untungnya.
Ia memejamkan matanya sejenak. Memikirkan bagaimana caranya memperbaiki keadaan.
Klek
Rara masuk ke kamarnya, membawa teh dan cemilan untuk suaminya. Setelah tadi ia mengurus kamar untuk Umi dan Abi.
"Kak," panggil Rara.
Revan langsung bangun dan duduk mendengar suara istrinya.
"Aku bawakan teh untuk mu."
Rara masih enggan melihat suaminya, meski tadi di depan orangtuanya ia berusaha bersikap biasa tapi saat berdua ia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.
"Aku minta maaf soal tadi, apa kau mau mendengarkan penjelasanku." Revan menatap dalam istrinya, berharap Rara mau mendengarkan penjelasannya.
"Apa tadi kak Revan juga mau mendengarkan penjelasanku, saat aku sedang difitnah."
Rara menanyakan hal yang sama.
"Maaf, aku percaya padamu sangat percaya kamu tidak mungkin melakukan hal seperti itu."
"Lalu kenapa kak Revan diam saja seakan membenarkan apa yang perempuan itu katakan."
Rara masih enggan menoleh, apalagi saat ini air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya.
Ia tidak ingin menangis, tapi saat mengingat suaminya sendiri tidak mempercayainya rasanya membuat hatinya terasa sesak.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
__ADS_1
...Sehat selalu pembacaku tersayang...