Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
126. Temani Mandi


__ADS_3

°°°


Revan yang menyadari jika tubuhnya tidak berbalut apapun segera mencari handuk yang dipakainya tadi malam. Ya semalaman Revan yang bersiap melakukan penyatuan lagi hanya menggunakan handuk setelah mandi, tapi harapannya pupus ketika istrinya sudah terlelap dan ia lupa untuk menggunakan celana.


"Kenapa kau malu melihatnya," goda Revan pada istrinya yang masih setia berbalik. Padahal dia sudah menggunakan handuknya kembali.


"Sudah belum Kak? Sebaiknya kak Revan mandi dulu, nanti terlambat."


"Apa kau tidak ingin menjelaskan apa maksudmu semalam?" tanya Revan.


"Menjelaskan apa Kak, aku tidak ada maksud apa-apa," jawab Rara, ia tau apa maksud suaminya tapi ia enggan mengakuinya.


"Lalu kenapa kamu menggunakan pakaian seperti itu semalam, setelah berhasil menggodaku kamu tidur dengan nyenyak."


"Itu karena Kakak," ujar Rara membela diri.


"Aku? kenapa jadi aku yang disalahkan." Revan menautkan kedua alisnya, kenapa istrinya itu malah berbalik menyalahkannya.


"Iya karena kakak sudah memberitahu semua orang, aku jadi bahan ledekan di rumah ini kemarin."


Revan terdiam, ternyata istrinya mau membalas perbuatannya kemarin.


"Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud memberitahu semua orang tapi itu karena kakek yang terus bertanya kenapa kamu tidak turun untuk sarapan. Pada akhirnya aku jujur pada kakek, tapi tidak menyangka kakek malah mengumumkannya pada semua orang di rumah ini." Revan memeluk istrinya dari belakang.


Sontak membuat Rara tidak berani bergerak karena takut akan menyenggol sesuatu yang tadi membuatnya merinding.


"Lain kali kak Revan jangan bicara tentang hal seperti itu lagi pada kakek, aku malu Kak," keluh Rara.


"Iya, maafkan aku." Revan menciumi pipi istrinya dan itu membuat Rara merasa geli.


"Kak, mandi dulu sana," ujar Rara.


"Kamu sudah tidak marah kan, bagaimana kalau menemaniku mandi?" ajak Revan yang sudah tidak sabar untuk melewatkan pagi ini dengan kegiatan yang membuatnya candu.


"Tapi aku sudah mandi, kakak mandi sendiri saja. Kenapa harus ditemani?" Tidak taukah Rara kalau yang diinginkan suaminya tidak hanya mandi.


"Mandi lagi, sebentar saja yaa..." pinta Revan dengan nafas yang memburu. Pagi hari memang selalu membuat laki-laki lebih bergairah.


"Tapi... Aaa... kak Revan!" pekik Rara saat tubuhnya tiba-tiba melayang. Siapa lagi kalau bukan suaminya yang membuat ulah.


"Kenapa harus ditemani si kak, kan biasanya juga bisa mandi sendiri," protes Rara yang masih tidak mengerti akan maksud dan tujuan suaminya.


"Nanti kau akan tau kenapa harus ditemani."


Seketika Rara bergidik melihat senyum Revan yang sangat aneh menurutnya.

__ADS_1


"Aahh... pelan-pelan Kak..."


"Aahh... uhh... hosh... hosh..."


Bertahanlah sebentar lagi selesai.


"Dari tadi bilangnya sebentar tapi.... Aahhh... jangan terlalu dalam sakit..."


Revan terus memompa tubuh istrinya dari belakang, tangannya mer-emas da*da dan bermain di kli*toris istrinya. Tubuh Rara melemas saat merasakan sentuhan jari suaminya yang terus menyentuh titik-titik sensitifnya.


Pagi ini di kamar mandi, sepasang manusia itu pun kembali memadu kasih di bawah guyuran air dengan penuh gairah dan cinta.


,,,


Wajah Revan sangat cerah pagi ini, bahkan senyumnya pun tak juga luntur. Apalagi kalau bukan karena kegiatan yang barusan dilakukan bersama sang istri di kamar mandi. Walaupun singkat tapi membuat laki-laki itu cukup puas, tenyata bermain di bathtub dan di bawah shower itu menyenangkan.


Berbeda dengan Revan yang kini berseri-seri, raut wajah Rara justru sebaliknya. Dia cemberut sejak tadi, dia merasa telah ditipu oleh suaminya.


Apanya yang mandi, katanya sebentar tapi nyatanya lama.


Dengan perasaan yang kesal Rara memasangkan dasi suaminya, Lihat saja aku balas nanti.


Setelah diikat Rara pun menarik dasi itu dengan kencang hingga leher suaminya pun tercekak.


"Sayang, apa yang kau lakukan. Apa kau mau jadi janda muda?" Revan yang tadi sedang membayangkan percintaan mereka pun langsung tersentak saat lehernya tercekak oleh dasi.


"Kak Revan tuh, ngapain senyum-senyum terus." Sungut Rara.


"Itu karena kamu sayang, kamu membuatku bahagia," ujar Revan tersenyum aneh.


Ya Rara tau betul apa maksudnya, tidak menyangka suaminya yang saat ini bisa bersikap seperti itu padanya.


"Kak, ini sudah sangat siang. Kak Revan pasti terlambat ke kantor kalau tidak bergegas." Rara mencoba mengingatkan suaminya, agar tidak lupa dengan tanggung jawabnya.


"Tenang saja aku sudah ijin pada kakek," ujar Rara dengan entengnya.


Rara pun tidak percaya begitu saja, karena mana mungkin kakek mengijinkan cucunya untuk datang terlambat.


Setelah selesai bersiap, Rara dan suaminya turun ke bawah untuk sarapan. Sebenarnya Rara sangat malu, entah apa yang dipikirkan kakek dan para pelayan. Padahal tadi pagi dia sudah bangun dan memasak tapi setelah masuk ke kamar malah terlambat sarapan.


"Pagi Tuan, pagi Nona. Silahkan sarapannya..." ujar bi Mur.


"Apa kakek sudah sarapan bi?" tanya Revan.


"Sudah Tuan, beliau tadi makan bersama pak Ahmad," terang bi Mur.

__ADS_1


"Baiklah, terimakasih bi."


Sementara Rara sejak tadi hanya menunduk, ini semua karena suaminya yang menahannya terlalu lama di kamar mandi. Para pelayan jadi melihatnya dengan tatapan penuh arti.


"Sayang, kau mau makan apa biar aku ambilkan," tawar Revan pada istrinya. Dia tau apa yang istrinya rasakan, tapi tidak merasa bersalah. Dia tidak ambil pusing dengan pikiran orang lain.


"Aku ambil sendiri saja Kak," tolak Rara yang masih sedikit kesal.


Sementara Revan justru gemas melihat istrinya malu-malu sekaligus kesal begitu.


"Kalau kamu sedang kesal seperti itu jadi semakin cantik," goda Revan.


Rara hanya memutar bola matanya mendengar godaan suaminya.


Selesai sarapan Revan pun langsung berangkat ke kantor, sang istri dengan setia mengantarkannya hingga depan rumah.


Ternyata kakek juga sedang ada di depan, sedang melihat para tukang kebun yang sedang merawat tanaman kakek.


"Kek, aku berangkat dulu," pamit Revan pada kakeknya.


"Iya hati-hati nak," kakek tersenyum sama cerahnya dengan sang cucu. Tentu saja kakek Tio tau apa yang sudah pasangan itu lakukan sampai keluar kamar kesiangan. Revan lah yang memberitahu sekaligus minta ijin tadi.


"Aku berangkat, jangan lupa nanti kabari jika sudah pergi ke kampus."


"Iya Kak," ujar Rara seraya mencium tangan suaminya.


Setelah kepergian suaminya, Rara pun menghampiri kakek yang sedang di taman.


"Kakek," sapa Rara.


"Duduklah nak," kakek menyuruh Rara untuk duduk di sebelahnya. "Kau tidak ke kampus?" tanya kakek.


"Nanti jam 10 kek."


"Maafkan kakek karena terlalu heboh kemarin, kakek hanya terlalu bahagia dan ingin membagikan kebahagiaan bersama yang lain juga. Jadi kakek memberi tahu semua orang. Percayalah, kakek sangat bahagia karena akhirnya hubungan kalian bisa seperti ini. Apalagi jika mungkin kamu cepat mengandung, kakek sangat rindu pada tangis dan tawa anak-anak."


Kakek meminta maaf pada Rara, tidak ingin sampai cucu menantunya merasa tidak nyaman.


to be continue...


°°°


Kurang panas kayaknya ya...


Santai dulu ya...

__ADS_1


__ADS_2